Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 73 - Lalai Menjagamu


__ADS_3

BAB 73


Dewa berlari bagai di kejar sesuatu , untung saja ia sangat seimbang membawa wanitanya. Dewa semakin panik saat darah bercucuran dari balik dress batik yang dikenakan istrinya, tanpa memeriksanya pun Dewa tahu jika calon anaknya dalam bahaya.


“Bertahanlah sayang, aku mohon”


“Dokter disini”, teriak seorang perawat menunjukkan brankar kosong. Dewa melakukan prosedur penanganan pertama, wajahnya memucat saat memeriksa tekanan darah serta saturasi oksigen Dwyne begitu rendah.


“Dwyne, bukalah matamu, sayang”, isak tangis Dewa.


Gejolak emosi dalam diri Dewa tak mampu membuatnya menangani Dwyne dengan baik, hingga ia merelakan Dokter Cakra mengambil alih. “Dewa, Dewa lihat aku. Percayakan istrimu padaku. Dirimu tidak baik-baik saja”.


“Cakra, Dwyne hamil. Anakku.....”, mata, hidung, alis dan pipi Dewa memerah menangis. Perawat serta dokter lain yang bertugas di IGD turut merasakan kesedihan dokter tampan ini.


“Dimana keponakanku?”, tanya Dokter Samantha mendengar peristiwa jatuhnya salah satu pewaris GB Hospital di tangga darurat, ia pun cepat menuju ruang IGD.


“Dewa tenangkan dirimu”, pinta Samantha langsung memasuki tirai hijau tua.


Dokter Cakra membantu Dokter Samantha menghentikan pendarahan semaksimal mungkin, usai memberi suntikan beberapa obat, pendarahan pun berangsur terhenti.


Dwyne langsung di pindah ke ruang tindakan, mendapat pengawasan ketat dari Samantha. Dewa masih setia mendampingi istrinya, tidak bergeser sedikit pun, kemeja biru dan jas putih kebanggaannya ternodai darah, belum sempat Dewa menggantinya.


Sementara di luar ruangan, Mama Nayla, Papa Rayden, Denna, Oma Anggi dan Opa Dave menanti cemas keadaan Dwyne. Semuanya begitu terkejut mendapat kabar bahwa Dwyne terjatuh dari tangga, dan lebih parahnya lagi ia sedang hamil.


Mama Nayla pun mencecar banyak pertanyaan pada Denna, karena selama 2 minggu ini Dwyne bersama adik-adiknya.


“A-aku tidak tahu ma”, ucap Denna si sela tangisannya.


“Kenapa kalian merahasiakan ini dari mama”, hati Nayla begitu hancur, ia takut terjadi sesuatu pada putri tersayangnya.


“Aku juga tidak tahu ma”, jawab Denna.


“Sayang sudah, mungkin memang Dwyne juga belum mengetahuinya”, Papa Rayden memeluk sang istri sembari tangan kanan mengusap kepala Denna.


“Selamatkan cucuku dan calon cicitku”, Oma Anggi tak henti memanjatkan doa.


Sementara dalam ruangan, Dokter Samantha mengupayakan yang terbaik jika memang bakal janin itu masih bisa dipertahankan kenapa tidak, tetapi jika tidak maka ia akan segera mengeluarkannya dari tubuh Dwyne.

__ADS_1


Dewa mendengar penjelasan Dokter Seniornya hanya bisa menangis dalam diam rahangnya mengetat, ia marah pada dirinya tidak bisa menjaga Dwyne dengan baik sampai tak mengetahui wanitanya sedang mengandung.


“Ya dokter lakukan yang terbaik untuk istriku”, suara Dewa bergetar.


“Bro, aku yakin istrimu kuat”, Cakra menepuk bahu Dewa menyalurkan kekuatan.


“Terima kasih Cakra”


Dewa duduk kembali di sisi ranjang Dwyne. Menggenggam erat tangan Dwyne yang tak terhalang infus, “Sayang, aku mohon buka matamu. Maaf aku lalai menjagamu  dan calon anak kita”, Dewa menciumi punggung tangan Dwyne.


“Dewa, semoga malam ini keadaan Dwyne membaik, tante akan terus memantaunya, lebih baik kamu mengganti baju"


“Terima kasih dokter, tolong jaga istriku sebentar”, ucap Dewa suaranya bergetar.


“Kamu tenang saja, aku yang membantunya lahir dulu, tidak menyangka keponakan ku ini sudah besar, aku pasti menjaga Dwyne sebaik mungkin”, ucap Samantha di usia yang sudah tidak muda lagi ia masih tetap mendedikasikan diri sebagai dokter obgyn sekaligus fetomaternal dan predikat terbaik masih melekat padanya.


Dewa keluar ruangan, di sambut pertanyaan dari keluarga sang istri yang begitu khawatir menunggu.


“Dewa, katakan bagaimana keadaan putriku?”, Mama Nayla menatap tajam menantunya.


“Dwyne perlu waktu untuk istirahat ma, Dokter Samantha akan melihat perkembangannya sampai malam ini, jika semua sesuai harapan maka kandungan Dwyne bisa di pertahankan”, jelas Dewa menahan tangisnya.


“Iya pah”, Dewa bergegas menuju mobilnya di area parkir, ia selalu membawa pakaian ganti. Semua melihatnya dengan tatapan simpati, terlihat jelas Dewa yang biasanya menebar senyum dan menenangkan para pasien kini diliputi cemas luar biasa dengan keadaan Dwyne yang belum pasti.


Dokter tampan ini pun mengganti pakaian dan mencuci wajahnya, ia tidak menyangka setelah lama tidak bertemu istirnya hamil dan hari ini keduanya dipertemukan kembali dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Dewa mengepalkan tangan saat rekaman CCTV kembali berputar di dalam benaknya, “Dayana”, geram Dewa ingin memberi pelajaran pada kakak sepupu Dwyne. Ia pun tidak menengok kondisi dokter koas di bilik IGD karena terlalu fokus pada Dwyne.


Entah apa yang mereka bicarakan sampai Dayana dan Dwyne terlibat adu mulut, hingga saling menarik rambut dan berakhir terluka seperti ini.


Usai mengganti pakaian, Dewa melangkah cepat memasuki ruang tindakan yang hanya bisa dimasuki oleh petugas medis.


“Dwyne?”, panggil Dewa.


“Tubuhnya demam, tante sudah memberinya obat pereda demam, semoga suhunya berangsur turun”, papar Dokter Samantha.


“Dokter, usia kandungan istriku berapa lama?”, tanya Dewa.

__ADS_1


“Usianya masih sangat rawan Dewa, memasuki 6 minggu, lebih tepatnya 5 minggu lebih 5 hari. Dan kandungan Dwyne sangat lemah, itu yang patut kita waspadai. Tapi aku sudah menyuntikan obat penguat kandungan”, tutur Dokter kandungan yang juga istri dari Adam Bradley.


.


.


Hari berubah menjadi gelap, Dewa masih setia duduk di sisi Dwyne mengecup kening yang memar itu entah sudah berapa kali, istrinya masih saja belum membuka mata. Dwyne yang kuat dan angkuh kini hanya bisa terbaring lemah di atas brankar.


“Dwyne, sayang. Aku mencintaimu. Bangun sayang”, bisik Dewa di telinga sang istri.


Sedangkan di luar ruangan Dariel dan Papa Adam serta Stefan, Steve turut bersedih karena kondisi salah satu anggota keluarga mereka. Terlebih Dariel menerima pukulan dari mama tersayangnya, karena menyembunyikan kebenaran jika Dwyne sedang hamil.


“Maafkan aku ma”, Dariel menunduk tak bisa memberi kata-kata lain untuk menjawab Mama Nayla dan Oma Anggi.


“Semua ini karena kamu tidak memberi tahu mama, Dariel”, Nayla masih meraung menangis sampai kedua matanya membengkak.


“Iya ma, maaf”


“Jadi waktu kita di Dubai, kakak sudah hamil?”, tanya Denna.


“Ya, itu sebabnya aku mengatur jadwal kepulangan kita lebih cepat”, jawab Dariel.


“Ray, kenapa Dwyne bisa terjatuh?”, tanya Mama Nayla penasaran.


“Ehem, itu.....itu aku belum mencari tahunya sayang”,  Papa Rayden memberi kecupan di pelipis Mama Nayla.


“Tumben, biasanya kamu paling cepat menyelidiki sesuatu, apa ada hal yang kamu sembunyikan Ray?”, Mama Nayla melirik tajam dengan ekor matanya yang sipit.


“Ti-tidak ada sayang, mana mungkin”


...TBC...


Visual Dariel Janesh Bradley



Visual Denna Arabella Bradley

__ADS_1



__ADS_2