Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 63 - Boomerang


__ADS_3

BAB 63


“Sayang, dengar dulu penjelasan ku”, Dewa meraih tangan istrinya dan menciumi penuh sayang punggung tangan Dwyne.


“LEPAS”


“Kamu bilang, tidak menyukai Zayn dekat denganku kan? Aku juga sama Dewa, aku tidak suka kalian terlalu dekat”


“Kamu tahu, kebaikan kamu tadi memberi angin segar bagi Dayana. Atau jangan-jangan kamu memiliki perasaan padanya? Oh kata-kata cinta mu itu palsu Dewa”


Dwyne terbakar api cemburu, tentu istri mana yang tidak kesal jika suaminya membantu perempuan lain yang jelas memiliki perasaan padanya. Dwyne menatap tajam Dewa yang berdiri di depannya, menaikan dagu, memberi kesan angkuh.


“Dwyne, maaf. Aku janji itu terakhir kalinya. Maaf sayang”, Dewa tidak ingin kehidupan pernikahan di saat telah menghangat kembali harus terpisah jurang dan Dewa sangat sakit bila berjauhan dengan Dwyne Juliette.


“KELUAR”, tegas Dwyne ingin diganggu.


“Cepat Dewa”


Dewa merentangkan kedua tangan, hendak memeluk wanitanya, membawa istri arogan miliknya ini dalam pelukan hangat. Tetapi Dwyne yang marah mengepalkan tangan di udara seolah ingin melepaskan bogem untuk suaminya.


“Dwyne, maafkan aku. Kamu boleh marah, tapi jangan usir aku, OK”


“Keluar kamu Dewa, sebelum aku buat babak belur”, ancam Dwyne pada suami tampannya.


Dwyne mendorong tubuh Dewa sampai keluar dari kamar, dan menutup pintu rapat tidak lupa mengambil kartu akses di saku kemeja Dewa.


“Dwyne, jangan”, cegah Dewa, namun terlambat pintu telah tertutup tak ada celah.


Hari yang sudah malam, dan hotel pun tampak sepi, semua pengunjungnya mungkin sudah terlelap tidur. Dewa harap ia bertemu Dariel atau saudara sepupu Dwyne yang lain hanya untuk menumpang kamar.


Dwyne, Dariel, Stefan dan Steve berada di kamar pada lantai yang sama sementara Oma Nilla, Bunda Nayra, Dayana, Tuan dan Nyonya Nooren tepat 1 lantai di bawahnya. Untuk kedua pasangan Bradley tentulah menempati kamar paling atas di hotel yang memang diperuntukan untuk Rayden, dan Adam membayar mahal agar bisa menempati kamar di depan milik sepupunya.


Dewa berjalan menyusuri area hotel, mulai dari menikmati secangkir kopi panas di restoran, melihat sky garden, lalu taman bermain anak-anak di lantai dasar, hingga kembali naik melihat area kolam berenang.


“Dwyne, sayang”, lirihnya, tidak menyangka niatnya membantu malah jadi boomerang seperti ini.

__ADS_1


Dewa yang sedang merenung, seketika terperanjat melihat seseorang dalam kolam berenang yang membutuhkan pertolongan disaat keadaan area ini sepi, mengingat jam menunjukan pukul 10 malam.


Jiwa sebagai dokternya sangat sensitif dan terjun ke dalam kolam berenang menyelamatkan seseorang yang mungkin saja hampir kehabisan napas.


Akhirnya Dewa berhasil menyelamatkan orang itu dan membaringkannya di sisi kolam, seketika matanya melebar karena ternyata seorang wanita yang sangat ia kenali.


“DAYANA”, panggil Dewa sembari menepuk kedua pipi kakak sepupu sang istri.


Tak ada sahutan dari kakak sepupunya ini, Dewa memilih melakukan pertolongan pertama mengeluarkan air dalam tubuh Dayana.


“Uhuk....uhuk...uhuk, akh”


“Selalu ceroboh”, ujar Dewa mengingat tingkah Dayana.


“Dewa”, lirihnya tersenyum simpul. “Dokter Dewa terima kasih”


“Ayo bangun Dayana, masuklah ke kamar, jangan lupa minum air hangat, jangan sampai tubuhmu sakit”, Dewa membantu Dayana berdiri tapi tubuhnya yang lemas tidak sanggup berdiri atau berjalan.


“Dokter”, pekik Dayana melayang di udara karena Dewa menggendongnya menuju kamar. Jangankan Dayana, seorang nenek pun yang memerlukan bantuannya pasti Dewa tolong, memang naluri Dewa selalu ingin membantu orang yang memerlukan tenaga dan keahliannya.


“I-iya, terima kasih”, gugup sekaligus senang Dayana, lalu ia memegang kepalanya yang pusing, Dewa pun membantu kakak sepupu Dwyne berbaring sampai wajah keduanya hampir bersentuhan dan degup jantung Dayana tidak beraturan.


“Ahhh, apa yang kalian lalukan?”, teriak Bunda Nayra terkejut mendapati putri tunggalnya berdua bersama pria.


“DEWA?”, Bunda Nayra menutup mulut tidak percaya suami keponakannya ada di kamar Dayana.


Kamar Bunda Nayra dan Dayana memang bersisian, ia ingin melihat putrinya ada di dalam kamar atau tidak namun terkejut mendapati pemandangan tidak senonoh di ruangan itu.


“Bunda, ada apa?”, tanya Dwyne tiba-tiba muncul di balik punggung Nayra dan tidak menyangka apa yang ia lihat.


Dwyne baru saja tiba di lantai itu ia ingin mengunjungi Oma Nilla karena tidak bisa tidur namun lebih dulu mendengar suara Nayra di kamar Dayana.


“Dewa?, ka-kalian?”, tunjuk Dwyne yang syok melihat pakaian Dewa sedikit terbuka dan basah lalu rambut Dayana yang basah dan hanya menggunakan bathrobe.


“Sayang, aku bisa jelaskan”, Dewa melangkahkan kakinya tapi Dayana menahan tangan itu dan menarik pergelangan tangan Dokter Dewa.

__ADS_1


“Kamu lihat Dwyne, Dewa melakukannya denganku”, jahatnya Dayana mengambil keuntungan dari situasi ini.


“Tidak, sayang bukan”


“Dwyne, dengarkan aku dulu”, teriak Dewa, lalu menghempas tangan Dayana. “Kau ini apa-apaan Dayana?”, sentak Dewa tidak terima.


Namun tangan tangan Bunda Nayra mendarat tepat di pipi Dewa, “Wajah dan kelakuan baikmu hanya topeng Dewa. Kau merusak putriku”, isak tangis Nayra, ia yakin Dewa tidak akan bertanggung jawab pada Dayana mengingat hubungannya dengan Dwyne.


“Tante, ini tidak seperti yang kalian pikir”, Dewa kesulitan mengejar Dwyne karena Bunda Nayra menghalanginya.


Bunda Nayra : “Rayden, Nayla, ke kamar Dayana kalian harus lihat sifat asli menantu kalian”


Dewa memijat pelipisnya, pertolongannya kembali menjadi boomerang.


5 menit berlalu, Rayden dan Nayla meminta penjelasan dari menantunya dan Dayana, tapi dua orang ini memberi jawaban yang berbeda apalagi Dayana selalu menangis saat menjawab pertanyaan Rayden.


“Sebaiknya kita selidiki dulu”, tutur Rayden yang memerlukan bukti kuat tentang siapa yang benar diantara keduanya.


“Aku ingin Dewa bertanggung jawab”, kata Dayana tiba-tiba.


“Maksudmu?, aku tidak melakukan apa-apa”, bantah Dewa.


“Dewa”, Dayana yang tak ingin kehilangan momen ini, ia harus mendapatkan Dewa tidak peduli jika hanya fisik yang diterimanya.


“Kalau begitu, ceraikan Dwnyne. Aku tidak mau putriku menderita”, celetuk Mama Nayla terbawa emosi.


“Sayang”, Rayden tidak percaya sang istri begitu mudah mempercayai situasi seperti ini.


“Dewa, berpisah lah dengan Dwyne sebelum terlambat. Di keluarga besar kami, tidak ada yang boleh memiliki istri lebih dari 1 dan tidak boleh menikahi pria yang memiliki istri”, tegas Mama Nayla.


“Ma, Dewa bisa jelaskan, ini semua salah paham”, ucap Dewa.


“Aku setuju dengan Nayla”, timpal Bunda Nayra yang merasa kasihan pada masa depan putrinya. “Pantas saja Dayana tidak bisa melupakanmu ternyata hubungan kalian sudah sejauh ini di belakang keponakanku”


“APA?”, Dewa membuka mulutnya lebar.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2