
BAB 106
Dewa berbaring di atas sofa bed, menyelimuti tubuhnya yang panas dingin. Mencoba menutup mata rapat-rapat, tapi kehadiran Dwyne yang selalu menatapnya, terpaksa Dewa duduk bicara dari hati ke hati pada istri arogannya ini.
“Apa ada yang ingin kamu katakan?”, Dewa tetap tak menunjukan ekspresi berlebihan. Ia menjaga diri dan melindungi dirinya dari harapan palsu yang biasa Dwyne berikan.
“Ummm... Dewa”, Dwyne tak kuasa melanjutkan kalimat yang tertahan di bibirnya, ia menggigit bibir bagian bawah menahan desakan air mata yang memaksa keluar dari matanya.
“Ada apa? Denver baik-baik saja kan?”, pikiran Dewa hanya tertuju pada putranya, dan kata-katanya tadi sukses membuat tangis Dwyne pecah.
Dengan memegang dada terasa begitu sesak Dwyne terus menangis, perih rasanya kini Dewa hanya memperhatikan buah hatinya tanpa peduli bagaimana perasaan dan apa yang ia inginkan.
“Katakan Dwyne ada apa?”, Dewa mendekati wanita yang diam di tempat, hanya suara tangisnya yang terdengar. “Semua baik-baik saja kan?”, cemas Dewa, tatapannya berubah serius, ia juga berusaha menenangkan sang istri namun Dwyne masih menangis bahkan semakin kuat.
“Kamu jahat Dewa”, Dwyne mendelik tajam. Mendorong lemah tubuh suaminya hingga mundur satu langkah ke belakangan. “Dewa? Dewa aku minta maaf atas sikapku selama ini”, tangis Dwyne begitu pilu. Ia lepas semua ego dan harga dirinya dengan meminta maaf lebih dulu atas kesalahannya. “Dewa maafkan sikapku yang bodoh ini”, Dwyne terisak lalu menyusut air mata dari pipi.
“Maaf aku terlalu berlebihan menyalahkan mu atas perginya Dafa, aku yang tidak bisa menerima kenyataan begitu saja sampai membuat pernikahan kita dan hubungan kita menjauh seperti ini”, tutur Dwyne sedikit menundukkan kepala, malu pada suaminya yang telah banyak bersabar.
“Hey aku sudah memaafkan mu, jangan menangis seperti ini, jangan buang-buang tenagamu”, Dewa menangkup pipi merah Dwyne.
Dwyne jujur atas apa yang ia rasakan setelah menjauh dari Dewa apalagi selama dua minggu lebih ini hati dan pikirannya sangat tersiksa siang dan malam. Rasa cemburunya pada Sania pun ia ungkap meski menahan malu.
__ADS_1
“Jadi kamu cemburu?”, tanya Dewa mengulum senyum, sakit kepala yang ia derita sedikit menghilang karena kata-kata hati Dwyne.
Dwyne mengangguk lemah, lalu mendengar penjelasan Dewa alasan kenapa ia sampai merubah sikap dan apa yang terpendam dalam dadanya selama ini. Dokter tampan ini tidak menyangka jika ibu dari anaknya juga merasakan hal yang sama.
“Jadi?”
“Jadi kamu mau memaafkan aku, Dewa?”, menatap iba pada suaminya yang tersenyum hangat, sudah lama Dwyne rindu akan senyum manis suaminya ini. Mendapat jawaban dari sang suami walau bukan kata-kata, Dwyne tetap yakin hati Dea hanya untuknya. “Boleh aku peluk Dewa?”, Dwyne yang terkenal acuh meminta izin hanya untuk memeluk sang suami.
“Maaf Dwyne, jangan”, jawab Dewa, oh sontak saja Dwyne melebarkan matanya, apa suaminya ini masih menolak dan memberikan maaf untuknya. Padahal ia tulus dari dalam hati, memperbaiki hubungan yang renggang memang tidak mudah .
Dwyne beringsut mundur dan cemberut, sikap manja yang jarang Dewa lihat ini sangat menggemaskannya. “Bukannya kamu sudah memaafkan aku tapi. Tapi kenapa aku......aku tidak boleh minta peluk?”.
Dewa menarik istri arogannya yang bagai singa betina diluar tapi hatinya sangat lembut “Itu karena aku sedang flu Dwyne, aku tidak mau sampai menular padamu dan Denver”, jelas Dewa. Jangankan pelukan, lebih pun Dewa berikan hanya untu istrinya seorang, jujur ia pun rindu mendekap hangatnya tubuh Dwyne dan menghirup harum aroma yang selalu membuatnya candu.
“Tidak perlu minta maaf, bukan salahmu”, Dewa memegang kedua tangan lembut milik Dwyne, tapi seketika matanya terarah pada buku jemari Dwyne, luka sayat pisau tergambar jelas. “Ini kenapa? Luka ini jangan dibiarkan, duduklah aku obati”, Dewa bergerak cepat mengambil kota obat di dalam tasnya. “Mana tangannya? Kamu belum jawab ini kenapa?”, Dewa membersihkan luka dan memberi obat serta membalut luka itu.
Dwyne mulai menceritakan kenapa tangannya terluka, dan masih panas akibat memegang cabai tadi malam. Sungguh ia ingin lari jauh dan membuang wajahnya, tawa renyah Dewa karena usaha Dwyne memasaknya untuk suaminya tidak jera dan patut di apresiasi.
“Maaf, kemarin memang banyak pasien”, tangan Dewa terulur membelai puncak kepala sang istri, menyalurkan rasa yang tertahan selama keduanya berperang batin. “Dwyne kam tahu aku tersiksa berjauhan denganmu?” Dewa merangkum wajah cantik manis dan angkuh Dwyne, “Bahkan aku tegarkan hati jika memang kam tidak mau menerima ku lagi, tapi aku akan tetap bertahan demi Denver”, sambung Dewa.
Dwyne ingin mengusap lembut wajah tampan suaminya, tapi sayang telapak tangannya dipenuhi obat oleh Dewa. “Dewa kamu juga harus tahu, kalau sampai kapanpun aku tidak mau berbagi cinta dengan siapapun, kalau rasa di dalam sini hilang, setidaknya aku akan menggunakan kekuasaanku untuk membuatmu tetap berada di sampingku”, Dwyne menunjuk dada bidang suaminya.
__ADS_1
Keduanya sama-sama tersenyum larut dala perbincangan yang selama ini hanya diutarakan dalam hati masing-masing.
“Aku tidak mengizinkan wanita manapun mendekatimu bahkan semut pun tidak akan”, desis Dwyne sangat berlebihan. Dewa tertawa mendengar kalimat Dwyne, sepele tapi menyenangkan hati.
“Ah Dewa, maaf seharusnya kamu istirahat”, Dwyne menarik tangan dari atas pangkuan suaminya.
“Aku hanya perlu satu jam untuk tidur”, ukiran senyum manis memanjakan pandangan Dwyne Bradley. Dewa mulai merebahkan badan pada sofa bed tapi tangannya di tarik oleh wanita yang beberapa menit lalu menangis.
“Jangan disini, di ranjang kita lebih baik dan nyaman”, cicit Dwyne malu mengatakannya.
Seandainya saja Dewa tidak flu dan kepalanya tidak pusing, sudah pasti Dwyne akan habis ditangannya saat ini juga. Dewa sangat ingin memeluk dan mengungkung Dwyne dibawah kuasanya, semakin Dewa lihat bibir pink yang menggoda semakin ia tak tahan.
“Terima kasih sayang, emmm Dwyne dimana Denver? Apa dia tidak mencarimu?”, usir Dewa dengan halus.
“Kamu mengusirku ya?”, Dwyne membuang muka dan cemberut karena Dewa menolak bersamanya.
Sedangkan Dewa menggaruk tulang hidung yang tidak gatal, “Begini sayang, aku sedang sakit jangan smapai kamu tertular”, tutur Dewa, ya memang benar tapi itu alasan nomor 2 dia mengusir Dwyne dari kamar.
“Tidak mau”, Dwyne merajuk bahkan duduk di tepi ranjang mempertontonkan bahu mulusnya, sangat keras kepala memang. Akhirnya Dewa berusaha memejamkan mata serapat mungkin, agar pemandangan indah di depannya tidak semakin membuat apa yang telah menegang menjadi tersiksa.
“Ah sayang, kenapa kamu senang sekali menyiksaku”, gumam Dewa, dan sayangnya telinga tajam Dwyne mampu mendengar kalimat pelan itu.a
__ADS_1
“Menyiksa apa? Aku tidak –“, seketika dua manik indahnya terbelalak karena Dewa menarik tangan wanita ini dan medaratkanya di suatu tempat
...TBC...