
BAB 79
Pagi ini Dayana bangun lebih dulu dan memasuki kamar Bunda Nayra, sudah 1 minggu lebih dirinya mendapat perlakuan dingin dari bunda dan omanya. Dayana merasa sepi karena hanya kedua wanita itulah penguat hidupnya, setelah ayahnya pergi dan menikah dengan selingkuhannya serta lebih menyayangi adiknya yang berbeda ibu.
Tok...tok
“Bunda, Dayana masuk ya”, Dayana menyembulkan kepala dari balik pintu. “Kemana bunda? Mungkin mandi”, gumam Dayana, langsung masuk dan duduk di atas kursi meja rias.
“Huh”, Dayana menghela napas.
“Bunda?”, terus memanggil Bunda Nayra namun tak ada jawaban apapun dari kamar mandi.
Dayana pun membuka pintu kamar mandi dan mendapati ruangan itu kosong bahkan kering tak menunjukan jejak seseorang di dalamnya.
“Bunda masih menghindariku”, lirihnya.
Sungguh mengiris jiwa serta raganya mendapati Oma dan Bundanya tak ada yang memihak padanya, walaupun hidup satu rumah tidak ada canda tawa dan kasih sayang seperti sebelumnya.
Dayana mencari Bunda Nayra ke dapur, dan ternyata sedang sibuk menyiapkan sarapan, tanpa kata dirinya mendekat dan mendekap dari belakang wanita yang telah melahirkannya.
“Eh”, Bunda Nayra tersentak. “Dayana?”.
“Bunda, maaf atas kesalahan Dayana”, lirihnya kakak sepupu Dwyne ini.
“Maaf pada Bunda? Seharusnya kamu minta maaf pada Dwyne dan Dewa”, Bunda Nayra melepaskan pelukan tangan Dayana. Mengabaikan putri sematawayangnya.
“Bunda?”, panggil Dayana terdengar lemah.
“Kamu tahu letak kesalahanmu dimana?”, Bunda Nayra melirik tajam dengan mata sipitnya.
“Di-dimana bunda? Aku tidak sengaja, dan kami juga jatuh bersama, aku tidak mendorongnya. Aku tidak setega itu bun”, seru Dayana.
“Iya bunda tahu, tapi obsesi mu untuk memiliki Dewa itu berlebihan Dayana. Dewa suami adik sepupumu bukan pria lajang yang bebas kamu dekati”, dada Bunda Nayra naik turun, ia kecewa pada Dayana yang tak mengindahkan nasehatnya.
“Tapi bun......”
“Cukup Dayana, bunda tidak mau mendengar apapun. Kamu bebas menyukai siapapun tapi lupakan perasaanmu pada pria yang memiliki istri”, tegas Bunda Nayra.
“Tapi bun? Apa aku salah memperjuangkan cintaku?”, kedua mata Dayana berkaca-kaca, menahan tangisnya, dalam dada pun seakan sesak karena oksigen yang dihirup tidak sampai pada paru-parunya.
__ADS_1
“Tidak salah sayang, bunda tidak mau putri kesayangan bunda menjadi perebut suami orang”, tangis Bunda Nayra pecah, ia ingat masa lalunya bersama Amar yaitu ayah kandung Dayana yang mendua.
“Apa bunda tidak tahu, Dewa dan Dwyne itu menikah karena terpaksa dan tidak saling mencintai, bun. Selama ini Dewa selalu memperhatikan aku lebih dari dokter senior yang lain”, Dayana masih bersikukuh menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Cukup Dayana, kamu menyakiti dirimu sendiri. Bunda malu pada Nayla dan Rayden, mereka yang membantu keluarga kita dari dulu, bahkan Nayla dan Rayden membiayai pendidikan mu sampai saat ini, Dayana tolong jaga sikapmu. Lupakan Dewa”, pipi dan hidung Bunda Nayra merah karena menangis, ia sungguh tidak percaya akan sikap putrinya, entah harus bagaimana menghadapinya.
Oma Nilla yang mendengar percakapan antara ibu dan anak itu turut menangis di balik lemari hias penghalang dapur dan ruang keluarga.
“Dayana”, lirih Oma Nilla.
“Aku tidak bisa memperjuangkan ayah untuk tetap di samping kita tapi aku ingin memperjuangkan Dewa bun”, Dayana tak gentar.
“Sadar Dayana, adik sepupumu itu sedang mengandung anak Dewa. Tidak, tidak akan bunda izinkan kamu merebut ayah dari anak yang bahkan belum terlahir ke dunia”, Bunda Nayra mengguncang kedua bahu Dayana cukup kuat.
“Aku tidak peduli bunda”, seru Dayana. “Aku hanya ingin Dewa”.
PLAK
Suara tamparan di pipi kiri Dayana begitu nyaring terdengar, hingga asisten rumah tangga yang berada di halaman belakang menghampiri dan Oma Nilla pun mendekati anak serta cucunya.
“B-bunda?”, Dayana memegangi pipi kiri yang memerah.
“Oh, rupanya semua orang di rumah ini berpihak pada Dwyne”
“Dayana, tunggu”, panggil Nayra melihat putrinya berlari menuju kamar di lantai 2.
**
Kediaman Bradley
Huek huek huek
Pagi ini sudah 3 kali Dwyne memuntahkan isi perutnya, badannya pun terasa sangat lemas tak bertulang. Untung saja Dewa belum berangkat ke GB Hospital, dan selalu menemani istrinya ke kamar mandi.
“Dewa, kepalaku pusing”
“Sayang, maaf sudah membuatmu hamil”, ucap Dewa sembari menggendong istrinya.
__ADS_1
“Ish”, disaat pusing pun pipi Dwyne masih merona dan memukul pelan suaminya.
“Tapi terima kasih sayang, kamu bersedia mengandung anakku”, Dewa menghujani puncak kepala wanitanya dengan ciuman bertubi-tubi.
“Ini semua karena kamu”, ketus Dwyne.
“Tapi istri arogan ku ini juga suka”, goda Dewa lalu menurunkan Dwyne di atas ranjang.
Dewa melakukan tugasnya setiap pagi menyuapi sang istri penuh cinta, menemani hingga makanan yang tersaji benar-benar habis. Ia pun mengawasi obat serta vitamin, memastikan keduanya benar-benar masuk ke dalam perut Dwyne.
Sikap Dewa menjadi posesif dan tentu semakin romantis, sarapan dan makan malam Dwyne tak pernah sekalipun suaminya ini melewatkannya meski pun harus terlambat karena perjalanan dari klinik praktik ke ibu kota cukup jauh.
Sikap Dwyne mulai sedikit manja pada Dewa, tapi Dwyne selalu berusaha sekeras mungkin untuk tetap mandiri, tidak menggantungkan semuanya pada Dewa.
Sementara Dewa ingin sekali wanitanya bergantung pada dirinya, hal ini membuat Dewa merasa dibutuhkan dan berarti.
“Sayang ini air hangatnya”, Dewa membantu Dwyne minum.
“Makanan ku keluar lagi”, keluh Dwyne, susah payah mengunyah dan menelan makanan namun berakhir sia-sia. Di usia 7 minggu ini Dwyne mulai merasakan gejala seperti ibu hamil pada umumnya, sulit makan, bahkan minum air mineral pun begitu mual akibat rasa dalam indra pengecapnya yang menjadikan semua makanan begitu terasa aneh.
“Tidak apa sayang, yang keluar juga bukan semuanya”, Dewa membelai lembut rambut coklat Dwyne.
“Iya tapi aku takut mereka kelaparan”, Dwyne mengusap perut ratanya , lalu cemberut.
Dewa senang karena Dwyne begitu menerima kehamilannya, apa yang Dewa takutkan tidak terjadi. Dokter tampan ini khawatir istri arogannya akan menolak benih yang sudah tumbuh karena hingga kini Dewa belum juga mendengar ungkapan isi hati Dwyne.
“Tenang sayang, anak-anak kita tidak akan kelaparan, selama kamu makan tepat waktu”, Dewa mengulas senyum , mencium kening Dwyne.
“Aku mau minum susu hangat, Dewa bisa ambilkan untukku?”, suara manja Dwyne sangat indah memasuki gendang telinga Dewa.
“Tentu sayang, tunggu 5 menit”, Dewa turun ke dapur untuk membuat susu sapi segar seperti keinginan sang istri. Sudah satu minggu ini Dwyne hanya mau minum susu sapi segar yang di kirim dari peternakan Dewa di Cipanas.
Beragam merk dan aneka rasa susu terpaksa diberikan kepada orang lain karena Dwyne mual mencium aromanya serta rasanya yang manis tidak cocok di lidah ibu hamil ini.
...TBC...
...***...
...Bumil manja asyikkk disayang ya buk...
__ADS_1