
BAB 35
Dewa yang enggan melepaskan Dwyne, masih terus menikmati bibir kenyal milik istrinya apalagi wanita arogan itu tak menolaknya hanya tidak membalas saja. Kedua tangan Dewa pun kini berada di pinggul istrinya semakin merapatkan tubuh mereka agar menempel.
Dwyne mengeluarkan hampir seluruh tenaganya mendorong kuat suaminya itu ketika menyadari sesuatu yang sangat mengganggu di bagian bawah sana.
“Dwyne?”, tatapan Dewa begitu kecewa mendapat dorongan dari wanita yang ia sayangi dan cintai,
“Dewa, ini di luar batas, kamu sudah keterlaluan”, ucap Dwyne yang sebenarnya terkejut bukan menolak.
“Maksudmu?”, Dewa melangkah maju karena istrinya ini semakin berjalan mundur menghindari dirinya. “Ciuman kita tadi itu tidak wajar?, Dwyne kita itu suami istri tidak ada batasan apapun, bahkan jika aku ingin bisa melakukan hal yang lebih dari itu”, tegas Dewa sedikit kesal bercampur kecewa.
“Lebih?”, gumam Dwyne, lalu menggelengkan kepalanya karena membayangkan hal itu terjadi. “Dewa stop”, tegas Dwyne memposisikan kedua tangan di depan dada, “Aku... aku haus”, membalik tubuh lalu berlari mengambil gelas, tapi pergerakannya ini kalah cepat dari Dewa. Akhirnya suami tampannya memberikan Dwyne satu gelas air hangat. “Diam disitu jangan mendekat”, suara datar Dwyne.
“Aku ngantuk, sebaiknya untuk malam ini kita pisah kamar”, ucap Dwyne berlalu dari hadapan dokter tampan dan baik hati ini.
“Dwyne, tunggu”, menahan lengan sang istri, keduanya saling beradu pandang. “Maksudmu apa?, aku tidak mau kita pisah kamar?, apa setelah menciummu, kamu semakin ingin menghindar?”, tanya Dewa sangat kecewa dan sakit hatinya, setelah mempersiapkan kejutan untuk Dwyne agar istrinya semakin luluh, malah mendapat balasan diluar dugaan. Tubuh Dewa yang lelah rela menghias tangga dengan bunga mawar cantik, namun tak mendapat kata-kata istimewa dari mulut istrinya malah memintanya untuk menyingkirkan semua bunga yang berjajar rapi di tangga.
“Ya”, sahut Dwyne terus berjalan melewati suaminya tanpa menoleh ke belakang dan melihat bagaimana raut wajah kecewa seorang Dewa Bagas Darka.
Tak memilih memasuki kamar tamu, Dewa lebih ingin berbaring di sofa ruang keluarga. Baginya terbiasa tidur di sofa, dan ia akan lebih cepat melihat istrinya itu jika pagi datang.
__ADS_1
“Aku tidak menyerah begitu saja Dwyne”, gumamnya sebelum tertidur di sofa panjang yang sangat nyaman untuk berbaring.
.
.
Pagi hari Dewa bangun dan menjalani rutinitasnya, berolahraga ringan di sekitar rumah, karena taman rumah ini tak seluas kediaman Bradley, Dewa berkeliling keluar. Sementara Dwyne yang merasa lapar segera terjaga dari tidurnya, melihat ke kiri dan ke kanan mencari Dewa, ia lupa jika semalam mengunci pintu tak mengizinkan suaminya itu masuk kamar. Dengan rambut berantakan Dwyne menuruni anak tangga yang masih dipenuhi bunga, senyum manis tersungging di bibirnya dan menyentuh semua bunga itu setiap melewati satu per satu anak tangga.
“Aku mau susu putih hangat”, pinta Dwyne pada asisten rumah yang sedang memasak.
“Baik nona”
Setelah meneguk satu gelas susu hangat wanita cantik bermata coklat ini berdiri dekat kaca memejamkan kedua mata, menarik napas, menikmati hangatnya sinar mentari pagi yang masuk. Dwyne yang hanya menggunakan pakaian berbahan minim dan tali tipis itu mengangkat kedua tangan untuk mengikat rambutnya. Tapi seketika pandangannya terkunci pada pria yang menatap tanpa berkedip dari luar.
“Pagi Dwyne”, senyum Dewa.
“Hem”, balas Dwyne singkat kembali mendaratkan pantat di kursi ruang makan, Dewa mengekor istrinya. Keduanya menikmati sarapan dalam diam, sangat berbeda dari rumah Bradley yang selalu hangat penuh canda tawa.
“Hari ini aku ada pekerjaan, apa kamu mau ikut?, mungkin sekalian jalan-jalan”, ajak Dewa. Selama satu bulan ini dirinya gencar pergi ke luar kota memantau bisnisnya, tak kenal kata lelah demi membahagiakan sang istri walau terkadang tubuhnya lemas juga pusing akibat terlalu banyak aktifitas di jalani.
__ADS_1
“Kemana?”, tanya Dwyne ragu.
“Kamu tidak akan menyesal, lagi pula tempat pun sangat kamu sukai. Bagaimana? Kita bisa melepas pikiran dan bersenang-senang di sana”, Dewa menanti jawaban ‘iya’ dari istri arogan ini, sangat berharap karena setiap kali diajak pasti akan menolak dengan alasan pekerjaan menumpuk atau memeriksa materi meeting untuk esok hari.
Dwyne hanya diam menikmati sarapannya tapi siapa sangka sebenarnya ia berpikir menerima atau tidak ajakan suaminya itu.
Melihat Dewa yang berdiri dan melangkah menjauhi ruang makan, membuat Dwyne segera menjawab tawaran dari suaminya, “Dewa, aku ikut”. Dewa membalik tubuhnya dan tersenyum pada Dwyne, “Asalkan kamu janji tidak membosankan ikut denganmu”, ucap Dwyne tanpa mau melihat ke arah Dewa.
“Tentu, aku janji”, Dewa sangat senang akhirnya Dwyne menerima ajakannya, walau di sana tidak ada kemewahan tapi Dewa sangat yakin istrinya akan menikmati keindahan alam dan kesejukan dari pepohonan yang menjulang tinggi, apalagi ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana Dwyne menikmati suasana seperti itu.
Kini sepasang suami istri berada dalam mobil, Dewa dan Dwyne tidak membuang waktu banyak hanya untuk bersiap. Usai membersihkan tubuh dan rapi mereka segera berangkat mengingat perjalanan pasti akan memakan waktu lama karena di akhir pekan.
Sepanjang perjalanan Dewa selalu tersenyum bahagia, sedangkan Dwyne mengalihkan pandangannya ke arah jalan tak mau melihat senyum manis yang Dewa berikan. Menempuh jarak cukup jauh selama 2 jam lebih, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, kedua mata indah Dwyne berbinar melihat sekitarnya.
“Ini kan?”, tunjuknya ke arah lain.
“Ya, ayo turun”, Dewa mengulurkan tangan pada istri cantiknya itu untuk memegang tangannya.
Tbc
...****...
__ADS_1
Ditunggu like, komen, hadiah, vote dan rate
Sebanyak-banyaknya ( nawar 😜)