Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 103 - Sia-sia


__ADS_3

BAB 103


Disaat Dwyne ingin menghabiskan banyak waktu dengan Dewa, sedangkan suaminya itu sangat menghindarinya. Dwyne menghabiskan setengah gelas air lemon yang bahkan rasanya semakin masam ditambah perilaku suaminya itu.


Tapi segenggam semangat masih berkobar dalam dada, Dwyne melangkah mantap masuk kamar. Kali ini ia tidak boleh gagal lagi untuk menarik perhatian Dewa. Jangan sampai dirinya malu seperti  tadi.


Membuka pintu tidak sabaran, Dwyne tersenyum rupanya Dewa belum tidur, suaminya itu duduk di sofa bed sambil terus menatap buah hati yang lelap dalam tidur. Denver memang bayi pintar, tidak rewel ketika malam hari, bayi itu hanya merengek kecil menginginkan susu. Setelahnya tidur nyenyak kembali sampai pagi datang.


“Dewa, kamu belum tidur”, basa-basi Dwyne kakinya terus bergerak mendekat.


“Belum, lagipula baru selesai makan kenapa langsung tidur?”, Dewa menggelengkan kepala, memejamkan mata sebentar lalu duduk bersandar membuka buku kedokteran. Membaca dengan fokus dan tenang.


“Menghindar lagi”, gumam Dwyne, yang kini tidak bisa melihat wajah suaminya dengan baik akibat tertutup oleh buku tebal. Penampilan cantiknya malam ini seolah angin lalu bagi Dewa, buktinya pria itu tidak terpesona sedikit pun, berkomentar sepatah kata pun tidak. Dwyne memajukan bibir, meninju telapak tangan kirinya dengan lemah. “Apa kamu membenciku Dewa?”, lirih Dwyne, pada akhirnya duduk di tepi ranjang.


“Kamu bertanya sesuatu Dwyne?”, Dewa memang mendengar sesuatu namun apa yang dikatakan sang istri tidak tertangkap jelas. “Maafkan aku Dwyne, maaf aku menghindarimu, aku tidak ingin mendapat harapan palsu lagi”, tutur Dewa di relung hatinya.


Dwyne menggeleng lemah, mengangkat sedikit bahunya, buku tebal di tangan Dewa kembali menutupi wajah tampan yang sangat Dwyne rindukan. Sungguh Dwyne tak bisa selalu seperti ini, ia tak mampu menerima sikap dingin dan acuh suaminya.


Pada akhirnya, Dwyne masuk walk in closet mengganti pakaiannya dan menghapus riasan pada wajah cantiknya, lalu naik dan menutupi tubuh dengan selimut. Tatapannya hanya tertuju pada Dewa, sorot mata tajam dan kedua tangan terkepal erat dalam selimut, bibirnya terkatup rapat meski ingin banyak bicara.


Tidak memerlukan waktu lama, Dwyne memejamkan mata terbawa dalam mimpi. Dewa yang menyadari itu, langsung menyimpan buku tebal miliknya. Ditatap setiap ukiran indah pada wajah istrinya, menggetarkan hati Dewa untuk mendekat. Dewa membelai kepala wanita yang belakangan bersikap aneh, lalu mencium kening, hidung dan bibir pink yang kini polos tak menggunakan apapun juga.


“Kamu selalu cantik Dwyne”, menghapus jejak saliva yang tertinggal di bibir wanitanya. Bolehkan Dewa ikut berbaring di sisi istrinya, memeluk erat dan tak ingin melepaskan wanita yang sudah membuat hatinya merasakan segala cinta juga sesak dalam dada.


“Tidur yang nyenyak cantik. Kamu ibu hebat yang Denver miliki”, tatap Dewa penuh puja, tak lama ia pun turut menyusul Dwyne ke alam mimpi.

__ADS_1


.


.


Dwyne langsung membuka mata lebar, mendengar tangis bayi Denver. “Denver”, lirihnya masih belum mendapat kesadaran penuh. “Dewa?”, cekatan Dewa memberi botol susu pada putranya tanpa harus membangunkan Dwyne lebih dulu.


“Ya?”, sahut Dewa.


Netra coklat Dwyne teralih pada jendela yang tertutupi kain tipis tembus pandang. Hari telah berganti meski matahari masih malu menampakkan diri tapi cahaya pagi ini sedikit lebih terang.


“Sejak kapan Denver bangun?”, menurunkan telapak kaki pada karpet, kenapa Dewa tidak membangunkannya untuk memberi susu pada Denver. Dwyne sangat malu, karena Dewa lebih sering terbangun saat malam hari untuk mengurus putranya.


“Oh, baru saja”, jawab Dewa tanpa menoleh pada sang istri.


“Iya, apapun yang menurut mu baik selama mengedepankan Denver bukan masalah”, setuju Dewa. Ia tak pernah mengekang istrinya ini harus menjadi ibu rumah tangga yang utuh 24 jam di rumah.


lDewa sadar dengan posisi Dwyne sebagai pewaris salah satu bisnis keluarga, serta wanita ini telah terbiasa menghabiskan setengah waktunya berkerja di luar rumah. Mungkin bisa saja Dwyne melepas jabatan CMO, tapi Dewa rasa akan lebih baik jika istrinya ini memiliki waktu untuk dirinya sendiri, bertemu dan belajar banyak hal, tidak terkurung dalam rumah.


“Maaf, aku belum bisa menjadi ibu seutuhnya bagi Denver”, lirih Dwyne menundukkan kepala, menghela napas pelas.


“Hey, bukan masalah. Mungkin jalan mu dan mama berbeda, tapi kamu lihat Dokter Samantha masih aktif sampai sekarang, iya kan? Hanya saja intensitas praktiknya tidak seperti dulu”, pungkas Dewa, tak mau Dwyne menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa selalu menemani Denver.


“Iya kamu benar Dewa”, mengangguk cepat, ia begitu beruntung memiliki suami pengertian seperti Dewa. Benar-benar harus berterima kasih pada Papa Ray dan menjodohkannya dengan Dewa. Ia begitu tak enak hati kala pernah mengatakan menyesal menikah dengan suaminya ini. “Huh”, lemas Dwyne.


“Dewa? Hari ini berangkat pagi? Aku buat sarapan ya”, Dwyne antusias mencoba kembali apa yang gagal tadi malam.

__ADS_1


“Eh Dwyne, ti-“, Dewa terdiam karena Dwyne bergerak sangat cepat. Padahal untuk apa repot, bukankah selama ini koki yang memasak semua makanan untuk keluarga Bradley.


Sementara di dapur bersih, Dwyne kepayahan menerima instruksi dari koki hanya untuk membuat sandwich dan salad buah. “Aduh, kuku ku”, ringisnya terus memotong buah yang tidak jelas bentuknya.


“Nona muda, biar saya bantu”, tawar koki yang menggelengkan kepala di samping Dwyne.


“Tidak perlu”, tolak Dwyne.


“Kenapa bentuknya seperti ini?”, Dwyne kecewa, ekspektasinya berlebihan. Bayangan kedua makanan itu tidak seperti apa yang ia rekam di kepala.


Koki pun hendak mengganti makanan yang Dwyne buat namun sebelum itu terjadi Dewa turun lebih dulu, penampilannya telah rapi, kemeja tangan pendek berwarna marun membungkus tubuh kekar, dan celana panjang hitam menyempurnakan penampilannya.


“Dewa”, Dwyne terkejut, ia kira masih ada waktu untuk memperbaiki hasil karyanya pagi ini tapi terlambat. “De-Dewa maaf, aku –“, Dwyne menatap sedih pada dua piring di tangannya.


“Apa itu sarapan untukku, Dwyne?”, Dewa menghampiri semakin dekat, Dwyne hanya bisa gugup dan malu tapi juga mengangguk sekaligus.


“Eh bukan, ini milikku”, ralat Dwyne cepat.


Tetapi kedua piring itu beralih pada tangan Dewa, yang saat ini siap menyantap sarapannya. Satu suapan berhasil masuk dalam mulut Dewa, “Ehem”, sebelah alis Dewa terangkat, salad buah ini terasa masam dengan terlalu banyak saus dan perasan air jeruk nipis di dalamnya. Dewa memilih menghabiskan makanannya, ia tahu Dwyne yang tidak bisa masak pasti kerepotan membuat dua menu di depannya.


“Apa kamu menyukainya? Aku bisa membuat lebih banyak lagi”, ungkap Dwyne, Dewa begitu lahap menyantap makanan yang rasanya tidak karuan.


“Uhuuk”, Dewa terbatuk, ia benar-benar tidak bisa memakan lebih banyak lagi. “Ya aku suka, tapi sebaiknya jangan repot untuk membuatnya lagi”, Dewa berbohong pada wanita yang kini memberengut menyandar pada kitchen bar.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2