
BAB 104
GB Hospital
Siang hari di taman GB Hospital dokter umum yang terkenal ramah dan baik hati sedang duduk bersandar pada kursi kayu. Dewa hanya berteman dnegan air mancur dan tanaman hias yang tertata rapi.
Dewa merasa harinya sejak pagi banyak menguras tenaga, mulai dari menghabiskan makanan yang di buat oleh Dwyne, lalu sampai di rumah sakit disambut oleh jajaran pasien yang menunggunya. Pasalnya jumlah pasien pada setiap dokter telah dibatasi oleh pihak management rumah sakit, tapi hari ini membludak, belum lagi Dewa membantu berjaga di IGD sampai pukul 1 siang.
“Siang dokter”, sapa beberapa pasien dan perawat yang melintasi taman.
“Iya siang”, Dewa tersenyum, salah satu hal ini yang sangat tidak disukai oleh Dwyne. Suaminya itu terlalu mudah menebar pesonanya melalui ukiran senyum dibibir.
Dewa merenggangkan otot di tubuh kekarnya, kedua tangan terangkat ke atas. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, harum bunga menyeruak memanjakan indra penciuman. Tapi rasa pusing pada kepala sedikit mengganggu Dewa, dirinya pun teringat melewatkan makan siang yang sangat penting bagi tenaga medis.
Tidak lucu kan saat melayani pasien harus terjungkal karena perut lapar. Tiba-tiba tangan Dewa merogoh saku jas putih, ada dorongan kuat meraih benda pipih miliknya.
Matanya melebar mendapat pesan perhatian dari sang istri, Dewa pikir Dwyne salah kirim. Karena selama ini perempuan arogan itu hanya membalas pesan tanpa mendahului mengirim pesan. Apalagi sekedar untuk bertanya apa Dewa sudah makan, benar-benar hanya basa basi.
“Dewa jangan lewatkan makan siangmu”
“Dewa apa kamu sudah makan? Aku lihat kabar kalau hari ini pasien sangat banyak”
“Dewa, lihat Denver bangun, mau memberi papa semangat”
Dwyne mengirim foto dirinya bersama Denver, maksud terselubung dari gambar itu ia ingin mengirim fotonya sendiri tapi sangat malu.
Sedangkan Dewa mengulas senyum memperhatikan raut wajah Dwyne yang masih datar pelit senyum, meraba layar datar menyentuh pipi Denver kemudian wajah istrinya. “Dwyne”, gumam Dewa, tatap penuh cinta ditujukan untuk wanita bermanik coklat. “Aku akan menjaga kalian, aku akan selalu ada untukmu dan Denver”.
Bolehkah Dewa abai pada pesan ini? Hati kecil dan jemarinya sangat ingin membalas pesan berisi perhatian itu. Tapi akhirnya Dewa memilih menutup aplikasi chat itu, menegaskan otaknya bahwa Dwyne hanya salah kirim. Tapi bagaimana mungkin salah kalau jelas-jelas nama dirinya tertulis dalam pesan itu
Dewa yang cerdas seolah lupa segalanya, rasa cinta memang buta sampai menutupi matanya yang membaca jelas kata per kata. Sebelum menyimpan ponsel, Dewa merubah tampilan wallpaper layar depan menjadi foto Dwyne dan Denver yang baru saja di terimanya.
**
__ADS_1
Sementara Dwyne di rumah, dalam kamar selalu memegang erat ponselnya. Ia berharap Dewa membalas walau hanya satu kata bukan masalah. Dwyne menggigit bibir bawah dan tatapannya berubah sendu pada pesan yang terkirim hanya dibaca oleh suaminya.
“Dewa”, keluh Dwyne, terduduk lemas pada sofa bed. Memeluk bantal dan selimut yang biasa digunakan Dewa sebagai penghangat tubuh kala dingin mendera.
Anggap saja Dwyne sedang memeluk erat tubuh Dewa, sangat merindukan dada, bahu serta punggung kekar suaminya sebagai sandaran. Tumpuan saat merasa lelah pada aktifitas seharian penuh.
“Dewa bisa tidak sikap mu jangan sedingin ini”, lirih Dwyne mengusap kasar kedua pipinya. Entah cara apa lagi yang harus ia lakukan. Dwyne mulai mengingat hal-hal yang pernah suaminya berikan, mulai dari perhatian, hadiah kalung, kejutan di rumah baru, mendadak nyalinya menciut ingat semua pengorbanan yang dilalui Dewa.
Tidak sebanding dengan apa yang kini ia rasa dan perjuangkan, beberapa hari saja sangat lama dan lelah, apalagi suaminya menjalani hingga berbulan-bulan bahkan sekarang di usia 2 tahun pernikahan.
“Kenapa aku baru menyesal sekarang?”, lirihnya menghela nafas, netranya datar lurus menatap foto pernikahan.
Dwyne menggigit kuku ibu jari seraya berpikir, tiba-tiba terlintas ide sederhana dalam kepalanya. Seketika ibu satu anak ini bersemangat mengetik sesuatu pada layar gawai.
Wanita ini mantap melangkah menuju dapur, menemui koki yang bertugas memasak hari ini. “Apa menu untuk makan malam”, tanya Dwyne penuh penekanan.
“Tom yum kuah nam khon, apa ada yang mau nona ganti?”
“Emmmm, ajari aku cara membuatnya !!!”, tegas Dwyne tak ingin terbantahkan.
“Ta tapi nona –“, kata-kata salah satu koki di hotel yang setiap hari datang kameunah pun terputus melihat Dwyne mengangkat satu tangannya.
“Tugasmu masak dan sekarang tugasmu mengajariku membuat menu makan malam”, kesal Dwyne, ekor matanya melirik tajam pada koki.
“Tapi menu ini permintaan nyonya besar yang akan sampai nanti malam”, alasan Koki.
“Aku tidak peduli, ajari aku atau kau mau dipindahkan ke tempat yang jauh dan di hotel lain?”, ancam Dwyne, seketika koki yang usianya lebih tua darinya mengangguk cepat.
.
.
Sore hari, Dwyne menangis, bulir beningnya mengalir dari mata indahnya. Bukan karena sedih, bukan, tentu saja ia harus membersihkan cabai dan mengupas serta memotong bawang hingga kedua matanya terasa pedih dan panas.
__ADS_1
Beberapa kali asisten rumah menawarkan bantuan tapi Dwyne menolak mentah-mentah, apalagi saat tangannya tergores tajam mata pisau. Ditambah perasan air jeruk nipis semakin menambah lukanya.
“Kenapa harus masakan aneh ini untuk nanti malam”, kesal Dwyne pada koki yang hanya tersenyum kaku di depannya. “Katakan, dari sekian juta menu kenapa harus ini?”, teriak Dwyne sebal, sudah hampir 30 menit tapi tak kunjung selesai.
Jemari lentik dan kuku indah itu terluka, kalau seseorang yang merusaknya sudah dipastikan wanita ini akan murka, mengingat betapa mahalnya biaya perawatan untuk kuku tangannya.
“Ah sial, kenapa belum selesai juga. Apa tidak ada bumbu instan?”, Dwyne terisak, memegangi pisau dan cabai. Untung tidak ada kembarannya di rumah ini, sudah dipastikan akan menjadi bahan bulan-bulanan Dariel.
“Tidak ada nona, biar saya saja yang memasaknya. Sebaiknya nona bersiap untuk menyambut Dokter Dewa”, saran koki, sontak tubuhnya mundur jauh ke belakang.
Dwyne mengacungkan pisau sebagai tanda penolakan, kembali membuat telinga koki itu panas dengan kata-kata pedas nona mudanya.
Belasan menit kemudian , semua bahan telah masuk dalam panci. Dwyne mengaduk dan menghirup aroma masakan yang sangat lezat ini. “Ternyata tidak sulit hanya butuh ketekunan”, Dwyne tersenyum puas.
Tepat di saat ia menyelesaikan acara masak memasak, seorang asisten rumah tangga paruh baya menghampiri. Wajahnya berubah tegang dan gemetar karena ada hal yang harus di sampaikan.
“Nona muda”
“APA?”, ketus Dwyne menyambar.
“Nona sebaiknya anda duduk lebih dulu”, pintanya bernada sangat lembut, menatap wajah Dwyne berkeringat dan beraroma bumbu serta jemarinya terdapat luka, asisten rumah ini semakin tidak tega menyampaikan maksud kehadirannya.
“Katakan, ada apa? Denver?”, tanya Dwyne tidak sabaran dan tatapan tajam.
“Bukan Nona, eemm tapi.....tapi”
BRAK
“Tapi apa?”, gebrakan meja batu marmer itu luapan dari kekesalannya hari ini.
“Tuan Dokter bilang, tadi telepon nona tapi tidak diterima. Barusan menelepon dan minta disampaikan kalau malam ini tidak pulang, harus menggantikan –“, kalimatnya terputus.
“APA? TIDAK. Mana mungkin?”, Dwyne tidak percaya kalau usahanya hari ini akan kembali sia-sia, kenapa juga nasibnya belakangan ini kurang beruntung ah tidak beruntung lebih tepatnya.
__ADS_1
...TBC...