
BAB 87
Pagi ini Dewa telah rapi dan bersiap melakukan rutinitas padatnya. Dwyne masih nyaman dalam balutan selimut tebal. Tak ingin membangunkan Dwyne, Dewa bergerak pelan dan cepat. Istrinya itu belakangan terlihat sangat kelelahan, badannya pun tak selangsing dahulu, pembengkakan di bagian kaki membuat Dwyne harus banyak beristirahat.
“Aku berangkat sayang”, Dewa menyingkirkan anak rambut di kening Dwyne dan mengecup kening wanitanya.
Mendadak Dewa terkejut dan berdebar, mendapati suhu tak biasa pada sang istri. “Sayang”, lirih Dewa yang pada akhirnya membangunkan Dwyne.
“Dewa, kamu mau berangkat sekarang?”, suara serak Dwyne. “Maaf aku tidak bisa menemani kamu sarapan, kepalaku pusing Dewa”, Dwyne memegang pelipis kanannya.
“Dwyne kamu demam. Sebentar”, Dewa keluar kamar dan membuka laci di lemari depan ruang tidur.
Mulai mengeluarkan termometer dan alat ukur tekanan darah, “Kemarikan tanganmu”, pinta Dewa mengeluarkan alat elektrik dari dalam tas.
“Tidak perlu Dewa, sepertinya aku mau flu”, ucap Dwyne, badannya terasa begitu lemas. “Nanti aku telepon tante minta resep obat flu yang aman untuk ibu hamil”, tutur Dwyne.
Dewa melihat suhu pada tubuh istrinya nyaris mencapai 39 derajat, Dewa menempelkan stetoskop pada dada dan perut Dwyne. Memang istrinya ini mengalami gejala flu, hasil tekanan darahnya pun tidak terlalu tinggi hanya saja Dewa selalu siaga.
Pasalnya Dwyne pernah mengalami tekanan darah yang melonjak tinggi hingga hampir kejang, namun Dokter Samantha segera menanganinya hingga hal yang di takutkan tidak terjadi.
“Kamu benar ini gejala flu”, Dewa melepas alas tensi dari lengan sang istri.
“Aku bantu ganti baju ya, kita temui Dokter Samantha”, Dewa mengelus punggung Dwyne.
“Tidak perlu Dewa, kamu harus berangkat kan? Aku tidak mau merepotkan”, alasan Dwyne.
“Aku kerja di rumah sakit, sekalian jalan. Aku hubungi Dokter Samantha supaya mengosongkan jadwalnya pagi ini untuk mu”.
“Tapi.......”
“Maaf sayang untuk masalah kesehatan aku tak mau menerima bantahan atau alasan apapun”, Dewa membantu istrinya memasuki walk closet.
Sementara di ruang makan Dariel terlihat sendirian menunggu sepasang suami istri turun dari kamarnya.
__ADS_1
“Haduh, kemana mereka? Apa melakukannya sepagi ini? Ck, yang benar saja. Benar-benar tidak sopan ada tamu tapi malah mengurung diri di kamar”, keluh Dariel.
Dariel memfokuskan kedua bola matanya, ia tersentak karena Dewa memapah Dwyne keluar rumah.
“Dwyne, kakak ipar. Kalian mau kemana? Tidak sarapan?, tanya pria tampan yang gemar jahil ini.
“Dwyne demam, aku haru segera ke rumah sakit”
“Oh oke, hati-hati. Jaga dengan baik kembaranku”, teriak Dariel kembali masuk rumah menikmati sarapan seorang diri.
**
GB Hospital
“Dwyne, kamu masih menjaga pola makan kan?”, tanya Samantha.
“Iya mah, aku jarang makan makanan berkadar garam tinggi juga gula”.
“Iya dokter”
Dewa duduk di kursi depan meja, memperhatikan raut wajah istri Adam Bradley ini. Ia pun mulai bertanya hal yang ingin diketahuinya. “Dokter, bagaimana keadaan kandungan Dwyne?”.
“Dewa jangan sampaikan dulu pada Dwyne sebelum hasilnya pasti, dari hasil USG istrimu itu mengalami Twin to Twin Transfusion Syndrome”, bisik Dokter Samantha.
“Itu....”, Dewa mengerutkan alisnya.
“Ya Dewa ini salah satu kejadian langka dan sepanjang aku praktik hanya ada 3 kasus seperti itu, ini pun termasuk keponakanku”
“Tapi, Dokter apa itu berbahaya?”
“Ya Dewa, karena ada kelainan pada plasenta, apalagi janin dalam kandungan Dwyne kembar identik”.
Samantha dan Dewa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi melihat pintu toilet terbuka dan kaki Dwyne yang melangkah keluar.
__ADS_1
“Apa aku harus menunggu selama 1 jam lagi untuk hasilnya?”, tanya Dwyne tidak suka menunggu.
“Kamu boleh pulang, nanti hasilnya mama serahkan pada suamimu. Lebih baik kamu istirahat Dwyne”, Dokter Samantha memeluk keponakannya.
**
Rumah Dewa dan Dwyne
“Sayang, aku kembali ke rumah sakit, langsung hubungi kalau kamu merasa sesuatu yang tidak nyaman atau membutuhkan hal lain”, tutur Dewa yang masih merasa cemas, kata-kata Samantha di rumah sakit membuatnya tak tenang.
“Bawel sekali sih”, sinis Dwyne yang sakit telinga mendengar kata-kata posesif suaminya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Dewa memastikan pada seluruh pegawai di rumahnya untuk selalu mengawasi Dwyne dan melapor apapun perubahan kecil yang dialami sang istri.
“Baik tuan”, ucap asisten rumah serempak.
Dewa melajukan mobilnya cukup cepat, ia sudah terlambat 10 menit untuk praktik di rumah sakit, pasti pasiennya menunggu dan membludak.
Tepat sekali apa yang dipikirannya jika pasien menunggu di depan ruang dokter umum.
Selama memeriksa pasien pun pikiran Dewa hanya satu yaitu bertemu Samantha dan membahas TTT- syndrom ini.
Usai 2 jam praktik dan pasiennya telah habis tak bersisa, Dewa berlari kecil mencari Dokter Samantha.
“Dewa, pasti kamu menunggu tante. Ayo masuk !” ajak samantha memasuki ruang dokter obgyn.
“Ini hasilnya dan... silahkan kamu duduk lebih dulu”, ucap Samantha
“Dokter ini maksudnya.......”, Dewa membuka mulut tidak percaya akan hasil tes sang istri,
“Iya Dewa kita harus segera mengambil tindakan untuk menyelematkan kedua anak kalian”
...TBC...
__ADS_1