Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 65 - Aku Kangen Kamu


__ADS_3

BAB 65


Dewa masih setia memandangi wanitanya sampai pukul 12 malam, rambut coklat Dwyne bergerak tertiup angin malam dan beberapa kali wanita cantik itu merapikan rambutnya.


“Sayang, aku kangen kamu”, lirih Dewa


Seandainya saja tidak terhalang pepohonan besar pasti Dwyne bisa menyadari keberadaan mobil Dewa di luar rumah. Jika saja keadaan masih baik-baik saja pasti malam ini keduanya sedang tertawa dan saling menghangatkan tubuh masing-masing di atas ranjang.


Dwyne memutuskan masuk untuk tidur karena pukul 6 pagi, ia dan Dariel harus pergi ke bandara. Dewa hanya bisa melihat wanitanya melangkah masuk dan menutup rapat pintu balkon, lampu pun seketika mati.


“Selamat tidur sayang”, Dewa turut menurunkan kursi jok mobil, membuat senyaman mungkin untuk merebahkan tubuhnya.


Seperti baru beberapa detik matanya terpejam seorang pria bertubuh tinggi dan kekar mengetuk pintu mobil, “Dokter, Dokter Dewa”


Dewa terkesiap melihat ke sisi kaca mobilnya yang sedikit terbuka untuk memberi ruang oksigen masuk. Petugas keamanan rumah Bradley membangunkan tidur Dokter Dewa.


“Ah ya, ada apa Pak?”


“Semalaman dokter tidur di mobil, maaf dokter saya tidak membuka pintu  karena takut nyonya marah”


“Tidak apa, asal saya masih diizinkan di sini”, Dewa mengulas senyum hangat.


“Ini Pak Dokter, tadi saya minta asisten rumah membuat susu hangat dan sandwich”, memberi Dewa nampan berisi makanan.


“Terima kasih”


“Sama-sama Pak Dokter. Sebaiknya anda segera pergi karena sebentar lagi mobil tuan dan nyonya keluar mengantar tuan muda juga nona muda”, tutur seorang petugas keamanan.


“Mengantar? Dariel dan Dwyne? Kemana?”


“Saya dengar ke Inggris”, jawab pria itu.

__ADS_1


“Hah, apa? Inggris?”, Dewa luar biasa terkejut, menerima kabar kepergian wanita yang ia cintai. Selama satu minggu ini tak ada kabar apapun dari Dwyne dan tiba-tiba harus pergi, apa semua ini karena masalah yang menerpa rumah tangganya? Dewa menghela napas. “Terima kasih Pak”


Dewa masuk dalam mobil mengawasi pintu pagar tinggi itu, jantungnya berdegup hebat saat pagar hitam kokoh mulai terbuka. Keluar mobil hitam yang Dewa tahu milik pengawal pribadi Bradley , lalu di susul mobil milik mertuanya dan tepat di belakangan keluarlah mobil sport hitam Dariel, dapat Dewa lihat pujaan hatinya duduk di samping kursi kemudi sembari mengikat rambut.


“Sayang”, hati dan pikiran Dewa ingin mencegah mobil itu melaju namun tubuhnya menempel erat di kursi mobil.


“Dwyne sayang”, tenggorokan Dewa tercekat.


Setelah ketiga mobil hampir menghilang, Dewa sigap  menyusul istrinya ke bandara, ia semakin sakit hati, Dwyne begitu menghindari bertatap muka dengannya.


**


Dalam Mobil Dariel


“Dwyne kamu baik-baik saja?”


“Huum, kenapa?”


“Tentu saja Dariel, aku hanya kurang tidur. Setelah di pesawat aku mau pinjam kamar papa untuk tidur”, jawab Dwyne melihat sisi jalanan yang mulai terang oleh mentari pagi.


“Tidurlah Dwyne”, Dariel mengusap sayang puncak kepala saudari kembarnya.


Bukan tanpa alasan ia bertanya keadaan kembarannya, karena melihat mobil milik Dewa jelas terparkir di pinggiran jalan rumah Bradley dan ia pikir kakaknya ini melihat Dewa.


“Terima kasih adikku yang tampan”, Dwyne menoleh pada Dariel yang sangat fokus menyetir mobil.


Setibanya di bandara, Mama Nayla memeluk erat putri sulungnya dan mengacuhkan Dariel yang menyender pada koper besar.


“Mama pasti merindukan kalian”, isak tangis mama cantik milik Papa Ray.


“Sayang, mereka hanya pergi dua minggu, jangan sedih”, membelai sayang rambut panjang wanitanya.

__ADS_1


“Rumah sepi Ray”, mengurai pelukan lalu beralih menciumi pipi Dariel hingga pria tampan itu merasa geli.


“Ma, stop”


“Mama menyayangi kalian twin D, sampaikan sayang mama pada Denna”, Nayla menggenggam tangan twin D.


“Iya ma, pasti”


Dariel merangkul kakaknya dan segera menaiki pesawat yang sudah siap lepas landas. Dwyne beberapa kali menoleh ke belakang seolah melihat pada mama dan papanya namun sebenarnya ia menunggu kehadiran seseorang dan berharap dia ada.


“Sudah Dwyne, jangan buat hatimu semakin sakit”, kata hati istri Dewa Bagas Darka ini.


“Pagi Nona Muda dan Tuan Muda”, sapa pilot dan co pilot menunggu sang pemilik pesawat.


Keduanya sudah duduk nyaman di atas pesawat.


Di saat bersamaan Dewa baru saja tiba, ia semakin merutuki dirinya kenapa tidak langsung mengejar mobil Dariel melainkan hanya diam saja memandangi hingga menghilang.


“Ah, kamu dimana Dwyne”, kesal Dewa yakin wanitanya telah berada di atas awan apalagi melihat mobil mertua serta pengawal meninggalkan bandara.


“Tidak, tidak sayang jangan pergi. Dwyne aku mencintaimu”, kata-kata itu begitu ingin di sampaikan Dewa secara langsung, namun ia kembali menelan kecewa mendengar deru pesawat yang hendak lepas landas bertuliskan RB di bagian badannya.


“Dwyne”, lirih Dewa hanya bisa memandang burung besi itu mulai menjauh. Dewa mengepalkan kedua tangannya, pergi sudah wanita yang amat ia sayang dan cintai.


Hanya karena sebuah kesalahpahaman, perjuangan yang telah di lalui dengan tenaga dan terkuras waktu kini hilang sudah tak berjejak sedikit pun. Mengingat kata ‘Inggris’, pasti wanitanya tinggal lama di negara itu mengingat Opa Dave dan Oma Anggi tinggal di sana dan keluarga Bradley yang lain pun masih menetap di Inggris.


“Dwyne aku kangen kamu, jangan pergi sayang. Aku tidak bisa tanpa mu”, Dewa memandangi pesawat hingga benar-benar terbang tinggi dan menghilang dibalik awan.


“Dayana”, desis Dewa yang akan menemui kakak sepupu Dwyne siang ini di Universitas. Ia ingin Dayana menjalani serangkaian tes yang akan membuktikan jika mereka tidak melakukan apapun.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2