Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 61 - Semakin Dekat


__ADS_3

Bab 61


“Dewa?”, panggil Dwyne datar.


“Apa sayang?”, sahut Dewa yang membantu istrinya mengeringkan rambut menggunakan hair dryer.


“Apa alasanmu menerima perjodohan ini?”, ragu-ragu tanya Dwyne.


“Ehem, ladies first”


“Aku?”, Dwyne menggigit bibir bawahnya dan bola mata yang melirik ke arah atas, ia berpikir bagaimana caranya menjawab tapi suaminya ini tidak sakit mendengarnya, “Aku, aku ingin kamu melunasi hutangmu dan emm.... dengan cara mengikat mu dapat memudahkan aku mengawasi debitur ku”, ucap Dwyne sedikit terbata-bata.


Tidak di sangka Dewa hanya tertawa mendengar jawaban Dwyne, “Sayang”, Dewa berlutut di depan wanitanya, bukan merendahkan diri namun bentuk pujaannya pada wanita yang ia cintai sejak remaja.


“Kamu ingat dulu Papa Ray membawamu ke rumah pamanku ?”, Dwyne mengangguk cepat, memang sekilas ia mengingatnya tapi untuk mengurutkan semua kejadian rasanya sulit karena usianya baru menginjak 6 tahun.


“Aku mulai menyayangimu ketika ini”, Dewa memukul pelan bagian punggungnya, “Ini pertama kali menggendong gadis kecil yang menangis karena terjatuh”, senyum Dewa mengingat kejadian itu. Mungkin dahulu dirinya dianggap tidak waras memiliki perasaan pada anak kecil namun sekarang setelah keduanya sama-sama dewasa, ia begitu bangga mengungkapnya.


Dwyne tersipu malu, menghindari kontak mata dengan Dewa, serba salah, melihat ke arah manapun Dewa selalu menatapnya dan membelai lembut pipi Dwyne.


“Sayang, sejak saat itu aku berjanji akan mencari gadis kecil itu dan menjadikan istriku. Aku tidak pernah berani mendekati wanita ini, sikap arogannya membuatku menjauh secara perlahan, apalagi mengingat status keluarga kita yang berbeda, aku hanya Dewa yang tidak memiliki harta apapun, mana mungkin berani menandingi para pengusaha muda yang mengejar wanita ini”, Dewa menggenggam tangan Dwyne lalu mengecupnya.


“Dwyne, tapi takdir membawa kita bersatu, Papa Rayden datang ke rumah kontrakan ku dan beliau sangat tahu jika aku mengagumi putrinya, malam itu juga papa menjodohkan kita berdua”, tutur Dewa.


“Awal nyaliku menciut, tapi berkerja keras menghasilkan ini semua untuk istriku dan aku percaya suatu saat nanti wanita arogan milikku ini akan mencintai suaminya”, ucap Dewa tulus, lalu menangkup pipi Dwyne memagut bibir pink yang diam membisu.


“Dwyne, aku mencintaimu”


Dewa dan Dwyne sama-sama tersenyum di tengah larutnya malam sebelum keduanya mengistirahatkan tubuh dan kembali pada aktifitas padatnya esok hari.


.


.


Dua minggu berlalu sepasang suami istri ini semakin dekat satu sama lain, kembali meluangkan waktu makan siang bersama di tengah kesibukan. Dwyne yang selalu sibuk ke luar kota, pernah beberapa kali dirinya terpaksa harus menginap dan tentu saja Dewa ikut karena khawatir terjadi sesuatu pada istri arogannya ini. Walaupun menolak , Dewa bersikeras mendampingin wanitanya perjalanan bisnis.


Dewa juga di sibukkan kegiatan perkuliahan yang mulai semakin padat. Dwyne mengalah menemui prianya di rumah sakit atau Universitas.

__ADS_1


“Apa jalanan macet sayang?”, tanya Dewa merangkul sang istri dan membawanya memasuki area Universitas.


Dwyne menggeleng pelan seraya berpikir, “Kenapa tanya seperti itu?”


“Aku merasa sangat lama, padahal satu jam yang lalu kamu bilang ke sini tapi rasanya menunggu seharian”, Dewa tertawa ringan.


“Huh, apa kamu seperti ini pada wanita lain?”


“Tidak, mana mungkin Dwyne”


Beberapa pasang mata pria di kawasan Universitas memandang puja pada istri Dewa Bagas Darka, tidak tinggal diam pria yang baru mulai pendidikan spesialis ini langsung mengeratkan rangkulannya dan mencium pelipis Dwyne di depan para pria yang kelaparan itu.


“Eh”, pekik Dwyne.


“Apa?, tidak masalah kan? Aku sengaja menunjukan pada mereka bahwa kamu hanya milikku”, bisik Dewa seketika Dwyne meremang.


“Lagi pula biarkan saja mereka itu, membuang waktu saja”, keluh Dwyne yang memang tak pernah mengambil pusing pada siapa pun pria yang mencoba menarik perhatiannya, namun ketika telah mengganggu baru ia akan mengeluarkan kata-kata pedasnya.


“Sayang mau makan dimana?”, tanya Dewa begitu manisnya.


“Kita ke sana mau? Soto mie?”


“Terserah, apa saja”


Dewa menggandeng tangan Dwyne memasuki kantin yang menjual aneka soto, memesan makanan itu 2 porsi. Dewa memang sangat takjub pada wanitanya, wajahnya mirip papa Rayden lebih dominan khas perempuan Eropa namun untuk selera makanan Dwyne tidak pernah memilih. Wanita ini melahap habi soto mie yang ada di depannya.


“Dwyne, maaf aku tidak bisa mengantar ke kantor, kelasku di mulai 15 menit lagi”, mencium kening wanitanya sebelum memasuki mobil hitam.


“Tidak masalah, ada supir yang mengantar”, Dwyne menggerakkan bahu.


“Kabari aku setelah sampai di kantor, aku mencintaimu istriku”, kecup Dewa singkat di bibir pink yang begitu manis.


Setelah mengantar istrinya, Dewa meninggalkan area parkir menuju gedung yang akan jadi tempatnya belajar. Ia membawa beberapa buku tebal dan juga laptop di tasnya. Tak sengaja mendengar dua orang wanita berseteru.


“Heh, kalau jalan lihat dong pakai mata”, bentak wanita berambut pendek.


“Bukankah sudah ku bilang tidak sengaja, aku juga mau membantu mu meminta tanda tangan dosen lagi. Lalu apa masalahnya?”, Dayana tak mau kalah.

__ADS_1


“Hah, kau itu memang keras kepala ya. Karena kelakuan mu menguntit orang jadi menabrak aku kan?”, kesal calon dokter.


Dewa memisahkan kedua perempuan yang bertengkar bahkan dirinya sampai terkena cakaran dari kedua wanita itu.


“STOP, kalian sebagai mahasiswa akhir seharusnya memberi contoh yang baik pada junior”, seru Dewa.


“Maaf Dokter”, ucap keduanya.


“Selesaikan masalah kalian baik-baik”, pinta Dewa, membantu mendamaikan kedua perempuan cantik, adik kelasnya.


Dewa menunggu Dayana di ujung koridor, ia tidak habis pikir mereka bertengkar di area Universitas.


“Sudah?”


“Iya, terima kasih Dokter Dewa membantuku”, Dayana membersihkan sisa minuman di kemejanya.


“Lain kali lebih berhati-hati, jangan ceroboh. Kau tahu akibatnya kalau sampai dosen yang bersangkutan tidak mau mengulang tanda tangannya?”


Dayana mengangguk


“Temanmu itu tidak akan lulus Dayana”, jelas Dewa.


Dayana mengakui salah dalam hati, akibat ulahnya mengikuti Dewa karena penasaran pada adik sepupu dan suaminya hingga ia menabrak salah satu rekan.


“Huh, Dayana”, untung saja Dewa bersedia membantu dan menghubungi dosen pembimbing sehingga masalahnya dapat teratasi.


“Ini, bersihkan kemeja mu”, Dewa memberi sapu tangan berwarna coklat pada Dayana, ia tidak tega melihat pakaian kakak sepupu Dwyne kotor.


“Terima kasih Dokter Dewa, aku akan mencucinya dan mengembalikannya”, gugup Dayana merasa senang berlebihan hanya karena sapu tangan.


“Tidak perlu di kembalikan, aku masih memilki sapu tangan di rumah”


Dewa berjalan meninggalkan Dayana yang tanpa ia tahu tersenyum manis menatap punggung dokter tampan itu.


“Ah senangnya, terima kasih dokter. Aku memang tidak salah mencintainya”, Dayana berlalu menuju toilet sebelum menemui dosen dan kembali ke rumah sakit.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2