
Hari berganti hari, persiapan pernikahan telah rampung sepenuhnya.
Hari ini, tepatnya pukul 16.00 Wib nanti akan di laksanakan ijab qobul pernikahan Rayna dan Kevano yang akan dilaksanakan di hotel milik papa Hamish yang ada di Jakarta dan dilanjutkan dengan makan malam serta kumpul keluarga.
Satu jam lagi Kevano akan memperistri Rayna. Gadis impiannya. Kevano terlihat gugup membayangkan dia akan diperhatikan banyak tamu undangan kelak. Meski dia sudah sering tampil di publik, tentunya hari ini terasa berbeda. Dia akan mengucapkan janji suci pernikahan di depan banyak orang. Berada di depan kamera saat melakukan shooting tentunya sudah biasa dilakukan olehnya.
"Apa Kakak puasa bicara?" tanya Ralisya saat memasuki kamar ganti Kevano. Kevano menoleh ke arah Ralisya dan mengembuskan napas perlahan.
"Aku gugup," ucap Kevano.
"Ayolah, rileks," ucap Ralisya mengusap bahu Kevano.
"Aku deg-degan," ucap Kevano sambil memegang dadanya. Jantungnya seolah akan terlepas dari tempatnya.
"Apa aku terlihat tampan?" tanya Kevano sambil memegang pakaian pengantin putihnya.
"Tentu saja, Kakak sangat gagah," ucap Ralisya sambil membenarkan posisi peci di kepala Kevano.
"Tolong periksa Rayna," ucap Kevano.
"Hah! Memangnya calon Kakak iparku kenapa?" tanya Ralisya bingung.
"Aku ingin tahu, apa dia merasakan gugup sepertiku juga?" ucap Kevano.
Ralisya terkekeh.
"Aku rasa begitu, bagaimana tidak? Dia akan menjadi Istri Kakak, pria yang dia cintai," ucap Ralisya.
Kevano tersenyum dan mengangguk.
"Aku ingin melihat Rayna," ucap Kevano.
"Sabarlah, sebentar lagi Kakak akan melihatnya," ucap Ralisya.
"Ayolah, aku nggak sabar, please. Aku hampir satu bulan nggak lihat wajahnya, aku kangen," ucap Kevano penasaran.
"Astaga! Aku nggak mau jadi anak durhaka," ucap Ralisya.
"Apa maksudmu?" tanya Kevano bingung.
"Mama bilang, Kakak nggak boleh bertemu dengan Rayna hingga hari H pernikahan. Jadi, aku nggak mau melanggarnya," ucap Ralisya.
"Ini, kan, hari H pernikahanku dengan Rayna. Lalu, apa masalahnya?" ucap Kevano bingung.
"Tetap saja, aku nggak mau!" ucap Ralisya dan meninggalkan Kevano begitu saja.
Sementara Kevano mendengus kesal, adiknya itu tak mengerti bahwa dia begitu merindukan Rayna.
Sedangkan di kamar lain, Rayna akan siap sebentar lagi. Dia begitu cantik dengan balutan kebaya putih modern yang dihiasi beberapa berlian indah nan berkilau. Rambutnya membentuk sanggulan modern dengan wajahnya yang dirias tak terlalu berlebihan. Pada dasarnya wajah Rayna memang sudah cantik dan hanya membutuhkan sedikit polesan make-up saja.
"Apa begini jika orang yang akan menikah?" ucap Raydan yang baru saja memasuki kamar Rayna. Hanya ada Rayna dan yang membantu merias wajahnya di kamar itu. Sedangkan para orangtua tentunya masih sibuk menyapa tamu undangan yang datang.
"Kenapa?" tanya Rayna.
"Menyeramkan sekali didandani seperti itu," ledek Raydan.
"Abang!" Rayna pun memekik kesal menatap tajam Raydan.
Raydan pun hanya terkekeh dan mendekati Rayna.
"Sebaliknya. Ade cantik sekali," ucap Raydan.
__ADS_1
Rayna pun tersenyum malu.
"Oh ya Tuhan, ekspresi macam apa itu, Dek? Kenapa imut sekali?" ucap Raydan.
"Sudah dari lahir," ucap Rayna sambil terkekeh.
Hmm ... Pantas saja si sialan itu tergila-gila, gumam Raydan.
"Abang jangan gitu, dia calon suamiku," ucap Rayna yang ternyata mendengar gumaman Rayna.
"Iya-iya. Maaf," ucap Raydan.
Rayna tersenyum dan memeluk Raydan.
"Lho-lho, Kenapa, nih?" ucap Raydan bingung karena Rayna tiba-tiba memeluknya.
"Jangan melupakan Ade," ucap Rayna.
Raydan mengerutkn dahinya. Entah apa maksud Rayna? Bagaimana mungkin dia akan melupakan adik kesayangannya itu?
"Setelah menikah, kita akan semakin jauh. Abang akan kembali ke Jerman, dan aku akan tinggal bersama Kevano. Aku nggak tahu seperti apa nanti setelah aku menjadi Istri Kevano. Tapi aku takut sekali Abang melupakanku," ucap Rayna sedih.
Raydan melepaskan pelukan Rayna dan menatap dalam mata Rayna.
"Justru Abang takut sebaliknya. Abang takut kamu akan melupakan Abang, Mommy, dan Papa setelah kamu menjadi milik orang lain," ucap Raydan.
"Mana ada? Aku nggak akan pernah lupakan kalian," ucap Rayna.
Raydan tersenyum dan kembali memeluk Rayna.
"Abang mungkin belum menjadi seorang suami, Abang juga nggak ngerti bagaimana berumah tangga, tetapi jadilah Istri yang baik. Contohlah Mommy dan Papa dalam menjalani rumah tangga. Mereka adalah contoh terbaik yang meski kita jadikan inspirasi," ucap Raydan.
Rayna mengangguk dan semakin memeluk erat tubuh Raydan. Seolah Rayna tak ingin pelukan itu berakhir.
Satu jam terasa begitu singkat, 10 menit lagi waktu akan memasuki pukul 16.00 wib. Kedua keluarga sudah berada di tempat ijab qobul akan berlangsung.
Kevano tampak tegang, membuat Ralisya ingin tertawa saat melihat ekspresinya. Bahkan berkali-kali Kevano menarik napas dalam dan membuangnya dengan agak berat.
"Bagaimana? Sudah berkumpul semua?" tanya penghulu yang akan menikahkan Rayna dengan Kevano.
"Belum, calon Istri Saya belum datang, Pak. Oh, ya, Moms, di mana Rayna? Kenapa belum kelihatan? Apa dia baik-baik saja? Dia nggak apa-apa, kan?" ucap Kevano cemas sambil melihat Dania. Dia sungguh cemas Rayna akan lari dari pernikahan karena tak kunjung terlihat di hadapannya.
Semua anggota keluarga terkekeh mendengar ucapan Kevano. Sepertinya Kevano melupakan rencana awal, bahwa Rayna akan duduk di sampingnya setelah ijab qobul selesai.
"Mendadak amnesia karena gugup, hem?" ucap Randy.
Kevano menatap Randy dengan bingung.
"Kita sudah bicarakan sejak awal, pengantin wanita akan duduk bersama pengantin pria setelah prosesi ijab qobul selesai," ucap Randy.
Kevano memegang kepalanya, beralasan membenarkan peci yang dia kenakan. Padahal dia tersadar bahwa dia memang mendadak amnesia karena saking gugupnya.
Tapi, yang benar aja, aku bahkan sudah hampir sebulan nggak ketemu Rayna. Saat akan menikahpun, calon Istriku belum boleh duduk bersamaku," batin Kevano.
"Bagimana, Mas Kevano? Sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap!" ucap Kevano dengan lantang dan mantap. Tepat di hadapannya terdapat mic dan membuat suaranya tampak jelas terdengar oleh para tamu yang hadir.
"Antusias banget," ucap Randy.
__ADS_1
Kevano pun tersenyum canggung saat tak sengaja melihat semua orang tampak terkekeh melihat tingkahnya.
Ayolah, kenapa lama sekali mulainya? Aku benar-benar seperti sedang menghadapi malaikat maut rasanya, jantungku benar-benar nggak beres. Sial! batin Kevano kesal.
"Baiklah, Mas Kevano. Silakan jabat tangan wali dari calon Istri Anda!" ucap penghulu.
Kevano dan Randy saling berjabat tangan. Randy dapat merasakan tangan Kevano begitu gemetar. Begitupun dengan tangannya sendiri, dia pun sama deg-degan sama halnya seperti Kevano. Pasalnya, ini adalah kali pertama dia duduk sebagai wali dan akan menikahkan putrinya sendiri.
Kevano mengerutkan dahinya saat Randy meremass cukup kuat tangan Kevano.
"Rileks!" ucap Randy.
"Huh, Iya, Pa," ucap Kevano dan mencoba menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan.
Penghulu pun meminta Randy untuk memulai acara ijab qobul tersebut.
"Tunggu sebentar! Saya ada pesan untuk calon menantu Saya!" ucap Randy.
Penghulu pun mempersilakan Randy menyampaikan pesannya pada Kevano.
"Kevano, bukan hal mudah bagi Saya memutuskan untuk menerima lamaran kamu terhadap Rayna. Bagi seorang Ayah, tentu putrinya begitu berharga bahkan melebihi berlian langka sekalipun. Saya membesarkan Rayna bersama dengan Mommy-nya dengan begitu banyak perhatian dan kasih sayang, juga cinta. Kami meyanganginya melebihi apapun, maka Saya minta jangan pernah melukai hatinya, jangan pernah mengecewakannya. Jika dia salah, maka tergurlah dia dengan cara yang tak menyinggung perasaannya. Bimbinglah dia menjadi istri yang baik. Jika kamu merasa bosan, merasa sudah tak membutuhkan Rayna lagi, maka kembalikan dia pada Saya, karena Saya Papanya, Saya akan menerima dia sampai kapanpun dengan tangan terbuka. Tetapi, Saya harap, kamu akan bisa menjaganya, menjadi pemimpin yang baik dan tak akan mengecewakan Saya sebagai orangtua yang telah mempercayakan putrinya untuk hidup bersamamu!" ucap Randy.
Mata Kevano memerah, entah mengapa dia begitu merasa beruntung mendapatkan kepercayaan dari Randy. Bahkan dia tahu betul, Randy begitu membencinya di masa lalu.
"Aku janji, Pa. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab!" tegas Kevano.
"Baiklah, Pak penghulu. Sudah cukup," ucap Randy.
"Baik, silakan dimulai saja, Pak Randy!" ucap penghulu.
Randy memegang erat tangan Kevano, begitupun sebaliknya.
"Sodara Kevano Mahendra! Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri Saya, Rayna Hamish binti Randy Sebastian. Dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" ucap Randy.
"Saya terima nikah dan kawinnya pacar tercinta Saya, Rayna--"
Randy yang mendengar ucapan Kevano pun sontak memukul punggung tangan Kevano dengan tangan kirinya.
"Kenapa begitu?" tanya Randy bingung sekaligus tak habis pikir. Bisa-bisanya Kevano membawa kata "kekasih tercinta" disela ucapan ijab qobulnya. Rasanya terdengar aneh di telinga.
"Maaf, Pa. Aku nggak sengaja," ucap Kevano merasa tak enak hati.
Semua orang lagi-lagi tampak terkekeh melihat tingkah Kevano yang terlihat seperti orang bodoh. Wajahnya yang tampan tampak sedikit pucat saking gugupnya.
Pak penghulu menunjukan selembar kertas, di mana di sana tedapat lafalan ijab qobul.
"Mengucapkannya sambil melihat bacaan ini saja, tidak apa-apa, kok. Yang penting sah," ucap penghulu.
Lagi-lagi Kevano menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Ayo, Pa. Mulai lagi, aku nggak akan salah lagi," ucap Kevano yakin.
Hmmm ... Dia sepertiku saat itu, gugup sekali memang, seperti ada dikursi pesakitan, gumam Randy saat mengingat prosesi ijab qobulnya bersama Dania dulu.
"Baiklah, sodara Kevano. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri Saya, Rayna Hamish binti Randy Sebastian, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" ucap Randy.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rayna Hamish binti Randy Sebastian, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" ucap Kevano lantang dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" ucap lantang semua tamu.
__ADS_1
Randy dan Kevano seolah mendapatkan pelepasan yang luar biasa, dadanya yang sebelumnya terasa sesak karena gugup menjadi lega setelah prosesi ijab qobul selesai. Kali ini Kevano benar-benar tak salah mengucapkannya.