
Rayna meneteskan air matanya. Dia sungguh syok melihat Kevano tampak kasar bahkan sampai menendang meja. Itu mungkin bukan kekerasan fisik pada Rayna, tetapi selama ini dia tak pernah melihat hal semacam itu di depan matanya. Bahkan di dalam lingkungan keluarganya, dia selalu melihat hal-hal manis. Dania dan Randy memang sebisa mungkin menghindari pertengkaran di depan anak-anaknya. Berumah tangga hingga bertahan bertahun-tahum, bukan berarti tanpa masalah tentunya.
Kevano menghela napas panjang. Hatinya menjadi tak karuan ketika melihat Rayna menangis. Dia menarik Rayna ke pelukannya tetapi Rayna mencoba melepaskan pelukan Kevano. Rayna kesal pada Kevano.
"Jangan deket-deket aku!" ucap Rayna.
"Ya udah, kamu maunya apa? Gimana? Kamu belum denger penjelasan aku. Kamu langsung marah-marah sendiri. Aku juga capek, Rayn. Aku belum istirahat, kamu bahkan nggak tahu kan seharian aku di luar ngapain aja," ucap Kevano.
"Dan aku nggak mau tahu. Apapun itu, aku kesal sama kamu," ucap Rayna.
"Ya udah terserah kamu. Kamu kesel sama aku, kamu benci sama aku, terserah ya. Yang jelas, aku nggak ada niat jahat sama kamu," ucap Kevano dan pergi meninggalkan Rayna menuju kamar.
Brak!
Rayna lagi-lagi terkejut saat Kevano membanting pintu begitu keras. Rayna terdiam, dia duduk di sofa. Sedih sekali rasanya tahu bahwa Kevano adalah remaja yang menyentuh perutnya saat kecil dulu.
Rayna mengusap air matanya, dia meremas foto kecilnya dan melemparnya ke sembarang tempat.
Di kamar mandi, Kevano masih mengatur napasnya yang memburu. Dia sungguh kesal malam ini. Yang benar saja, baru sampai rumah setelah bekerja seharian di luar, dia malah mendapatkan amarah istrinya. Kata-kata Rayna benar-benar menyinggung perasaannya dan dia menjadi sulit mengendalikan amarahnya.
Kevano menyalakan shower, dan mulai mandi. Dia mencoba meredam amarahnya. Tak ingin lagi emosi di depan Rayna mengingat Rayna tengah hamil dan tak boleh banyak pikiran.
Selesai mandi, Kevano keluar mengambil pakaiannya dan dia pergi menghampiri Rayna setelah memakainya. Dia ingin meminta maaf pada Rayna atas apa yang dia lakukan tadi. Dia tak sengaja menendang meja di hadapan Rayna. Hanya saja, dia kesulitan mengontrol emosinya.
Rayna bangun dari duduknya begitu melihat Kevano mendekatinya, dia pergi menuju kamarnya. Kevano yang melihat itu pun berniat menyusul Rayna. Namun, belum sampai di kamar, dia terkejut karena Rayna melemparkan bantal ke hadapannya.
"Aku nggak mau tidur sama kamu!" ucap Rayna.
"Lho ... Apa-apaan, sih? Kamu ngusir aku?" tanya Kevano tak percaya. Bagaimana bisa Rayna tak mengizinkannya tidur di kamar yang sama?
"Kamu pilih, kamu yang keluar dari kamar atau aku?" ucap Rayna.
Kevano menghela napas dan mengambil bantal yang terlempar ke lantai. Tanpa mengatakan apapun dia berbalik meninggalkan Rayna.
"Sial amat!" gumam Kevano.
Brak!
Kevano terkejut dan berbalik melihat pintu. Rayna menutup pintu kamar dengan keras.
Ceklek.
Kevano menggelengkan kepalanya saat tahu Rayna mengunci pintu kamar.
"Ya udah terserah. Kesal aja sendiri. Mendingan aku makan, laper," ucap Kevano.
Kevano pergi menuju meja makan. Dia melihat makanan yang sudah terhidang di meja makan. Makanan itu masih tampak utuh. Artinya, Rayna belum menyentuh makanan itu. Rayna belum makan malam.
Kevano mengambilkan sepiring nasi dan juga lauknya. Dia membawanya menuju kamar dan mengetuk pintu kamar.
"Rayn, buka dong. Makan dulu," teriak Kevano.
Tak ada sahutan dari Rayna. Membuat Kevano kembali memanggil Rayna.
"Rayn! Ayo dong buka. Kasian anak kamu kalau kamunya nggak makan," ucap Kevano.
__ADS_1
Dug!
Kevano membulatkan matanya saat tiba-tiba terdengar bunyi dari pintu. Sepertinya Rayna melemparkan sesuatu ke arah pintu. Kevano semakin kesal dibuatnya.
"Buka nggak? Kalau kamu nggak mau buka, aku dobrak aja pintunya," ancam Kevano.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari Rayna. Kevano menghela napas dan menyimpan makanan itu di atas nakas di dekat pintu.
Brak!
Kevano benar-benar mendobrak pintu kamarnya.
"Kalau mau nyiksa diri sendiri ya udah, tapi pikirin juga dong anak di dalam perut kamu. Itu juga anak aku. Kalau dia kelaparan gimana?" bentak Kevano.
Kevano melihat Rayna menangis sambil duduk bersandar di tempat tidur. Rayna sampai menangis tersedu-sedu.
Kevano mendekati Rayna dan duduk di dekat Rayna. Rayna mencoba menghindar dari Kevano tetapi Kevano langsung menahan tangan Rayna.
"Iya maaf. Aku nggak ada niat kasar tadi," ucap Kevano.
Rayna melepaskan tangan Kevano. Dia menjauhi Kevano.
"Kamu benci banget, ya, sama aku? Sampai dipegang aja nggak mau," ucap Kevano.
"Udah sana! Aku nggak mau liat kamu," ucap Rayna di tengah isakannya.
"Ke sana kemana? Keluar kamar, atau keluar apartemen?" tanya Kevano sok polos.
"Keluar dari kamar, kalau perlu keluar dari apartemen!" ucap Rayna.
Rayna mengepalakan tangannya. Kenapa Kevano justru mengiyakan, dan tak coba membujuknya lagi? Pikirnya.
"Nggak usah pulang sekalian!" teriak Rayna.
Kevano menghentikan langkahnya sejenak dan tanpa melihat Rayna dia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Rayna semakin kesal dibuatnya. Tangisnya semakin menjadi.
Kevano duduk di ruang tamu, dia menonton televisi. Dia tak benar-benar keluar dari apartemen. Mana mungkin dia meninggalkan Rayna sendirian. Sementara di sana pun kebetulan sedang tak ada bibi.
Tiba-tiba saja Rayna keluar dan berdiri di hadapan Kevano. Tatapan Rayna benar-benar tajam. Kevano mengerutkan dahinya merasa bingung melihat Rayna.
"Katanya mau keluar, kenapa masih di sini?" tanya Rayna.
Kevano menghela napas dan melanjutkan menonton televisi.
"Ini apartemen aku, kok. Ngapain aku harus keluar?" ucap Kevano santai.
"Ya udah. Kalau gitu, aku yang keluar!" ancam Rayna dan bergegas menuju pintu. Kevano berlari mengejar Rayna dan menghalangi pintu.
"Minggir nggak?" ucap Rayna.
"Nggak," ucap Kevano.
"Kamu maunya apa, sih?" kesal Rayna.
__ADS_1
"Aku maunya kamu," ucap Kevano tersenyum dan memeluk Rayna. Rayna lagi-lagi memberontak tetapi Kevano menahannya agar Rayna diam.
"Udah, ya. Jangan marah-marah terus. Aku tahu kamu sensitif banget bawaan hamil. Aku minta maaf kalau tadi udah kasar," ucap Kevano.
"Aku kesel sama kamu! Aku nggak suka dibentak!" kesal Rayna dan kembali menangis. Kevano dapat merasakan air mata Rayna membuat kaos yang dia pakai sedikit basah.
"Iya, aku minta maaf. Aku salah, iya," ucap Kevano.
"Kamu jahat sama aku!" ucap Rayna.
Kevano menghela napas dan memegang bahu Rayna. Dia menatap Rayna dengan serius.
"Kamu masih mau marah? Atau mau dengerin penjelasan aku soal kejadian di Sydney delapan tahu lalu?" tanya Kevano.
Rayna terdiam, membuat Kevano sudah mengerti jawaban Rayna.
"Ya udah, ayok sini. Biar aku jelasin!" Kevano menuntun Rayna menuju ruang tamu.
"Aku udah tau!" kesal Rayna dan menghempaskan tangan Kevano.
'Astaga!' batin Kevano. Kevano mengepalkan tangannya melihat Rayna berlalu begitu saja meninggalkannya menuju kamar.
Dia baru tahu Rayna sekeras kepala itu. Bahkan tak ingin memberinya kesempatan untuk menjelaskan segalanya.
Kevano pun memilih diam, dia akan menunggu sampai perasaan Rayna menjadi lebih baik. Setelah itu dia akan bicara baik-baik pada Rayna. Percuma saja bicara malam ini, Rayna tak akan mau mendengarkannya.
Kevano mengambil buku catatan yang ada di dalam laci nakas dekat kamarnya dan kembali ke ruang tamu. Dia menulis sesuatu di kertas itu.
Keesokan harinya.
Kevano bangun lebih pagi hari itu. Dia menitipkan sesuatu pada bibi sebelum pergi dari apartemen.
Sementara Rayna baru saja bangun dan bergegas bersiap. Hari ini dia tak kuliah, melainkan akan memulai mendesign ruang kerja Raka.
Rayna keluar dari kamar dan melihat sudah ada bibi di dapur. Sementara dia tak melihat Kevano di ruang tamu. Sepertinya, Kevano masih tidur di kamar tamu. Pikirnya.
Apartemen itu memang tak semewah apartemen milik keluarga Rayna. Namun, apartemen itu memiliki dua kamar tidur. Satu kamar utama yang menjadi kamar Rayna dan Kevano, dan kamar lainnya adalah kamar tamu.
"Mbak Rayna mau pergi?" tanya bibi. Rayna mengangguk dan duduk di meja makan. Sudah ada susu dan sarapan di sana.
Rayna meminum susunya. Semalam dia tak makan malam, perutnya merasa perih. Dia pun memakan roti yang sudah bibi oleskan selai di dalamnya.
"Oh, ya. Mbak Rayna!"
"Iya, Bi!" sahut Rayna.
"Ada surat cinta dari Mas Kevano," ucap bibi tersenyum.
Rayna mengerutkan dahinya melihat sebuah kertas yang tak terbungkus ampau. Bisa saja surat itu dibaca oleh bibi.
"Bibi nggak baca, tenang aja. Kata Mas Kevano, itu surat cinta darinya untuk Mbak Rayna. Bibi baru tau, lho. Jaman sekarang masih pakai surat-suratan," ucap bibi tersenyum.
Rayna tersenyum tipis dan mengambil surat itu.
"Mas Kevano juga titip kunci mobil, katanya hari ini Mbak Rayna mau pergi," ucap bibi.
__ADS_1
Rayna mengangguk dan menyimpan surat itu di dalam tasnya. Selesai memakan sarapannya dia pergi menuju Kantor Raka dengan menggunakan mobil Kevano.