Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 48


__ADS_3

"Jangan bermimpi ketinggian, jatuh, baru tahu rasa," ucap Rayna dengan kesal.


"Kalau aku jatuh, kita akan jatuh bersama," ucap Guriko sambil menyengir kuda.


Rayna memutar bola matanya, dia benar-benar malas meladeni Guriko.


"Ya, sudah. Aku pamit dulu," ucap Guriko.


Rayna mengangguk dan memasuki kamarnya dengan dibantu oleh Stefie begitu Guriko pergi dari kediamannya.


"Istirahatlah, saya akan meminta Bibi untuk membuatkan sup," ucap Stefie.


"Iya, Kak. Makasih, ya," ucap Rayna.


"Kamu seperti Adikku, tidak perlu berterimakasih," ucap Stefie.


Rayna pun tersenyum, dia senang memiliki Stefie yang menemani kesehariannya. Selama ini dia tidak memiliki banyak teman, kini dia merasakan bahwa berteman tidak ada salahnya.


Pikirannya mulai terbuka, dia sepertinya harus mulai terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang dan tak mencoba menyendiri saja.


Rayna merebahkan tubuhnya dan membuka ponselnya.


"Ya ampun, ada banyak panggilan tak terjawab," gumam Rayna.


Rayna terkejut saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari seseorang yang sedang berusaha dia jauhi.


Tak lama terdengar suara panggilan, Rayna menghela napas saat melihat sebuah nama di ponselnya.


Kevano, pria itu terus saja menghubunginya.


"Halo," ucap Rayna begitu dia menjawab panggilan tersebut.


"Kemana saja? Aku khawatir, dari tadi kamu tidak menjawab teleponku," ucap Kevano.


"Mau apa lagi? Tolong, berhenti seperti, ini," ucap Rayna.


Dia tak nyaman karena Kevano terus saja menghubunginya, dia sendiri tak mengerti dengan perasaannya.


Kesal, bercampur sedikit rasa senang saat mendengar suara Kevano.


"Aku ada di depan rumahmu," ucap Kevano.


"Apa? Sedang apa?" tanya Rayna dengan terkejut.


"Menunggumu, memangnya apa lagi?" jawab Kevano.


"Pulanglah, aku tidak ada di rumah," ucap Rayna.


"Jadi, kamu di mana?" tanya Kevano penasaran.


"Di mana, pun, bukan urusanmu," ucap Rayna.


"Aku serius, aku merindukanmu, Rayna," ucap Kevano.


"Sayangnya, aku tidak," ucap Rayna.


"Terserah, aku akan mencari tahu keberadaan mu," ucap Kevano.

__ADS_1


"Astaga, jangan keras kepala jadi orang. Apa sebenarnya mau kamu? Apa belum cukup kamu membuat aku malu?" Rayna berucap dengan nada geram. Kevano seolah menarik ulur hatinya, menjatuhkannya lalu mencoba membuatnya berada di atas angin.


"Aku pria, aku tak semudah itu menyerah. Aku akan buktikan, kalau aku serius menyukaimu, aku bahkan jatuh cinta padamu," ucap Kevano dengan yakin.


"Terserah, dasar keras kepala," ucap Rayna dengan kesal.


Rayna tersentak saat ada panggilan masuk dari Randy, dengan cepat dia menjawab telepon Randy.


"Halo, Pa," ucap Rayna.


"Sedang sibuk? Bicara dengan siapa?" tanya Randy.


"Dengan teman, Pa," ucap Rayna.


"Benarkah? Ade sudah punya teman? Pria atau wanita?" tanya Randy.


Rayna terdiam sejenak, dia tak mungkin jujur pada Randy, dia tak ingin Randy salah paham padanya. Dia tahu betul bagaimana Randy memperlakukannya.


"Wanita, Pa," ucap Rayna berbohong.


"Baguslah, Papa senang mendengarnya. Tetap harus memilih teman, jangan berteman dengan yang membawa Ade pada jalan yang tidak baik, atau Papa akan marah," ucap Randy.


"Tidak, Ade mau belajar di sini. Papa tenang saja," ucap Rayna.


"Baguslah, Sayang," ucap Randy.


"Auwww ..." Rayna tak sengaja meringis saat merasakan kembali rasa sakit karena lukanya.


"Kenapa? Ade baik-baik saja?" tanya Randy dengan cemas.


"Syukurlah. Ya sudah, jangan lupa makan malam, dan istirahat," ucap Randy.


Telepon itu pun berakhir.


"Maaf, Pa. Papa terlalu gampang khawatir. Maaf, Ade sudah berbohong," ucap Rayna.


Rayna menyimpan ponselnya, dan bersandar di kepala tempat tidur sambil menunggu makan malamnya selesai bibi buatkan.


********


Di kediaman Randy.


"Habis telepon siapa?" tanya Dania yang baru saja menuruni anak tangga.


"Ade," ucap Randy.


"Apa ade baik-baik saja?" tanya Dania.


"Ya, dia baik-baik saja," ucap Randy, dan melangkah menghampiri Dania.


"Kamu cantik, sayang," ucap Randy sambil memeluk pinggang Dania.


"Benarkah? Pasti ada maunya," ucap Dania sambil tersenyum tipis.


"Kamu memang Istriku, aku bahkan belum mengatakan apapun, tapi, kamu sudah mengerti maksudku," ucap Randy sambil tersenyum nakal.


"Astaga, ayolah. Jangan seperti, itu. Kamu seperti anak muda saja," ucap Dania sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kita memang masih muda, Yank. Apalagi tidak ada anak-anak sekarang. Rasanya, seperti kembali ke awal-awal dulu saat kita baru menikah," ucap Randy.


Dania pun tersenyum.


"Ya sudah, jangan terus menggombal. Kita jadi dinner atau tidak?" tanya Dania.


"Jadi, dong," ucap Randy dan segera menggandeng Dania menuju mobilnya.


Malam ini mereka akan pergi makan malam berdua di luar. Sudah lama sejak terakhir mereka makan malam berdua saja. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang terjadi, hingga membuat keduanya tak memiliki cukup waktu untuk sekedar makan malam berdua, menghabiskan waktu berdua layaknya pasangan pengantin baru.


*******


Sesampainya di Restauran.


Randy kembali menggandeng Dania memasuki Restauran.


"Loh, Dania ..!"


Dania dan Randy melihat ke arah datangnya suara, terlihat Riko bersama seorang wanita cantik. Wanita itu terlihat seumuran dengannya.


Randy tampak mengingat wanita itu, sepertinya dia pernah melihat wanita itu. Namun dia tak ingat di mana dia pernah melihat wanita itu.


"Riko? Kamu di sini?" tanya Dania sambil menyunggingkan senyum manisnya. Dia tak menyangka akan bertemu Riko di Restauran itu.


Riko mengangguk dan tersenyum.


"Siapa? Apa calon mu?" tanya Dania sambil melihat ke arah wanita itu.


Riko hanya tersenyum.


"Kenalkan, dia Dania, temanku. Dan, ini suaminya," ucap Riko pada wanita itu.


"Hai, aku Bella," ucap wanita itu.


Mata Randy membulat, dia menelan air liurnya. Dia ingat sekarang, wanita itu adalah wanita yang pernah terlibat satu kamar hotel dengannya saat mereka masih berada di bangku sekolah dulu.


"Aku Dania, dan dia, suamiku," ucap Dania sambil melihat ke arah Randy.


Randy masih terdiam, dia mulai tak nyaman melihat tatapan wanita itu. Tatapan Bella terlihat biasa saja, tetapi tak ada yang tahu apa yang saat ini tengah dia pikirkan.


"Yank, kenapa bengong?" Dania mencubit pelan lengan Randy, membuat Randy tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya. Aku Randy," ucap Randy, namun tak ingin menjabat tangan Bella. Membuat Bella tersenyum tipis karena merasa diabaikan.


"Ya sudah, kalian enjoy, lah. Kami akan dinner, berdua saja," ucap Randy.


Tanpa menunggu jawaban Riko dan Bella, Randy langsung menarik Dania menuju salah satu meja.


"Kamu kenapa? Kenapa harus seperti, itu? Itu tidak sopan, loh," ucap Dania.


"Apanya yang salah? Kita, kan, memang mau dinner," ucap Randy.


Dania menghela napas dan memilih duduk di kursinya. Dia tak ingin moment dinner-nya dengan Randy menjadi rusak, dia pun memilih diam saja.


Sepanjang acara makan malam, Randy tak hentinya memikirkan Bella. Dia tak menyangka akan bertemu kembali dengan Bella setelah lebih dari 20 tahun tak bertemu.


Ingatan Randy masih cukup kuat, dia masih mengingat wajah cantik Bella.

__ADS_1


__ADS_2