Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 56


__ADS_3

Dengan perasaan kesal Rayna meninggalkan Guriko dan menghampiri Randy. Dia terkejut saat melihat Bella tengah mengusapkan tissu di punggung tangan Randy..


"Pa!" panggil Rayna. Sontak Randy terkejut dan segera menyingkirkan tangan Bella. "Hai, Sayang," sapa Randy canggung.


"Kalian ngapain?" tanya Rayna sambil menatap Randy dan Bella dengan penuh selidik. "Saya tidak sengaja menumpahkan kopi ke tangan Pak Randy," ucap Bella sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Rayna dengan penasaran dan duduk di sebelah Randy. "Coba, Ade lihat tangan Papa," Rayna memegang tangan Randy dan melihat tangan sang papa memerah. "Papa bisa panggil Ade, Ade nggak suka tangan Papa di pegang wanita lain selain Ade dan Mommy," ucap Rayna pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Randy. Randy tersenyum dan berbisik di telinga Rayna. "Maaf, Sayang. Lain kali, Papa tidak akan membiarkan wanita lain menyentuh Papa," bisik Randy. "Janji?" Rayna menatap Randy dengan penuh harap. "Tentu saja, tapi jangan bilang ini pada Mommy," ucap Randy. "Kenapa?" tanya Rayna penasaran. "Ade mau, Papa bobo di luar gara-gara Mommy marah?" tanya Randy balik. "Apa hubungannya?" tanya Rayna bingung. "Mommy itu cemburuan, bukankah lebih baik kita menjaga perasaan Mommy? Lagi pula, ini tidak sengaja, Sayang. Ini kecelakaan," ucap Randy. Rayna pun mengangguk.


"Ehheum ... Maaf, apa kita bisa lanjutkan meeting kita?" tanya Bella sambil melihat Randy. "Apa nggak bisa di tunda? Lihatlah, tangan klien Anda terluka karena ulah anda," ucap Rayna. Bella melihat ke arah punggung tangan Randy dan mengangguk.


"Baiklah, kita tunda meeting ini. Sekali lagi, saya mohon maaf. Saya sungguh menyesalkan kejadian ini, dan sebaiknya Anda ke Dokter untuk mengobati luka anda. Saya akan bertanggung jawab untuk segala biayanya," ucap Bella merasa bersalah. "Tidak masalah, ini hanya luka kecil. Saya juga mohon maaf, karena meeting ini jadi tertunda," ucap Randy. "Tidak masalah, kalau begitu, Saya permisi," ucap Bella dan meninggalkan Randy juga Rayna.


"Sepertinya, kita memang harus ke Dokter," ucap Rayna. "Mau apa?" tanya Randy bingung. "Tentu saja mengobati luka Papa," ucap Rayna. "Tidak perlu, Kita bisa obati di rumah," ucap Randy. "Papa yakin?" tanya Rayna memastikan. "Iya, kita pulang sekarang?" tanya Randy. "Ayo," jawab Rayna.


Sepasang ayah dan anak itupun pergi dari Restoran dan kembali menuju rumah.


******


Sesampainya di rumah.


Randy dan Rayna memasuki rumah, Rayna bergegas mengambil kotak obat dan mengobati luka Randy di ruang tamu. Tak lama ponsel Randy berdering dan terlihat nama Dania menghubunginya melalui video call. Randy pun tersenyum dan melihat Rayna.

__ADS_1


"Mommy video call," ucap Randy. "Benarkah? Ade rindu sekali sama Mommy," ucap Rayna dan duduk lebih dekat di samping Randy, Randy pun menjawab video call dari Dania.


"Hai, Sayang," ucap Randy.


"Loh, loh, ada Ade juga," ucap Dania tersenyum.


"Iya, kita sudah sampai rumah," ucap Randy.


"Moms, Ade rindu. Kapan Mommy ke sini?" tanya Rayna sambil menunjukkan muka sedih. "Mommy juga rindu Ade, Ade baik-baik saja, kan?" tanya Dania. "Ade baik-baik saja, tadi Ade ikut Papa  meeting sama kliennya," ucap Rayna. "Benarkah? Apa meetingnya lancar?" tanya Dania. "Meetingnya ditunda," ucap Randy. "Kenapa? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Dania cemas. "Tangan Papa terluka," ucap Rayna. "Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Apa sudah diobati? Coba Mommy lihat, bagaimana lukanya?" Randy dan Rayna menghela napas dan saling tatap, kedua ayah dan anak itu saling tersenyum mendengarkan sederet pertanyaan dari Dania.


"Moms, Moms, tenang dulu, oke. Ini udah Ade obatin, hanya luka kecil, kok. Mommy nggak usah cemas," ucap Rayna mencoba menenangkan sang Mommy. "Seharusnya, jangan bilang Mommy. Mommy terlalu parnoan," bisik Randy. "Maaf, Ade lupa," bisik Rayna sambil tersenyum canggung. "Kalian bisik-bisik? Ngomongin Mommy, ya?' tanya Dania penuh selidik. "Iya, Mommy cantik sekali malam ini, Papa jadi pengen pulang, dan kiss Mommy," ucap Randy mencoba mengalihkan perhatian Dania. "Apa, sih? Nggak malu didengerin Ade," ucap Dania tersenyum.


"Biar saja, Ade malah senyum-senyum," ucap Randy sambil melihat Rayna.


******


Di kamar Rayna.


Rayna mencuci wajahnya dan mengganti gaunnya dengan piyama tidur. Seperti biasa, sebelum tidur, dia akan membaca buku terlebih dahulu. Karena terlalu asyik membaca buku, dia pun tak menyadari waktu sudah semakin larut, waktu bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


Dug!

__ADS_1


Rayna terkejut saat mendengar suara berisik dari luar balkon kamarnya, dia pun bergegas menuju balkon.


"Ya ampun!" mata Rayna terbelalak begitu melihat seseorang yang tengah terduduk di lantai sambil meringis kesakitan memegangi bokongnya. Orang itu tak lain adalah Guriko.


"Kamu ngapain, sih? Kenapa kamu ada di balkon kamar aku?" tanya  Rayna penasaran.  "Terbang," jawab Guriko sambil masih meringis kesakitan. "Kamu mau apa, ha? Mau maling, ya?" Rayna menatap curiga pada Guriko.


"Apa? Apa aku ada tampang maling?" tanya Guriko sambil menatap Rayna dengan tajam. "Terus, ngapain kamu malam-malam ke kamarku?" tanya Rayna curiga. "Kamu benar-benar tidak berprikemanusiaan, ya," ucap Guriko sambil menggelengkan kepalanya. "Apa maksud kamu?" tanya Rayna bingung. "Kamu nggak lihat, aku kesakitan begini? Kamu yakin, nggak mau bantu aku bangun?" tanya Guriko sambil memelas.


"Astaga, salah sendiri. Nggak ada, ya, yang nyuruh kamu lompat ke sini. Rasain akibatnya!" kesal Rayna.


"Wah, kamu benar-benar nggak punya hati. Lagi pula. aku ke sini bukan tanpa alasan," ucap Guriko. "Oh, ya? Jadi, ngapain kamu ke sini? Ini udah malam, orang lain bisa salah paham kalau lihat kita," cemas Rayna.


"Nggak usah takut, di sini masing-masing, kok. Aku ke sini, mau minta pertanggung jawaban kamu," ucap Guriko sambil mencoba berdiri. "Pertanggung jawaban apa maksudnya?" tanya Rayna penasaran. "Kamu lupa, saat di restoran tadi?" tanya Guriko tak percaya. "Apa?" tanya Rayna balik. "Kamu udah bikin tulang kering aku kesakitan, ya, kamu harus tanggung jawab," ucap Guriko. Rayna terbelalak dan mengusap wajahnya, dia pun tersenyum dan menatap Guriko. "Apa kamu cowok jadi-jadian?" tanya Rayna sambil terkekeh. "Apa maksudmu?" Guriko menajamkan tatapannya. "Masa gitu aja kesakitan, kalau kamu pria sejati, kamu nggak akan cengeng begitu. Lagi pula, siapa suruh bikin aku kesal saat di restoran tadi," ucap Rayna.


"Wah, penghinaan ini namanya. Aku akan buktikan, kalau aku pria sejati," ucap Guriko dan perlahan mendekati Rayna.


Tok-tok-tok ... ceklek.


"Ada yang masuk," ucap Rayna panik saat terdengar suara ketukan pintu kamarnya dan pintu pun terbuka. Guriko pun tak kalah panik, tanpa pikir panjang, dan tanpa menghiarukan rasa sakitnya dia melompat ke balkon rumahnya.


"Ade ngapain di luar?" tanya Randy sambil melihat sekeliling balkon. "Hah? I-itu," Rayna terlihat gugup. "Suara berisik apa tadi?" tanya Randy penasaran. "Suara kucing," jawab Rayna sembarang. "Kucing?" Sekali lagi Randy melihat sekeliling, tetapi tak menemukan kucing yang Rayna katakan.

__ADS_1


"Ini apa? Ponsel siapa? Sepertinya, ini bukan ponsel Ade," ucap Randy sambil mengambil ponsel Guriko yang tertinggal dan tergeletak di atas lantai. Guriko tak menyadari ponselnya terjatuh saat dia melompat tadi. Randy  menatap Rayna penuh selidik. "Itu, loh, Pa. Kayaknya, ini ponselnya Kak Stefie ketinggalan," ucap Rayna gugup dan bergegas mengambil ponsel tersebut. "Nanti, Ade kembalikan ke Kak Stefie," ucap Rayna. "Oh, begitu. Ya sudah, ayo masuk, istirahat, sudah malam," ucap Randy. Rayna mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar. Randy pun keluar dari kamar Rayna setelah mencium dahi Rayna dan mengucapkan selamat tidur pada Rayna.


Rayna melihat ponsel Guriko sambil mengatur napasnya. Dia tak tahu apa yang akan Randy lakukan jika tahu ponsel itu milik Guriko, dan bukannya kucing yang melompat ke balkonnya, melainkan seorang pria. Sementara di balkon kediaman Guriko, Guriko pun sama halnya masih mengatur napasnya. Dia pun tak habis pikir karena begitu ceroboh hingga meninggalkan ponselnya, dan yang membuatnya semakin tak habis pikir karena Rayna menganggapnya seekor kucing. Dengan sambil menggerutu kesal, Guriko pun memasuki kamarnya.


__ADS_2