Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 142


__ADS_3

Selesai makan malam, semua meninggalkan restoran. Namun, masih tinggal Randy, Dania, Rayna dan Kevano di sana.


"Apa kalian ada masalah keuangan?" tanya Randy melihat Rayna bergantian dengan Kevano.


Kevano dan Rayna menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Kenapa Rayna sampai bekerja? Dia sedang hamil, dia nggak boleh bekerja," ucap Randy.


Rayna tersenyum.


"Ade mendapatkan tawaran dari Kampus untuk mendesign sebuah ruangan Kantor. Awalnya, ade bingung karena orang itu memilih ade dari sekian Mahasiswi dan Mahasiswa design di sana. Tapi, ternyata orang itu Raka, anaknya Om Riko," ucap Rayna.


Randy dan Dania saling melihat.


"Jadi, bukan bekerja secara tetap?" ucap Randy.


"Bukan, Pa. Kevano keuangannya stabil, dan dia memberikan ade uang. Hanya saja, ade mengambil pekerjaan pertama ini, untuk diri ade sendiri. Demi masa depan ade di waktu yang akan datang. Bukankah ini bagus?" ucap Rayna.


Dania tersenyum. Bangga sekali pada anaknya itu.


"Papa mau lihat, hasil design interior pertamaku?" tanya Rayna.


"Boleh, penasaran juga," ucap Randy.


Rayna mengambil ponselnya dan menunjukan foto ruangan Raka yang sudah selesai di design. Dia sempat memotretnya saat di Kantor Raka tadi.


"Ini design pertama ade?" tanya Randy.


Rayna mengangguk.


Randy menunjukkanya pada Dania.


"Ade anakku, ade pintar sepertiku," ucap Dania bangga.


"Nggak akan ada ade kalau nggak ada aku, jangan lupakan aku," ucap Randy tak terima.


Dania terkekeh. Rayna dan Kevano pun ikut terkekeh melihat kedua orangtuanya itu. Lucu sekali mereka. Jelas Rayna pun ikut bahagia karena membuat kedua orangtuanya bahagia.


"Lalu, bagaimana dengan kuliah ade?" tanya Randy.


"Baik-baik aja, Pa," ucap Rayna.


"Hm ... Baguslah. Papa berpikir, ade bekerja untuk membantu keuangan keluarga kalian. Jangan sungkan jika butuh sesuatu," ucap Randy.


"Selama aku masih sanggup berdiri, aku akan bekerja keras, Pa," ucap Kevano.


"Harus, pria memang harus bekerja keras. Tak peduli seberapa lelahnya dia, dia takan membiarkan keluarganya kesulitan," ucap Randy mencoba menyemangati Kevano.


Kevano mengangguk. Mereka berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing.


Satu minggu kemudian.


Rayna dan Kevano tengah berada di jalan menuju acara ulang tahun Raka. Rayna tampak cantik menggunakan gaun berwarna peach dan Kevano memakai stelan semi formal. Dia tampak tampan.


...Ulang tahun Raka diadakan di kediaman sang papa, yaitu Riko. Tak perlu hotel, rumah itu cukup untuk menampung ratusan tamu. Riko memang menjadi penerus satu-satunya keluarganya. Dia memiliki harta yang diwariskan kedua orangtuanya. Maka tak heran jika rumahnya besar dan halamannya pun luas....


Mobil Kevano dan Rayna sampai di halaman rumah Raka. Di sana tampak mobil-mobil berjejer dan sudah dipastikan itu mobil para tamu undangan yang datang.


Kevano turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Rayna. Dia menggandeng tangan Rayna.


"Aku kayak lagi gandeng anak TK," ucap Kevano.

__ADS_1


Rayna melihat Kevano dan menatapnya tajam.


Kevano terkekeh.


"Abisnya mungil banget," ucap Kevano.


" Kenapa mau sama orang mungil?" tanya Rayna.


"Kenapa, ya? Hm ... Sayang, sih," ucap Kevano tersenyum.


Rayna ikut tersenyum. Mereka memasuki pintu rumah. Di dalam rumah sudah tampak ramai. Rayna melihat sekeliling mencari keberadaan Raka. Raka tengah berbincang bersama Riko dan ada tamu lainnya juga di sana yang tampak seumuran dengan Riko. Sepertinya, itu relasinya Riko.


Rayna dan Kevano menghampiri Riko dan Raka.


Mereka menjabat tangan Riko dan Raka. Keduanya saling melemparkan senyuman satu sama lain. Tak lama, relasi Riko pergi meninggalkan mereka.


"Kalian baru datang?" tanya Riko.


"Iya, Om," ucap Rayna tersenyum.


Rayna memberikan kado kecil untuk Raka. Kado itu berisikan sebuah jam tangan yang dibeli dari uang yang Rayna dapatkan dari jasa mendesign ruangan Raka.


"Ini dariku dan Kevano. Selamat ulang tahun, Raka. Bahagia selalu," ucap Rayna tersenyum.


"Wah, repot-repot, Rayn. Kalian datang aja aku udah senang," ucap Raka saat menerima kado pemberian Rayna.


"Mana mungkin kami nggak bawa apa-apa, lagi pula itu hadiah kecil. Mungkin nggak seberapa dibanding apa yang kamu punya," ucap Rayna.


"Bukan nilainya, tapi ketulusan di dalamnya. Kamu ikhlas kan ngasih ke aku?" tanya Raka terkekeh.


Rayna tersenyum dan mengangguk.


"Tentu aja," ucap Rayna.


"Bagaimana dunia entertainment?" tanya Riko.


Kevano tersenyum.


"Baik, Om. Semua aman terkendali," ucap Kevano.


"Baguslah. Asal tak ada lagi skandal lainnya, ha-ha-ha ..." Riko tertawa bercanda pada Kevano.


"Asal tidak berurusan dengan wanita, Om. Sudah dipastikan lebih rumit," ucap Kevano.


"Janganlah, kasihan Istrimu," ucap Riko.


"Tentu aja, Om. Aku juga nggak tertarik. Belum tentu dapat yang langka lagi kayak dia," ucap Kevano.


Rayna melihat Kevano dan tersenyum.


"Nikmatilah acara malam ini. Anggap pesta sendiri," ucap Raka.


Rayna dan Kevano mengangguk.


Tak lama, Riko menunjuk ke arah belakang Rayna dan Kevano. Rayna dan Kevano sontak melihat ke belakang.


"Mommy sama Papa di sini?" tanya Rayna.


"Iya, mereka adalah teman Om. Sudah jelas Om undang," ucap Riko.


Rayna mengangguk. Kedua orangtua Rayna semakin mendekat.

__ADS_1


Randy dan Dania menjabat tangan Riko. Mereka saling sapa.


"Selamat, ya, Ka," ucap Randy dan Dania.


"Makasih, Om, Tan," ucap Raka tersenyum.


Riko dan Randy berjalan bersama. Mereka mengambil minuman menjauhi Dania dan anak-anak mereka.


"Cukup meriah," ucap Randy melihat para tamu yang datang.


"Hm ... Bagaimana bisnis restoran dan ekspormu!" tanya Riko.


"Semua baik. Stabil, bagaimana bisnismu?" tanya Randy.


Riko mengangkat tangannya.


"Aku udah lepas tangan. Semua dibawah kendali Raka. Hanya saja, aku masih tetap mengawasi," ucap Riko.


Randy mengangguk.


"Carilah Istri, kamu terlalu lama menduda," ucap Randy.


"Jika ada yang tepat, kenapa nggak? Ha-ha-ha ..." Riko tertawa. Lucu sekali menurutnya.


"Mau yang seperti apa?" tanya Randy.


"Apa kamu punya stok?" tanya Riko pelan.


Randy mengerutkan dahinya dan menatap Riko.


"Wanitaku ada dua," ucap Randy.


Riko tampak kaget mendengar ucapan Randy. Mungkinkah Randy mengkhianati Dania?


"Mereka cantik luar biasa," ucap Randy.


Riko semakin penasaran dibuatnya.


"Dania dan Rayna, ha-ha-ha ... Kamu serius sekali," Randy tertawa. Lucu sekali menjahili Riko. Wajah Riko bahkan tampak tegang.


"Aku pikir, ada wanita idaman lain bagimu, selain Dania," ucap Riko.


"Mencari pun, aku nggak akan bisa dapetin yang kayak dia. Dia hanya ada satu. Nggak ada copy.an-nya. Aku bahkan nggak pernah bosen," ucap Randy tersenyum.


Riko mengangguk. Randy beruntung sekali menikahi Dania. Sayangnya nasibnya tak seberuntung itu. Dia menjadi teringat pada Rani, mendiang istrinya. Mereka bahkan belum lama menikah, tetapi Rani harus meninggalkannya ketika melahirkan Raka. Bagi Riko, wanita yang berkesan dalam hidupnya hanya lah Dania dan Rani. Dania adalah sahabat sekaligus mantan kekasih yang membuatnya gagal move-on saat itu. Dan Rani adalah wanita luar biasa yang sudah merelakan nyawanya demi melahirkan Raka. Anak yang amat dia sayangi. Hanyalah Raka satu-satunya peninggalan Rani. Karena itu, Raka berarti bagi Riko.


Semua tampak menikmati acara tersebut, hingga waktu berlalu dan semua kembali ke kediaman masing-masing.


Beberapa bulan berlalu.


Pukul satu dini hari, Rayna terbangun ketika merasakan sakit luar biasa di perutnya. Dia melihat Kevano yang masih tertidur pulas. Rayna mengguncang tubuh Kevano berharap Kevano terbangun dari tidurnya. Sayangnya, mungkin karena lelah Kevano tak juga terbangun dari tidurnya.


"Kev, bangun!" ucap Rayna masih terus mengguncang tubuh Kevano. Lagi-lagi tak ada respon.


"Help me, please," ucap Rayna tak tahan merasakan sakit di perutnya. Rasanya mulas seperti ingin buang air besar. Namun, ini lebih sakit dari pada itu.


Kevano merubah posisi kepalanya, dia mencoba mengalihkan posisi kepalanya ke arah samping lain.


"Apaan, sih? Aku ngantuk," gumam Kevano.


Plak!

__ADS_1


"Apa yang kamu lakuin, ya Tuhan!" Kevano terperanjat memegang pipinya. Dia terkejut karena Rayna menampar pipinya cukup keras.


"Perutku sakit!" teriak Rayna.


__ADS_2