
Kevano menghela napas,nmencoba mengatur detak jantungnya yang saat ini berdetak tak beraturan.
"Sebenarnya, jika boleh jujur, aku menyukai Rayna sejak saat pertama kali aku melihatnya. Saat itu, entah apa yang ada dipikiranku, aku justru melakukan kebodohan yang bahkan sempat membuat semuanya menjadi kacau. Sejujurnya aku tak bermaksud mempermalukan siapapun, tetapi saat itu aku mengakui aku memanfaatkan situasi, dimana saat itu aku berada pada situasi yang menghimpitku dan memaksaku untuk melakukan semua itu, dan setelah itu, aku menyesal, Om. Mungkin tak ada yang tahu, tapi aku tak bisa menjalani hari-hariku dengan tenang sebelum Rayna memaafkan aku. Aku pikir, awalnya ini adalah hanya rasa bersalah, tetapi semakin berjalannya waktu, aku menyadari bahwa ada perasaan berbeda yang aku rasakan saat aku jauh dari Rayna, begitupun saat aku dekat dengan Rayna, dan aku yakin itu adalah rasa cinta. Aku menyayangi Rayna, Om," ucap Kevano.
Randy menghela napas panjang. Dia tak mengatakan apapun dan masih menunggu apa yang akan kevano katakan selanjutnya. Dia pun penasaran apa sebenarnya maksud kevano mengatakan semua itu?
"Tapi, Om. Dengan adanya kejadian seperti ini, aku sebetulnya nggak percaya kalau Rayna benar-benar hamil. Aku yakin, Rayna adalah wanita baik-baik. Tentu, aku bisa melihat kepolosannya bukan hanya sekedar dari wajahnya, tetapi juga dari hatinya. Jadi, mana mungkin dia akan berbuat seperti itu," ucap Kevano.
Lagi-lagi Randy menghela napas, Kevano benar-benar membuatnya menunggu dan membuatnya penasaran.
"Kenapa tidak langsung mengatakan saja intinya?" tanya Randy.
"Aku ingin mengatakan ini, Om. Tapi tolong, jangan berpikir bahwa perasaanku hanyalah main-main pada Rayna. Aku menyarankan ini, karena Rayna memang pantas mendapatkan keadilan. Terlebih bayi itu memang harus hidup dengan Ayahnya, jadi kita harus mencari tahu, siapa sebenarnya ayah dari bayi itu? Karena bagaimanapun pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan Rayna," ucap Kevano.
Randy bangun dari duduknya dan berdiri membelakangi kevano dia memasukkan telapak tangannya ke saku celananya dan berpikir sejenak. Ucapan kevano benar, jika pun dia berada di posisi kevano dia pun akan melakukan hal yang sama meski dia mencintai wanita itu.
"Apa yang membuatmu mencintai Rayna?" tanya Randy.
Kevano bangun dari duduknya dan menghampiri Randy. Dia menatap Randy dengan berani. Tidak seperti pria lain yang akan ketakutan menghadapi orang tua orang yang dicintainya, terlebih orang tua wanita itu pernah sangat membencinya tentu saja siapapun akan berpikir dua kali untuk menatap mata menakutkan itu. Namun, tidak dengan Kevano. Sejak awal dia memang tak pernah takut berhadapan dengan Randy, bahkan sebelumnya dia pernah dengan berani mengatakan sesuatu yang hingga membuat emosi Randy meledak. Kevano sadar akan kesalahannya, karena itu dia tak pernah lari, dia tak pernah menghindar, bahkan jika Rayna tak pernah menjauhinya dan tak selalu mengusirnya, dia sudah pasti akan lebih berani menghadapi Randy.
__ADS_1
"Apa cinta membutuhkan alasan, Om? Mungkin sama halnya seperti Om saat mencintai Tante, nggak perlu alasan untuk mencintai Tante saat itu, bahkan hingga saat ini. Perasaan itu mungkin saja hadir bahkan ketika dua orang belum benar-benar saling mengenal satu sama lain. Entah mengapa, tetapi aku merasakan Rayna memiliki perasaan yang sama denganku. Hanya saja, dia selalu menghindariku, dan aku tahu alasannya. Karena dia menghormati Om dan Tante sebagai orang tuanya. Aku tahu Om membenciku karena kesalahanku di masa lalu, tetapi aku sudah menyesalinya dan saat ini ini aku akan mengatakannya lagi bahwa aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Sungguh nggak ada manusia yang bisa hidup tenang di tengah rasa bersalahnya. Setiap kali aku menatap Rayna, aku teringat akan kesalahanku di masa lalu. Tapi tolong Om percaya sama aku, perasaanku bukanlah sekedar rasa ingin bertanggung jawab atas kesalahan aku pada Rayna, melainkan aku benar-benar menyayangi Rayna, bahkan aku mencintai Rayna, Om," ucap Kevano.
Randy terdiam dia teringat akan kejadian di masa lalu. di mana dia pernah berada di posisi Kevano saat ini. Tentu tak mudah berada dalam situasi di mana orang terdekat tak mendukung keadaan. Sama halnya dengan dirinya di masa lalu, begitu begitu besar perjuangan dan juga pengorbanan Randy dan Dania demi mempertahankan cinta mereka. Bukan hal mudah berada dalam situasi di mana semesta benar-benar tak mendukung cinta mereka.
Memang benar, apa yang kita lakukan maka akan kembali ke diri kita sendiri, tapi akan sangat tidak adil jika apa yang dialami orang tuanya juga dialami oleh anak-anaknya. Tentu setiap orang tua selalu ingin anak-anaknya bahagia. Entah dengan siapa mereka hidup, jika mereka mencintainya dan pasangannya adalah yang terbaik untuk mereka tentu setiap orang tua akan mendukung anak-anaknya.
"Kamu boleh pergi," ucap Randy.
Kevano membulatkan matanya.
"Apa Om mengusirku?" tanya Kevano.
"Ya," jawab Randy.
Dengan rasa putus asa Kevano melajukan motornya keluar dari halaman rumah Randy, matanya melihat jalanan tetapi tidak dengan pikirannya. Di kepalanya pikiran negatif berkeliaran, seolah menghantuinya bahwa inilah kali terakhir dia datang ke rumah Rayna.
Di kediaman Randy.
Randy melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Randy teringat kembali pada rekaman video yang sebelumnya dikirim oleh Reksi. Randy kembali melihat rekaman video itu, dan dia mencoba memperhatikannya dengan seksama. Ada dua rekaman video yang berbeda, di mana di rekaman pertama ada tiga orang yang terekam di rekaman video tersebut, tetapi di rekaman yang kedua, hanya ada satu orang yang terekam dalam video tersebut. Tentu Randy pun penasaran, apa sebetulnya motif yang membuat orang itu begitu tega melakukan kejahatan seperti itu?
__ADS_1
Selesai melihat rekaman tersebut, Randy pergi menghampiri Dania yang masih berada di kamar Rayna. Dia melihat Rayna yang terlihat begitu sedih, mata Rayna terlihat agak sembab. Sepertinya Rayna sempat menangis.
Dania yang menyadari keberadaan Randy pun menghela napas, dia masih kesal pada Randy. Bagaimana bisa seorang ayah tak percaya pada putri kandungnya sendiri?
"Istirahatlah, Mommy akan masak sesuatu untuk Ade," ucap Dania.
Dania keluar dari kamar Rayna dan melewati Randy tanpa mengatakan apapun. Sungguh, dia muak melihat Randy.
Randy pun tak mengatakan apa-apa, dia mengerti istrinya itu marah padanya. Randy melihat Rayna yang tidur membelakanginya. Tak ada yang tahu perasaannya saat ini, didiamkan oleh orang-orang yang dia sayangi tentu tidaklah menyenangkan. Ingin sekali rasanya dia memeluk Rayna, mengusap lembut kepala Rayna, hatinya hancur melihat putrinya sendiri terlihat begitu sedih.
Keesokan harinya.
Dengan langkah cepat Randy menuruni anak tangga setelah dia mendapatkan sebuah telepon masuk, dia melihat sekilas ke arah meja makan, di mana sudah ada Dania dan Rayna. Hari ini Rayna tidak ke kampus karena sedang merasa kacau. Tentu siapa saja akan merasa tak baik jika berada di posisi Rayna.
Randy menghela napas pelan saat mendekati meja makan dan melihat kedua wanita di ruang makan itu hanya diam tanpa mengucapkan selamat pagi padanya. Randy melihat ke atas meja makan, tak ada kopi hangat untuknya, padahal biasanya Dania selalu membuatkannya kopi di pagi hari. Tak ingin ambil pusing, tak ingin mencari ribut di pagi hari dengan istrinya itu, Randy pun memilih minum air putih. Lagipula percuma saja bertengkar dengan Dania, dia tak akan sanggup melawan Dania.
"Aku ada pekerjaan, aku harus pergi sekarang," ucap Randy.
Rayna melihat sang mommy yang hanya diam saja. Tak tega juga pikirnya terus mendiamkan papanya itu. Apalagi melihat sang mommy yang juga mendiamkan papanya, tentu dia pun merasa sedih melihat kedua orangtuanya bertengkar.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang ngomong," ucap Dania seolah tak melihat keberadaan Randy.
Bukannya kesal, Randy justru tersenyum mendengarnya. Tak ingin ambil pusing, Randy pun bergegas pergi dari rumah.