Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 35


__ADS_3

Sesampainya di rumah.


Rayna langsung pergi menuju kamarnya, sementara Dania terus menatap Rayna hingga Rayna benar-benar hilang dari pandangannya.


"Kamu baik-baik saja, Yank?" tanya Randy.


Dania mengangguk dan pamit ke kamar terlebih dulu.


Sementara Raydan dan Randy masih duduk-duduk di ruang tamu.


"Apa sudah ada pemberitahuan tentang Universitas yang Abang mau?" tanya Randy.


Raydan menggelengkan kepalanya.


"Belum, besok pemberitahuannya, Pa," ucap Raydan.


Randy mengangguk, dia sungguh berharap putranya itu akan di terima di Universitas yang putranya itu inginkan.


Randy tak pernah membatasi cita-cita Raydan, Raydan menginginkan melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan tehnik mesin di Jerman. Raydan bercita-cita ingin membuat pesawat-pesawat terbang jika sudah lulus kuliah nanti, dan Randy mendukung apapun keinginan putranya itu.


Sama halnya dengan dirinya saat sekolah dulu, Randy tak mengikuti jejak Almarhum sang papa untuk berbisnis ekspor import, Randy justru berkecimpung di dunia bisnis food&beverage. Randy mengerti, memaksakan kehendaknya pada sang anak bukanlah hal yang tepat. Jika si anak tak menginginkannya, dia pun tak akan memaksanya. Dia tak ingin mengambil resiko anaknya akan gagal jika tak berjalan sesuai kata hatinya.


Meski pada akhirnya, Randy juga yang mengambil alih perusahaan sang papa setelah sang papa meninggal dunia.


Di sisi lain.


Dania melangkah menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat Rayna tengah tersenyum sambil melihat ponselnya.


Dania pun memilih masuk terlebih dahulu ke kamar Rayna.


"Ehheumm ..." Rayna terkejut saat mendengar suara sang mommy.


Dia bergegas menyimpan ponselnya dan tersenyum melihat sang mommy.


"Lagi apa, De?" tanya Dania.


"Enggak ngapa-ngapain, Moms," ucap Rayna.


"Mommy boleh tanya, enggak?" tanya Dania.


Rayna pun mengangguk.


"Apa ade bertemu dengan laki-laki itu, di hotel?" tanya Dania.


Rayna mengerutkan dahinya, dia tak mengerti maksud dari pertanyaan Dania.


"Maksudnya, Moms?" tanya Rayna.


"Apa Ade bertemu dia juga, di hotel?" tanya Dania dengan tatapan penasaran namun tetap saja dia buat seteduh mungkin agar Rayna tak merasa sedang di interogasi.


"Tidak, Ade tidak bertemu Kevano," ucap Rayna dengan cepat.


Dania mengerutkan dahinya, dia tak pernah menyebutkan nama laki-laki itu. Namun Rayna justru menyebut nama Kevano.


Dania mengetahui nama Kevano setelah sebelumnya dia mencari tahu tentang identitas lengkap Kevano.


Dania mengangguk dan sudah dapat menangkap apa yang terjadi pada anaknya itu sehingga bisa sampai terjatuh ke kolam. Dania bisa menebak jika Rayna dan Kevano memanglah mengalami hal yang sama secara bersamaan.


"Baiklah, Ade istirahat, ya." Dania melangkahkan kakinya, namun Dania menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Rayna.


"Mommy tidak melarang Ade dekat dengan siapapun. Ade boleh berteman dengan siapapun asalkan orang itu tidak membawa pengaruh buruk untuk Ade," ucap Dania dan keluar dari kamar Rayna.

__ADS_1


Dania pergi menuju kamarnya, dia menghela napas berat.


Dia khawatir pada anak perempuannya itu. Dia takut anaknya itu akan terjerumus ke dalam pergaulan yang aneh-aneh. Dania khawatir jika Rayna dekat dengan orang-orang yang dapat memberikan pengaruh buruk.


Sementara di kamarnya, Rayna terdiam menatap ponselnya.


Di mana sebelum Dania masuk tadi, dia mendapatkan sebuah pesan.


Pesan dari nomor baru yang tak tersimpan di ponselnya.


Pesan yang entah mengapa tiba-tiba saja membuatnya menaikkan bibirnya dan menyunggingkan sebuah senyuman.


Namun senyuman itu hilang saat Rayna mendengar ucapan sang mommy.


Dia pun segera menghapus pesan tersebut.


*******


Keesokan harinya.


"Mom ..! Pa ..!" Raydan berteriak dan berlari menuju kamar orangtuanya.


Dia tersenyum lebar dan memeluk Dania juga Randy bergantian.


"Wow ,,, ada apa ini? Kenapa sepertinya Abang senang sekali?" tanya Dania dengan bingung.


"Abang di terima kuliah di Universitas di Jerman, Moms. Abang akan Sekolah Tehnik di sana," ucap Raydan yang tak hentinya tersenyum lebar saking bahagianya.


Dania dan Randy menyunggingkan senyum bahagianya mendengar kabar bahagia itu. Mereka memang sudah yakin sejak awal, Raydan memang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan IQ nya cukup tinggi, mereka pun sudah yakin Raydan akan di terima di Universitas tersebut.


"Ada apa, sih?" tanya Rayna yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mommy.


"Abang di terima jadi Mahasiswa Tehnik di Jerman, De," ucap Raydan.


"Benarkah?" Rayna menatap Raydan dengan tatapan sedih.


Dia akan jauh dari sang kakak, dan ini pertama kalinya Raydan akan meninggalkannya jauh dan cukup lama.


"Hei, little girl. Jangan sedih, please." Raydan merangkul bahu Rayna.


Dia pun tak ingin meninggalkan Rayna sendirian, namun dia juga harus memikirkan masa depan dan cita-citanya.


"Jih, apaan, sih? Kita seumuran, ya," ucap Rayna dengan kesal.


Rayna kesal karena Raydan memanggilnya little girl, sedangkan mereka seumuran.


Randy dan Dania terkekeh melihat Rayna memanyunkan bibirnya.


"Seandainya saja Ade boleh kuliah ke luar negeri juga," ucap Rayna.


Randy dan Dania saling tatap kemudian tersenyum.


Randy menghampiri Rayna dan merangkul bahu Rayna.


"Universitas di sini tak kalah bagusnya, De. Ade bahkan bisa masuk ke Universitas Indonesia dengan hanya mengikuti tes saja. Semua orang bermimpi masuk ke universitas itu, loh. Mereka bahkan rela masuk dengan jalur mandiri dan rela mengeluarkan uang ratusan juta agar bisa masuk ke sana," ucap Randy mencoba menghibur Rayna.


Rayna masih memanyunkan bibirnya membuat Randy sampai menghela napasnya.


Randy tak ingin Rayna tinggal jauh darinya, dia tak ingin mengambil resiko jika sampai anak perempuannya itu tinggal sendiri di negara lain. Apalagi kehidupan di luar sana lebih mengerikan dan terlalu bebas, pikir Randy. Meski sebetulnya tergantung bagaimana orang itu sendiri menyikapinya, namun tetap saja Randy mengkhawatirkan Rayna. Rayna terlalu polos anaknya.


Berbeda dengan Raydan. Raydan adalah laki-laki dan Randy percaya Raydan akan bisa menjaga dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jadi, kapan Abang akan ke Jerman?" tanya Rayna.


"Dua minggu lagi, mereka meminta Abang datang ke sana lebih awal untuk melengkapi beberapa berkas," ucap Raydan.


"Ya sudah." Rayna pun kembali ke kamarnya, meninggalkan orangtuanya dan Raydan yang saling tatap satu sama lain.


Mereka mengerti perasaan Rayna saat ini, namun suatu saat nanti pun Rayna akan jauh dari Raydan, Rayna tak mungkin akan terus bergantung pada Raydan.


Tok tok tok ...


"Maaf, Pak, Bu. Di bawah ada orangtua Ibu," ucap bibi.


"Papa? Dia sudah pulang dari Australia?" Dania, Randy dan Raydan segera turun menuju ruang tamu.


"Opa? Oma?" Raydan mencium punggung tangan sang Opa dan Omanya.


"Apa kabar, Bang? Kemana Ade?" tanya opa Hamish.


"Abang baik, Ade kamarnya, Opa," ucap Raydan.


"Oh, ya sudah." Opa Hamish pun mengangguk.


"Abang ke kamar, ya. Nanti kita lanjut ngobrol," ucap Raydan dan bergegas menuju kamarnya.


Papa Hamish menatap Randy dan Dania dengan tatapan tajam. Saat ini dia benar-benar kesal.


"Kenapa kalian tidak mengabari Papa? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ade?" tanya Papa Hamish.


"Iya, kenapa kalian tidak mengabari kami? Kami khawatir setelah mendengar kabar tentang Ade. Kami pun terlambat mengetahuinya, jika kami tahu lebih awal, kami pasti akan pulang lebih awal," ucap Mama Rania.


Mereka terlambat mengetahui masalah yang di alami Rayna karena tengah melakukan perjalanan bisnis ke Australia.


"Masalahnya sudah selesai," ucap Randy dengan santai dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Jadi, Ade benar-benar memiliki hubungan dengan anak itu?" tanya Papa Hamish.


"Tentu saja tidak, itu hanya untuk membungkam media saja," ucap Randy.


"Benarkah? Lalu, bagiamana selanjutnya? Bukankah media akan terus mengira  bahwa Ade dan laki-laki itu memiliki hubungan?" tanya papa Hamish.


Dania dan Randy saling tatap. Mereka sama-sama menghela napas berat.


"Itulah yang menjadi masalah sekarang. Tapi, semenjak pernyataan laki-laki itu, media pun seolah bungkam dan tak lagi memberitakan yang tidak-tidak," ucap Dania.


"Jadi, kalian setuju dengan pernyataan laki-laki itu?" tanya papa Hamish.


"Apa yang bisa kami lakukan? Ade bahkan tak menyangkal ucapan laki-laki itu saat di depan media," ucap Dania.


"Apa Ade menyukai laki-laki itu?" tanya papa Hamish.


Randy membulatkan matanya, dia terkejut mendengar pertanyaan papa mertuanya itu.


"Tidak mungkin ..! Ade sangat membenci anak itu," ucap Randy.


"Berhati-hatilah, benci dan cinta sangatlah berkaitan. Seperti kalian dulu," ucap mama Rania.


Randy dan Dania kembali saling tatap, Randy menjadi kepikiran ucapan mama mertuanya itu.


"Bagaimana jika Ade benar-benar menyukai anak itu?" batin Randy.


Randy benar-benar akan murka jika semua itu sampai menjadi kenyataan. Mengingat Kevano adalah anak yang sudah kesan yang sangat buruk di matanya.

__ADS_1


__ADS_2