
Di sisi lain.
Raydan melajukan mobilnya menuju kediaman Kevano. Ya, dia masih ingat rumah Ralisya. Dia pun tahu Ralisya adalah adik dari Kevano.
Sesampainya di rumah Ralisya, Raydan menghela napas pelan dan menekan bel. Tak lama keluar seorang security dan membukakan pintu pagar rumah Ralisyan.
"Maaf, mencari siapa, ya?" tanya security.
"Si sialan!" ucap Raydan tanpa sadar.
"Hah? Maksudnya?" security terlihat bingung mendengar ucapan Raydan.
"Maaf, Kevano maksudnya. Pemilik rumah ini," ucap Raydan.
"Oh, Mas Kevano. Dia sedang diluar," ucap security.
"Siapa, Pak?" tanya seorang gadis yang keluar dari dalam rumah.
Jantung Raydan berdegup kencang melihat orang itu yang tak lain adalah Ralisya. Sama halnya dengan Raydan, Ralisya pun tak kalah jantungan dan gemetar saat melihat Raydan.
Perlahan Raydan mendekati Ralisya, dan menatap dalam mata Ralisya. Ralisya pun menepuk pipinya, dia berpikir bahwa ini adalah mimpi saat melihat Raydan ada di hadapannya.
"I miss you, cutie pie," ucap Raydan.
Ralisya kembali menepuk pipinya dengan cukup keras dan berhasil membuatnya meringis. Tanpa sadar mata Ralisya memerah.
"Kamu nggak suka ketemu aku?" tanya Raydan.
Bugh!
"Ouh, shit! Apa ini ucapan selamat datang pada pacarmu? Kenapa kasar banget?" tanya Raydan sambil mengaduh saat merasakan bogeman dari Ralisya tepat di dadanya.
"Kamu jahat!" ucap Ralisya.
Raydan mengerutkan dahinya.
"Kenapa pulang nggak bilang aku?" tanya Ralisya dengan nada kesal.
"Kenapa nggak peluk aku dulu? Kita udah lama loh nggak ketemu, emangnya kamu nggak kangen aku? Masa langsung interogasi kayak gitu. Udah kayak penjahat aja aku," ucap Raydan.
"Nggak mau, kamu emang jahat! Aku kesal sama kamu! Kamu pulang nggak bilang aku!" kesal Ralisya.
Raydan mengusap wajahnya dan menarik Ralisya ke pelukannya.
"I miss you, cutie pie, Aku benar-benar kangen kamu, " ucap Raydan.
__ADS_1
"Sorry," ucap Raydan pelan. Ralisya pun membalas memeluk Raydan.
Maaf, aku nggak bilang mau pulang ke Indonesia. Aku mau buat surprise tadinya, tapi malah gagal, gara-gara kesal duluan saat tahu Ade mau nikah sama Kakakmu, batin Raydan.
Sedikit informasi tentang Ralisya dan Raydan.
Raydan dan Ralisya nyatanya aktif berhubungan via media sosial selama Raydan di Jerman. Keduanya menjadi dekat dan akhirnya memutuskan untuk terikat dalam suatu hubungan. Ya, Raydan memutuskan menjadikan Ralisya sebagai kekasihnya yang ternyata juga Ralisya bersedia. Hubungan keduanya bisa dikatakan sebagai hubungan jarak jauh. Sikap Raydan mungkin terlihat biasa saja pada Ralisya, begitupun sebaliknya saat mereka masih berada di satu sekolah dulu.
Namun, hati tak ada yang tahu. Selama di Jerman, Raydan terus menghuhungi Ralisya. Hingga seringnya berkomunikasi meski hanya melalui media sosial, menjadikan keduanya merasa nyaman.
Cinta mungkin datang terlambat, tetapi sejauh apapun jarak memisahkan, jika cinta itu kuat dan di dasari dengan suatu kepercayaan, maka menjalin hubungan jarak jauh tak ada salahnya. Karena cinta akan selalu tahu, kapan waktu yang tepat untuk datang di hati seseorang.
******
Ralisya melepaskan pelukan Raydan dan menyuruh Raydan untuk masuk. Raydan pun dipersilahkan duduk di ruang tamu, sementara Ralisya membuatkan minuman untuk Raydan.
Raydan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu. Di mana di sana terdapat beberapa foto keluarga Ralisya, ada Kevano juga di foto keluarga tersebut.
Yang benar aja, masa dia jadi Adik iparku, sementara aku pacaran sama Adiknya, gumam Raydan saat melihat foto Kevano.
Raydan tak habis pikir, akan seperti apa hubungannya dengan Ralisya kelak, jika Kevano justru masuk lebih dulu menjadi anggota keluarganya. Raydan pun tak habis pikir, karena Ralisya tak mengatakan apapun soal rencana pernikahan Kevano dengan Rayna. Raydan pun akan mempertanyakan alasan Ralisya karena tak memberitahunya.
Tak lama Ralisya datang dengan membawakan minuman, Ralisya meletakan minuman itu di atas meja dan duduk di samping Raydan.
"Aku tahu, kamu ke sini bukan buat aku," ucap Ralisya sambil tersenyum hambar.
"Maaf, aku nggak bilang masalah itu. Aku takut, karena aku tahu kamu nggak suka sama Kakakku. Jadi, aku pikir biarkan orangtuamu yang memberitahu kabar rencana pernikahan Kak Kevano dengan Rayna," ucap Ralisya.
Raydan terdiam sejenak. Sebetulnya, sebelumnya dia pun ingin menanyakan hal itu pada Ralisya, tapi dia urungkan saat melihat wajah sendu Ralisya. Ralisya semakin cantik, dan Raydan tak ingin kecantikan Ralisya terhalangi oleh ekspresi sendu Ralisya.
"Aku ngerti. Kamu jangan ngerasa bersalah gitu, Cupie," ucap Raydan.
Ralisya menatap Raydan dan tersenyum. Ralisya selalu suka saat Raydan memanggilnya dengan sebutan 'Cupie' yang mana sebuah singkatan dari 'Cutie Pie' bukan tanpa alasan Raydan memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Melainkan karena mengingat Ralisya begitu imut dan manis. Bahkan begitu cantik sesuai tipe wanita yang Raydan sukai.
"Lalu, gimana sama hubungan kita?" tanya Ralisya merasa cemas seketika. Saat ini, hatinya tengah dilanda bunga-bunga asmara terhadap Raydan. Dia sungguh takut hubungannya harus berakhir karena Rayna akan menjadi anggota keluarganya.
"Aku ada rencana," ucap Raydan.
"Apa?" tanya Ralisya penasaran.
"Gimana kalau kita gagalkan aja pernikahan mereka?" tanya Raydan.
Ralisya membulatkan matanya. Dia terkejut mendengar ucapan Raydan.
"Apa kamu gila? Aku nggak mau!" tegas Ralisya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu mau mempertaruhkan hubungan kita?" tanya Raydan.
"Aku nggak mau ngerusak kebahagiaan orang lain, apalagi Kevano Kakakku. Sekarang, tolong kamu berpikir yang jernih, apa kamu rela mengorbankan kebahagiaan Adik kamu sendiri hanya untuk kebahagiaan kamu? Aku sayang sama kamu, tapi aku nggak seegois itu, Ray," ucap Ralisya.
Raydan menghela napas, dan tak lama terdengar suara tepukan tangan. Ralisya dan Raydan pun sontak melihat ke arah datangnya suara tersebut. Terlihat Kevano tengah terkekeh melihat mereka berdua sambil memberikan tepuk tangan yang cukup keras.
"Wow! Drama macam apa ini? Kalian ada something ternyata," ucap Kevano.
Raydan mengepalkan tangannya. Entah mengapa dia menjadi emosi saat melihat wajah Kevano. Raydan bangun dari duduknya dan bergegas menghampiri Kevano. Dengan geram Raydan menarik kerah kemeja yang Kevano pakai.
"Woi, tenang! Jangan cari ribut!" ucap Kevano.
"Sialan! Kamu cari mati karena berani mau menikahi Adikku!" kesal Raydan.
Kevano menghempaskan tangan Raydan, membuat tubuh Raydan seketika terhempas tetapi tak sampai membuatnya jatuh tersungkur.
Ralisya segera menghampiri Kevano dan Raydan. Dia takut kedua pria itu akan melakukan baku hantam di rumahnya.
"Udah cukup! Tolong jangan ribut!" ucap Ralisya.
Kevano melihat Ralisya dan Raydan bergantian.
"Oh, lihatlah! Kedua pasangan yang sedang dilanda cinta ini! Aku beritahukan ini pada kalian! Terlebih padamu, calon Kakak Iparku!" ucap Kevano sambil menatap Raydan tajam.
"Aku tak ingin mencari ribut denganmu. Bukan karena aku takut padamu. Tapi, aku menghormatimu sebagai Kakak dari calon Istriku! Rencanamu untuk merusak kebahagiaan Adikmu sendiri benar-benar jahat sekali, keterlaluan sih, menurutku. Bukankah kamu pun tengah mencintai Adik seseorang? Posisikan dirimu dalam posisiku! Aku pikir, aku akan meminta restu padamu, saat Rayna mengatakan bahwa kamu tak setuju dengan rencana pernikahan kami. Kebetulan sekali kita ketemu di sini. Aku nggak minta kamu memberikan restu saat ini, tetapi satu hal yang ingin aku katakan. Pikirkan perasaan Rayna, setidaknya jangan pernah menghancurkan hatinya dan juga harapannya. Dan ingat ini, Raydan! Aku tahu kamu benci padaku, tapi aku tak pernah main-main mencintai Adikmu!" ucap Kevano.
"Dan, ya. Bagaimana jika posisinya terbalik? Bagaimana jika aku dan keluargaku yang melarang kamu berhubungan dengan Adikku? Kami bahkan tak tahu seperti apa pergaulanmu di Jerman sana. Bagaimana kamu berinteraksi dengan banyak orang di sana, dan yang lebih penting, kami tidak pernah tahu, dengan wanita mana saja kamu berhubungan! Sebagai seorang Kakak, tentu kita memiliki perasaan yang sama. Sama-sama tak ingin Adik kita dipermainkan!" tegas Kevano.
"Sialan!" umpat Raydan dan akan memukul wajah Kevano, tetapi Ralisya cepat-cepat menahan Raydan.
"Please, aku nggak mau kamu kasar kayak gitu. Aku nggak suka!" ucap Ralisya.
"Nih anak banyak omong abisnya (menunjuk Kevano) bikin kesal aja! Mana mungkin aku berhubungan dengan banyak wanita, aku mungkin punya banyak teman wanita, tapi hubungan kami hanya sebatas teman. Sedangkan kamu? Dia nggak akan ngerti, kalau cuman kamu yang ngisi hati aku, nggak ada cewek lain lagi!" ucap Raydan dengan kesal.
"Iya-iya. Aku percaya sama kamu," ucap Ralisya. Ralisya tak ingin banyak bicara dan memilih mengiyakan saja ucapan Raydan. Dia tak ingin memperpanjang masalah.
"Kamu pun nggak akan ngerti, kalau aku benar-benar mencintai Rayna. Kamu tahu kenapa? Karena di hati kamu, masih tersimpan rasa benci padaku!" ucap Kevano.
Raydan mendengus kesal dan meninggalkan rumah Ralisya.
"Lihat aja, apa kayak gitu orang yang benar-benar mencintaimu? Bahkan dia meninggalkanmu tanpa sepatah katapun!" ucap Kevano.
"Aku tahu, dia butuh waktu," ucap Ralisya.
"Ya, terserah. Aku nggak mau ikut campur. Tapi ingat ini, Ralisya! Kalau sampai Kakak melihatmu menangis karena Raydan, Kakak nggak peduli siapa dia, kamu jangan pernah menghalangi Kakak untuk menghajarnya!" tegas Kevano dan berlalu meninggalkan Ralisya.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa kalian para pria selalu berpikir dengan emosi, sih? Bikin pusing aja!" kesal Ralisya.