Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 138


__ADS_3

Kevano bergegas membuka seatbelt-nya.


"Kenapa?" tanya Kevano.


"Bayinya gerak," ucap Rayna tersenyum.


Kevano menghela napas. Syukurlah Rayna tak apa-apa.


Kevano akan menyentuh perut Rayna, tetapi ucapan Rayna membuatnya mengurungkan niatnya.


"Mau apa?" tanya Rayna.


"Mau rasain gerakannya. Boleh, ya." Kevano memasang wajah memelas. Berharap perut Rayna mau disentuh olehnya.


"Hm ..."


Rayna tak merespon dengan ucapan, tetapi dia berdehem membuat Kevano mengerti maksudnya.


Kevano menyentuh perut Rayna.


"Yah, kok udahan, sih?" ucap Kevano kecewa karena tak ada lagi pergerakan sang bayi. Dia terlambat pikirnya.


"Nah ..." Kevano begitu antusias ketika sesaat kemudian tersentuh pergerakan sang bayi. Dia begitu bahagia dapat merasakan gerakan bayinya di perut Rayna.


"Yah ... Hilang lagi," ucap Kevano.


"Nanti juga gerak lagi. Jangan dipaksain," ucap Rayna.


"Hm ... Kasih tau aku kalau gerak lagi, aku mau peluk," ucap Kevano tersenyum.


"Gimana caranya?" tanya Rayna bingung. Ada-ada saja pikirnya suaminya itu. Bagaimana mungkin bayi di dalam perut bisa dipeluk?


"Peluk Mamanya," ucap Kevano terkekeh.


Rayna tersenyum. Dia seolah lupa tengah marah pada Kevano karena perhatiannya dialihkan oleh bayi di dalam perutnya.


Setelah cukup memegang perut Rayna, Kevano kembali memakai seatbelt-nya dan kembali melajukan mobilnya hingga mobil sampai di depan Kantor Raka.


"Hati-hati, ya," ucap Kevano.


"Hm ..." Rayna turun dari mobil, Kevano memanggil Rayna membuat Rayna melihat ke arah Kevano.

__ADS_1


"Jangan lupa dibaca titipanku buat kamu, lewat Bibi kemarin," ucap Kevano tersenyum dan melajukan mobilnya.


Rayna terdiam, mencoba mengingat apa yang dititipkan bibi padanya?


Sesaat kemudian Rayna teringat kemarin bibi menitipkan surat cinta dari Kevano. Dia membuka tasnya. Untunglah tasnya sama dengan yang dipakai kemarin.


Rayna mengambil surat cinta itu, dan membukanya. Sambil berjalan dia mulai membacanya.


Teruntuk kamu, calon Ibu dari anakku.


Sebelumnya, aku tak pernah menyangka bisa menikahimu. Aku melihatmu pertama kali di ulang tahun Ralisya. Itu yang terpikirkan, ketika aku belum menyadari satu hal.


Sampai suatu ketika, aku melihat potret anak kecil perempuan di dalam kamarku. Wajahnya begitu cantik dan menggemaskan. Aku memotret anak perempuan manis itu saat melihatnya untuk pertama kali di sebuah Pantai di Sydney beberapa tahun lalu.


Aku pikir, aku menyukainya karena dia begitu menggemaskan. Lalu, aku menyadari satu hal. Kejadian malam itu, ketika aku mencuri ciuman pertamamu, ternyata kamulah anak perempuan yang potretnya kuambil beberapa tahun lalu. Dan aku sadar, itu adalah pertemuan kedua kita.


Bahkan tak hanya memotret dirimu, aku pun menyentuh tubuhmu. Tapi ketahuilah, itu tanpa pemikiran yang tak baik.


Kamu tahu, saat itu ada yang ingin berbuat jahat padamu. Aku rasa, dia pedofil. Dia terus saja melihat tubuh kecilmu yang hanya memakai bikini.


Jika kamu ingat ucapanku saat itu, mungkin kamu akan mengerti. Aku mengatakan padamu ''Wear the right clothes. Don't let someone do evil because they see your body,'


Aku mengatakannya karena ingin melindungimu. Mungkin, usiaku remaja saat itu. Namun, aku bukanlah penjahat yang akan menyakiti anak-anak sepertimu.


Maaf, jika aku melukai hatimu dengan sikap emosionalku yang tak dapat kukontrol. Ketahuilah, aku melakukannya tanpa sadar.


Sebetulnya, aku tak ingin menulis ini. Aku mungkin pencipta syair lagu. Namun, aku tetap kesulitan bicara denganmu. Aku sulit merangkai kata yang tepat untuk kusampaikan padamu. Itulah kelemahanku, terkadang aku menunjukan sikap kecintaanku dengan cara yang berbeda.


Aku harap, setelah kamu membaca ini, kamu tak lagi marah padaku. Kamu mau memaafkan kelancanganku di masa lalu. Niatku hanya ingin melindungimu, yang ternyata jodohku di masa depan. Jika saja aku tahu sejak awal, bahwa kamulah wanita yang akan kunikahi, maka aku takan membiarkan mata orang yang melihat tubuh kecilmu dulu berfungsi. Aku akan membuatnya tak dapat lagi melihat dunia ini. Jika perlu, aku akan melenyapkannya.


Semoga kamu mengerti, dan mau memaafkanku.


Aku merindukanmu, sungguh. Aku akan menunggumu di restauran Last night. Alamatnya ada di belakang lembar kertas ini. Aku menunggu jawabanmu atas kata rindu yang kuucapkan.


Dari aku, calon Ayah dari anakmu.


Bruk!


Rayna terkejut saat tiba-tiba menabrak seseorang. Orang itu Raka, Raka melihat Rayna dengan penuh kebingungan. Di mana mata Rayna memerah seperti tengah menahan tangis.


"Are you okay?" tanya Raka.

__ADS_1


"No, i am not okay, Rak." Rayna akhirnya menangis. Membuat Raka semakin bingung.


"Kita ke ruanganku," ucap Raka.


Rayna mengikuti Raka menuju ruangannya. Rasanya, tak enak juga dilihat staf lainnya ketika dalam keadaan menangis.


Rayna duduk di kursi, dia masih memegang surat dari Kevano. Pikiran Rayna teringat pada malam di mana dia sudah memaki Kevano. Dengan kasarnya bahkan dia menuduh Kevano yang tidak-tidak. Dia pun mengusir Kevano dari kamarnya.


Rayna semakin jadi menangis, jika waktu dapat kembali ke malam itu, dia takan memikirkan egonya. Dia akan lebih memilih mendengarkan penjelasan Kevano.


"Aku nggak ngerti kenapa kamu nangis? Aku jadi susah mau bantu," ucap Raka bingung.


Rayna mengusap air matanya. Dia izin ke toilet.


Di dalam toilet.


Rayna menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Kevano.


Tak lama, panggilan pun terhubung. Terdengar suara Kevano. Namun, Rayna hanya diam. Bibirnya seketika tertahan rasa malu untuk mengeluarkan sebuah kata.


'Halo, Rayn!' panggil Kevano.


Rayna menahan tangisnya, sebisa mungkin dia tak ingin Kevano mendengarnya. Sungguh, rasanya saat ini Rayna ingin menghilang saja. Malu rasanya, bagaimana dia akan menghadapi Kevano jika mereka bertemu nanti?


'Hm ... Kamu udah baca isi suratnya?' tanya Kevano.


'A-apa makan malamnya masih berlaku?' tanya Rayna gugup.


'Hm ... Masih, dong. Aku masih nunggu jawaban kamu,' ucap Kevano.


'Iya, malam ini kita makan di restoran Last Night, tunggu aku,' ucap Rayna.


Belum sempat Kevano menjawab ucapan Rayna, Rayna sudah lebih dulu mematikan panggilan itu.


Jantungnya berdegup kencang, meski Kevano suaminya. Namun, dia tak pernah mengajak Kevano kencan. Ini pertama kalinya dia mengajak Kevano makan malam di luar meski secara tak langsung. Meski ini hanya sebuah lanjutan cerita dari makan malam yang tertunda kemarin malam.


Rayna menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum.


'I miss you too,' ucap Rayna sambil tersenyum.


Rayna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


'That's not the way,' ucap Rayna.


Rayna tengah melatih dirinya saat bertemu dengan Kevano nanti. Bagaimana cara dia membalas kata rindu Kevano dan harus memasang ekspresi seperti apa di depan Kevano nanti? Rasanya, ini seperti kencan pertama saja. Membuatnya gugup.


__ADS_2