
Acara makan malam telah selesai. Sayangnya, acara makan malam itu menjadi kacau, di luar ekspektasi Dania. Dania pun menjadi kesal, ditambah melihat orang yang dia benci. Dia tak menyangka Rayna masih saja bertemu dengan Kevano, dia benar-benar tak suka pada Kevano. Dania memang berbeda dengan Randy, dia tak melarang Rayna berteman dengan pria, tetapi tidak dengan Kevano, mengingat kesan buruk di awal perkenalan mereka. Menurutnya, Kevano adalah anak yang kurang ajar dan tak memiliki sopan santun, tentu dia tak ingin Rayna dekat dengan pria yang tak baik. Apalagi, dia masih ingat betul insiden yang pernah terjadi padanya dan Randy, hingga mengharuskan keduanya menikah di usia muda.
"Om, Tan, Aku pamit dulu," ucap Guriko menghampiri Dania dan Randy yang tengah duduk di ruang tamu.
"Ya, silahkan," ucap Dania. Guriko menelan air liurnya, Wajah Dania terlihat menahan kekesalan, dia menjadi tak enak hati karena berpikir Dania masih kesal acara makan malam keluarganya menjadi berantakan karena ulahnya. Guriko pun keluar dari rumah itu.
"Aku ke atas dulu," ucap Dania dan beranjak menuju lantai dua. Dania tak sengaja melihat pintu kamar Rayna yang tak tertutup rapat. Terlihat Rayna baru saja keluar dari kamar mandi, Dania pun masuk ke kamar Rayna.
"Ada yang mau Ade jelaskan sama Mommy?" tanya Dania.
Rayna mengerutkan dahinya, dia tak mengerti maksud ucapan Dania.
"Soal Kevano," ucap Dania. Rayna menelan air liurnya. Dia memang sudah memiliki firasat bahwa Dania mengetahui kedatangan Kevano.
"Ade nggak tahu apa-apa, Moms. Ade nggak tahu, kenapa dia datang ke sini," ucap Rayna. Pandangan Dania beralih menuju ponsel Rayna, Dania pun mengambil ponsel Rayna.
"Buka password-nya," pinta Dania. Tanpa curiga Rayna membuka password ponselnya.
"Jadi, kalian masih terus komunikasi via chat?" ucap Dania saat memeriksa pesan yang masuk ke ponsel Rayna dan melihat nama Kevano di slaah satu chat yang tersimpan. Rayna terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Memang benar, dia masih berkomunikasi dengan Kevano melalui pesan.
"Mommy nggak suka Ade yang sekarang, Ade berubah," ucap Dania.
"Maksud Mommy apa?" tanya Rayna bingung.
"Ade bukan Ade yang Mommy kenal, Ade yang Mommy kenal, nggak akan bohong sama Mommy," ucap Dania.
"Maaf, Moms. Tapi, Ade nggak ada hubungan apapun sama dia," ucap Rayna.
"Tapi, kalian masih berhubungan. Buat apa? Ade tahu dia anak yang kurang ajar, dia nggak sopan. Ade lupa, apa yang udah dia lakuin ke Ade? Sampai sekarang, Mommy masih nggak terima perlakuan dia," ucap Dania kesal.
__ADS_1
"Ade tahu. Ya udah, Ade blok aja nomor dia," ucap Rayna. "Bagus," ucap Dania dan pergi dari kamar Rayna.
Mata Rayna memerah, dia sungguh sedih melihat Dania yang selama ini tak pernah marah padanya, sekarang justru marah karena masalah Kevano. Rayna memblokir nomor Kevano, dia pun memilih mengalihkan rasa sedihnya dengan membaca buku. Sayangnya, dia tak bisa fokus membaca buku, dia teringat pada bunga yang Kevano buang tadi di halaman rumahnya.
*****
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Rayna merasa gelisah dan terringat kembali pada bunga yang Kevano buang tadi. Dia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Dia melihat ke ruang tamu, sudah tak ada siapapun di sana. Dia pun keluar rumah dan memeriksa halaman, mencari bunga yang Kevano buang. Rayna tersenyum dan mengambil bunga tersebut, setelah itu dia kembali masuk ke rumah dan pergi menuju kamarnya.
Rayna mengendus aroma bunga tersebut, ingatannya kembali pada kemarahan Dania tadi. Dia menghela napas dan pergi menuju balkon. Dilihatnya sekali lagi bunga dari Kevano.
Apa-apaan, sih? Kenapa aku ambil bunga ini? Gara-gara orang yang ngasih bunga ini, Mommy jadi marah, gumam Rayna.
"Dari dia?" tanya Guriko yang ternyata ada di balkon rumahnya dan tengah memperhatikan Rayna yang akan melemparkan bunga itu. Rayna melihat Guriko, dan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa mau dibuang?" tanya Guriko bingung.
"Yakin, tuh, dibuang?" tanya Guriko. Rayna mengangguk dan tersenyum. "Menurut kamu, Aku gimana?" tanya Rayna tiba-tiba, membuat Guriko mengerutkan dahinya merasa bingung mendengar pertanyaan Rayna.
"Gimana apanya?" tanya Guriko. "Orangnya," jawab Rayna. "Biasa aja," ucap Guriko santai.
Rayna mengerucutkan bibirnya, merasa tak puas dengan jawaban Guriko. "Kata Mommy, Aku berubah," ucap Rayna sedih. "Berubah jadi apa? Power rangers, kah?" tanya Guriko sembarang. Rayna menatap tajam Guriko.
"Hei! Kamu mau apa?" Rayna terkejut saat Guriko melompat ke balkonnya. Jantung Rayna berdegup kencang saat Guriko memgang bahunya dan mata Guriko menatap Rayna.
"Apa Mommy kamu nggak suka sama dia?" tanya Guriko. Rayna mengangguk.
"Alasannya?" tanya Guriko. "Bisa singkirin tangan kamu, nggak?" tanya Rayna. Guriko tersenyum dan melepaskan tangannya dari bahu Rayna.
"Dia udah bikin malu keluarga aku," ucap Rayna. "Benarkah? Bikin malu apa?" tanya Guriko.
__ADS_1
Rayna menatap Guriko, ia merasa bingung. Apa mungkin Guriko tak mengetahui berita dirinya bersama Kevano yang bahkan sempat menjadi trending topik di media.
"Oke, nggak masalah kalau kamu nggak mau cerita. Tapi, Aku yakin, orangtua kamu punya alasan ngelarang kamu dekat sama dia," ucap Guriko. Rayna mengangguk.
"Tapi, nggak baik juga memendam perasaan," ucap Guriko. "Maksudnya?" tanya Rayna bingung.
"Kalau kamu suka sama dia, lebih baik diungkapin, jangan dipendam. Apapun itu, berusahalah jujur. Dari mulai hal kecil aja dulu," ucap Guriko. "Misalnya?" tanya Rayna. "Tanya hati kamu, kamu yang akan tahu jawabannya," ucap Guriko.
"Aku nggak ngerti. Aku bingung sama perasaan aku sendiri. Aku bahkan nggak ngerti apa itu cinta," ucap Rayna.
"Sama pacar kamu sebelumnya? Masa nggak ngerasain apa-apa?" tanya Guriko. Rayna menggelengkan kepalanya. Guriko terkekeh sambil mengusap wajahnya.
"Kenapa ketawa?" tanya Rayna bingung. "Apa kamu belum pernah pacaran?" tanya Guriko. "Hum ..." jawab Rayna.
"Astaga, di jaman sekarang ternyata masih ada yang seperti kamu," ucap Guriko sambil masih terkekeh. "Apa jangan-jangan kamu nggak laku?" ledek Guriko.
"Auw ... Apa-apaan, sih?" Guriko memekik menahan perih di lengannya saat Rayna mencubitnya menggunakan kukunya yang sedikit panjang. "Itu balasan buat kamu, karena kamu bilang aku nggak laku," kesal Rayna.
"Balasannya sadis banget," ucap Guriko. "Apa, sih? Cuman cubit aja masa sakit," ucap Rayna. "Apanya yang cuman cubit? Ini kekerasan namanya, masa berbekas kayak gini." Guriko menunjukkan bekas cubitan Rayna.
"Ops ... Maaf, nggak sengaja. Lagian salah sendiri," ucap Rayna. "Astaga, perempuan memang selalu benar," ucap Guriko. Rayna tersenyum. "Udah, jangan cengeng. Aku ambilin obatnya," ucap Rayna dan masuk ke kamarnya. Dia mengambil sesuatu dan menyimpannya di dalam saku piyamanya. Dia pun kembali menghampiri Guriko.
"Mana? Katanya mau ambil obat?" tanya Guriko bingung, karena Rayna tak membawa kotak obat. "Nih, obatnya." Rayna mengambil sesuatu yang tadi dia ambil dan memberikannya pada Guriko.
"Oh, astaga! My ponsel," ucap Guriko tersenyum dan mengambil ponsel tersebut.
"Katanya dijual," ucap Guriko bingung. "Tapi, bohong," ucap Rayna. "Ah, gila. Iseng juga, ya, kamu," ucap Guriko. Rayna pun tersenyum.
"Maaf, untuk tadi siang, karena udah marah-marah sama kamu," ucap Guriko. "Kalau aku nggak maafin, gimana?" tanya Rayna. "Aku bujuk," ucap Guriko. "Caranya?" tanya Rayna. "Ya, kasih aja apa yang kamu suka, apa yang kamu mau?" ucap Guriko menatap Rayna. "Oke, jauhin aku," ucap Rayna. "Maksud kamu?" tanya Guriko bingung.
__ADS_1