
Kevano sampai di apartemen. Dia melihat apartemen itu tampak sepi. Kevano pergi ke kamarnya. Dia melihat lampu tampak redup, dan pandangannya menuju tempat tidur. Di mana di sana ada Rayna tengah tertidur.
Kevano menghela napas dan mendekati Rayna. Tega sekali pikirnya, Rayna membiarkannya menunggu di restoran sementara Rayna ternyata sudah tidur.
Kevano mengambil tas Rayna, dia penasaran apakah surat itu sudah dibaca atau belum?
Kevano mengambil surat itu, surat itu tampak rapi. Tak ada lekukan bekas remasan atau yang lainnya.
"Jadi, dia belum baca? Ya ampun!" Kevano menyimpan surat itu kembali ke tas Rayna. Biarkan saja pikirnya, dia bicara pun Rayna takan mau mendengarkan. Dia akan menunggu sampai Rayna benar-benar membaca isi surat itu. Dia ingin tahu apa tanggapan Rayna setelah membaca surat itu.
Kevano masuk ke kamar mandi, dia membersihkan wajahnya dan naik ke tempat tidur. Dia ingin istirahat. Namun, tiba-tiba Rayna terbangun.
"Jangan tidur di sini!" ucap Rayna.
Kevano melihat Rayna dan menghela napas.
"Aku capek, lho. Mau tidur aja susah banget," keluh Kevano.
"Tidur aja di kamar lain," ucap Rayna.
"Rayn ..."
Rayna berbalik membelakangi Kevano. Kevano hanya bisa diam melihat sikap Rayna. Dia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Kevano pergi ke kamar tamu, dia tidur di sana. Ternyata, saat wanita sedang marah begitu menyeramkan. Rayna bahkan menolak keberadaannya. Namun, Kevano tak ingin mempermasalahkannya. Biarkan saja, Rayna pun sedang salah paham padanya. Dia yakin, Rayna akan mengerti setelah tahu yang sebenarnya.
Kevano terlelap, dia hanya berharap esok hubungannya dengan Rayna akan lebih baik.
...Keesokan harinya....
Kevano bangun lebih pagi, dia membuatkan sarapan dan susu untuk Rayna. Dia masuk ke kamar, berniat membangunkan Rayna. Ternyata Rayna sudah bangun dan sudah rapi.
"Mau ke mana?" tanya Kevano.
"Kantor Raka," ucap Rayna tampak dingin.
Rayna memang mendapatkan waktu dari pihak kampus untuk mendesign kantor Raka. Karena itu, dia akan meninggalkan beberapa materi kampus dan digantikan dengan kuliah via online dengan bimbingan dari Dosennya.
__ADS_1
"Aku antar, ya. Aku free, kok," ucap Kevano.
"Nggak usah," ucap Rayna dan berlalu keluar kamar.
Rayna pergi menuju meja makan dan memakan sarapan yang dibuatkan Kevano. Meski hanya sedikit, setidaknya Kevano yang melihat itu merasa senang. Rayna mau menghargai usahanya dalam membuat sarapan itu.
Kevano mengambil kunci mobil dan menyimpannya di saku celananya.
Selesai sarapan, Rayna mencari kunci mobil. Rasanya, semalam dia simpan di atas laci nakas di dekat kamar. Namun, saat dia akan mengambilnya dia tak melihatnya.
Rayna melihat Kevano yang duduk santai di ruang tamu. Dia menghampiri Kevano dan menyodorkan tangannya.
"Apa?" tanya Kevano.
"Kunci mobil," ucap Rayna.
"Udah mau jalan?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk.
"Ngapain diem? Katanya mau jalan, ayok aku antar," ucap Kevano.
Rayna menghela napas dan keluar dari apartemen. Kevano hanya tersenyum. Meski Rayna tak mengatakan apapun, tetapi Rayna akhirnya mau diantar olehnya.
Sesampainya di basemant, Rayna dan Kevano masuk ke mobil. Kevano pun mulai melajukan mobilnya.
Di perjalanan menuju kantor Raka, Kevano meminta izin untuk isi bahan bakar terlebih dahulu. Mereka masuk ke area pom dan mengisi bahan bakar. Rayna hanya diam memainkan ponselnya. Dia sama sekali tak bicara pada Kevano.
Selesai mengisi bahan bakar, mereka melanjutkan perjalanan.
Tepat di lampu merah, mobil mereka berhenti. Pandangan Rayna melihat ke arah mobil yang berada di samping kirinya. Kaca mobil itu terbuka, dan tampak orang di dalamnya tengah memakan sesuatu. Rayna melihat itu sepertinya lezat sekali. Ingin rasanya mencoba makanan itu. Rayna membuka kaca mobil, dia berniat ingin melihat lebih jelas makanan apa itu yang tengah di makan orang di dalam mobil di sampingnya? Makanan itu berwarna putih kekuningan dan hijau membentuk seperti sebuah lapisan. Berada di tempat mika kecil dan makannya menggunakan sendok.
Rayna mencium aroma durian, membuatnya semakin tak tahan ingin memakannya. Namun, Rayna hanya diam, tetapi Kevano tak sengaja memperhatikan Rayna. Kevano mengikuti arah pandang Rayna.
"Hm ..." Kevano terdiam. Dia memikirkan sesuatu.
Mobil kembali melaju, Kevano berhenti di salah satu toko kue. Toko kue yang di mana Kevano tahu di sana ada yang menjual makanan yang Rayna lihat tadi.
__ADS_1
"Ada yang mau aku beli, tunggu sebentar, ya," ucap Kevano.
Rayna hanya diam, tak mengatakan apapun. Sementara Kevano langsung keluar dari mobil dan masuk ke toko kue tersebut. Tak lama, Kevano kembali keluar membawa sebuah bingkisan. Dia masuk kembali ke mobil dan memberikannya pada Rayna.
Rayna melihatnya dengan bingung.
"Coba buka dulu," ucap Kevano.
Rayna membukanya. Dia sana adah sebuah dus di mana bertuliskan 'Selamat menikmati'
Rayna membuka dus itu, dan melihat kue yang sama persis dengan apa yang dia lihat tadi.
Rayna mengambil satu tempat mika kue itu, dan membuka tutupnya. Terciumlah aroma durian. Rayna memang menyukai durian, sama seperti Dania.
"Itu namanya kue durian lapis ketan," ucap Kevano.
Rayna mengangguk. Dia mengambil sendok kecil dan memakannya.
"Thanks," ucap Rayna.
Kevano hanya tersenyum. Dia mengusap kepala Rayna dan sontak Rayna melihat Kevano.
"Aku tahu tadi kamu mau makan itu, kan? Makanya aku beliin," ucap Kevano.
"Bukan aku, anakmu yang mau," ucap Rayna.
Kevano terkekeh mendengar jawaban Rayna. Dia pun tahu, Rayna mengidam ingin makan kue itu.
Sebetulnya, bagi sebagian orang yang mempercayainya, makan durian tidaklah diperbolehkan. Namun, Rayna dan Kevano tak tahu hal itu. Mereka pasangan muda yang belum banyak mengerti tentang makanan apa saja yang boleh di makan oleh ibu hamil. Namun, bagi dunia medis. Makan durian tak masalah, asalkan tidak berlebihan. Jika hanya makan sedikit, itu tak mengapa.
Hari itu, jalanan cukup padat. Bagi Rayna menyebalkan, karena lagi-lagi terjebak kepadatan di jalanan. Namun, tidak bagi Kevano. Kevano merasa senang karena bisa bersama Rayna lebih lama. Apalagi, Kevano pun sibuk dan hanya bertemu Rayna di malam hari. Jika saja memungkinkan, ingin rasanya selalu menemani Rayna. Sayangnya, dia kepala keluarga. Dia harus bertanggung jawab menghidupi istrinya. Apalagi sebentar lagi akan hadir anggota keluarga baru. Tentu saja Kevano tak bisa hanya bersantai. Hidup membutuhkan biaya, meski uang bukanlah segalanya tetapi segalanya membutuhkan uang. Dan dia akan bekerja keras agar istri dan anaknya kelak dapat hidup layak.
Karena itu, bagi Kevano tak ada wanita yang matrealistis. Bagi Kevano, mereka para wanita hanya realistis memandang kehidupan. Jika ada pria yang menganggap wanitanya matrealistis, itu artinya si prianya yang tak mampu memberi. Karena hidup bukan tentang cinta, hidup membutuhkan biaya. Sama seperti dirinya, memandang segalanya secara realistis. Karena logikanya membawanya menuju ke arah sana.
"Aduh ..." Rayna mengeluh memegang perutnya, membuat Kevano terkejut karena mendengar keluhan Rayna.
Kevano menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia ingin melihat keadaan Rayna.
__ADS_1