Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 42


__ADS_3

Waktu pun berlalu, hari ini adalah hari di mana Rayna akan mulai masuk kuliah. Sama seperti saat SMA dulu, Rayna pun tetap memakai kacamata tebalnya. Dia memang tidak terlalu tertarik seperti gadis kebanyakan yang akan berdandan semodis mungkin, penampilan Rayna justru terlihat sederhana meski orangtuanya memiliki banyak uang untuk menunjang penampilannya.


Selesai bersiap, Rayna turun menuju meja makan untuk sarapan.


Selesai sarapan, dia pamit pada Bibi dan pergi ke kampus dengan di antar oleh Stefie.


"Nanti, saya tunggu di kampus atau saya boleh pulang dulu ke rumah, Non?" tanya Stefie sambil mengemudikan mobilnya.


"Panggil Ade saja, Kak. Jangan Non," ucap Rayna.


Rayna melihat Stefie lebih dewasa darinya. Ya, memang benar Stefie memiliki usia yang terpaut cukup jauh dari Rayna. Pengalaman kerjanya sebagai supir sekaligus bodyguard pun sudah cukup banyak.


"Saya tidak enak, Non," ucap Stefie sungkan.


"Tidak apa-apa, anggap saja seperti Adik Kakak sendiri," ucap Rayna.


"Baiklah, saya anggap ini perintah," ucap Stefie sambil terkekeh.


Rayna pun ikut terkekeh mendengar ucapan Stefie. Dia senang memiliki seseorang yang cocok dengannya, Stefie terlihat baik dan dewasa.


"Nanti, Kakak bisa pulang dulu ke rumah. Aku akan hubungi Kakak kalau kuliahku sudah selesai," ucap Rayna.


"Baiklah," ucap Stefie.


Sesampainya di kampus, Rayna pun turun dari mobil.


Tin ,, tin ..!


Rayna terkejut saat mendengar suara klakson motor, dia melihat ke arah suara tersebut dan terlihat seorang pria memakai helm tengah membawa motornya.


"Kalau mau turun dari mobil, lihat-lihat ada yang lewat atau enggak," ucap pria itu dan kembali melajukan motor besarnya menuju parkiran motor.


"Ade baik-baik saja? Maafkan, saya," ucap Stefie cemas.


Rayna tersenyum dan menggeleng.


"Aku baik-baik saja, Kakak bisa kembali ke rumah," ucap Rayna.


Rayna pun masuk ke kampus dan mencari kelasnya.


Rayna terlihat bingung karena kampus itu benar-benar luas.


Puk ..!



Rayna terkejut saat ada yang menepuk bahunya.


Dia melihat ke arah orang itu, dan ternyata pria yang sama dengan yang dia lihat saat di restauran saat makan malam dengan orangtuanya. Ingatan Rayna memang cukup kuat, dia pun masih mengingat wajah pria itu.


Namun sepertinya pria itu tak mengingat wajah Rayna.


"Mahasiswi baru?" tanya Pria itu.


Rayna mengangguk dan menunjukkan selembar kertas.


"Mahasiswi design," gumam Pria itu.


Lagi-lagi Rayna mengangguk.

__ADS_1


"Lurus saja. Nanti, belok kanan dan di situ kelasnya," ucap pria itu.


Sekali lagi Rayna pun hanya mengangguk.


"Apa kamu bisu? Kenapa hanya mengangguk?" tanyanya.


Rayna pun menggelengkan kepalanya.


Pria itu mengerutkan dahinya, dan menghela napas.


"Siapa nama kamu?" tanyanya.


"Rayna," ucap Rayna.


"Aku Guriko, Mahasiswa Arsitektur semester dua," ucap pria itu.


Kuzugami Guriko, seorang pria tampan keturunan Indonesia dan Jepang. Berusia 19 tahun dengan tubuh tinggi dan berkulit putih.


"Oh, iya," ucap Rayna.


"Aku permisi," ucap Rayna.


Guriko mengangguk dan dia pun pergi ke kelasnya yang berbeda arah dengan kelas Rayna.


*******


Waktu pun berlalu, kelas sudah selesai.


Kini Rayna tengah menunggu Stefie menjemputnya di parkiran.


"Tunggu, Beb. Aku bisa jelasin semuanya,"


"Sialan ..! Minggir ..!"


Rayna mengerutkan dahinya saat melihat pria yang sama tadi pagi.


Ya, dia Guriko, Mahasiswa Arsitektur.


"Kamu salah paham, aku enggak ada hubungan apapun sama laki-laki itu," ucap wanita itu.


"Terserah, aku enggak peduli. Kita sudah putus," ucap Guriko dengan kesal.


"Aku enggak mau, aku masih sayang sama kamu," ucap wanita itu terlihat memelas.


"Cih, sayang, kok, rela tidur sama laki-laki lain," ucap Guriko sambil tersenyum sinis.


"Apa maksud kamu?" Wanita itu terlihat kebingungan. Namun juga terlihat wajahnya yang memucat.


"Kamu pikir, aku enggak tahu kelakuan kamu di belakang aku, ha? Aku lihat semuanya, semua yang kamu lakuin sama si brengsek, itu ..!" Geram Guriko.


"Ka-kamu pasti salah lihat," ucap wanita itu gugup.


Guriko terkekeh dan menatap tak suka pada wanita itu.


"Dengar ini, Byanka. Aku enggak peduli apapun yang kamu lakukan sekarang, hubungan kita sudah berakhir. Dan, ingat ini--" Guriko menghela napas.


Byanka Crhistie, siapa yang tak mengenal wanita itu? Wanita cantik berwajah blasteran yang hampir semua Mahasiswa di sana mengenalnya.


"Aku enggak suka bekas orang," ucap Guriko dan naik ke motornya. Dia pun pergi meninggalkan Byanka yang terdiam mematung sambil mengepalkan tangannya. Kata-kata Guriko benar-benar melukai hatinya.

__ADS_1


Rayna yang melihat kejadian itupun hanya dapat menghela napas.


"Rumitnya orang yang berpacaran," gumam Rayna.


Tak lama, Stefie pun datang.


"Maaf, De. Jalanan macet banget, tadi," ucap Stefie.


"Enggak apa-apa, Kak. Yuk, pulang," ucap Rayna.


Mereka pun kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Rayna pun bergegas menuju kamarnya dan beristirahat.


*******


Malam hari.


Di kamarnya, Rayna tengah membaca sebuah buku tentang design. Namun dia tak dapat fokus membaca saat terdengar suara dentuman drum yang terdengar cukup keras dari luar kamarnya.


"Duh, apa-apaan, sih? Mengganggu saja," ucap Rayna dengan kesal.


Saat membaca, Rayna memang tak bisa di ganggu. Apalagi jika mendengar suara berisik, tentunya akan membuat konsentrasinya  terganggu.


Rayna yang kesal pun akhirnya memilih keluar menuju balkon kamarnya untuk melihat ada kegiatan apa di sana.


Rayna melihat ke arah balkon sebuah rumah yang berdempetan dengan rumahnya. Terlihat seorang pria yang duduk membelakanginya tengah bermain drum dengan hanya memakai kaos singlet hitam dan celana pendek.


Rayna menggelengkan kepalanya saat melihat orang itu seperti tidak sedang bermain drum, melainkan terlihat sedang menumpahkan kekesalannya pada drum yang ada di hadapannya.


"Sialan ..!" Umpat pria itu.


Pletak ..!


"Auuwww ... Rayna meringis kesakitan saat pria itu melemparkan stik drumnya ke arah belakang sehingga mengenai kepala Rayna.


Pria itu terkejut mendengar pekikan Rayna dan segera melihat ke arah Rayna.


"Duh, sakit banget," ringis Rayna sambil masih memegangi kepalanya.


"Hei ..! Kamu baik-baik saja?" tanya Pria itu.


Rayna melihat ke arah pria itu dan membulatkan matanya saat lagi-lagi melihat Guriko di hadapannya.


Tak hanya dia, Guriko pun terkejut melihat Rayna.


"Loh, kamu, kan, yang tadi di kampus," ucap Guriko.


Rayna menatap malas pada Guriko. Kepalanya benar-benar sakit akibat lemparan stik drum milik Guriko.


"Kamu tinggal di sini juga? Apa tetangga baru?" tanya Guriko.


"Apa kamu enggak lihat? Aku kesakitan begini?" ucap Rayna dengan kesal.


"Sorry, aku enggak sengaja. Apa perlu ke Dokter?" tanya Guriko.


"Enggak perlu," ucap Rayna dengan kesal dan bergegas kembali ke kamar.


"Hei ..! Kenapa masuk? Kembalikan dulu stik drum ku, itu mahal dan limited edition," teriak Guriko.

__ADS_1


Rayna tak mempedulikan teriakan Guriko, dia pun langsung menutup pintu balkon kamarnya.


__ADS_2