
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, matahari sudah benar-benar naik. Namun, dua insan yang kelelahan bercinta semalaman itu baru saja membuka mata. Mereka bangun siang sekali.
Kevano melihat Rayna dan tersenyum. Dia mengecup pipi Rayna dan mengusap lembut rambut Rayna. Rayna perlahan semakin membuka matanya, kepalanya terasa berat. Dia tak biasa bergadang, tetapi semalam bergadang dan tidur dini hari.
"Pagi," sapa Kevano sambil menyunggingkan senyum manisnya. Masih teringat kejadian semalam. Ah, indahnya batinnya.
"Pagi," sahut Rayna tersenyum.
"Are you okay?" tanya Kevano memastikan. Dia ingat semalam Rayna kesakitan, meski pada akhirnya Rayna pun semakin lama semakin menikmatinya.
Rayna mengangguk dan bangun. Kevano pun bangun duduk bersampingan dengan Rayna bersandar di kepala tempat tidur.
"Auw ..." Rayan meringis, ada rasa perih dibagian intiimnya.
"Why?" tanya Kevano.
"I'm not okay," ucap Rayna menahan sakit.
"Masih sakit kah?" tanya Kevano.
"Iya, perih banget ya ampun," keluh Rayna.
Kevano memeluk tubuh Rayna, mengusap punggungnya.
"Tapi enak kan semalam?" tanya Kevano sarkas.
Rayna mencubit perut Kevano, membuat Kevano terkekeh.
Ya, meski Rayna tak menjawabnya, tetapi semalam sudah jelas Kevano dapat melihat Rayna begitu menikmatinya. Bahkan Rayna berisik sekali mengeluarkan desahan selama kegiatan berlangsung. Dan lucunya, ternyata Rayna termasuk orang yang mudah bergairah, bahkan dengan mudahnya dia meledak mencapai puncaknya. Kevano yakin, semalam suara keduanya terdengar hingga keluar. Namun, dia tak khawatir karena hanya ada bibi dan bibi pasti mengerti. Jika pun mendengar, palingan hanya akan tersenyum merasa gelisah.
"Mau mandi nggak?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk. Kepalanya masih terasa pusing, dengan mandi dia akan merasa lebih baik dan menjadi lebih segar.
Tak lama terdengar suara dering telepon dari ponsel Kevano, Kevano pun menjawab telepon itu.
'Bro, kemana aja sih? Dari pagi ditelpon nggak dijawab-jawab. Hari ini jam 10 ada jadwal syuting iklan, Jangan bilang kamu lupa,' Menejer Kevano tampak kesal di telepon.
Kevano menepuk dahinya. Dia benar-benar melupakan jadwal kerjanya. Kejadian semalam membuatnya lupa pada semua hal karena itu dia terlalu asik dan sampai terlambat bangun.
'*Sorry, aku baru bangun. Bilang saja aku terlambat karena macet,' ucap Kevano.
'Ah, jangan gila. Cepatlah datang kemari, kami sudah menunggu,' ucap menejernya lagi*.
Kevano mematikan telepon itu dan beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Aku lupa, hari ini ada jadwal kerja. Aku telat banget," ucap Kevano.
"Terus gimana? Kita kesiangan bangunnya," ucap Rayna menyayangkan.
"Udah nggak apa-apa, Jakarta pusatnya macet, aku bisa pakai alasan itu," ucap Kevano tersenyum.
Kevano melangkah menuju kamar mandi, dia akan mandi terlebih dulu. Sementara Rayna akan beranjak dari tempat tidur. Belum sempat turun dari tempat tidur, Rayna lagi-lagi meringis. Sungguh, bagian intiimnya seperti terkena luka sayatan dan benar-benar terasa perih.
"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk.
"Ya udah, aku gendong sini." Kevano mengangkat tubuh Rayna. Dia mendudukan Rayna di closet dan mengisi bathup dengan air hangat, lalu Memasukan sabun cair ke dalamnya. Aroma sabun pun membuat keduanya merasa lebih rileks.
Setelah air di bathup cukup, Kevano menggendong Rayna dan masuk ke bathup.
"Berendam dulu, ya. Biar sakitnya hilang," ucap Kevano.
Rayna pun mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bathup. Kakinya dibiarkan tertekuk dan benar dirinya merasa lebih baik. Sementara Kevano mandi menggunakan shower, dia tak ikut berendam karena harus cepat datang ke lokasi syuting.
"Apa kamu bisa mandi sendiri?" tanya Kevano.
Rayna terdiam, memang dia merasa lebih baik. Tapi rasa ketakutan perih ketika menggerakan kakinya membuatnya menggelengkan kepala.
Beberapa menit Rayna berendam, Kevano pun membantu membilas tubuh Rayna. Setelah itu, mereka keluar dari kamar mandi. Selesai berpakaian, keduanya keluar dari kamar, pergi menuju meja makan karena waktunya sudah masuk jam makan siang. Mereka melewatkan sarapan karena telat bangun.
"Selamat siang kesayangan Mommy."
Alangkah terkejutnya Rayna dan Kevano melihat ada Dania dan Randy di meja makan. Keduanya tersenyum penuh arti.
"Moms, Pa! Kapan kalian datang?" tanya Rayna dan Kevano bersamaan. Mereka menyalami Dania dan Randy.
"Kami datang dari semalam. Mendadak, kebetulan kami habis ada acara di luar semalam, dan ingin menginap di sini. Tapi, kelihatannya kami datang terlalu malam, karena kalian sudah tidur," ucap Randy tersenyum.
Rayna dan Kevano saling tatap, kemudian tersenyum canggung.
"Oh gitu. Kalian mau makan siang? Mommy masak untuk kalian hari ini, sengaja udah lama nggak masak, kan," ucap Dania.
"Aku ada pekerjaan, Moms. Jadi, aku harus pergi sekarang. Maaf banget, ya. Kalian bisa lanjutkan makan siang," ucap Kevano.
"Baiklah, hati-hati, Kev," ucap Dania.
Kevano pun pergi dari apartemen. Rayna melangkah tertatih dan duduk di kursi makan. Berkali-kali dia membenarkan posisi duduknya agar membuatnya nyaman.
Dania dan Randy tak menanyakan apapun. Mereka hanya tersenyum dalam hati. Mereka tak ingin bertanya dan membuat Rayna merasa malu.
__ADS_1
Nyatanya, Dania dan Randy mendengar suara berisik dari kamar Rayna dan Kevano. Membuat keduanya tertawa kecil dan teringat masa muda di awal-awal menikah.
Dania dan Randy saling tatap, dan tersenyum satu sama lain.
"Kalian baik-baik aja? Apa ada yang lucu? Kenapa nggak ajak ade juga?" ucap Rayna yang ternyata memperhatikan tingkah Randy dan Dania.p
"Ah, Nggak Sayang. Papa terus natap Mommy, tatapannya centil banget," ucap Dania tersenyum mencoba mengalihkan perhatian Rayna agar tak mencurigainya.
"Itu karena, Mommy terlihat lebih cantik dari biasanya," ucap Randy menimpali ucapan Dania.
"Yang benar aja. Mommy selalu terlihat cantik kapan pun," ucap Dania bangga.
Rayna terkekeh melihat tingkah kedua orangtuanya. Seketika dia melupakan rasa sakitnya melihat senyum kedua orangtuanya.
Di sisi lain.
Tiga puluh menit perjalanan menuju lokasi syuting, Kevano benar-benar datang terlambat. Beruntungnya, hari itu jalanan tak macet, sehingga dia bisa sampai lokasi syuting dengan cepat.
"Habis ngapain, sih? Tidur udah kayak kebo aja. Udah tau ada syuting, malah kesiangan bangunnya," ucap menejer Kevano dengan nada kesal.
"Jomblo mana paham begadangin Istri," ucap Kevano tersenyum.
"Oh ya Lord, Jangan bilang semalam adalah pengalaman pertama kalian," ucap menejer.
Kevano tersenyum dan tak menjawab apapun.
"Sialan, aku angkat tangan. Nggak paham begituan," ucapnya.
"Ya kan, udah dibilang. Kamu mana paham kayak gituan, Mblo," ucap Kevano terkekeh.
"Jomblo itu mahal, nggak gampang laku. Biar jomblo, tapi berkualitas," ucap menejer.
"Ya ya, terserah dirimu. Asal jangan sampai karatan," ucap Kevano.
Menejer Kevano menutupi wajahnya.
'Sialan dia,' batin sang menejer sambil tersenyum kecil.
"Aku akan masuk dan mulai syutingnya," ucap Kevano tersenyum. Senyuman itu tak hentinya tersungging di bibir Kevano. Membuat sang menejer larut dalam pikirannya.
'Sekuat apa dia? Bisa-bisanya sampe begadang,' batinnya.
Dia pikir, Kevano kuat sekali sehingga tak selesai-selesai dan mengakibatkan harus begadang. Nyatanya, Kevano melakukannya berkali-kali.
Oh astaga, apakah masih ada pria sepolos menejernya Kevano?
__ADS_1