Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 85


__ADS_3

Randy, Kevano, dan Guriko terdiam kala melihat kemarahan Dania. Kevano dan Guriko tak mengenal Dania ketika marah, tetapi Randy berada dalam masalah besar.


Randy menghela napas dan melihat Kevano juga Guriko.


"Ngapain kalian lihat Saya seperti itu?" bentak Randy.


Guriko semakin terkejut, tetapi tidak dengan Kevano. Rasanya, Kevano sudah terbiasa menerima bentakan dari Randy. Lebih dari sekedar bentakan, Kevano bahkan pernah terkena bogeman Randy. Namun, tidak dengan Guriko. Inilah pertama kalinya Guriko melihat Randy marah. Pertemuan mereka pun cukup baik.


Tak ingin membuat Randy semakin marah, Kevano dan Guriko memilih diam.


Randy mengusap wajahnya. Benar saja, Dania membuatnya menjadi tak fokus menghadapi kedua laki-laki itu.


Guriko mengambil ponselnya saat menerima sebuah panggilan masuk. Ternyata sang mami yang menghubunginya. Guriko pun pamit keluar untuk menerima panggilan tersebut.


Guriko menjawab telepon sang mami yang ternyata tengah berada di rumahnya. Guriko pun memberitahukan tengah berada di rumah temannya. Tak hanya itu, Byanka pun ternyata ada di rumah Guriko.


Guriko kembali menghampiri Randy setelah telepon itu terputus.


"Maaf, Om. Aku--" Guriko menghentikan ucapannya saat melihat tatapan dingin Randy. Hanya sebuah tatapan, Randy bahkan tak mengatakan apapun tetapi Guriko tak berani melanjutkan ucapannya. Entah merasa takut atas segan saat melihat ekspresi Randy.


"Saya belum selesai bicara!" tegas Randy.


Randy beralih melihat Kevano yang hanya diam saja. Entah apa yang ada di pikiran Kevano, ekspresi Kevano seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Begini, Om. Untuk masalah kehamilan Rayna, aku nggak tahu apapun. Bahkan jika ada cctv di rumah ini, silahkan Om cek saja untuk membuktikan semuanya," ucap Guriko.


"Apa kamu sedang mengajari Saya?" tanya Randy.


Guriko menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Om. Aku hanya menyarankan. Orangtuaku mengajarkan aku bertanggung jawab sejak kecil, kecuali untuk hal yang tidak pernah aku lakukan. Aku bersumpah tidak menghamili Rayna. Aku tidak mungkin merusak masa depan orang lain, dan juga merusak masa depanku. Aku tetap takut Tuhan, Om. Aku nggak mau mempermalukan keluargaku," ucap Guriko.


Randy terdiam. Dia sudah mengerti maksud ucapan Guriko. Randy kembali melihat Kevano yang masih saja bungkam. Randy pun menanti ungkapan Kevano. Sungguh, dia menjadi penasaran mendengar respon Kevano soal kehamilan Rayna.


"Kamu boleh pergi!" ucap Randy pada Guriko.


Guriko tersenyum. Akhirnya dia bisa meyakinkan Randy bahwa dirinya tidak bersalah. Jangankan menghamili Rayna. Jangankan memikirkan menikah muda, dan memiliki anak saat usia muda, Guriko bahkan tak pernah membayangkannya.


"Terimakasih, Om. Maaf, aku mungkin nggak bisa melakukan apapun. Semoga cepat terungkap siapa Ayah dari bayi yang Rayna kandung," ucap Guriko.

__ADS_1


Randy tak menghiraukan ucapan Guriko. Pikirannya terfokus pada Kevano. Urusan Dania dan Rayna, dia mungkin akan kesulitan menghadapi dua wanita yang itu, tetapi apapun itu, dia berharap Dania dan Rayna akan memahami keadaannya.


Guriko keluar dari rumah Rayna dan melihat Byanka tepat di depan pintu pagar rumah Rayna.


"Kamu ngapain di rumah wanita murahan itu?" tanya Byanka sarkas. Guriko pun mengerutkan dahinya. Entah apa maksud ucapan Byanka?


"Apa maksudmu?" tanya Guriko bingung.


"Ya, Rayna. Siapa lagi memangnya? Bukankah dia wanita murahan?" ucap Byanka.


Guriko menghela napas dan masuk ke halaman rumahnya. Byanka pun mengikuti Guriko dan menahan tangan Guriko.


"Jangan terlibat dengan urusannya, atau kamu akan dianggap bersalah!" ucap Byanka.


Guriko menatap Byanka penuh curiga.


"Sebenarnya, apa maksudmu? Aku nggak ngerti," ucap Guriko.


"Bukankah Rayna hamil, dan tak jelas siapa Ayah dari anaknya itu?" ucap Byanka.


Guriko membulatkan matanya, dan menatap Byanka bingung.


Byanka pun terdiam.


"Katakan, apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Guriko.


Byanka hanya diam dan masuk lebih dulu ke rumah Guriko. Guriko pun semakin dibuat bingung. Apa mungkin kabar kehamilan Rayna sudah tersebar di dalam kampus? Tetapi dirinya sendiri justru tak mendengar kabar apapun tentang kehamilan Rayna, bahkan jika Randy tak memberitahunya tentu dia tak akan mengetahui apapun. Guriko mengacak rambutnya kesal.


Kenapa semua wanita yang dekat denganku, semuanya sama saja? Mereka terlihat polos, tetapi nyatanya-- gumam Guriko.


Brak!


"Ya ampun! Guriko!"


Mami Guriko yang baru saja keluar dari rumah begitu terkejut saat melihat tanaman bonsai kesayangannya hancur karena ulah Guriko yang menghajar pot tanaman bonsai tersebut yang ada di tepat di sampingnya.


Guriko pun ikut terkejut mendengar teriakan sang mami.


"Bonsai Mami, ya ampun!" sang mami menatap tragis tanaman kesayangannya. Tanaman berbentuk kecil, tetapi memiliki harga fantastis itu kini tergeletak tak berdaya.

__ADS_1


"Apa-apaan, sih? Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" tanya mami Guriko.


"Nggak sengaja, Mam," ucap Guriko tanpa rasa bersalah.


"Yang benar saja nggak sengaja, apa kamu bertengkar dengan Byanka?" tanya mami.


"Nggak," jawab Guriko.


"Lalu, kenapa? Mami benar-benar nggak habis pikir. Jangan bilang karena perempuan lain," ucap mami Guriko curiga.


"Nggak ada, Mam. Bukan apa-apa, dan tolong jangan bahas wanita. Aku pusing!" kesal Guriko.


Mami Guriko mengerutkan dahinya, dia bingung sendiri melihat tingkah anaknya itu.


Guriko masuk ke kamarnya, sementara Byanka menghampiri mami Guriko dan mengatakan sesuatu. Entah apa yang dia katakan.


Di kediaman Randy.


Randy dan Kevano saling diam untuk beberapa saat.


"Om!" panggil Kevano.


Randy tak menyahut, dia hanya melihat Kevano dengan tatapan seolah bertanya ada apa?


"Aku mencintai Rayna," ucap Kevano.


Randy mengerutkan dahinya. Masih tak mengatakan apapun, Randy hanya menunggu apalagi yang akan Kevano katakan.


"Maaf untuk apa yang terjadi selama ini, Om pantas membenciku. Tetapi, Om. Aku tidak pernah menghamili Rayna, aku tidak setega itu merusak Rayna di usia mudanya," ucap Kevano.


Randy masih saja diam, kini dia berpindah dan duduk di atas sofa. Kevano pun ikut duduk di hadapan Randy.


"Usiaku 23 tahun, akan menginjak 24 tahun. Targetku menikah adalah usia 25 tahun, dan aku berharap calon istriku adalah wanita yang aku cintai," ucap Kevano.


"Lalu, apa hubungannya dengan Saya? Kenapa kamu curhat pada Saya?" tanya Randy bingung.


"Karena Om, Papanya Rayna," ucap Kevano.


"Saya tidak suka bertele-tele, sebaiknya cepat katakan! Apa maksudmu?" tegas Randy.

__ADS_1


Kevano menelan air liurnya, dia berusaha menormalkan detak jantungnya, berharap apa yang akan dia katakan adalah hal yang benar.


__ADS_2