
Dengan perasaan kesal Byanka menghempaskan bokongnya dan duduk berhadapan dengan Guriko. Dia kesal dengan apa yang Rayna ucapkan, dia pun tak menyangka Guriko dan Rayna ternyata memang dekat. Meski dia sendiri tak tahu apa sebenarnya hubungannya keduanya.
"Jelasin!" tegas Byanka.
"Apa?" tanya Guriko bingung. "Apa maksud wanita itu?" tanya Byanka. "Memangnya apa? Dia benar, kan? Kita memang udah putus," ucap Guriko. Byanka menghela napas panjang. "Kita belum putus," ucap Byanka. Guriko mengerutkan dahinya. "Terserah," ucap Guriko malas.
Byanka berpindah posisi dan duduk di samping Guriko. "Lihat aku!" pinta Byanka. Guriko menatap Byanka lekat. "Apa hanya segitu, perasaan kamu ke aku?" tanyaByanka. Guriko hanya diam. Dia masih terus menatap wajah cantik Byanka. Guriko tak memungkiri, masih ada perasaan cinta untuk Byanka. Bagaimana pun, Byanka adalah cinta pertamanya. Dia begitu memuja Byanka yang bahkan memiliki daya pikat yang luar biasa. Dia beruntung sebetulnya memiliki kekasih secantik Byanka, hanya saja kesalahan yang Byanka lakukan, membuat separuh rasa cinta itu berubah menjadi rasa marah dan kecewa.
"Jawab, Ko!" tegas Byanka. Guriko menghela napas. "Kamu mau tahu?" tanya Guriko. Byanka mengangguk dan menatap Guriko dengan serius. "Perasaanku hilang saat kamu mengkhianatiku," ucap Guriko.
Mata Byanka memerah. Dia sadar betul kesalahannya terlalu fatal. Meski dia akui, dia menyesal atas perbuatannya, tetapi semua tak akan kembali. Kesuciannya bahkan sudah terenggut oleh pria lain.
"Maaf," lirih Byanka. Guriko menghela napas pelan. Ada rasa peduli tentunya terhadap Byanka, akan tetapi penyesalan Byanka tak akan mengembalikan apapun. Meski dia masih mencintai Byanka, dia tak ingin lagi menjalin kasih dengan Byanka. Saat ini pun dia dekat dengan Byanka hanya ingin sebagai teman, dan tentunya atas tuntutan keluarganya. Hubungan keluarga Byanka dan Guriko memang terjalin baik, sejak kecil mereka bahkan sudah di jodohkan.
__ADS_1
"Sudahlah, kita pesan makanan aja. Kamu harus makan, kan. Ini udah siang," ucap Guriko. Byanka tersenyum dan mengangguk. Guriko memang pernah marah padanya, tetapi melihat perhatian Guriko yang masih tetap sama, dia yakin bahwa Byanka masih memliki rasa padanya. Mereka memilih memesan makanan dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.
*****
Hari sudah semakin sore, matahari bahkan sudah akan tenggelam. Rayna tengah sibuk di depan laptopnya, Ingatannya kembali pada Kevano. Dia masih bingung dengan sikap Kevano. Entah mengapa Kevano mengatakan sesuatu yang seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Kevano, bagaimana setiap kejadian saat itu masih tersimpan lekat di memori ingatannya. Rayna memngusap bibirnya, dia telah memberikan ciuman pertamanya pada Kevano, tentu saja dia tak bisa semudah itu melupakan kejadian itu.
Rayna melihat ponselnya, tak ada apapun di sana, tak ada pesan masuk dari orang yang saat ini dia pikirkan.
Rayna memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang begitu menyejukkan.
"Memikirkannya?" tanya Guriko yang tiba-tiba saja berada di balkon rumahnya. Sontak Rayna terkejut dan menoleh ke arah Guriko.
"Apa kamu terbang?" tanya Rayna. "Kenapa?" tanya Guriko bingung. "Bukannya tadi kamu ada di abwah? Kenapa sekarang udah di atas?" tanya Rayna bingung. "Kamu memperhatikanku?" tanya Guriko sambil tersenyum. Rayna memutar bola matanya, dia bahkan tak kepikiran sama sekali untuk memikirkan pria keturunan Indonesia-Jepang itu.
__ADS_1
"Kamu bau," ucap Rayna sembarang. Guriko terkejut dan langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri. "Wangi, kok," ucap Guriko. "Wangi apanya? Seharian kamu di luar, kan? Belum mandi pasti," ucap Rayna. Guriko tersenyum dan menggaruk tengkuknya malu. "Kamu mau ikut?" tanya Guriko. "Kemana?" tanya Rayna bingung. "Mandi," ucap Guriko. Rayna membulatkan matanya, dia menatap Guriko dengan tajam. "Jangan kurang ajar, ya!" tegas Rayna. Guriko tertawa melihat ekspresi kesal Rayna.
"Aku cuman bercanda. Tapi--" Guriko tersenyum melihat Rayna. "Apa?" tanya Rayna penasaran. "Kamu lebih cantik saat marah," ucap Guriko sambil terkekeh. "Astaga, kamu mau gombalin aku?" tanya Rayna. "Mungkin," jawab Guriko. "Sayangnya, nggak mempan. Aku nggak akan tergoda," ucap Rayna sambil tersenyum remeh pada Guriko. "Benarkah? Yakin?" tanya Guriko memastikan.
Rayna mengangguk cepat, dia yakin betul tak akan pernah tergoda oleh gombalan dari kekasih orang lain.
"Baiklah, aku mau mandi," ucap Guriko. "Mandilah," ucap Rayna. Rayna akan masuk ke kamarnya, tetapi Guriko memanggilnya, membuat dia menghentikan langkahnya dan melihat Guriko. "Apa nanti malam mau keluar?" tanya Guriko. "Malam? Ini sudah malam," ucap Guriko. "Jam tujuh, apa mau keluar?" tanya Guriko. Memangnya, sekarang jam berapa?" tanya Rayna bingung. "Masih setengah tujuh," ucap Guriko begitu dia melihat jam di ponselnya.
"Apa kamu mandi hanya tiga puluh menit?" tanay Rayna. "Lima menit," jawab Guriko. "Astaga, mandi macam apa itu?" tanya Rayna tak percaya. Dia bahkan bisa menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit saat mandi.
"Ya, mandi. Di siram, pakai sabun, sikat gigi, memangnya gimana lagi?" tanya Guriko heran. Rayna menghela napas dan berlalu meninggalkan Guriko.
"Hei! Gimana, mau nggak?" teriak Guriko. Rayna berbalik dan tersenyum. Guriko pun tersenyum. Meski Rayna tak memberikan jawaban, tetapi Guriko yakin betul Rayna setuju untuk pergi keluar bersamanya. Guriko pun masuk ke kamarnya dan dengan antusias masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat seharian berada di luar rumah.
__ADS_1