
Dania dan Rayna sampai di salah satu Mall. Sesuai rencana awal, mereka pun pergi menuju salon. Mereka melakukan massage. Saat seperti ini, keduanya memang membutuhkan perasaan yang rileks. Masalah akhir-akhir ini membuat mereka menjadi gelisah dan tak tenang.
Di tengah berlangsungnya massage, ponsel Rayna berdering dan tampak nama Kevano terlihat di layar ponselnya.
Rayna mematikan panggilan Kevano, dia masih kesal pada Kevano.
"Kenapa nggak dijawab, Dek?" tanya Dania.
"Nggak apa-apa, Moms," sahut Rayna.
"Memangnya siapa yang telepon?" tanya Dania penasaran.
"Kevano," kesal Rayna.
Dania mengerutkan dahinya. Dania mengerti Rayna merasa kesal pada Kevano karena tak mempercayai Rayna dan justru menganggap Rayna benar-benar hamil.
"Ade kesal padanya?" tanya Dania.
Rayna mengangguk sambil memasang wajah cemberut.
"Ya sudah, jangan kesal terus. Kebenaran akan selalu menjadi benar, Mommy yakin dia akan tahu yang sebenarnya cepat atau lambat," ucap Dania.
Rayna tak mengatakan apapun lagi. Dia tak ingin memikirkan Kevano. Kevano benar-benar membuat mood-nya buruk.
Beberapa waktu berlalu, ibu dan anak itu sudah sslesai massage. Dilanjutkan dengan perawatan lainnya dan setelah selesai mereka pun makan siang bersama di salah satu restoran yang masih berada di dalam Mall tersebut. Mereka memesan beberapa menu makanan. Perhatian Rayna tak sengaja mengarah pada tiga orang pengunjung restoran yang berjarak cukup jauh dari mejanya.
Orang itu seperti Kevano. Namun, Rayna tak mengenal kedua orang yang kelihatannya adalah sepasang suami istri.
Rayna menggelengkan kepalanya cepat. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mana mungkin dia ada di sini, aku benar-benar sudah gila melihat dia di manapun, gumam Rayna.
Rayna menepis pikirannya yang seolah melihat Kevano. Tak mungkin Kevano ada di daerah sana, sedangkan Kevano saja sudah tak mempercayainya. Jadi mana mungkin dia berada di sana, untuk apa? Untuk siapa? Tak mungkin demi dirinya.
Rayna menghabiskan makan siangnya, massage tadi membuat perutnya cukup lapar. Setelah selesai, Dania dan Rayna kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah.
Dania dan Rayna turun dari mobil dan melihat Randy tengah duduk santai di teras rumah. Tak hanya itu, santainya ditemani secangkir kopi hangat yang tersimpan di atas meja.
__ADS_1
Dania menghela napas.
Dia benar-benar keterlaluan! Ayah macam apa dia? Bisa-bisanya bersantai saat situasi seperti ini, batin Dania.
Dania merasa kesal karena Randy justru diam saja dan justru bersikap seolah tak terjadi apapun pada Rayna. Seharusnya sebagai seorang ayah, Randy membantu masalah Rayna. Pikiran Dania begitu negatif terhadap Randy, tanpa Dania tahu apa saja yang sudah Randy lakukan demi membela putrinya itu.
"Kalian sudah pulang?" tanya Randy.
"Hm ..." Dania hanya berdehem dan masuk ke rumah. Randy menghela napas, dan melihat Rayna.
"Ade masuk dulu," ucap Rayna dan menyusul sang mommy ke dalam rumah.
Lagi-lagi Randy menghela napas, terlihat jelas Dania dan Rayna masih marah padanya. Namun, Randy tak ingin ambil pusing, dia tahu kedua wanita yang dia sayangi itu hanya salah paham terhadapnya.
Randy menyesap kopi hangat miliknya, dan mengambil ponselnya saat terdengar dering telepon. Randy pun menjawab telepon itu.
Orang itu mengatakan sudah sampai di Depok dan menginap di salah satu hotel. Randy bangun dari duduknya setelah mengakhiri panggilan telepon tersebut. Dia pun masuk ke rumah dan menghampiri Dania yang tengah berada di dalam kamar.
"Yang!" panggil Randy.
Tak ada sahutan dari Dania, membuat Randy harus ekstra menahan sabar. Istrinya itu masih saja mendiamkannya.
Dania masih tetap diam, dia benar-benar malas bicara pada Randy.
"Aku mengerti kamu marah sama aku. Terserah kamu mau berpikir apa tentang aku, yang jelas aku ingin yang terbaik untuk Ade dan aku menyayangi Ade," ucap Randy.
"Apa caramu menyayangi putrimu dengan tidak mempercayainya? Aku bahkan nggak rela kamu memperlakukan putriku seperti itu!" tegas Dania.
"Jangan bicara seperti itu, dia juga putriku! Jangan meng-klaim bahwa dia hanya putrimu. Aku juga ikut andil dalam membuatnya," ucap Randy tak terima.
Dania mengehela napas dan melemparkan bantal ke perut Randy. Dengan sigap Randy menangkapnya dan terkekeh.
"Nggak ada yang lucu!" tegas Dania.
"Kamu lucu," ucap Randy.
Dania menatap Randy dengan tatapan tajam, sementara Randy mendekati Dania dan memeluk Dania.
"Dan cantik, aku menyayangi kalian, sungguh!" ucap Randy mencoba meyakinkan Dania.
__ADS_1
Dania menghela napas dan mendorong tubuh Randy.
"Jangan macam-macam! Kalau kamu nggak mau bertindak, aku yang akan bertindak sendiri membela putriku!" tegas Dania kemudian pergi mendekati pintu kamar.
Randy menghela napas dan tersenyum.
"Baiklah, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku akan melihat saja, apa yang bisa istriku yang cantik ini lakukan," ucap Randy
"Ya ampun!" Dania terkejut melihat Rayna ada di depan pintu kamarnya. Rayna pun menjadi ikut terkejut, dan seketika Rayna tersenyum canggung.
"Ada apa, Dek?" tanya Dania masih dengan ekspresi kesal.
Rayna menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Ah ... nggak tahu, ah. Kalian gitu, Mommy sebel!" Kesal Dania dan pergi meninggalkan Randy bersama Rayna. Setelah Dania pergi, Rayna menghampiri Randy, mereka berdua pun terkekeh melihat wajah Dania yang menggemaskan. Mommy-nya itu seperti anak kecil.
"Mommy lucu, ya, Pa. Kayak anak-anak yang nggak dibeliin mainan," ucap Rayna terkekeh.
"Itu sekarang, sudah seusia gini. Apalagi dulu. Mommy, tuh, manja banget. Kalau keinginannya nggak diturutin, mulutnya yang kecil, bisa berubah jadi huruf u. Cemberut gitu," ucap Randy sambil terkekeh.
"Hah? Emang iya, Pa? Mommy lucu banget, dong," ucap Rayna. Randy mengangguk dan mereka pun tertawa.
Dugh!
Randy terkejut saat sesuatu mendarat di tulang pipinya. Sesuatu yang sontak Randy tangkap dan terlihat ponsel Dania di tangannya.
"Rasain!" kesal Dania dan lagi-lagi meninggalkan Randy dan Rayna. Tanpa Randy dan Rayna sadari, Dania mendengarkan apa saja yang Randy dan Rayna katakan, karena itu Dania menjadi murka. Sebetulnya itu hal yang biasa, tetapi karena dia benar-benar merasa kesal pada Randy emosinya jadi tak dapat dia tahan.
Rayna menjadi cemas dan menyentuh wajah Randy.
"Papa baik-baik aja?" tanya Rayna cemas.
Randy masih memegang wajahnya. Istrinya itu benar-benar menyeramkan melebihi seekor macan.
"Ade ambil kotak obat dulu, kayaknya sedikit memar," ucap Rayna dan akan bergegas menuju keluar kamar. Randy menahan tangan Rayna dan memeluk Rayna.
"Maafkan Papa, Sayang," ucap Randy lembut.
Rayna terdiam, terkejut mendengar ucapan maaf dari sang papa.
__ADS_1
Bagaimana mungkin ada orangtua yang minta maaf terhadap anaknya?