Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 130


__ADS_3

Kevano bergegas menghampiri Rayna. Dia mebenarkan handuknya agar lebih kencang membalut pinggangnya sehingga tak akan terlepas.


"Kamu ngapain, sih? Ini apa-apaan? Kok banjir begini lantainya?" Kevano melihat seluruh lantai dapur yang terlihat banjir.


"I dont know," ucap Rayna sambil memasang wajah tak berdosa.


Kevano mencoba mencari sumber air yang sampai meluber ke lantai. Pandangannya tertuju pada selang mesin air yang khsusus mengalir menuju mesin cuci. Dia memeriksa mesin cuci itu.


"Astaga!" Kevano memekik dan segera mematikan airnya. Dia memutar tombol bagian drain menjadi normal dari mesin cuci tersebut sehingga air tak lagi meluber ke lantai.


"Kamu mau nyuci?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk.


"Astaga! Ngerti cara pake mesin cuci nggak?" tanya Kevano.


Rayna menggelengkan kepalanya.


Kevano menghela napas panjang. Dia mengangkat tubuh Rayna dan mendudukannya di atas meja makan. Dia mengepalkan tangannya merasa gemas dengan kelakuan istrinya itu.


"Benar-benar, ya. Kalau nggak tau, ngapain pake acara nyuci segala? Jadi bikin kerjaan, kan," gemas Kevano.


Kevano begitu gemas melihat kelakuan Rayna. Bayangkan saja, tombol drain di mana biasanya di pakai untuk membuang air bekas cucian justru Rayna biarkan menyala di saat dia tengah mengisi air ke dalam mesin cuci. Jelas saja airnya hingga meluber ke lantai.


"Bibi, kan, nggak ada. Siapa yang mau nyuciin baju kamu, baju aku juga? Mana banyak banget cuciannya," ucap Rayna.


Kevano mengusap wajahnya kasar. Istrinya itu benar-benar mengerjainya. Kevano yakin Rayna tak pernah mencuci sebelumnya, orangtuanya pasti tak pernah membiarkannya mencuci. Apalagi Rayna anak dari orang kaya, tentu saja di rumahnya banyak asisten rumah tangga. Namun, yang membuat Kevano tak habis pikir, kenapa juga jika tak pernah mencuci, lalu mencoba mencuci? Sungguh memancing keributan.


Kevano memutar otaknya. Bagaimana caranya membuang air di lantai itu? Bibi sedang pulang kampung, dia malas sekali rasanya jika harus membereskannya sendiri. Kehamilan Rayna sudah memasuki bulan ke 5, tak mungkin juga Kevano menyuruh Rayna membereskan semua kekacauan yang dibuatnya sendiri.


"Ya udah, jangan turun dari situ. Lantainya licin, nanti jatuh lagi," ucap Kevano.


"Iya, aku duduk aja," ucap Rayna tanpa merasa bersalah.


Jika saja Kevano memiliki kekuatan mistis, sudah pasti dia akan menyulap lantai itu menjadi bersih kembali dan tak ada lagi air yang tersisa.


"Tunggu dulu! Kok bisa sampe meluber ke lantai, ya? Biasanya juga kalau bibi nyuci, nggak sampe tumpah kemana-kemana kan air kotornya?" ucap Kevano.


"Aku nggak tau, aku nggak ngerti," ucap Rayna.


"Iya udah, diem aja," ucap Kevano. Kepalanya jadi pusing memikirkan masalah di dapur.


Kevano memeriksa selang pembuangan air yang ada di mesin cuci, ternyata terdapat lubang di selang pembuangannya. Selang itu rusak.


"Ya ampun. Kok bisa rusak gini, sih?" ucap Kevano.


"Apanya?" tanya Rayna.


"Selangnya bocor. Pantesan aja airnya sampe ke dapur," ucap Kevano.


Mesin cuci itu berada di dapur, tepat di samping lemari es. Mesin cuci itu memiliki selang yang pembuangan airnya terhubung langsung ke kamar mandi dapur, selang itu masuk melalui sebuah lubang yang sengaja di buat khusus agar selang mesin cuci itu bisa masuk ke dalamnya. Sialnya, hari itu selangnya justru terlihat berlubang, sehingga airnya bukan mengalir ke kamar mandi, melainkan membanjiri lantai dapur.

__ADS_1


"Nggak mungkin, kan, di sini ada tikus?" tanya Kevano.


"Ha? Tikus? Nggak ada, kok. Mana mungkin di sini ada tikus," Rayna dibuatnya bingung. Selama tinggal di rumah itu, dia tak pernah mendengar suara tikus. Mungkin kah dia tak menyadarinya?


"Tapi, nggak tau kalau aku nggak sadar. Aku nggak mungkin kan janjian ketemu tikus? Jadi aku nggak tau, di sini ada tikus atau nggak, aku nghak pernah liat, nggak pernah ketemu juga," ucap Rayna terkekeh.


Rayna justru terkekeh di saat kepala Kevano berasa akan pecah melihat kekacauan di dapur.


Kevano menghubungi pak RT di komplek tersebut, dia menanyakan seseorang yang bisa membantunya membereskan rumahnya. Khususnya bagian dapurnya yang banjir. Syukurlah, ada yang mau membantunya, sehingga dia tak harus mengerjakan semuanya sendiri.


Malam hari.


Rayna dan Kevano kini sedang berada di kamar. Kevano tengah mencatat sesuatu di sebuah buku.


"Apa lagi, ya?" tanya Kevano.


"Kamu nulis apa, sih, emang?" tanya Rayna.


Kevano memberikan catatan itu. Rayna pun membacanya.


1. Beli mesin cuci automatic, not semi automatic.


2. Selang mesin cuci, buat cadangan kalau bocor lagi.


Rayna terkekeh membacanya.


"Kamu mau beli mesin cuci baru?" tanya Rayna.


"Iyalah. Lagian gimana, sih? Masa Papa nggak beliin yang automatic, malah yang semi gitu. Heran aku," ucap Kevano tak habis pikir. Harga mesin cuci automatic tidaklah mahal pikirnya. Tak mungkin Randy yang memiliki kekayaan luar biasa banyak sampai tak mampu membelinya.


"Terus?" Kevano tampak bingung.


"Ya, dia sibuk. Mungkin dia suruh orang buat beli isi rumah ini, sebelum aku pindah ke sini," ucap Rayna.


Kevano mengangguk. Masuk akal juga ucapan Rayna. Mertuanya itu takan sempat membeli peralatan rumah tangga.


"Kok, kamu ngerti masalah mesin cuci?" tanya Rayna.


"Ya, aku nyuci sendiri dulu. Jadi, aku ngerti cara pake mesin cuci," ucap Kevano.


"Masa, sih? Kan ada bibi," ucap Rayna.


"Nggak, kebanyakan baju-baju buat kerja. Jadi aku yang pegang sendiri. Bibi cuman ngurusin apartemen sama masak aja," ucap Kevano.


Rayna mengangguk.


Dia menjadi merasa bersalah sudah merepotkan Kevano.


"Aku ngerepotin, ya?" tanya Rayna.


"Hm ... Nggak usah ditanya," ucap Kevano masih sambil memikirkan apa lagi yang akan dibelinya?

__ADS_1


"Lho ... Itukan bukan salah aku, itu semua salah selangnya yang bocor. Jadi jangan kesel sama aku, aku nggak tau apa-apa," ucap Rayna mencoba membela dirinya.


Kevano masih tampak diam, larut dalam pikirannya.


"Jangan diem aja, aku beneran nggak tau apa-apa. Aku cuman mau cuciin baju-baju kotor kita, biar nggak makin numpuk," ucap Rayna mengguncang tubuh Kevano.


Kevano mengacak rambutnya. Dia melihat kearah Rayna, membuat Rayna merasa takut Kevano akan memarahinya.


"Jangan bilang bawaan bayi," ucap Kevano.


"Maksudnya?" tanya Rayna bingung.


"Iya. Kamu jadi cerewet banget, jangan bilang karena bawaan bayi," ucap Kevano.


"Aku nggak ngerti," ucap Rayna semakin dibuat bingung.


Kevano terkekeh, semakin dibuat gemas.


"Gini ya, Sayang! Hm ..." Kevano menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia memegang bahu Rayna, menatap Rayna dengan serius.


"Maksudku, tadi waktu aku bilang nggak usah ditanya, bukan maksudnya iya, kamu ngerepotin. Aku bilang gitu, maksudnya kamu nggak usah nanya aku, aku tadi lagi mikir mau beli barang apaan lagi selain mesin cuci sama selangnya," ucap Kevano menjelaskan.


Rayna terkekeh.


"Kamu bisa mikir juga, ya," ucap Rayna.


"Wah ... Apaan, nih, maksudnya? Ngeledek aku? Maksudnya aku nggak punya pikiran gitu?" ucap Kevano.


"Bukan aku yang bilang," ucap Rayna sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Kevano melihat Rayna yang tengah mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit.


"Iya, bawaan bayi. Jadi nggak sengaja bilang gitu. Ejek aja terus Papamu, Dek ..." ucap Kevano sambil memasang ekspresi pura-pura kesal.


"Bukan si bayi yang bilang," ucap Rayna menyangkal.


"Terus?" Kevano menatap Rayna dengan curiga.


"Kamu sendiri yang bilang," ucap Rayna.


"Udahlah, ngomong sama orang hamil nggak akan pernah menang," ucap Kevano terkekeh sambil berlalu keluar kamar.


"Hei ...! Kamu nggak boleh gitu, lho. Ini kan hasil dari perbuatanmu!" teriak Rayna.


Kevano terkekeh mendengar teriakan Rayna.


Apa-apaan dia? Jadi makin liar aja ngomongnya, batin Kevano.


Kevano menggelengkan kepalanya.


Jangan bilang bawaan bayi lagi.

__ADS_1


Kevano lagi-lagi terkekeh. Gemas sekali jika ingat kelakuan Rayna sebelum dan setelah hamil. Dulu Rayna tak seceroboh itu, tak seperti setelah hamil. Ada-ada saja yang dilakukannya. Bahkan hal yang tak pernah Rayna lakukan pun, justru dia coba lakukan di masa kehamilannya.


Ibu hamil memang rumit, batin Kevano.


__ADS_2