
Keesokan harinya.
Siang ini Rayna sudah berada di restoran yang akan menjadi tempat bertemu dengan Kevano. Rayna menghela napasnya saat jantungnya tiba-tiba saja berdegup tak karuan. Ini bukanlah pertemuan pertamanya dengan Kevano, tetapi ini adalah pertama kalinya mereka bertemu karena sebelumnya sempat membuat janji. Rayna beranjak dari duduknya dan akan pergi menuju toilet. Namun belum sempat dia pergi menuju toilet, seorang pria memanggilnya, sontak Rayna pun melihat ke arah orang tersebut.
Jantung Rayna semakin berdegup tak karuan kala melihat orang yang sejak tadi dia tunggu sudah tampak di hadapannya. Rayna menelan air liurnya, dia menjadi salah tingkah. Entah kata apa yang harus dia ucapkan untuk menyapa Kevano.
"A-aku," Rayna benar-benar gugup melihat Kevano. "Duduk dulu," ucap Kevano.
Rayna mengangguk dan duduk berhadapan dengan Kevano. Kevano memanggil pelayan dan memesan minuman untuk dirinya sendiri. Sebelumnya, Rayna sudah memesan minuman terlebih dulu.
"Are you okay?" tanya Kevano dan menyentuh tangan Rayna. Sontak Rayna menepis tangan Kevano. "Hei! Tenanglah, aku cuman mau periksa," ucap Kevano. "Aku nggak sakit, nggak perlu di periksa," ucap Rayna dingin. Kevano menghela napas, Rayna masih saja dingin bahkan ketika pertemuan mereka sudah untuk ke sekian kalinya.
"Sorry," ucap Kevano. Rayna melihat Kevano dengan bingung. Kevano menghela napas dan tersenyum.
__ADS_1
"Untuk semua masalah yang kamu lalui, untuk rasa malu yang keluarga kamu dapat dari apa yang aku lakukan. Terlebih lagi, untuk sesuatu yang berharga, yang aku ambil secara paksa darimu," ucap Kevano.
Rayna menelan air liurnya, entah mengapa dia merasakan sesuatu yang berbeda, entah apa itu, tetapi ada yang berbeda dari sikap Kevano, terlihat sekali dari perkataannya.
Rayna hanya diam, dia mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Kevano dengan seksama, seolah tak ingin melewatkan setiap detiknya untuk mendengarkan ucapan Kevano. Tak lama pelayan datang membawakan pesanan Kevano. Kevano meminumnya dan kembali menatap Rayna.
"Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi," ucap Kevano. "Kenapa?" tanya Rayna bingung.
"Karena, itu, yang kamu mau bukan?" tanya Kevano. Rayna terdiam, entah mengapa dia kesulitan menjawab pertanyaan Kevano. Kevano tersenyum. "Nggak perlu jawab. Aku yang bodoh, malah nanya kayak gitu," ucap Kevano. Kevano bangun dari duduknya, dia mengambil dua lembar uang seratus ribuan Rupiah dan melihat Rayna sekali lagi.
"Hati-hati pulangnya, makasih udah nyempetin waktu buat ketemu aku," ucap Kevano dan meninggalkan Rayna yang hanya terdiam melihat kepergian Kevano.
Untuk beberapa saat Rayna masih terdiam, hingga akhirnya dia tersadar saat seseorang memanggilnya. Rayna melihat ke arah orang tersebut. Terlihat Byanka juga ada di sana, tetapi tak sendirian, melainkan ada Guriko juga di sana.
__ADS_1
"Apa laki-lakiĀ tadi, pacar kamu?" tanya Byanka. Rayna mengerutkan dahinya, untuk apa juga Byanka bertanya seperti itu? Pikir Rayna.
"Bukan urusanmu," ucap Rayna dan bangun dari duduknya. "Sensi banget, sih. Baru putus, ya?" ucap Byanka sambil tersenyum mengejek. "Apa, sih? Mau tahu aja urusan orang," ucap Guriko sambil menatap Byanka.
"Ya, abisnya sensi banget," ucap Byanka. Rayna menghela napas perlahan. "Kalian udah balikan lagi?" tanya Rayna. Byanka mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan pertanyaan Rayna.
"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" tanya Byanka bingung. "Oh, nggak. Soalnya, semalam Guriko bilang, kalau kalian udah putus," ucap Rayna. Byanka membulatkan matanya. Dia menatap Guriko dengan tajam. Guriko mengusap wajahnya dan menghela napas pelan. "Apa maksud kamu bilang gitu ke dia?" tanya Byanka penuh selidik.
Guriko menggaruk kepalanya yang bahkan tak gatal sama sekali. Belum sempat Guriko menjawab pertanyaan Rayna, Rayna bahkan lebih dulu membuka suara.
"Eh, wait. Aku mendingan pergi aja, deh. Nggak sopan, kan, lihat orang yang lagi pacaran berantem," ucap Rayna sambil tersenyum mengejek pada Byanka dan pergi meninggalkan restoran tersebut.
Byanka menatap Guriko dengan tatapan tajam. "Apa kalian sedekat itu?" tanya Byanka. "Mungkin," jawab Guriko dan berlalu memilih menuju meja. Byanka mengepalkan tangannya, dan dengan perasaan kesal menghampiri Guriko.
__ADS_1