
Kevano merebahkan tubuh Rayna di atas tempat tidur. Dia membuka sepatu Rayna dan menyelimuti tubuh Rayna.
Dipandanginya wajah Rayna.
"Gila, tidur aja tetep cantik,' gumam Kevano.
"Jadi nggak pengen tidur-tidur. Pengen mandangin wajah dia aja terus," ucap Kevano sambil terkekeh.
Kevano pergi menuju dapur. Dia mengambil segelas air dan duduk di kursi makan. Dia membuka ponselnya, membuka media sosialnya, dan melihat sebuah postingan kakak iparnya. Ya, di sana tumben sekali Raydan memosting sebuah foto.
Kevano terlihat heran, akun itu milik Raydan, tetapi bukan foto Raydan yang terpampang. Melainkan foto seorang wanita berwajah bule tengah tertawa lepas, foto itu diambil dengan candid, terlihat sepertinya wanita itu tengah berada di sebuah tempat hiburan.
Kevano membaca caption dari postingan Raydan.
'I like seeing the beauty of my country in you.'
Kevano menutup sosial medianya dan menghubungi nomor Ralisya. Tak lama Ralisya menjawab teleponnya.
'Dek. Kamu putus sama Raydan?' tanya Kevano.
'Ha? Kakak kenapa? Kok, tiba-tiba nanya gitu,?' tanya Ralisya heran.
'Raydan posting foto cewek. Kalian putus?' tanya Kevano penasaran.
'Hm ... Udah lama, Kak.'
'Sejak kapan? Jadi, dia kembali ke Indonesia buat mutusin kamu?' tanya Kevano mulai meninggikan nada bicaranya.
'Bukan. Kita nggak seharusnya sama-sama aja, Kak,' ucap Ralisya.
'Jangan bohong! Dia khianatin kamu? Dia nyakitin kamu? Bilang Kakak!' tegas Kevano.
'Udahlah, Kak. Nggak usah dibahas. Udah masalalu. Nggak penting juga,' ucap Ralisya.
'Kamu nggak bisa gitu, Sya! Aku Kakakmu, aku nggak bisa diem aja lihat kamu disakitin!' tegas Kevano.
'Ya, terus? Kakak mau apa? Percuma juga Kakak kesal, dia aja bahagia. Dan aku juga udah biasa aja,' ucap Ralisya.
'Sial si Raydan! Dia belum kena bogeman aku!' ucap Kevano kesal.
'Sana gih, ke Jerman. Bogem dia, hehe,' Ralisya terkekeh.
'Kurang ajar banget dia,' geram Kevano dan mematikan teleponnya.
Kevano menenggak minumannya.
Tak!
Dia meletakan gelas itu cukup keras di atas meja. Dia pun kembali ke kamar. Dia mencuci wajahnya.
'Aku jaga Ralisya dari dia kecil, aku sayang-sayang. Udah gede disakitin orang. Bener-benar sial,' geram Kevano.
"Oh jangan bilang, ini karma? Tapi, karma apa? Aku nggak pernah mainin perempuan, kok!" ucap Kevano mencoba mengingat, apakah dia pernah menyakiti hati wanita?
"Yang ada, aku yang dipermainkan!" ucap Kevano kesal.
Entah mengapa Kevano jadi teringat pada Selly. Kesal sekali rasanya mengingat wajah Selly.
'Ngapain, sih, dia di sana? Ada urusan apa?' gumam Kevano teringat saat bertemu Selly di luar kota kemarin.
Dia keluar dari kamar mandi, mood nya menjadi hancur mendengar kabar Ralisya dikhianati oleh Raydan. Meski Ralisya tak mengatakannya, tapi Kevano sudah dapat menebaknya. Dia seorang pria, setidaknya dia dapat memahami isi kepala pria sebagai sesama pria.
Keesokan harinya.
Di meja makan, Kevano tampak diam. Dia tak bicara sama sekali. Bahkan sarapannya di biarkan begitu saja, seolah dia tak selera sarapan.
"Kok, nggak dimakan sarapannya? Nggak enak? Atau mau sarapan apa?" tanya Rayna.
"Apa kamu tahu sejak awal, kalau Ralisya dan Raydan putus?" tanya Kevano menyelidik.
__ADS_1
Rayna mengerutkan dahinya. Entah apa yang Kevano katakan. Dia tak mengerti sama sekali.
"Jawab aja, apa kamu juga tau apa masalah mereka?" tanya Kevano.
Rayna menelan air liurnya. Dia ingat saat pernah memeregoki Raydan menyimpan foto-foto Clarie di ponselnya, dan saat itu Ralisya juga masuk ke kamar.
"Em ... Aku--" Rayna terdiam saat Kevano mengusap kepalanya.
"Nggak apa-apa kalau nggak mau jawab. Kamu makan, ya," ucap Kevano tersenyum.
Rayna meminum air miliknya.
"Oh, ya. Aku udah putusin. Biar nggak bolak balik, sampai kuliah kamu selesai, kita akan tinggal di sini. Tapi sebelum itu, kamu keberatan nggak, kalau kita tinggal di rumah kamu?" ucap Kevano.
"Tentu aja nggak, aku senang, kok. Aku juga capek kalau harus bolak-balik," ucap Rayna tersenyum.
"Syukur, deh. Kalau gitu, nanti malam, selesai kerja aku mau balik ke apartemen. Aku mau bawa barang-barangku. Oh, ya. Di halaman belakang, kan, masih ada ruang. Aku mau bikin studio mini di sana, nggak apa-apa, kan?" ucap Kevano.
"Iya, nggak apa-apa. Buat aja di sana," ucap Rayna.
Kevano beranjak dari duduknya dan mengecup kepala Rayna.
"Makasih, ya. Aku siap-siap dulu." Kevano pergi menuju kamarnya, dan bersiap ke Jakarta hari ini. Karena pekerjaannya ada di sana.
Rayna melanjutkan sarapannya. Pagi ini, dia sedikit mau memakan sarapannya. Meski hanya segelas susu hamil dan sepotong roti isi.
Selesai sarapan, Rayna merapikan piring kotor. Pagi itu, dia langsung mencuci piring kotornya. Biasanya, bibi yang akan mencucinya.
"Kamu ngapain?" tanya Kevano yang sudah siap dan mulai turun ke bawah.
Kevano menghampiri Rayna, dan melihat tangan Rayna basah.
"Kamu cuci piring?" tanya Kevano.
"Iya," jawab Rayna.
"Lho, ngapain? Kan, ada bibi? Jangan capek-capek. Inget kata Dokter apa? Jangan kecapekan." Kevano mencoba memperingatkan Rayna.
"Ya udah. Aku jalan, ya. Kamu nggak kemana-kemana, kan? Aku mau pakai mobil," ucap Kevano.
"Iya, pakai aja."
Kevano mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah Rayna.
Rayna menguap, dia merasa ngantuk padahal waktu masih pagi. Dia pergi ke kamarnya dan tidur.
Sesampainya di Jakarta.
Kevano memasuki studio musiknya. Di sana sudah ada menejernya.
"Kev! Ada tawaran pemotretan untuk fashion," ucap sang menejer.
"Kontraknya?" tanya Kevano.
"Sudah aku baca, dan aku menyarankan untuk mengambilnya. Bagaimana pun juga, semua balik lagi harus dapat persetujuan kamu," ucap sang menejer.
"Atur aja. Kapan dimulai pemotretannya?" tanya Kevano. Kevano memang percaya pada menejernya, sejauh ini semua pekerjaan yang diambilnya tak ada masalah.
"Minggu depan. Di Bali. Jadi, mereka memakai konsep pantai untuk pemotretannya," ucap menejer.
Kevano mengerutkan dahinya, melihat sang menejer dengan penuh selidik.
"Ya, you know lah. Produk baju pantai gitu," ucap menejer tersenyum.
"Hm ... Asal aku nggak disuruh pakai bikini aja," ucap Kevano terkekeh.
"Ya, nggak lah. Mana mungkin. Gila aja," ucap menejer.
"Ya, ya ... Atur aja," ucap Kevano.
__ADS_1
"Oke. Aku akan hubungi pihak mereka, kamu cukup tanda tangan kontraknya," ucap menejer.
"Hm ..."
*****
Waktu berlalu. Hari sudah semakin malam.
Kevano sampai di apartemennya dan memasukan baju-bajunya ke koper. Dia menyisakan beberapa baju juga di lemarinya, untuk jaga-jaga saat dia pulang ke apartemennya.
Mungkin lelah harus bolak balik Depok-Jakarta, tetapi lebih kasihan jika Rayna harus bolak-balik Depok-Jakarta. Ditambah Rayna tengah dalam keadaan hamil.
Kevano melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sudah malam sekali. Namun, Kevano akan tetap pulang malam itu juga. Dia sudah janji akan pulang pada Rayna.
Kevano menyeret dua koper cukup besar dan memasukannya ke mobil. Tak lupa, beberapa alat musik juga dia masukan ke mobil setelah dia melipat kursi penumpang mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah Rayna.
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas tengag malam. Dia sampai lebih cepat karena jalanan di luar tol tak terlalu padat. Ada untungnya juga pulang malam, jadi tak terjebak macet.
Kevano menyalakan klakson, dan tak lama keluar Rayna. Rayna membukakan pintu pagar dan masuklah mobil Kevano. Kevano keluar setelah memarkirkan mobilnya. Terlihat Rayna memakai dress bunga-bunga berwarna kuning.
'Cantik banget,' batin Kevano.
"Kamu ngapain keluar?" tanya Kevano sambil merangkul bahu Rayn. Rayna belum juga tidur di jam tengah malam.
"Nunggu kamu," ucap Rayna.
"Astaga! Aku pikir, kamu udah tidur. Udah tengah malam, lho ini," ucap Kevano.
Mereka masuk ke rumah. Kevano membiarkan koper-kopernya di mobil, dan akan membersekannya besok siang.
"Udah tidur. Kamu bukannya paling nggak bisa begadang, ya?" ucap Kevano.
"Aku nggak bisa tidur, nggak ada yang usapin kepalaku," ucap Rayna sedih.
Kevano terkekeh. Dia meminta Rayna menunggunya. Dia akan membersihkan wajah dan tangannya dulu. Begitu selesai, Kevano mengajak Rayna untuk naik ke atas tempat tidur.
"Bilang aja, kangen aku," ucap Kevano tersenyum.
Rayna tersenyum dan meletakan tangan Kevano di kepalanya.
"Usapin, aku mau tidur!" pinta Rayna.
Rayna berbaring dan Kevano mengusap kepala Rayna.
"Nina bobo, oh ... Nina bobo ..."
Rayna melihat Kevano saat Kevano menyanyikan lagu nina bobo.
"Kok dinyanyiin kayak gitu? Siapa Nina?" tanya Rayna curiga.
"Ya iya. Kamu mau tidur, kan?" ucap Kevano terkekeh.
"Tapi nama aku bukan Nina, kok kamu sebut aku Nina?" ucap Rayna semakin curiga.
Mungkinkah Kevano salah menyebut nama? Atau jangan-jangan Kevano ada wanita lain? Dan wanita itu bernama Nina? Pikir Rayna.
Kevano menghela napas.
"Nina bobo, tuh, lagu buat nidurin anak-anak. Masa kamu nggak tau? Emang Mommy nggak pernah nanyiin Nina bobo?" ucap Kevano heran.
"Aku nggak tahu. Lagian aku nggak pernah denger," ucap Rayna.
Dari dirinya masih kecil, Rayna memang tak pernah mendengar lagu itu. Lagi pula, dia dibesarkan di Australia, dan sang Mommy hanya selalu membacakannya buku cerita saat tidur, bukanlah nyanyian seperti itu.
Kevano mengambil ponselnya, dan mencari lagu anak-anak Nina bobo di youtube. Dia menunjukannya pada Rayna, dan Rayna mendengarkannya dengan seksama sambil meletakan kepalanya di antara dada dan lengan Kevano.
"Udah dengar kan? Udah tau, sekarang," ucap Kevano.
__ADS_1
Kevano terdiam saat tak ada sahutan dari Rayna. Dia curiga Rayna meninggalkannya tidur. Kevano meletakan kepala Rayna di atas bantal.
"Bener, kan. Ditinggal tidur lagi," gumam Kevano saat melihat Rayna benar-benar sudah tertidur.