Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 105


__ADS_3

Randy dan Dania mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara. Terlihat seseorang yang kelihatannya tak asing di mata mereka.


"Apa kabar, Om, Tan?" tanya orang itu sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Randy bergantian dengan Dania.


"Eh, iya. Guriko, ya? Teman kuliahnya Rayna, kan?" tanya Dania.


Ya, orang itu adalah Guriko. Mendengar kabar pernikahan Rayna, Guriko lantas menyempatkan waktu untuk datang ke acara pernikahan Rayna. Meski sebetulnya Guriko menginginkan hadir diacara akad nikah Rayna, tetapi keadaan tak memungkinkan. Terlebih, dia sudah mulai aktif kuliah di kampus barunya di Jepang.


"Betul, Tan. Tante masih ingat aku," ucap Guriko tersenyum.


"Oh iya, ingatan Saya baik. Tentu Saya akan mengingat siapa saja yang menjadi teman Rayna," ucap Dania.


"Syukurlah. Tante sama Om apa kabar?" tanya Guriko.


"Seperti yang kamu lihat, kami baik," ucap Dania. Lagi-lagi Guriko tersenyum. Kecanggungan seketika menghampiri Guriko. Pasalnya, dia teringat akan kejadian di mana Randy memanggilnya bersama Kevano dan menanyakan perihal kehamilan Rayna saat itu. Sangat disayangkan, Guriko mempercayai isu miring itu. Bahkan dirinya menyesal karena tak mencari tahu kebenarannya. Dia justru tahu setelah mendengar kabar Byanka masuk penjara akibar fitnah dan pencemaran nama baik Rayna.


Dia juga menyayangkan, karena sang mami pun mempercayai isu tersebut bahkan memintanya untuk pindah ke Jepang demi menghindari masalah yang dialami Rayna.


"Oh iya, sudah bertemu Rayna?" tanya Dania.


Guriko menggeleng pelan dan tersenyum. "Belum, Tan. Sepertinya, Rayna masih sibuk menyapa tamu yang lain," ucap Guriko.


"Hmmm ... Hampiri saja, kamu pun temannya bukan?" ucap Randy.


Guriko menghela napas. Dia ingin menghampiri Rayna, tetapi rasa ragu menyelimuti hatinya. Dia takut Rayna akan membencinya.


"Ada apa?" tanya Dania bingung.


"Ha? Nggak, Tan. Ya udah, aku ke sana dulu," ucap Guriko sambil menunjuk ke arah Rayna dan Kevano. Dania pun mempersilahkan Guriko untuk meninggalkannya dan juga Randy.


"Kayaknya, dia mau menyampaikan sesuatu," ucap Randy.


"Iyakah? Tahu dari mana?" tanya Dania bingung. Suaminya itu sudah seperti paranormal saja yang bisa membaca pikiran orang lain.


"Aku pria, jangan bertanya," ucap Randy.


"Hm ... Pria pun bisa salah memahami isi pikiran pria lain," ucap Dania.


"Lihat aja," ucap Randy sambil mengarahkan pandangannya seolah memberikan isyarat pada Dania agar mengikuti arah pandangannya menuju ke arah Rayna.


Di sisi lain, Guriko sudah berada di hadapan Rayna dan Kevano. Guriko menyalami Rayna dan Kevano bergantian. Memberikan selamat atas pernikahan mereka berdua.


"Semoga bahagia," ucap Guriko tak lupa menyunggingkan senyum manisnya.


Sempat menyukai Rayna, tak lantas membuat Guriko membenci Rayna karena akhirnya menikah lebih cepat bersama pria lain. Bahkan mengingat usia Rayna yang hanya terpaut satu tahun saja dengannya membuat Guriko berpikir seharusnya Rayna masih melajang. Bagi Guriko, dijaman modern, usia semuda itu belum saatnya untuk menikah. Menurutnya, menikah tak hanya atas dasar cinta, melainkan kesiapan dalam segala hal. Meski usia Guriko masih sangat muda, tetapi dia memiliki pandangan berbeda tentang pernikahan usia muda. Dia tak setuju untuk menikah muda. Pasalnya, diusia-usia muda seperti ini, terkadang seseorang belum siap menjalani kehidupan rumah tangga. Meski begitu, Guriko tetap berharap yang terbaik untuk Rayna dan Kevano.

__ADS_1


"Makasih, lho, udah menyempatkan untuk datang," ucap Kevano.


"Sama-sama, sebetulnya aku ingin datang saat acara akadnya, tetapi keadaan tak memungkinkan. Inipun, besok aku akan kembali ke Jepang," ucap Guriko.


"Wah, buru-buru banget," ucap Kevano.


"Ya, mahasiswa baru, harus teladan," ucap Guriko sambil terkekeh.


Kevano terkekeh dan mengangguk. Entah mengapa dia tak lagi membenci Guriko. Dia bahkan terlihat seperti sudah berteman lama dengan Guriko. Mungkin karena kini Kevano telah memiliki Rayna sepenuhnya, sehingga tak mungkin ada orang lain yang akan mengganggu rumah tangganya dengan Rayna. Dia pun tak khawatir lagi Guriko akan mendekati Rayna. Sebab, Rayna pun tentu akan menghindari hal tau. Kevano tahu betul, Rayna adalah wanita yang baik.


"Em ... Rayn!" panggil Guriko.


"Ya," sahut Rayna yang sejak tadi hanya diam mendengar obrolan suami dan temannya itu.


"Maaf untuk kejadiaan saat itu. Aku justru percaya akan kebohongan," ucap Guriko.


Rayna tersenyum dan mengangguk.


"Udahlah, semua udah berlalu. Lagipula, orang yang berbuat udah dapat balasan," ucap Rayna.


"Kamu benar. Sangat disayangkan dia bodoh sekali," ucap Guriko.


Rayna terkekeh dan berniat ingin menggoda Guriko.


"Bodoh-bodoh juga, pacarmu," ucap Rayna.


'Tidak lagi,' batin Guriko.


Waktupun berlalu.


Satu persatu para tamu undangan meninggalkan acara resepsi yang sudah berada diakhir waktu. Hanya tinggal beberapa keluarga yang masih saja berbincang termasuk Raydan dan Ralisya pun masih ada di sana. Guriko pun sudah pamit terlebih dahulu meninggalkan acara tersebut.


Raydan dan Ralisya tampak bersikap layaknya tak pernah terjadi masalah antara mereka. Keduanya pun tak ingin menunjukan adanya masalah diantara mereka pada semua orang. Cukuplah masalah yang terjadi diantar mereka, hanya mereka yang tahu.


"Semuanya, aku ke Villa duluan, ya. Besok pagi aku terbang lebih awal. Aku nggak bisa ninggalin kuliahku," ucap Ralisya. Semua orang tampak mengiyakan.


Raydan beranjak ingin menghampiri Ralisya. Dia berniat ingin mengantarkan Ralisya. Namun, belum sempat Raydan melangkah, dia mengurungkan niatnya kala mendengar ucapan Ralisya.


"Yuk, Ma. Mama juga harus istirahat. Biarkan pengantinnya bersenang-senang lebih lama," ucap Ralisya mengajak sang mama untuk kembali bersamanya.


"Silahkan, kalau Jeng mau istirahat lebih dulu. Nanti, kami akan menyusul," ucap Dania.


"Baiklah, selamat istirahat semuanya," ucap mama Ralisya dan meninggalkan tempat itu.


"Pria sejati akan tetapi mengantarkan wanitanya meski ada bodyguard wanita itu," ucap pelan Randy.

__ADS_1


Raydan melihat ke arah Randy dan tersenyum.


"Papa bisa aja," ucap Raydan.


"Iya, dong. Ada sebuah ungkapan. Dekati orangtuanya, dapatkan hatinya, maka kau akan dengan mudah mendapatkan hati anaknya," ucap Randy.


"Males," ucap Raydan.


Randy mengerutkan dahinya. Dia merasa bingung mendengar ucapan Raydan.


"Ralisya bukan siapa-siapa Abang," ucap Raydan.


"Benarkah?" ucap Randy dengan nada tak percaya.


"Benar, Pa. Dia hanya teman," ucap Raydan.


Randy mengangguk mengiyakan ucapan Raydan.


"Lagipula, dia bukan tipe Abang," ucap Raydan dan menyesap minumannya.


"Balil ke Villa, yuk, Pa. Abang capek," ucap Raydan dan meninggalkan Randy.


'Bayi yang dulu kugendong, ternyata sudah dewasa. Sudah pintar menyembunyikan perasaannya,' batin Randy.


Malam semakin larut, semua orang sudah meninggalkan tempat resepsi Rayna. Rayna dan Kevano pun sudah kembali ke Villa. Kini, mereka tengah berada di kamar mereka.


Kevano menghampiri Rayna yang tengah duduk melepas lelah di sofa. Rayna memijat kakinya sendiri membuat Kevano langsung mengambil alih memijat kaki Rayna.


"Kaki kamu sakit?" tanya Kevano. Rayna pun mengangguk.


"Rasanya mau patah," ucap Rayna.


"Jangan dong, kalau patah nggak ada lagi yang menopang tubuhku," ucap Kevano.


"Ha?" Rayna tampak bingung mendengar ucapan Kevano.


"Mulai malam ini, dan seterusnya kamu harus terbiasa menopang berat tubuhku," ucap Kevano sambil terkekeh geli.


"Maksudnya apa? Kamu mau minta digendong sama aku? Yang benar aja. Kamu pikir, kamu sebesar kucing, yang bisa aku gendong," ucap Rayna tak habis pikir. Bagaimana bisa suaminya itu justru ingin dia menggendongnya.


"Bukan itu, aku nggak sejahat itu. Tapi--" Kevano menghentikan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Rayna penasaran.


"Udahlah, aku susah jelasinnya," ucap Kevano.

__ADS_1


"Loh hei! Turunin aku!" Rayna terkejut saat tiba-tiba Kevano mengangkat tubuhnya dan karena kehilangan keseimbangan mereka pun terjatuh tepat di atas tempat tidur. Tentu saja posisi Kevano berada diatas tubuh Rayna.


"Nah, tepatnya seperti ini. Kamu harus terbiasa aku tindiih seperti ini," ucap Kevano sambil menyunggingkan seringai penuh arti.


__ADS_2