
Semua orang terdiam saat mendengar suara bel rumah. Bibi pun membuka pintu dan melihat ada tiga orang yang datang bertamu. Bibi mengenal salag satu orang tersebut, karena memang pernah beberapa kali datang berkunjung menemui Rayna.
Bibi mempersilahkan masuk ketiga orang tersebut, dan mereka pun masuk ke rumah menunggu di ruang tamu. Terlihat dari ruang tamu tengah ada acara makan malam keluarga, orang itu mengelus dada, mencoba mengatur napasnya yang seolah sesak karena rasa gugup.
Randy yang melihat ketiga orang tersebut pun menghampiri tamu tersebut bahkan sebelum bibi menghampirinya.
"Kevano?" Randy melihat bingung Kevano yang datang tanpa diundang dan juga tak datang sendiri, melainkan datang bersama dua orang yang usianya kira-kira sudah kepala lima.
"Ada apa datang ke sini? Siapa mereka?" tanya Randy bingung melihat kedua orangtua tersebut.
Dania dan Rayna menghampiri Randy dan izin meninggalkan Reksi di meja makan.
"Mereka orangtua Aku, Om. Aku datang ke sini untuk melamar Rayna," ucap Kevano tanpa basa basi. Sontak ucapan Kevano membuat semua orang terkejut, bahkan Reksi yang masih duduk di meja makan pun terkejut mendengar Rayna akan dilamar.
"A-apa?" Rayna benar-benar syok, apa dia bermimpi? Dia bahkan menepuk pipinya berkali-kali berharap cepat sadar dari mimpinya.
Semua orang melihat ke arah Rayna. Kevano pun bangun dari duduknya dan menghampiri Rayna. Dia menuntun Rayna duduk di sofa sebelahnya. Tak ada penolakan dari Rayna. Jelas sekali Rayna terlihat gugup dan tak dapat mengatakan apapun.
Randy dan Dania pun hanya diam. Mereka pun tak kalah syok mendengar ada pria yang melamar anak peremuan mereka.
"Aku akan memintamu pada orangtuamu dengan melamarmu," ucap Kevano.
Rayna menelan air liurnya dan masih terdiam.
"Kamu syok?" tanya Kevano dan membuat lamunan Rayna seketika buyar.
"Ke-kenapa kamu mau lamar aku? Aku--" Rayna kembali terdiam. Dia tak melanjutkan ucapanya saat melihat Randy melihat ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku nggak peduli gimana kamu, siapa kamu, san seperti apa kamu saat ini. Aku nggak peduli masa lalu kamu seperti apa, aku menerima kamu dengan setulus hati aku. Aku yang akan bertanggung jawab atas dirimu dan hidupmu di masa depan," ucap Kevano mencoba meyakinkan Rayna.
Jantung Rayna berdegup kencang, dadanya sesak. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin mengungkapkan bahwa seakan ada sesuatu yang meledak dalam dadanya.
Randy dan Dania saling tatap. Dania menarik Randy menuju ruang makan.
"Apa dia belum tahu, kalau Rayna tidak hamil?" tanya Dania.
Randy menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Astaga, pasti dia berpikir Ade benar-benar hamil, karena itu dia mau menikahi Ade," ucap Dania.
Tanpa mengatakan apapun Randy meninggalkan Dania dan menghampiri Kevano dan keluarganya. Randy duduk di hadapan kedua orangtua Kevano.
"Maafkan kami, jika kedatangan kami mendadak. Saya pun merasa syok saat Kevano mengatakan akan melamar seorang gadis. Saya minta maaf atas kejadian di masa lalu, atas apa yang Kevano lakukan terhadap anak Anda. Saya sebagai orangtuanya sungguh menyayangkan kejadian itu. Karena itu, kami setuju saat Kevano menunjukan foto anak Anda dan mengatakan dia ingin melemar anak Anda. Saya yakin, anak Saya tidak akan salah memilih. Kevano pun pria yang baik, dia bertanggung jawab terhadap keluarganya, dan kami yakin dia akan bertanggung jawab terhadap putri Anda," ucap papa Kevano.
Randy menghela napas pelan dan melihat ke arah Rayna yang ternyata tengah menangis. Dengan cepat Rayna menghapus air matanya dan bangun dari duduknya.
"Maaf, Om, Tante. Aku nggak bisa menerima lamaran anak kalian," ucap Rayna dengan bibir yang bergetar seolah ragu mengatakan penolakan tersebut.
Randy terkejut mendengar penolakan Rayna.
"Ade!" panggil Randy dan Dania bersamaan.
Rayna tak tahan lagi menahan sesak di dadanya dan meninggalkan ruang tamu. Kevano pun hanya diam melihat kepergian Rayna.
Rayna memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Tanpa dapat ditahan lagi, dia pun menangis sejadi-jadinya. Dadanya benar-benar terasa sesak.
"Sakit banget, aku hancur bahkan disaat aku belum mengatakan apapun," ucap Rayna disela isak tangisnya.
Kenapa kayak gini? Apa nggak ada pilihan lain selain rasa sakit ini? Aku nggak tahu kalau cinta sesakit ini, gumam Rayna.
Di ruang tamu.
Randy mengusap wajahnya dan tanpa mengatakan apapun dia pergi menuju kamarnya. Randy terlihat murung, benarkah putrinya dilamar?
Randy membuka tas miliknya, dan mengambil sebuah foto yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Di mana di sana terdapat foto Dirinya, Dania, dan si kembar saat kecil. Mata Randy memerah mengenang Raydan dan Rayna yang begitu lucu saat kecil dulu, di mana saat bekerja dia selalu ingin pulang ke rumah lebih cepat dan bermaim dengan Raydan kecil juga Rayna kecil.
Selama hidupnya, ternyata masa inilah yang begitu sulit bagi dirinya. Yaitu mengambil keputusan demi masa depan anak perempuannya. Air mata Randy tak dapat lagi dia bendung, dia pun menangis. Dia teringat ucapan Dania tentang Rayna dan Kevano, bagaimana Kevano selalu datang menemui Rayna bahkan ketika Randy menentang keduanya untuk saling berhubungan.
Apa ini yang dirasakan Papa Hamish dulu? Rasanya sulit merelakan anak perempuan, gumam Randy.
Randy teringat pada Rayna, dia yakin betul Rayna saat ini tengah menangis.
Randy pun bergegas menuju kamar Rayna dan ternyata pintu kamar Rayna dikunci. Randy mencoba mengetuk pintu tetapi dia merasa syok mendengar jawaban Rayna.
"Jangan sekarang, aku mohon. Ade nggak siap menghadapi kalian," ucap Rayna dari dalam kamar. Randy dapat mendengar jelas Rayna isakan tangis Rayna.
__ADS_1
"Papa mau bicara sebentar aja," ucap Randy.
"Nggak, Pa. Ade mohon, Ade udah wakilin penolakan Papa terhadap lamaran Kevano. Sekarang Ade cuman mau sendiri, tolong kali ini aja ngertiin Ade," ucap Rayna.
Randy terdiam dan menghela napas. Pikiran Rayna memang benar, dia memang ingin menolak lamaran Kevano. Namun, dia menangkap suatu arti dari apa yang Rayna katakan.
"Itu jawaban Ade, bukan jawaban Papa. Kalau Ade mau dengar jawaban Papa, turunlah dan kita bicarakan baik-baik."
Randy tak mengatakan apapun lagi dan turun menuju ruang tamu.
Dia menghampiri Kevano dan keluarganya. Sementara Rayna yang mendengar ucapan Randy pun semakin gelisah. Namun, dia tetap harus menghadapi kenyataan, meski sepahit apapun itu. Rayna pun turun menuju ruang tamu. Semua orang melihat ke arah Rayna yang terlihat kacau. Mata sedikit sembab, hidung memerah yang kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih. Rambutnya sedikit berantakan. Rayna tetap berdiri di atas tangga, dia ragu untuk mendekat ke arah keluarganya.
Randy menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Saya tidak ingin memberikan anak Saya pada pria yang salah, Rayna putri Saya satu-satunya, dia lebih berharga dari harta yang Saya miliki," ucap Randy.
Rayna kembali menangis, dia sudah tahu jawaban papanya. Namun, dia ingin mendengar secara langsung.
"Kami mengerti. Kami pun mempunyai anak perempuan, dia adik Kevano. Tentu saja setiap anak akan berharga bagi orangtuanya. Kami pun akan menerima Rayna dengan tangan terbuka," ucap papa Kevano. Mama Kevano hanya diam saja. Dia mengiyakan saja setiap ucapan yang keluar dari mulut papa Kevano.
"Aku mencintai Rayna, Om. Aku mungkin belum bisa membuktikan apapun saat ini, tetapi aku janji akan bertanggung jawab dan menjaga Rayna. Aku nggak mau melihat Rayna menanggung masalahnya sendiri, aku nggak peduli siapapun Rayna, seperti apa dia, aku akan menerimanya, meski ada sosok lain dalam dirinya saat ini, aku tetap mencintainya dan menerimanya. Karena itu, apa aku boleh meminta Rayna untuk hidup bersamaku, Om?" ucap Kevano.
Rayna semakin menangis. Kevano masih saja menganggapnya hamil ternyata. Namun, Rayna tak habis pikir, jika Kevano berpikir dirinya hamil, lalu mengapa Kevano yang justru ingin menikahinya? Bukankah pria manapun tak akan ada yang sudi menikahi wanita yang tengah hamil dari pria lain? Dan mengapa orangtua Kevano tetap menyetujui Keinginan Kevano untuk melamar dirinya? Apa mereka tak akan malu jika sampai memiliki menantu yang tak suci lagi? Atau mereka tak tahu, dan Kevano tak memberitahu?
Entahlah, saat ini Rayna tak dapat menyimpulkan apapun.
Randy menghela napas dan menutup wajahnya sejenak.
Dania hanya diam melihat ekspresi Randy. Dia mengerti kesulitan Randy saat ini, dan dia pun merasakannya. Ibu mana yang tak merasa sedih, saat anaknya di minta oleh orang lain? Tentu Ibu manapun akan merasakan hal yang sama. Dania melihat Rayna dan menghampiri Rayna. Dia memeluk Rayna. Rayna pun semakin terisak.
"Percayalah, setiap orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Jika jawaban Papa nanti membuat Ade terluka, jangan pernah membenci Papa," ucap Dania. Rayna tak mengatakan apapun, sulit rasanya bicara dalam keadaan terisak. Dania pun pasrah saja dengan jawaban Randy. Dia akan ikut keputusan Randy, karena dia pun tahu Randy tak akan mengambil keputusan yang salah.
Randy kembali menghela napas.
"Baiklah, sudah cukup! Saya akan menjawab lamaran kamu!" tegas Randy.
Jantung Kevano berdegup kencang menanti jawaban dari Randy. Tangannya mulai berkeringat dingin. Dia benar-benar gelisah.
__ADS_1