
Di kantin.
Rayna dan Alika tengah menikmati makanan yang mereka pesan.
Di tengah kegiatan mereka, datanglah Byanka.
Byanka duduk di hadapan Rayna dan tersenyum.
"Hai," sapa Byanka.
Rayna mengerutkan dahinya, dia ingat siapa Byanka, wanita yang pernah dia lihat di restauran dan parkiran saat tengah bertengkar dengan Guriko.
"Ya, kenapa?" tanya Rayna dengan dingin.
Sejak masih sekolah dulu, Rayna memang anak yang dingin. Di
Sekolahnya dulu, dia bahkan tak memiliki banyak teman.
"Aku, Byanka," ucap Byanka sambil menyodorkan tangannya ke arah Rayna.
"Rayna," ucap Rayna sambil menyambut tangan Byanka.
"Mahasiswi design interior?" tanya Byanka.
Rayna pun mengangguk sambil masih mengunyah makanannya.
"Uhh, baby. Sausnya mengenai pipimu," ucap Byanka dan memegang pipi Rayna.
Rayna terkejut, Byanka bukannya menghapus saus di pipi Rayna, melainkan mendorong pelan pipi Rayna.
"Apa maksudmu?" Rayna menatap tajam ke arah Byanka. Dia tak suka dengan tindakan Byanka padanya.
Byanka terkekeh melihat ekspresi kesal Rayna.
"Kamu bisa marah? Aku pikir, kamu gadis yang lugu," ucap Byanka.
Rayna menatap tak suka ke arah Byanka, dan mengambil tisu. Dia pun menghapus saus yang ada di pipinya.
Byanka bangun dari duduknya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Rayna.
"Jauhi pacarku, atau apa yang aku lakukan barusan, akan terulang lagi. Bahkan lebih keras dari sebelumnya," bisik Byanka. Bisikan itu bahkan terdengar seperti sebuah ancaman.
"Kamu mengancam ku?" tanya Rayna.
"Jangan berlagak, kamu masih baru, sayang. Kamu belum tahu siapa aku?" Byanka menatap Rayna dengan tatapan tajam.
"Memangnya siapa kamu? Sampai aku harus tahu. Aku enggak peduli," ucap Rayna dengan santai.
Brak ..!
Rayna terkejut saat Byanka menggebrak meja di hadapannya.
"Kita belum selesai," ucap Byanka dan pergi meninggalkan Rayna.
"Kamu ada masalah apa dengannya?" tanya Alika.
"Entah, aku enggak ngerti," jawab Rayna.
Rayna pun tak ingin ambil pusing, dia memilih melanjutkan memakan makanannya.
*******
Jam pulang.
Rayna menghampiri Stefie yang sudah menjemputnya di parkiran, pandangannya tak sengaja melihat ke arah Guriko dan Byanka. Rayna pun menghela napas.
__ADS_1
"Manusia aneh, kemarin bertengkar, sekarang jalan bersama," gumam Rayna.
"Ade cemburu?" tanya Stefie yang mengikuti arah pandang Rayna.
"Apa? Amit-amit, kenapa aku harus cemburu? Aku bahkan enggak kenal," ucap Rayna dengan kesal.
Entah mengapa dia selalu merasa kesal saat melihat wajah Guriko.
"Benarkah? Saya pikir, Ade peduli dengan pria, itu," ucap Stefie.
"Yang benar saja, Kakak bercanda," ucap Rayna.
Rayna pun masuk ke dalam mobil dan Stefie melajukan mobilnya menuju rumah.
*******
Sore hari.
Rayna merasa bosan di dalam kamar. Meski ada bibi dan Stefie di rumah itu, namun Rayna tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia merasa kesepian dan merindukan orangtuanya juga Raydan.
Rayna keluar dari kamar dengan menggunakan kaos yang tak terlalu besar, dan tak terlalu kecil, dengan celana pendek sedikit di atas lutut. Dia menghampiri Stefie yang tengah menonton tv di ruang tamu.
"Aku akan olahraga sore keluar, sebentar. Enggak jauh, kok. Hanya di sekitar komplek saja," ucap Rayna.
"Saya akan ikut," ucap Stefie.
"Kakak di rumah saja, aku ingin sendiri," ucap Rayna.
"Ade yakin? Apa Ade enggak akan nyasar?" tanya Stefie memastikan.
Rayna terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Ade sudah besar, Kak. Aku ingat jalan pulang," ucap Rayna.
"Baiklah, hubungi saya kalau ada apa-apa," ucap Stefie.
Udara sore itu terasa cukup sejuk. Selain rumah yang berjejer, di komplek itu pun terdapat pepohonan besar yang hampir menghiasi setiap rumah.
Tanpa Rayna sadari, diam-diam Stefie mengikuti Rayna dari kejauhan.
Rayna pun mulai berlari kecil melewati rumah-rumah yang ada di komplek tersebut, hingga langkahnya terhenti di sebuah taman kecil. Dia duduk di kursi taman sambil mengambil napas sejenak dan menenggak mineral water yang dia beli sebelumnya.
Tiba-tiba saja ada pria yang duduk di sebelahnya. Namun Rayna tak mempedulikan pria itu. Dia masih sibuk melihat ke depan, di mana di sana terdapat sebuah danau yang tak terlalu besar.
"Hei ..!" panggil pria di sebelahnya.
Rayna melihat ke arah pria itu, dan mengerutkan dahinya. Lagi-lagi dia melihat Guriko.
"Ya ampun, apa dia hantu? Kenapa dia ada di mana-mana?" gumam Rayna.
"Aku manusia," ucap Guriko.
Rayna terkejut karena ternyata Guriko mendengar gumaman-nya.
"Aku mendengarnya. Kamu bicara dalam hati, pun, aku bisa mendengarnya," ucap Guriko.
"Apa, sih? Benar-benar pria aneh," batin Rayna.
"Apa kamu bilang?" tanya Guriko.
Rayna menatap heran pada Guriko.
"Kamu bilang apa barusan, dalam hatimu?" tanya Guriko.
Rayna terkekeh, Guriko benar-benar sangat konyol.
__ADS_1
"Kamu bilang bisa mendengar ucapan ku dalam hati? Kenapa kamu masih bertanya?" tanya Rayna sambil tersenyum meremehkan.
"Ya, karena aku sudah lama tak membersihkan telingaku," ucap Guriko.
"Dasar jorok," ucap Rayna dengan kesal dan pergi meninggalkan Guriko.
Guriko pun terkekeh dan mengikuti Rayna.
"Apa kamu sedang menjadi penguntit? Kenapa mengikuti ku?" tanya Rayna dengan nada tak suka.
"Apa maksudmu? Rumah kita juga searah," ucap Guriko dengan bingung.
Rayna menghela napas, dia lupa bahwa rumahnya dan rumah Guriko berdekatan.
Rayna pun berlari kecil, dan diikuti oleh Guriko yang juga berlari kecil.
"Sejak kapan kamu tinggal di rumah itu?" tanya Guriko.
Rayna tak menjawab pertanyaan Guriko, dia masih terus berlari kecil.
Guriko pun menahan tangan Rayna.
"Apa?" tanya Rayna sambil berbalik melihat ke arah Guriko.
"Aku bertanya, kenapa enggak jawab?" tanya Guriko.
"Benarkah? Kapan? Aku tidak tahu," ucap Rayna.
"Ck, benar-benar," kesal Guriko.
"Sejak kapan kamu tinggal di rumah itu?" tanya Guriko lagi.
"Oh, jadi, kamu bertanya ke aku, tadi? Aku pikir, bukan," ucap Rayna dengan santai.
"Ayolah, hanya ada kita di sini. Memangnya bertanya pada siapa lagi?" tanya Guriko dengan kesal.
"Hantu, mungkin," ucap Rayna.
"Ya, kalau begitu, kamu hantunya," ucap Guriko.
Rayna menatap Guriko dengan tatapan tajam.
"Ayolah, jangan terlalu serius. Nanti, cantikmu hilang," ucap Guriko.
"Dasar, pria penjilat," ucap Rayna.
"Aku tidak suka menjilat, aku suka dijilat," ucap Guriko sambil tersenyum penuh arti.
Dugh.
"Ouuww ,,, Astaga, apa yang kamu lakukan?" Guriko meringis kesakitan saat Rayna memukul perutnya.
"Bicara yang benar, ya ampun. Benar-benar menyebalkan," ucap Rayna dengan kesal.
"Memang, apanya yang salah?" tanya Guriko dengan bingung.
"Astaga, sudah salah, tidak mau mengaku," ucap Rayna dengan tak kalah kesal. Dia benar-benar emosi melihat tingkah sok polos Guriko.
"Mati saja ..!"
Pletak ..!
"Ouhh ,, shit ..!"
Lagi-lagi Guriko meringis kesakitan saat Rayna melemparkan botol mineral water di tangannya ke arah kepala Guriko.
__ADS_1
"Anggap saja, itu, balasan dari melayang-nya stik drum mu ke kepalaku semalam, Kita impas," ucap Rayna dan berlari meninggalkan Guriko yang masih meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.