
Dua minggu berlalu.
Pagi-pagi sekali, Rayna sudah berada di kantor Raka. Dia meminta para pekerja itu untuk membereskan semua barang-barang yang digunakan untuk mendesign ruangan Raka. Dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Di sana sudah ada cleaning service. Rayna meminta cleaning service itu untuk membersihkan ruangan Raka.
Ruangan itu sudah selesai di design. Besok, ruangan itu sudah bisa Raka pakai kembali.
Rayna melihat sekitar ruangan, dia berharap Raka tak kecewa melihat hasilnya.
***
Waktu berlalu, para staf Kantor mulai berdatangan. Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi.
Tok-tok-tok ...
"Rayn!"
Rayna mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan itu, dia melihat Raka sudah datang. Raka masuk ke ruangan dan melihat hasil dari pekerjaan Rayna. Ruangan itu sudah tampak bersih. Hanya saja, belum ada furniture di sana.
Rayna bangun dari duduknya, dia menghampiri Raka.
"Apa ada yang perlu aku perbaiki? Atau aku tambahkan? Bilang aja kalau ada yang bikin kamu kurang puas," ucap Rayna.
Raka masih melihat sekitar ruangan itu. Dia menghela napas dan melihat Rayna.
Raka memegang tangan Rayna. Menupuk telapak tangan Rayna. Rayna sedikit bingung dengan perlakuan Raka.
"Tanganmu kecil, tapi pekerjaanmu luar biasa. Aku puas!" ucap Raka tersenyum.
Rayna merasa lega mendengar ucapan Raka. Raka melepaskan tangan Rayna.
"Aku akan siapkan cek untuk jasamu ini," ucap Raka.
Rayna tersenyum mengangguk.
"Ikut ke ruanganku!"
Raka dan Rayna pergi menuju ruangan di mana ruangan itu dipakai Raka untuk bekerja karena ruangan sebelumnya diperbaiki.
Rayna duduk di kursi, di hadapannya ada Raka tengah menulis nominal di lembar kertas cek. Raka mengambil selembar cek yang sudah dia isi dan memberikannya pada Rayna.
"Oh, ya, Rayn! Satu minggu dari sekarang, aku ada pesta kecil. Datang, ya," ucap Raka tersenyum.
"Pesta? Dalam rangka apa?" tanya Rayna.
"Bertambah tua ... Ha-ha-ha ..." Raka tertawa.
Rayna terkekeh.
"Ulang tahunmu?" tanya Rayna.
"Ya, Papa memaksa. Aku kayak anak gadis aja disuruh adain pesta ulang tahun segala," ucap Raka.
"Wajar aja. Kamu anak satu-satunya Om Riko," ucap Rayna.
Raka mengangguk.
"Datang bersama Suami kamu," ucap Raka menepuk bahu Rayna.
Rayna mengangguk.
Dia pamit dari ruangan Raka, dan pergi ke lokasi syuting Kevano. Meski sebelumnya pernah menemani Kevano melakukan pemotretan, tetapi Rayna ingin menemani Kevano syuting sebuah film pendek, karena hari ini dia tak ada pekerjaan apapun, jadi dia akan datang.
Rayna melajukan mobilnya menuju lokasi syuting. Sesampainya di sana, dia bertemu Nando, menejer Kevano.
"Kevano lagi take," ucap Nando.
Rayna mengangguk dan menunggu di ruang ganti.
"Berapa bulan kehamilanmu sekarang, Rayn?" tanya Nando.
__ADS_1
"Enam Bulan," ucap Rayna.
"Wah, sebentar lagi, dong," ucap Nando.
"Iya," ucap Rayna tersenyum.
"Udah ada nama?" tanya Nando.
"Belum, aku bingung," ucap Rayna.
"Kalau cowok, Rano aja namanya, bila dari Rayna dan Kevano. Jadi, kayak artis juga," ucap Nando.
"Artis siapa?" tanya Rayna bingung.
"Rano Karno, ha-ha-ha ..." Nando tertawa. Namun, Rayna justru bingung. Dia tak tahu artis yang bernama Rano Karno. Lagi pula, dia besar di Australia, dan setelah pindah ke Indonesia dia tak pernah mengikuti berita tentang artis. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Tak ada waktu untuk bersantai meski hanya menonton televisi. Apalagi menonton gosip artis.
"Udah nggak usah bingung. Kamu nggak akan kenal. Orangtua kamu mungkin tau," ucap Nando.
"Aku cuman tau Kevano," ucap Rayna.
"Ah, udah nggak usah dibilang. Emang dia Suami kamu," ucap Nando.
Ha-ha-ha ...
Rayna dan Nando tertawa.
"Kalian ngapain?" Kevano tiba-tiba masuk ke ruang ganti dan melihat Rayna juga Nando tengah tertawa bersama.
"Nggak ngapa-ngapain," ucap Nando dan keluar dari ruangan itu.
"Kamu kok ke sini?" tanya Kevano.
"Nggak boleh emang?" tanya Rayna.
"Boleh, tapi kalau kecapekan gimana?" tanya Kevano.
"Nggak, kok. Aku kuat," ucap Rayna.
"Jangan digituin," ucap Rayna.
"Lho ... Kenapa?" tanya Kevano bingung.
"Aku bukan anak-anak," ucap Rayna.
Kevano terkekeh. Dia memeluk Rayna dengan gemas.
'Tapi terkadang kamu kayak anak-anak,' batin Kevano.
Kevano melepaskan pelukannya dan duduk di dekat Rayna.
Rayna membuka tasnya, dia mengambil cek yang Raka berikan dan menunjukannya pada Kevano.
"Apa ini?" tanya Kevano bingung.
"Cek dari Raka, aku udah selesai design Kantornya," ucap Rayna tersenyum senang. Dia senang karena selama hidupnya baru kali ini dia mendapatkan penghasilannya sendiri. Selama ini, dia hanya mengandalkan keuangan orangtuanya dan memang sudah menjadi tanggung jawab orangtuanya. Begitu pun setelah menikah, Kevano lah yang menanggung hidupnya.
"Kamu senang?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk.
"Selamat, ya," ucap Kevano. Kevano akan kembali mengusap kepala Rayna, tetapi Rayna segera menghindar.
"Iya, deh. Yang udah dewasa, udah punya penghasilan sendiri," ucap Kevano terkekeh.
"I am happy, because this is the first money I have made in my life," ucap Rayna.
"Iya, dan aku ikut bahagia. Kamu bisa simpen uang itu buat kebutuhan kamu," ucap Kevano.
"Kamu nggak mau uang ini?" tanya Rayna.
"Buat apa? Aku punya uang sendiri," ucap Kevano.
__ADS_1
Rayna terkekeh. Dia memeluk Kevano.
Rayna mendongak melihat Kevano.
"Ayok, aku traktir makan aja pake uang ini," ucap Rayna.
"Kapan?" tanya Kevano.
"Malam ini? Kita ajak Mommy sama Papa. Ajak Mama Mertua sama Papa Mertua juga," ucap Rayna penuh antusias. Dia ingin keluarganya ikut merasakan uang dari hasil design pertamanya.
Kevano mengangguk.
"Tunggu aku selesai syuting, kita akan makan malam. Kamu telepon dulu Mommy sama Papa, nanti aku telepon Mama sama Papa juga," ucap Kevano.
Rayna mengangguk. Tak menunggu lama, dia langsung menghubungi Dania dan mengundang Dania juga Randy makan di restoran di hotel sang Opa.
Begitupun Kevano, dia menghubungi orangtuanya dan mengundang makan malam.
"Kamu tadi bilang di hotel Opa? Kita makan di sana?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk. Di hotel sang Opa, ada restoran khusu para elit. Di sana harga permenunya memang terbilang mahal.
"Kalau gitu, ajak juga Opa sama Oma," ucap Kevano.
Rayna menepuk dahinya. Dia melupakan Opa dan Omanya. Dia menghubungi Opa Hamish juga Oma Rania. Mengundang mereka juga untuk datang makan malam.
Waktu berlalu.
Di Hotel milik Orangtua Dania, tepat di restorannya semua keluarga Rayna dan Kevano sudah berkumpul di sana. Semua tampak bingung, karena ternyata ramai sekali acara makan malam kali ini.
"Ada apa ini, Dek?" tanya Dania bingung. Rayna tak mengatakan apapun saat di telepon tadi.
"Nggak ada apa-apa, cuman mau traktir kalian makan malam aja," ucap Rayna tersenyum.
"Dania ngapain, sih? Biarkan aja Rayna mengundang kita makan malam. Lagi pula, apa yang salah? Apa makan malam harus selalu ada alasan?" ucap papa Hamish.
"Bukan gitu, Pa. Heran aja," ucap Dania.
Mereka semua sudah duduk, semua tampak berbincang. Senangnya Rayna melihat pemandangan seperti itu. Dia jadi menginginkan mendapatkan uang sendiri agar dapat merasakan suasana seperti ini dengan menggunakan uangnya sendiri.
"Keep silent, Sayang. Kamu jangan debat sama Orangtua. Nggak baik. Lagian, Rayna kan dapat fasilitas dari Papa, dia punya kartu khusus keluarga pemilik Hotel, jadi dia nggak perlu keluar uang," ucap Randy pelan.
Dania mengangguk. Benar juga pikirnya. Semua anggota keluarga Hamish memang mendapatkan fasilitas khusus. Di mana mereka memiliki kartu khusus berwarna gold yang bisa digunakan jika ingin menginap, ataupun makan di hotel tersebut, termasuk Randy dan Mama Randy tanpa harus menngeluarkan uang lagi. Siapapun itu, yang termasuk ke dalam keluarga Hamish akan mendapatkannya. Namun, Kevano belum mendapatkannya. Dia masih anggota baru di keluarga Hamsih. Jadi perlu waktu.
Mereka semua tampak menikmati makan malam. Ketika sudah selesai, Rayna memanggil pelayan dan meminta bill.
Awalnya, mereka belum menyadari apa yang akan dilakukan Rayna. Mereka berpikir Rayna akan memakai fasilitas yang diberikan keluarga.
Rayna melihat bill itu. Total di bill itu adalah Rp.9.350.000,-00 sudah termasuk tax and service. Rata-rata perorang makan dengan pengeluaran diatas Satu Juta.
Rayna berbisik pada Kevano. Membuat Kevano menunduk sedikit.
"Pake uang bulanan dulu, ya. Nanti, kita cairin cek ini ke Bank. Nanti aku ganti.Tadikan Bank udah tutup, kita kesorean," bisik Rayna.
Kevano terkekeh dan mengangguk. Kevano tak tahu Rayna mendapatkan fasilitas Hotel itu, jadi dia mengiyakan saja dan tak mencoba menyarakan memakai fasilitas yang Rayna dapatkan.
Rayna mengambil debit card yang diberikan oleh Kevano untuk keperluan bulanan. Dia memberikannya pada pelayan itu.
"Ngapain, Dek?" tanya Randy.
"Bayar," ucap Rayna.
"Pakai debit?" ucap Randy bingung.
Rayna mengangguk dan pelayan itu pergi sambil membawa bill tadi beserta debit card.
"Opa kasih fasilitas untuk memudahkan kamu, kenapa harus pakai debit? lupa bawa gold card Hotel?" ucap Opa Hamish.
"Nggak, emang ade sengaja mau bayar. ade undang kalian makan, karena ade dapat hasil pertama ade dari design," ucap Rayna tersenyum.
"Hah? Ade kerja?" tanya Randy syok.
__ADS_1
Bagaimana mungkin anaknya itu bekerja setelah menikah? Apa Kevano tak memberikannya cukup uang? Pikir Randy.