
Keesokan paginya.
Rayna terbangun dari tidurnya. Tubuhnya sudah merasa lebih baik, demamnya pun sudah membaik. Hari ini dia akan pergi ke kampus. Rayna melihat ponselnya, tak ada pesan dari siapapun. Dia melihat jam waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.
Seperti biasa Rayna akan mandi terlebih dahulu sebelum keluar dari kamarnya. Selesai mandi, dia memakai pakaiannya. Dia memakai celana jeans hitam panjang dengan kaos berwarna putih yang berukuran tak terlalu ketat yang dia balut dengan almamater miliknya. Rambutnya dia ikat membentuk ikatan cepol yang dibiarkan sedikit berantakan, di mana anak-anak rambut masih terlihat di sekitar tengkuknya. Sederhana, tetapi pagi itu Rayna terlihat lebih segar. Entah apa yang membuatnya seolah melupakan apa yang dia alami malam tadi. Pagi ini, dia terlihat bersemangat.
Selesai berdandan, Rayna melihat penampilannya sekali lagi dari pantulan cermin. Setelah itu dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar pergi menuju ruang makan. Terlihat Stefie sudah menunggunya di meja makan. Sementara bibi tengah membersihkan dapur.
"Pagi, Kak," sapa Rayna dengan bibirnya yang melengkung mengukir senyuman.
"Pagi, sarapan, yuk! Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Stefie.
"Apa, tuh?" tanya Rayna penasaran. Pasalnya wajah Stefie terlihat serius. Sepertinya, apa yang ingin Stefie katakan adalah sesuatu yang penting.
"Mau sarapan apa, Dek?" tanya Stefie.
"Aku mau roti aja, dan aku yang akan buat sendiri," ucap Rayna sambil tersenyum manis.
"Jadi, aku akan berhenti berkerja untukmu," ucap Stefie.
Rayna yang tengah menyiapkan roti pun menjadi terdiam dan melihat Stefie.
"Apa maksud Kakak? Kenapa mau berhenti?" tanya Rayna bingung.
"Ada urusan pribadi yang mengharuskan ku berhenti bekerja," ucap Stefie.
"Terus, aku gimana? Aku sama siapa di sini kalau Kakak pergi dari sini?" tanya Rayna sambil memasang wajah sedih.
Stefie tersenyum dan memegang tangan Rayna.
"Ada Bibi," jawab Stefie.
Rayna memanyunkan bibirnya, dia sedih karena Stefie tak akan menemaninya lagi. Semangat pagi yang belum lama dia rasakan seketika menghilang. Dia sudah menganggap Stefie sebagai kakaknya, tetapi lagi-lagi dia pun harus kehilangan sama seperti dia harus jauh dari Raydan.
"Pagi ini, aku akan antar ke kampus. Setelah itu, aku nggak akan pulang ke rumahmu lagi," ucap Stefie.
"Papa sama Mommy tahu?" tanya Rayna.
Stefie mengangguk.
"Masalah ini, sudah dibicarakan beberapa hari yang lalu saat Mommy dan Papa datang ke sini," ucap Stefie.
Rupanya, tak ada yang tahu. Saat Randy datang mengunjungi Rayna karena kebetulan ada urusan pekerjaan, dan Dania saat itu menyusul ke rumah Rayna, Stefie sempat membicarakan masalah pengunduran dirinya sebagai supir Rayna. Ya, seperti yang dia katakan pada Rayna, ada masalah pribadi yang mengharuskannya berhenti bekerja pada Rayna.
Rayna terdiam dan menundukkan kepalanya. Lagi-lagi dia harus sendiri dan sudah pasti akan lebih merasa kesepian.
Stefie hanya tersenyum melihat ekspresi sedih Rayna. Dia yakin, seiring berjalannya waktu Rayna akan terbiasa dengan kesendiriannya. Lagi pula, bukankah itu baik untuk Rayna? Rayna akan semakin mandiri menjalani hidupnya. Meski tak mudah, tapi seiring berjalannya waktu, kedewasaan akan membuatnya mengerti tentang keadaan yang dia alami saat ini.
Selesai sarapan, Rayna dan Stefie pergi menuju kampus. Selama perjalanan menuju kampus, tak ada yang membuka pembicaraan, keduanya seketika merasakan kecanggungan.
"Sudah sampai," ucap Stefie.
Diamnya Rayna, membuat Rayna sendiri tak sadar bahwa waktu begitu cepat sehingga mereka sudah sampai di parkiran kampus.
Stefie membuka seatbelt nya dan membuka pintu mobil belakang untuk Rayna. Rayna pun keluar dari mobil.
"Kak!" panggil Rayna dengan nada berat. Rasanya enggan mengatakan sesuatu, tetapi ini adalah terakhir kalinya dia akan bersama dengan Stefie. Mungkin, lain waktu mereka akan bertemu kembali. Namun, entah waktu itu sampai di titik kapan?
"Ya," sahut Stefie.
"Jaga diri baik-baik, jangan lupakan Ade," ucap Rayna sedih.
Stefie tersenyum dan memeluk Rayna.
"It's okay. Aku akan ikuti perintah Bosku ini," ucap Stefie sambil terkekeh.
Rayna menggelengkan kepalanya.
"Aku adikmu, Kak. Bukan Bosmu," ucap Rayna.
Stefie tersenyum dan mengangguk.
"Barang-barangku ada di mobil, mobilmu aku tinggal di sini. Aku akan naik taksi menuju Bandara," ucap Stefie.
"Baiklah, hati-hati. Kabari Ade kalau Kakak sudah sampai," ucap Rayna.
Stefie pun mengambil koper miliknya yang sebelumnya dia simpan di bagasi mobil Rayna. Setelah itu dia pamit. Rayna tak bergeming, dia bahkan tak masuk ke kelasnya sebelum Stefie benar-benar hilang dari pandangannya.
Rayna terkejut saat ada yang menepuk bahunya, dia menghela napas saat berbalik dan melihat Guriko di belakangnya.
"Yang benar aja, pagi-pagi udah bikin orang jantungan," ucap. Rayna kesal.
"Kok, mobilnya nggak dibawa supir mu," ucap Guriko bingung.
"Dia udah bukan supirku lagi," ucap Rayna.
"Apa? Kenapa?" tanya Guriko terkejut.
"Entahlah, mau tahu aja, sih," jawab Rayna ketus dan meninggalkan Guriko. Tak sampai di situ, Guriko pun mengikuti Rayna karena kebetulan kelas mereka satu arah meski beda jurusan dan pada akhirnya mereka akan berpisah menuju kelas masing-masing.
"Gimana kalau aku aja yang gantiin dia?" tanya Guriko sambil tersenyum penuh arti.
"Gantiin apa?" tanya Rayna bingung.
"Jadi supir. Aku melamar jadi supir mu," ucap Guriko sembarang.
Rayna menghentikan langkahnya dan menatap Guriko dengan serius.
"Mana bisa kayak gitu," ucap Rayna.
"Bisa aja," ucap Guriko.
"Nggak, aku nggak mau!" tegas Rayna.
__ADS_1
"Jadi, maunya apa, dong? Apa mau aku ngelamar jadi ayah dari anak-anakmu, gitu?" ucap Guriko sambil tersenyum geli.
Rayna yang melihat ekspresi Guriko yang terlihat menggelikan itu pun menjadi terkekeh. Mereka pun berjalan bersama dan berpisah menuju kelas masing-masing.
Dari kejauhan, Byanka dan teman sekelasnya yang sejak tadi memperhatikan Guriko dan Rayna pun menjadi geram. Dadanya terasa sesak, suhu tubuhnya meningkat, kepalanya terasa mendidih. Tentu saja dia cemburu dan tak terima melihat kedekatan Guriko dengan Rayna.
"Pelajaran, By. Laki-laki nggak suka barang bekas," ucap teman Byanka sarkas.
Byanka membulatkan matanya. Dia merasa tersinggung mendengar ucapan temannya itu.
"Jangan kesal dulu, lihat dari sisi lain," ucap teman Byanka berkilah.
Byanka mengerutkan dahinya, dia tak mengerti maksud temannya itu.
*****
Waktu pun berlalu, jam kuliah Rayna sudah selesai. Rayna yang baru saja keluar dari kelas pergi menuju toilet. Sesampainya di toilet, toilet tampak sepi, tak ada siapapun di sana selain dirinya. Dia membuka almamaternya dan menyimpan bersama tasnya di dekat washtafel, sementara itu dia masuk untuk membuang air kecil.
Rasanya, tak ada tiga menit, Rayna pun selesai membuang air kecil dan berniat akan mengambil tasnya. Namun, dia terkejut saat tak menemukan almamater miliknya. Pasalnya, di dalam almamater itu ada benda miliknya yang berharga. Jika benda itu sampai hilang, tentu dia akan kesulitan pulang ke rumah.
Rayna mencoba mengingat-ingat kembali, apakah dia sudah membawa almamater miliknya itu atau masih tertinggal di dalam kelas?
Rayna bergegas keluar dari toilet, dan melihat-lihat sepanjang jalan untuk memastikan almamaternya itu tak terjatuh.
"Cari apa, Rayna?" Seorang dosen wanita berdiri di hadapannya, menatapnya tajam seolah merasa geram kepada mahasiswi yang terlihat baik seperti Rayna.
"Itu, Bu. Saya--" ucapan Rayna terhenti saat dosen itu menyuruhnya masuk ke ruangannya.
"Kamu cari ini?" ucap dosen sambil menunjukkan almamater milik Rayna. Rayna pun tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, kamu seperti mencari sesuatu di sepanjang jalan tadi, dan almamater itu yang kamu cari? Atau ada sesuatu yang lain yang kamu cari?" tanya dosen penuh selidik.
"Iya, Bu. Ada sesuatu yang penting. Saya pikir, almamater saya terjatuh. Di dalamnya ada--" lagi-lagi ucapan Rayna terhenti saat dosen itu menunjukkan sebuah benda kecil padanya.
"Ada ini? Ini yang kamu cari?" tanya dosen.
Rayna mengerutkan dahinya, dia tak mengerti maksud dosen itu.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu? Kaget, karena benda ini ada di tangan Saya?" tanya dosen.
Rayna semakin dibuat bingung, dia benar-benar tak mengerti maksud dari dosen itu. Memang benar dia mencari barangnya yang dia takutkan akan hilang, yaitu kunci mobilnya. Tetapi bukan benda kecil itu yang saat ini ada di tangan dosen tersebut.
"Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Apa orang tua mu tahu masalah ini?" tanya dosen.
"Maksudnya apa, ya?" tanya Rayna semakin bingung. Sungguh, ekspresinya terlihat bodoh.
"Jangan bicara seolah tak tahu, barang ini ditemukan di dalam saku almamater mu! Kamu harus menjelaskannya!" bentak dosen.
Rayna membulatkan matanya. Dia sungguh terkejut mendengar apa yang dosen itu katakan.
Rayna terkejut saat melihat benda kecil pipih yang ada ditangan dosen. Dia tahu benda itu bernama testpack yang biasa dipakai untuk mengetes kehamilan.
"Maksud Ibu apa, ya? Saya nggak tahu tentang testpack itu," ucap Rayna.
"Kalau begitu, cek sekali lagi. Apa itu almamater milikmu?" tanya dosen.
"Iya, benar. Ini kunci mobil Saya," ucap Rayna menunjukan kunci mobil tersebut pada dosen.
"Kalau begitu, apa testpack ini punya kaki, dan bisa masuk sendiri ke dalam saku almamater mu?" kesal dosen.
"Sungguh Rayna, jangan membuat malu nama universitas ini," ucap dosen.
Rayna menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia mengelak benda tersebut miliknya. Yang benar saja, dia bahkan tak pernah membeli benda pipih tersebut.
"Ibu akan memanggil orangtua mu," ucap dosen dan mengambil telepon kampus. Dosen itu menghubungi nomor Randy.
"Tolong, Bu. Testpack itu bukan punya Saya. Jangan libatkan orangtua Saya, mereka tidak tahu apapun. Lagipula, orangtua Saya ada di Jakarta, mereka tidak tinggal bersama Saya," ucap Rayna.
Dosen menghela napas dan menjauhkan telepon itu dari telinganya.
"Kalau begitu, kasihan sekali. Mereka bukan orangtua yang baik. Bagaimana bisa membiarkan anak wanitanya hidup sendiri dengan bebas," ucap dosen.
Rayna mengepalkan tangannya. Dia tak suka dosen itu mengatakan orangtua-nya yang tidak-tidak.
Brak!
Dosen membulatkan matanya saat Rayna tiba-tiba menggebrak meja.
"Maaf, bukannya Saya tidak menghormati Anda. Tetapi, bukankah Anda orang terpelajar, bagaimana bisa anda mengecap seseorang tanpa tahu bagaimana orang tersebut. Lagipula, sepertinya Anda yang bukan orangtua yang baik, anda tentu lebih tua. Tetapi Anda menuduh seseorang sembarangan. Saya bahkan tak tahu kenapa benda itu ada di saku almamater Saya. Mungkin saja seseorang sengaja memfitnah saya dan memasukan benda tersebut!" tegas Rayna.
"Lancang sekali kamu, berani bicara tidak sopan pada Saya!" bentak guru.
"Anda yang tidak sopan, sebaiknya cek cctv, kita akan tahu kebenarannya," ucap Rayna.
Rayna tak sebodoh itu, tentu ada jejak yang terekam cctv menuju toilet, dan di sana akan terlihat siapa saja yang masuk ke toilet.
Dosen itu akan kembali bicara, tetapi terdengar sahutan dari dalam telepon.
"Halo, Selamat siang," sapa dosen.
"Iya, selamat siang. Siapa ini?" tanya Randy dari dalam telepon.
"Kami dari pihak Kampus Rayna. Apakah bisa Bapak sebagai wakilnya datang ke kampus sekaran? Ada masalah dengan putri Anda," ucap dosen.
"Masalah apa, ya?" tanya Randy.
"Kami menemukan testpack di dalam saku almamater puteri Anda. Jadi, tolong Anda datang ke sini," ucap dosen.
"Apa? Tidak mungkin!" tegas Randy.
"Tapi kenyataannya seperti itu, dan sebaiknya kita bicarakan masalah ini secara langsung," ucap dosen.
"Baik, dua jam lagi Saya sampai," ucap Randy dan langsung memutuskan telepon.
__ADS_1
Rayna membulatkan matanya. Dosen itu benar-benar memberitahu papanya tentang testpack itu.
"Jangan dulu pulang, kamu tunggu di sini sampai orangtua kamu sampai!" ucap dosen.
"Kenapa Anda tidak mau mendengarkan Saya? Sudah Saya bilang, sebaiknya kita lihat cctv untuk membuktikannya," ucap Rayna.
"Tentu saja kita akan melakukannya, tetapi saat orangtua mu sudah di sini. Saya masih baik hati, karena tidak memberitahu Dosen lainnya. Saya prihatin dengan anak gadis sepertimu yang hidup dalam dunia bebas," ucap dosen.
Rayna menghela napas kasar. Entah harus dengan cara apalagi menjelaskan pada dosen itu bahwa testpack itu memang bukan miliknya. Dia yakin, ada orang yang sengaja menjebak dirinya. Namun, siapa orang itu? Dia pun tak tahu. Dia bahkan tak banyak mengenal orang di kampus itu, jadi mana mungkin dia memiliki musuh.
*****
Di kantor Randy.
Randy bergegas menutup meeting begitu mendapatkan kabar tentang Rayna. Dia benar-benar syok mendengar kabar tersebut.
"Atur ulang jadwal saya untuk beberapa hari ke depan. Batalkan semua meeting dengan client!" ucap Randy.
"Apa? Tapi, Pak. Meeting besok dengan calon investor perusahaan kita, dan itu sangat penting," ucap Randy.
"Kalau begitu, kembali kepada ucapan Saya yang awal!" tegas Randy.
"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti," ucap sekretaris Randy.
"Apa kamu bodoh? Atau kamu tuli? Sudah Saya bilang, kembali ke ucapan Saya yang awal. Tidak ada pengulangan, Saya sedang buru-buru dan ini lebih penting dari meeting itu!" bentak Randy.
Sekretaris itu tersentak mendapatkan bentakan dari Randy, tak seperti biasanya Randy bersikap seperti itu.
"Ba-baik, Pak," ucap sekretaris Randy.
Randy bergegas mengambil jasnya dan pergi dari kantornya.
Persetan dengan meeting itu, puteriku lebih penting! gumam Randy.
Randy pergi menjemput Dania terlebih dahulu. Setelah itu, pergi menuju kampus Rayna.
Di perjalanan menuju kampus Rayna.
"Kenapa mendadak sekali ke kampus Ade?" tanya Dania bingung. Dania bahkan juga tengah sibuk dengan urusannya, tetapi Randy justru memaksanya ikut ke kampus tanpa memberitahukan masalah apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku dapat telepon dari dosennya," ucap Randy.
"Ada apa sebenarnya? Ade baik-baik saja, kan?" tanya Dania cemas.
Randy menghela napas panjang, tangannya masih tetap mengemudi, pandangannya sesekali dia alihkan pada Dania. Namun, tak ada yang tahu, begitu banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang dosen itu katakan.
"Apa mungkin Ade mengkhianati kita?" tanya Randy.
"Maksudnya? Ada apa, sih?" tanya Dania mulai kesal. Dia kesal karena Randy justru bermain teka teki dengannya.
"Jangan kaget, Yang," ucap Randy.
"Apaan?" tanya Dania semakin penasaran.
"Kata dosen, ditemukan testpack di dalam saku almamater Ade," ucap Randy.
"APA?" Dania terkejut bukan main.
"Jangan bercanda! Nggak lucu," ucap Dania.
"Apa aku terlihat bercanda? Sekarang bahkan bukan ulang tahunmu ataupun ulang tahun Ade, hingga aku harus membuat lelucon," ucap Randy.
"Nggak mungkin, Ade baik, dia nggak akan seperti itu," ucap Dania. Dania kenal betul anak gadisnya itu, Rayna tak akan pernah mempermalukan keluarganya. Meski dia sempat merasa kecewa atas sikap Rayna yang membohonginya soal Kevano, tetapi dia yakin Rayna masih mengerti batasan.
Sesampainya di kampus.
Hari sudah menjelang sore, Randy dan Dania bergegas menuju ruang dosen. Terlihat Rayna tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Rayna terlihat begitu tenang, membuat Dania yakin bahwa testpack itu memang bukanlah milik Rayna.
"Ade!" panggil Dania.
Rayna melihat ke arah Dania dan bergegas menghampiri Dania. Dia memeluk Dania dengan erat, seolah tak ingin melepaskan Dania.
"Tenang, oke. Mommy percaya sama Ade," ucap Dania.
"Thank you, Moms. Ade benar-benar nggak tahu soal benda itu," ucap Rayna sambil memasang wajah sedih.
"Tentu saja benda itu bukan milik Ade. Ade anak Mommy, Ade nggak akan mempermalukan Mommy sama Papa," ucap Dania.
Sementara Randy menghampiri dosen lebih dulu dan duduk berhadapan dengan dosen.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Anak Saya tidak mungkin menyimpan benda tersebut," ucap Randy.
Dosen menunjukan testpack tersebut pada Randy, dan benar terdapat tanda dua garis merah di testpack tersebut. Dia ingat, tanda itu sama dengan saat Dania positif mengandung anak pertama mereka dan juga si kembar. Randy melihat Rayna.
"Bukan punya Ade," ucap Rayna memelas.
Randy menghela napas sejenak dan melihat dosen tersebut.
"Jangan karena benda ini ada di almamater milik Rayna, itu berarti punya Rayna. Seseorang mungkin menjebak anak Saya. Bahkan jika memang tidak terbukti, Saya akan menuntut Anda karena menuduh anak Saya sembarangan," ucap Randy.
"Barang buktinya sudah ada, dan jelas ditemukan di dalam saku almamater puteri Anda, dan puteri Anda mengakui almamater itu miliknya. Sebelumnya, Saya melihat puteri Anda seperti ketakutan mencari sesuatu, tentu itu menguatkan segalanya sesuai barang bukti tersebut," ucap dosen.
Randy pun kembali melihat Rayna, dan Rayna langsung menjelaskan semuanya, bahwa dia takut kunci mobilnya hilang dan dia tak akan bisa membawa mobil itu pulang ke rumah.
"Anda dengar sendiri," ucap Randy pada dosen.
"Lalu, bagaimana bisa benda ini ada di dalam saku almamatermu, Rayna?" tanya dosen.
"Saya nggak tahu," ucap Rayna. Sungguh, dia pun benar-benar bingung mengapa benda itu ada di dalam saku almamaternya.
"Kalau begitu, kita buktikan saja. Ada cctv di depan toilet bukan? Sebaiknya kita cek cctv, Saya yakin sekali ada orang yang masuk selain Rayna." ucap Randy.
"Baik, mari ikut Saya ke ruang cctv!" ajak dosen. Mereka semua pergi menuju ruang cctv dan mengecek kejadian yang terekam di waktu yang persis saat Rayna memasuki toilet.
__ADS_1
Randy, Dania, Rayna, dan dosen tampak memperhatikan dengan seksama, apakah mungkin memang ada orang lain yang masuk ke dalam toilet selain Rayna?
Beberapa saat menunggu, dan mereka semua pun tercengang melihat apa yang terekam di dalam cctv tersebut.