
"Tidak mungkin! Direkaman ini pasti terjadi kesalahan! Atau bisa saja cctv-nya yang eror!" tegas Randy.
Yang benar saja, semua orang terkejut karena di dalam rekaman itu tidak terlihat siapapun yang memasuki toilet selain Rayna, bahkan hingga Rayna keluar dari toilet.
"Mohon maaf, 24 jam rekaman cctv menyala dan tentu berfungsi dengan baik, bagaimana mungkin akan terjadi kesalahan?" ucap dosen.
Dania terdiam, dia tak mengerti harus mengatakan apalagi. Tetapi tunggu! Masih ada jalan lain untuk membuktikan kebenaran.
"Kita tes ulang!" tegas Dania.
"Maksud Anda?" tanya Dosen bingung.
"Kita tes ulang, Rayna akan tes urinnya menggunakan testpack yang baru. Saya yakin sekali dia tidak hamil," ucap Dania.
"Baik, Saya rasa itu ide yang bagus," ucap Dosen.
"Apa kamu gila? Bagaimana bisa meminta anak kita untuk tes ulang?" ucap Randy merasa keberatan dengan ide Dania.
"Ini cara satu-satunya untuk membuktikan bahwa Rayna tidak hamil. Tolong, Yang. Kita harus lakukan ini, agar semuanya menjadi jelas," ucap Dania.
"Tidak! Aku tidak setuju!" tegas Randy.
"Dengar ini baik-baik! Anak Saya tidak hamil, jangan pernah menganggap anak Saya gadis yang liar yang bahkan bergaul dengan bebas. Kami sebagai orangtuanya mungkin tidak bisa mengawasinya setiap saat, tetapi Saya yakin pada anak Saya. Saya bahkan lebih mengenal anak Saya melebihi siapapun," ucap Randy sambil melihat Dosen itu.
"Nggak apa-apa, aku mau tes ulang," ucap Rayna.
Semua orang melihat ke arah Rayna, menatap Rayna seolah meyakinkan Rayna akan keputusannya.
"Aku nggak salah, aku nggak hamil, dan aku nggak takut untuk tes ulang!" tegas Rayna.
Dania memeluk Rayna, memberikan kekuatan untuk gadis kesayangannya itu. Namun, Randy terlihat cemas. Pasalnya, keyakinannya terhadap Rayna sedikit berkurang. Dia takut Rayna benar-benar hamil.
"Baik, Saya sudah menyiapkannya sebelum Anda datang ke sini. Karena sebetulnya Saya pun tidak percaya akan hal ini," ucap Dosen.
Mereka semua kembali ke ruangan Dosen dan pergi menuju toilet. Sesuai yang Rayna katakan, dia melakukan tes ulang. Dia begitu tenang melakukannya, karena dia yakin betul tidak sedang mengandung. Jangankan mengandung, dia bahkan tak pernah melakukan hubungan suami isteri dengan siapapun. Tak pernah ada satu orang pria pun yang menyentuhnya.
Seteleh selesai, Rayna keluar dan menunjukan hasil testpack itu pada Randy, Dania, dan Dosen. Terdapat satu garis merah di testpack tersebut.
"Saya sudah bilang, anak Saya tidak mungkin hamil!" tegas Rayna.
"Maafkan Saya, kalau begitu semuanya sudah terbukti. Tetapi, yang membuat Saya bingung adalah, bagaimana bisa testpack itu ada di dalam saku almamater Rayna?" ucap Dosen.
"Minta maaf? Anda tahu, anda sudah membuang waktu keluarga Saya. Anda membuat anak Saya merasa tersudutkan dengan tuduhan Anda! Saya bisa saja menuntut Anda!" ucap Randy.
"Tenang, Yang. Jangan emosi," ucap Dania.
Tentu saja, orangtua manapun akan marah jika anaknya mendapatkan tuduhan yang tidak-tidak.
"Tunggu dulu! Anda tidak bisa menuntut Saya!" ucap Dosen sambil menunjukan testpack yang Rayna gunakan tadi.
Beberapa saat kemudian.
"Kalian lihat? Mulai muncul tanda merah meski samar, biasanya ini akan terjadi pada saat usia kehamilan yang masih sangat muda," ucap Dosen.
Randy, Dania dan Rayna sontak terkejut. Mereka melihat hasil testpack itu, dan benar saja muncul tanda garis satunya lagi yang menjadikan garis itu menjadi dua garis merah.
"Ya Tuhan, positif," batin Randy.
Bagaikan tersambar petir, orangtua mana yang tak akan terkejut saat mendapati putrinya yang berstatus lajang dan belum pernah menikah justru sudah hamil.
"Nggak, itu bohong! Aku nggak hamil!" tegas Rayna.
Dania terdiam, hatinya merasa hancur. Sungguh, rasa sakit melihat putri kesayangannya hamil diluar nikah bahkan melebihi rasa sakit apapun. Merasa dikhianati, dia merasa gagal menjadi seorang ibu. Dia dan Randy berusaha keras menjaga anak-anaknya agar tak salah jalan, tetapi apa yang dia dan Randy harapkan justru tak sesuai harapan.
"Saya tidak bisa terus menyembunyikan masalah ini, Saya harus bicarakan ini dengan yang lainnya untuk mendapatkan solusinya. Rayna bisa saja terancam di D.O dari kampus ini. Tentu, nama baik kampus tidak boleh tercemar," ucap dosen.
Rayna sungguh terkejut mendengar ucapan dosen. Bagaimana bisa dosen itu tak percaya dengan apa yang dia katakan. Testpack itu salah, dia tidak hamil.
"Demi Tuhan, aku tidak hamil. Aku bahkan tidak pernah melakukan hubungan terlarang seperti itu dengan siapapun!" tegas Rayna.
"Sudah cukup! Apapun alasanmu, semua bukti menunjukan bahwa kamu memang positif hamil, Rayna. Kenapa tidak mengakuinya saja dan kita akan mencari solusi bersama," ucap Dosen.
Rayna terdiam, entah dengan cara apalagi dia harus membuktikannya.
"Masih ada satu cara, bukankah kita juga perlu melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit? Testpack itu salah!" tegas Rayna.
__ADS_1
Rayna terus membela dirinya sendiri, tetapi Randy dan Dania hanya terdiam. Tentu mereka syok dengan apa yang mereka lihat.
"Tolong, jangan katakan ini pada siapapun. Saya akan memikirkan solusinya. Saya tidak ingin anak Saya keluar dari kampus ini, bagaimanapun caranya, tolong rahasiakan masalah ini," ucap Randy.
"Saya tidak mungkin menyembunyikan masalah sebesar ini, tentu seiring berjalannya waktu, kehamilan Rayna akan membesar, dan semua orang akan mempertanyakan hal itu. Bagaimanapun juga, Rayna belum menikah, ini sungguh tidak baik untuk Rayna sendiri, terutama untuk nama baik kampus," ucap Dosen.
"Tolong, beri Saya waktu untuk memikirkan masalah ini," ucap Randy.
Dengan langkah lemas, kecewa, marah, Randy meninggalkan ruang Dosen dan pergi menuju mobilnya. Dania hanya diam dan mengikuti Randy, sementara Rayna pun mengikuti orangtuanya, ada rasa kecewa karena orangtuanya terlihat kecewa padanya.
"Kenapa mereka seperti kecewa? Memangnya aku salah? Kenapa harus seperti ini? batin Rayna.
Randy, Dania, dan Rayna pun kembali ke rumah.
Selama di perjalanan menuju rumah, tak ada satu orangpun yang bicara, hingga waktu tak terasa dan mereka sampai di rumah.
Begitu sampai di ruang tamu, Randy menatap Rayna dengan tajam. Tatapan yang tak pernah dia berikan sebelumnya, tentu saat ini dia kecewa pada Rayna. hatinya hancur. Randy menghela napas panjang, dia tak ingin emosi menghadapi Rayna. Sebisa mungkin dia menahan amarahnya. Sementara Dania hanya duduk di sofa sambil memijat kepalanya. Kepalanya terasa sakit, beban besar seperti tengah menindih kepalanya.
"Siapa orangnya?" tanya Randy lembut.
"Maksud Papa?" tanya Rayna bingung.
"Siapa Ayah bayi itu?" tanya Randy.
"Aku nggak hamil, Pa. Demi Tuhan!" tegas Rayna.
"Jangan membawa nama Tuhan, Papa tidak pernah mengajarkan anak-anak Papa menjadi seorang pengecut yang takut mengakui kesalahan!" tegas Randy.
"Moms, tolong bilang sama Papa, Ade nggak hamil. Kenapa Papa nggak percaya sama Ade?" ucap Rayna kesal.
"Apa Papa harus percaya sementara semua bukti menunjukan kenyataan yang lain?" ucap Randy.
"Apa pria itu?" tanya Dania tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Rayna bingung.
"Kevano," ucap Rayna.
"Apa? Pria kurang ajar itu?" ucap Randy terkejut.
"Tidak, bukan. Kevano tidak pernah melakukan apapun," ucap Rayna.
"Jangan bohong! Terakhir kali Stefie mengabarkan kalau dia masih menemui mu!" tegas Rayna.
"Ya Tuhan! Berapa kali Papa bilang, jangan berhubungan dengan pria kurang ajar itu! Kenapa kamu menjadi pembangkang, ha?" Randy marah, Randy emosi mengetahui Kevano masih menemui Rayna, dan tak ada yang mengatakannya pada Randy.
Rayna meneteskan air matanya. Sungguh sakit rasanya saat orangtua sendiri tidak mempercayai ucapannya.
"Kenapa Mommy sama Papa nggak percaya sama Ade? Apa Ade terlihat seburuk itu di mata kalian?" ucap Rayna sedih.
Rayna berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Brak!
Dengan perasaan kesal dia membanting pintu kamarnya dengan keras. Tangisnya pecah, mimpi apa dia semalam, sehingga hari ini begitu sial mendapatkan tuduhan kejam seperti itu.
"Ini semua kesalahanmu!" tegas Randy menatap Dania marah.
"Apa maksudmu?" tanya Dania heran.
"Kalau saja kamu nggak membiarkan Rayna tinggal sendiri tanpa kita, tentu semua ini nggak akan pernah terjadi!" ucap Randy.
Dania bangun dari duduknya dan menatap Randy tak percaya. Bisa-bisanya Randy menyalahkannya.
"Kamu lupa? Bukankah ide ini kamu yang buat? Bukankah kamu sejak awal menginginkan Rayna hidup mandiri? Bagaimana bisa kamu nyalahin aku?" ucap Dania. Dania sungguh kecewa pada Randy, bukankah kesalahan anak juga bisa jadi kesalahan orangtuanya? Lalu, bukan hanya dirinya yang menjadi orangtua Rayna, Randy pun bahkan papanya Rayna.
"Ah, sial!" geram Randy.
"Kamu harusnya instrospeksi diri, jangan menyalahkan orang lain!" kesal Dania.
"Apa maksudmu? Apa kamu pikir aku pernah melakukan hal gila itu pada wanita lain, ha?" tanya Randy marah.
"Nggak, tapi kamu lupa satu hal. Kesalahan orangtua di masalalu, bisa jadi berimbas pada anak-anaknya. Kamu lupa, seperti apa kamu dulu? Kamu brengesek! Berapa banyak wanita yang kamu sakiti dulu, ha?" kesal Dania.
"Ya Tuhan! Jangan membahas masa laluku. Yang terjadi pada Rayna, bukan kesalahanku!" tegas Randy.
__ADS_1
Dania tersenyum pahit. Dia menjadi merasa gila sendiri. Bukannya ingin membahas masa lalu kelam Randy. Namun, ucapan Randy yang menyalahkannya membuatnya sakit hati dan merasa tak terima.
Tanpa keduanya sadari, pertengkaran keduanya terdengar hingga ke kamar Rayna. Tentu Rayna merasa terkejut karena papa yang selama ini dia banggakan, yang dia lihat begitu menghargai seorang wanita, justru mempunya masa lalu yang buruk. Namun bukan itu yang Rayna pikirkan, melainkan orangtuanya bertengkar karena kesalahpahaman ini, dan dia tak mengerti bagaimana caranya membuat orangtua mereka percaya.
Dania meninggalkan Randy menuju dapur, terlihat bibi ada di sana. Bibi sebetulnya ingin segera pergi dari dapur, hanya saja posisi dapur dan ruang tamu berdekatan, sehingga tak mungkin dia melewati majikannya yang tengah bertengkar.
"Dia benar-benar menyebalkan!" kesal Dania.
Dania melihat bibi yang tengah membersihkan dapur. Tak ada yang kotor, bibi seolah mencari alasan untuk menghindari pertanyaan dari Dania karena dia mendengar pertengkaran itu.
"Bi!" panggil Dania.
"I-iya, Bu," sahut bibi dengan gugup.
"Apa yang Bibi ketahui tentang rumah ini? Maksud Saya, tentang Rayna?" tanya Dania.
"Hah? Maksudnya apa, ya, Bu? Saya tidak mengerti," ucap bibi beralasan.
"Tenang saja, Saya tahu Bibi mendengarkan pertengkaran Saya dengan Bapak. Tolong, rahasiakan hal ini, Saya hanya ingin tahu, siapa saja pria yang dekat dengan Rayna?" ucap Dania.
"Hmm ... Sebetulnya ada dua orang yang bibi sering lihat," ucap bibi.
Dania mengerutkan dahinya.
"Siapa saja?" tanya Dania penasaran.
"Yang pertama, artis itu, Bu. Bibi sering lihat dia di tv, dan namanya kalau nggak salah Kevano," ucap bibi.
"Lalu, yang kedua siapa?" tanya Dania makin penasaran. Dia sudah bisa menebak bahwa Kevano memang sering menemui Rayna.
"Yang satu lagi tetangga kita, Bu," ucap Bibi.
"Apa? Maksud Bibi, Guriko? Tetangga sebelah rumah kita?" tanya Dania terkejut.
"Iya, Bu. Sebetulnya, Bibi ingin bilang ini, tetapi Bibi takut Ibu marah pada Ade. Bibi pernah nggak sengaja lihat Guriko lompat dari balkon rumahnya ke balkon kamar Ade, dan itu malam hari. Saat itu, Bibi akan membuang sampah yang ada di dalam rumah ke tong sampah yang ada di luar, dan Bibi tak sengaja melihat itu," ucap Bibi.
Dania membulatkan matanya mendengar pernyataan bibi. Hatinya benar-benar hancur. pikiran negatif mulai menjalar di kepalanya. Dengan cepat dia menghampiri Randy dan menceritakan apa yang bibi ceritakan.
Dengan lemas Randy terduduk di sofa, matilah dia. Dia merasa gagal menjadi orangtua yang baik. Ternyata, usahanya dalam menjaga Rayna dengan begitu keras hanyalah sia-sia, pikirnya.
"Besok kita akan panggil mereka berdua, dan akan bicarakan masalah ini," ucap Randy. Dania mengangguk. Dia setuju dengan apa yang Randy katakan. Selesai membicarakan masalah Rayna, Randy dan Dania pun beristirahat di kamar tamu. Biasanya, mereka akan menghampiri Rayna sebelum istirahat malam hari, tetapi tidak untuk saat ini. Mereka terlalu syok dan tak siap menghadapi Rayna dalam menyimpan amarah.
Keesokan harinya.
Sebuah motor besar terparkir dihalaman rumah Rayna. Ya, itu Kevano.
Malam tadi, entah bagaimana caranya Randy mendapatkan nomor Kevano? Kevano pun siang ini sampai di rumah Rayna. Dia merasa bingung karena diminta datang oleh Randy. Bukankah Randy membencinya? Lalu, untuk apa Randy memintanya datang?
Kevano turun dari motornya, dan membuka helm yang dia pakai.
"Loh, ngapain kamu di sini?" tanya Guriko yang baru saja memasuki halaman rumah Rayna.
"Lah, kamu ngapain di sini? Tentu aja aku diundang sama papanya Rayna untuk datang, lalu kamu?" ucap Kevano bingung.
"Aku juga diundang," ucap Guriko merasa bingung juga.
Keduanya terlihat bingung, entah untuk apa keduanya dipanggil untuk menemui Randy? Tak ingin ambil pusing, keduanya masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu sambil menunggu Randy.
Tak lama, Randy dan Dani menghampiri mereka dan duduk di hadapan kedua pria itu.
Kevano dan Guriko bangun dari duduknya, dan memberikan senyuman terbaik mereka pada Randy.
"Siapa diantara kalian yang sudah menghamili Rayna?" tanya Randy tanpa basa basi.
"APA?"
Kevano dan Guriko begitu terkejut mendengarkan pertanyaan seperti itu dari Randy. Tak hanya Kevano dan Guriko, Rayna yang baru saja menuruni anak tangga pun begitu terkejut mendengar pertanyaan dari sang papa. Dia pun terkejut karena melihat Guriko dan Kevano ada di rumahnya.
Note:
Author pun jadi ikutan bingung dan terkejut😓
Btw, sepertinya novel ini akan segera tamat. Mungkin beberapa Bab lagi. Jadi, persiapkan diri kalian😂😆
Entah kenapa, kepikiran banget buat cepetan namatin novel ini dan My Lovely Fat Wife. Dan mungkin akan hiatus untuk beberapa saat menulis online. Kecuali, kalau mood membaik😌 Intinya, gimana mood aja. Karena jujur aja, Author tuh moody.an banget orangnya. Bukan udah ga semangat nulis, tapi rasa down pasti ada saat apa yang kita tulis tidak dihargai.
__ADS_1
Maaf, bukannya mau curhat. Apalah daya, sesak mendamnya😂😆 Nggak mudah memiliki kepribadian yang moody.an, terkadang kita harus berusaha keras menghibur diri kita sendiri. Yang mengalami hal yang sama dengan Author, moodyan juga, pasti ngerti😉😊 Dan satu lagi, kalian pasti semakin bingung dan bertanya-tanya pas baca part ini. Itulah, memiliki kepribadian yang absurd juga terkadang memang membingungkan😂 Tapi, semua ini bukan tanpa dipikirkan baik-baik😆 Tentu, pemikiran kita berbeda😂😂😂😂 But, semoga kalian tetap enjoy sampai akhir cerita ini dan kalian mendapatkan kejelasan dari maksud cerita yang Author tulis😆 Kalian akan menghujat, sudah jelas. So, Author akan terima itu sebagai pembelajaran. Hujat dihujat, sudah kebal buat Author😂 Dan Author akan tetap konsisten dengan apa yang Author tulis hingga akhir cerita. Terimakasih loh, sudah mau menyempatkan waktu baca cuitan Author. Big ❤ untuk kalian kesayangan aku😍