Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 94


__ADS_3

Raydan terkejut mendengar ucapan Rayna, bahkan menyebabkan dirinya jadi tersedak.


"Ade bilang apa tadi? Menikah?" ucap Raydan tak percaya.


Rayna pun mengangguk.


Raydan mendekati Rayna dan memegang bahu Rayna seolah meminta penjelasan bahwa apa yang Rayna katakan tidaklah benar.


"Jangan bercanda!" tegas Raydan.


"Ade nggak bercanda. Memangnya Papa sama Mommy nggak bilang?" tanya Rayna kebingungan.


Raydan menggeleng dan melihat ke arah Dania saat sadar Dania tengah menuruni anak tangga. Raydan pun bergegas menghampiri Dania.


"Please, jangan bilang Mommy setuju kalau Ade nikah sama--" Raydan tak melanjutkan ucapannya saat Dania memegang pipinya.


"Tenang, ya. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap Dania.


"Mommy nyuruh aku tenang, bahkan saat aku tahu Ade mau nikah sama pria sialan itu?" ucap Raydan tak habis pikir. Bagaimana bisa sang mommy menyetujui Rayna berhubungan dengan Kevano dan bahkan hingga merencanakan sebuah pernikahan.


"Mommy sama Papa udah setuju. Kevano baik, kok, Bang. Selama Abang tinggal di Jerman, dia selalu berusaha buktiin ke Ade, kalau dia emang cinta sama Ade," ucap Rayna.


Raydan terkekeh mendengar ucapan Rayna.


"Kamu udah gila Abang rasa, kamu sadar nggak dia itu siapa? Dia itu penjahat yang sudah mempermalukan keluarga kita, yang sudah melecehkan kamu, Dek!" tegas Raydan.


"Cukup, Bang! Jangan bahas masalah itu lagi, semuanya udah masa lalu, dan Ade udah lupain semuanya," ucap Rayna.


"Ade lupa, tapi Abang nggak akan pernah lupa!" tegas Raydan.


"Mommy nggak pernah mengajarkan dendam sama kamu, Bang. Cobalah mengerti keadaan," ucap Dania.


"Mengerti keadaan? Apa Ade hamil karena pria itu, hingga kalian mau menikahkan mereka?" ucap Raydan sembarang.


"Ade nggak gitu! Dia nggak pernah berbuat hingga sejauh itu! Abang nggak tahu apapun! Abang nggak kenal siapa dia!" tegas Rayna.


"Oh ayolah. Apa ini yang pria itu ajarkan? Kamu bahkan berani melawan Abang!" ucap Raydan tak percaya.


"Abang benar-benar ngeselin. Ngapain pulang ke sini kalau cuman mau bikin ribut?" ucap Rayna geram.


"Kalau Abang tahu, Mommy sama Papa nyuruh Abang pulang cuman karena rencana gila ini, Abang juga nggak akan pulang! Abang nggak akan sudi lihat kalian nikah!" tegas Raydan.


"Moms!" rengek Rayna menghampiri Dania.


Dania menghela napas. Sudah dia duga Raydan akan marah saat mendengar kabar Rayna akan menikah dengan Kevano.


"Kalian semua udah gila!" ucap Raydan kesal.

__ADS_1


Dania membulatkan matanya. Dia tak habis pikir anaknya itu berani mengatakan dia gila.


"Apa ini yang kamu dapat selama belajar di Jerman? Menjadi melawan pada orangtua!" ucap Dania kesal.


"Moms, please. Buka mata Moms, lihat kenyataan bahwa pria itu bukan pria baik-baik! Moms harusnya mengerti, kalau Abang ngelakuin ini semua, karena Abang anak laki-laki di keluarga ini, udah tanggung jawab Abang untuk melindungi kalian, dan Abang juga punya kuasa atas keluarga ini!" tegas Raydan.


"Lancang sekali kamu bicara seperti itu! Apa kamu sudah tidak menganggap Papa lagi? Selama masih ada Papa, Papa lah yang berhak memutuskan apa yang semestinya terjadi di keluarga kita!" ucap Randy lantang.


Randy yang baru saja datang bergitu terkejut mendengar ucapan Raydan. Dia mengerti anaknya itu memang penuh emosional, dan dia memang sudah menduga Raydan akan marah mendengar kabar akan pernikahan Rayna dan Kevano, tetapi Randy tak habis pikir Raydan akan bicara seperti itu. Meski Raydan adalah anak pria satu-satunya, dan sudah tentu akan menjadi penerus keluarganya juga perusahaannya tetapi Randy masih hidup. Selama dia hidup, maka dialah yang memiliki kuasa penuh atas keluarganya.


Dania menghela napas panjang. Randy terlihat marah pada Raydan.


"Kalian benar-benar keterlaluan! Menyuruhku pulang hanya untuk mengajakku berdebat! Aku benci sekali keadaan seperti ini!" ucap Raydan kesal.


"Sudahlah! Kalian membuat Mommy pusing. Ade masuk kamar sana! Dan Abang, istirahatlah dulu. Setelah itu kita akan bicarakan masalah ini!" ucap Dania.


Brak!


Semua orang terkejut saat Raydan menyimpan gelasnya dengan cukup keras di atas meja. Seolah dia ingin menumpahkan kekesalannya.


"Raydan!" panggil Randy lantang.


Kali pertamanya dia memanggil Raydan dengan sebutan nama. Itu artinya, dia benar-benar marah pada Raydan. Sebelum pergi ke Jerman, semarah apapun Raydan tak pernah bersikap seperti itu di depan orangtuanya. Apalagi sampai bicara kasar di terhadap orangtuanya. Randy pun menjadi tak habis pikir, entah pergaulan macam apa yang Raydan jalani di Jerman. Dia hanya berharap, Raydan akan selalu ingat batasan bergaul sehingga tak mengecewakan keluarganya.


Raydan tak menghiraukan panggilan Randy dan pergi ke luar rumah sambil mengambil kunci mobil yang sebelumnya Dania simpan di atas meja. Dia melajukan mobil Dania dengan perasaan kesal. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, dan akan kemana dia pergi. Randy dan Dania pun membiarkannya. Raydan memang butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Rayna memilih pergi ke kamarnya. Dia pun menjadi kesal pada Raydan dan tanpa sadar meneteskan air matanya.


Rayna mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan pada Kevano. Kangen, sebuah pesan singkat itulah yang Rayna tulis dan kirimkan pasa Kevano. Kini dirinya sudah tak canggung dan lebih terbuka tentang perasaannya terhadap Kevano. Restu dari Randy dan Dania lah yang membuatnya lebih memahami, bahwa--


Jujur ketika semesta mendukung adalah hal yang lebih tepat untuk dilakukan, dan semuanya terasa lebih bermakna. Sebelumnya, hanya lebih memilih memendam perasaan karena memang belum adanya restu kedua orangtua, sehingga menimbulkan keraguan dihati. Nyatanya, restu orangtua memanglah memberikan pengaruh besat terhadap suatu hubungan.


Tak lama terdengar dering telepon masuk, yang ternyata panggilan video call dari Kevano. Rayna pun menjawabnya dengan antusias dan tak lupa senyuman manis dia torehkan di bibir mungilnya.


Ayo ketemu! ucap Kevano tanpa basa basi saat melihat wajah Rayna di layar ponselnya.


Hah? Gimana caranya? Kita, kan, nggak boleh ketemu sampai hari pernikahan nanti, ucap Rayna.


Izin keluar sama Mommy emang nggak bisa? tanya Kevano.


Rayna menggelengkan kepalanya.


Ada Papa, terus ada Abang juga, ucap Rayna sambil mengerucutkan bibirnya.


Abang? Raydan maksud kamu? ucap Kevano.


Rayna pun mengangguk.


Syukurlah kalau dia pulang. Dia juga nggak mungkin melewatkan hari bahagia Adik kesayangannya, ucap Kevano seraya menorehkan senyuman manis.

__ADS_1


Rayna menunjukan wajah sedih, membuat dahi Kevano berkerut dan mempertanyakan apa yang Rayna alami seharian ini sehingga membuat Rayna terlihat muram. Rayna pun menjelaskan semuanya. Dari mulai dia menjemput Raydan di Bandara bersama sang mommy dan terjadinya pertengkaran di rumah.


Nggak usah cemas, aku akan menemui Abangmu, dan akan meminta restu darinya, ucap Kevano.


Tapi kalau dia marah sama kamu, gimana? tanya Rayna cemas. Dia sungguh takut Raydan akan berbuat macam-macam pada Kevano.


Ya, lihat aja, ucap Kevano.


Kalau Abang ngehajar kamu, gimana? tanya Rayna. Pikiran Rayna sudah begitu negatif terhadap Raydan. Dia pun mengenal Abangnya itu emosian.


Aku akan diam, ucap Kevano.


Kenapa? tanya Rayna bingung.


Karena dia Kakakmu, dia akan menjadi Kakak iparku, meski aku ingin menghajarnya kembali, aku akan menahan amarahku, ucap Kevano.


Masa kamu diam aja, kalau kamu mati gara-gara babak belur dihajar sama Abang, gimana? tanya Rayna polos.


Kevano pun terkekeh mendengar ucapan Rayna.


Aku akan mati, jika kamu meninggalkanku! ucap Kevano.


Seketika senyuman mengambang di bibir Rayna. Rasa sedihnya seolah tergantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa ketika mendengar ucapan Kevano.


Tanpa sadar, percakapan Rayna dan Kevano di dengarkan oleh Dania dan Randy yang tadinya akan masuk ke kamar Rayna tetapi urung karena melihat Rayna tengah bicara dengan Kevano. Kebetulan Rayna tak memakai headset sehingga apa yang Kevano katakan cukup terdengar jelas.


"Yang benar aja. Mana ada mati karena ditinggalkan seseorang," ucap Randy pelan.


"Sepertinya, dia memang benar-benar mencintai Ade," ucap Dania.


"Tapi dia terlalu berlebihan. Terlalu gombal," ucap Randy.


"Sama sepertimu," ucap Dania.


Randy mengerutkan dahinya dan menatap Dania dengan bingung.


"Kamu juga tukang gombal, dari dulu sampai sekarang suka gombal," ucap Dania.


"Aku nggak gombal, ya. Semua yang aku bilang, itu kenyataan. Kalau aku bilang kamu cantik, ya kamu emang beneran cantik. Kalau aku bilang, kamu seksi, ya kamu emang seksi, kalau aku bilang kamu menggo--" ucapan Randy terhenti saat Dania membungkam mulutnya dengan telapak tangan.


"Jangan diterusin! Dasar mesum! Nggak malu sama umur!" ucap Dania sambil terkekeh dan meninggalkan Randy.


Randy pun ikut terkekeh.


Gimana aku nggak tergila-gila, kalau belum ngomong aja dia udah paham isi kepalaku, gumam Randy.


Randy pun menyusul Dania.

__ADS_1


__ADS_2