Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 123


__ADS_3

Siang hari.


Kevano sudah sampai di Depok. Dia mulai memasuki rumah sambil menyeret kopernya.


"Sayang! Aku pulang!" teriak Kevano.


"Oh hai, Kev," ucap Dania.


"Moms?" Kevano melihat sekeliling dan tak menemukan keberadaan Rayna.


"Rayna udah ke kampus tadi pagi," ucap Dania.


"Oh gitu, Mommy dari kapan di sini?" tanya Kevano.


"Kemarin, Mommy nginep di sini. Nemenin Rayna, kasihan kan sendirian," ucap Dania.


"Oh iya, makasih Moms udah nemenin Rayna. Aku taruh koper dulu ke kamar," ucap Kevano.


Dania mempersilakan dan Kevano pun naik menuju kamarnya. Dia memasuki kamar dan meletakan kopernya di dekat sofa. Dia memasuki kamar mandi, mencuci wajah dan tangannya. Cuaca di luar cukup panas hari itu, dia akan mengganti pakaiannya dengan kaos tipis yang nyaman dan membuatnya merasa tak terlalu panas.


Kevano membuka kopernya dan mengambil kaos tipis, kemudian memakainya. Dia meletakan sebagian baju-baju di dalam kopernya ke dalam lemari.


Begitu membuka lemari, Kevano tak sengaja melihat sebuah kertas di atas tumpukan baju milik Rayna. Terdapat nama sebuah rumah sakit di sana.


'Laporan kesehatan siapa ini? Apa Rayna sakit?' batin Kevano.


Kevano membuka kertas itu dan di dalamnya ada bungkus alat tes kehamilan. Dia memriksanya dan ternyata ada sebuah benda kecil pipih yang Kevano tahu itu adalah sebuah testpack. Di sana bergaris merah dua. Kevano masih tampak bingung melihatnya. Dia pun membaca laporan dari rumah sakit tersebut, dan ternyata ada foto USG di sana. Semakin penasaran, Kevano bergegas membukanya dan membacanya dengan seksama.


Kevano menelan air liurnya saat membaca dengan seksama laporan tersebut. Jantungnya seketika berdegup kencang. Napasnya memburu. Matanya memerah.


"Ya Tuhan!" Kevano membawa laporan tersebut dan berlari keluar kamar setelah mengambil kunci motornya. Dia menuruni anak tangga dengan cepat dan bergegas menuju garasi. Dania yang bingung melihatnya ikut berlari keluar.


"Ada apa, Kev? Mau kemana?" teriak Dania khawatir. Dia bingung sekaligus khawatir melihat menantunya itu tiba-tiba saja berlari. Dania semakin bingung saat melihat Kevano menangis.


"Mau jemput Rayna, Moms," ucap Kevano. Tubuh Kevano gemetar. Dia melajukan motornya menuju kampus Rayna. Dia ingin segera melihat Rayna dan bertemu dengan Rayna. Belum sempat Dania bicara, Kevano sudah lebih dulu melajukan motornya.


****

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan menuju kampus Rayna, Kevano tak hentinya menangis. Entah tangisan apa, entah apa yang ada dipikirannya. Dia bahkan lupa memakai helmnya dan beberapa orang di jalanan pun tampak memperhatikan Kevano. Bahkan ketika berada di lampu merah, Kevano masih menangis dan sesekali tersenyum. Membuat orang-orang di dekatnya keheranan.


"Permisi! Selamat siang. Bisa kepinggir sebentar," ucap seseorang. Kevano melihat orang itu dan ternyata Polisi.


Kevano mengikuti Polisi itu dan berhenti di pinggir jalan.


"Mas tahu, kenapa Saya panggil ke sini?" tanya Polisi.


"Kenapa? Ada apa, ya?" tanya Kevano tampak bingung.


"Mas tidak memakai helm. Mas tahu, itu bisa berbahaya untuk Mas," ucap Polisi. Polisi itu melihat plat motor Kevano bertuliskan huruf "B" di awalnya.


Kevano memegang kepalanya. Dia baru ngeuh bahwa dirinya memang tak memakai helm.


"Maaf, Pak. Saya buru-buru, Saya ingin segera menemui Istri Saya," ucap Kevano.


"Dari Jakarta ke sini hanya untuk menemui Istri? Tidak memakai helm? Sungguh alasan tak masuk akal," ucap Polisi.


"Apapun alasannya, tindakan Mas tidaklah benar. Itu membahayakan," ucap Polisi.


"Apapun alasannya, Mas bersalah melanggar peraturan mengemudi. Dan Mas akan Saya tilang," ucap Polisi.


Kevano menghela napasnya. Dia tidak boleh ditilang, bisa terlambat bertemu Rayna. Kevano memutar otaknya, bagaimana caranya dia bisa lolos dari Polisi itu?


Kevano menyadari sesuatu yang dingin di wajahnya. Ya, itu adalah sisa-sisa air matanya yang masih membasahi pipinya.


"Pak! Tolonglah pengertiannya. Saya baru saja pulang bekerja. Saya bahkan belum beristirahat dan baru mengganti pakaian Saya. Kemudian Saya mendengar Istri Saya akan melahirkan dan sekarang berada di Rumah Sakit. Mana Saya ingat untuk memakai helm. Saya panik, Pak. Istri Saya sedang berjuang melahirkan anak Saya. Tolong mengerti, lain kali Saya tidak akan mengulangi keteledoran Saya," ucap Kevano.


Mata Kevano memerah. Dia pun kembali menangis.


"Bagaimana jika Bapak berada di posisi Saya? Mendengar kabar, bahwa Istri Bapak sedang berjuang melahirkan anak Bapak? Bukankah Bapak pun akan merasa cemas, dan tidak akan peduli dengan apapun, selain hanya ingin segera melihat Istri dan anak Bapak?" ucap Kevano memasang wajah sesedih mungkin.


Untung aku jago akting, batin Kevano.


"Hm ..." Polisi itu tampak curiga melihat Kevano.


"Ini cincin pernikahan Saya, Saya sudah menikah. Dan Istri Saya akan melahirkan," ucap Kevano meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah, untuk kali ini Saya tolerir. Tapi tetap saja, kejadian hari ini tak boleh terulang lagi. Karena itu membahayakan diri Anda sendiri. Silahkan lanjutkan perjalanan! Semoga Istri dan anak Anda baik-baik saja," ucap Polisi.


Kevano membulatkan matanya, dia tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya. Kevano pun berterimakasih dan segera melajukan motornya kembali.


Tangisan tadi digantikan dengan kekehan geli, Polisi itu ternyata percaya saja. Aktingnya bagus juga.


Sesampainya di kampus Rayna.


Kevano memarkirkan motornya tepat di parkiran motor, dia melihat sekeliling, mencari keberadaan Rayna. Belum ada Rayna terlihat di luar. Kevano pun menunggu Rayna.


Jantungnya benar-benar berdegup tak karuan, dia tak sabar untuk bertemu dengan Rayna. Kevano terus mencari di sekitar halaman kampus, dia gelisah menunggu Rayna.


Kevano berlari menghampiri Rayna saat melihat Rayna dari kejauhan. Rayna terkejut karena tiba-tiba saja seseorang memeluknya. Kejadian itu begitu cepat, hingga Rayna tak tahu siapa yang memeluknya.


Rayna memberontak, mencoba melepaskan diri dari pelukan itu. Bisa menjadi fitnah pikirnya, jika orang lain yang tahunya dia sudah menikah tetapi berpelukan dengan orang lain yang Rayna yakini seorang pria.


"Thank you, aku bahagia akan jadi Papa," ucap Kevano cukup keras dan penuh antusias. Kevano tak menyadari orang-orang disekitar melihat dirinya dan Rayna.


Seketika Rayna terdiam. Suara itu mirip sekali dengan Kevano.


Rayna tampak bingung setelah Kevano melepaskan pelukannya dan justru Kevano lah yang ternyata memeluknya. Sejak kapan Kevano pulang? Pikirnya.


"Aku bahagia banget, sumpah. Aku nggak tahu meski bilang apa, yang jelas aku nggak sabar mau lihat anak kita," ucap Kevano.


"Ha?" Rayna bingung, dari mana Kevano tahu tentang kehamilannya?


"Kamu tahu dari mana?" tanya Rayna.


"Ini." Kevano menunjukan kertas laporan kehamilan Rayna.


Rayna mengambilnya dan terdiam.


"Kamu beneran bahagia?" tanya Rayna.


"Iya, dong. Bahagia banget malah. Kenapa nanya gitu? Kamu nggak bahagia emang?" tanya Kevano heran. Ekspresi Kevano yang tadinya antusias dan bahagia pun kini berubah penuh kebingungan.


Rayna pun terdiam mendengar pertanyaan Kevano.

__ADS_1


__ADS_2