
"Aku mencintaimu, Rayna," ucap Kevano yang lagi-lagi mencoba meyakinkan Rayna.
Rayna terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya ada pria yang menyatakan cinta padanya.
"Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Kevano.
Jantung Rayna berdetak kencang, dadanya terasa bergemuruh hingga sesak dia rasakan.
Entah dia harus menjawab apa, dia pun masih bingung dengan perasaannya.
"Aku--"
"Apa-apaan, ini?" Rayna terkejut saat mendengar suara yang tak asing baginya.
Suara dari seseorang yang beberapa hari ini dia rindukan.
"Ngapain kamu, di sini?" Orang itu berbicara dengan nada membentak, membuat Kevano menelan air liurnya dengan susah payah.
Jantungnya berdetak kencang begitu melihat seseorang yang kini ada di hadapannya. Orang yang tak lain dan tak bukan adalah Randy, papa Rayna.
"Om," sapa Kevano dengan canggung.
"Mau apa kamu di rumah anak saya?" Randy bergegas menghampiri Kevano, tangannya terkepal kuat, dadanya bergemuruh saat melihat Kevano menggenggam tangan Rayna.
Dia tak terima Rayna dekat dengan Kevano.
"Ngapain pegang-pegang?" Randy melepaskan dengan paksa tangan Rayna dan Kevano.
Rayna yang mengerti kemarahan Randy pun, memberikan isyarat pada Kevano agar meninggalkan rumahnya. Namun, bukannya pergi dari sana, Kevano justru diam saja dan terus memperhatikan Rayna.
"Ngapain masih di sini? Sekarang, juga, kamu keluar dari rumah saya ..!" bentak Randy.
"Maaf, Om. Saya datang, ke sini, baik-baik. Saya bukannya mau cari ribut," ucap Kevano.
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan anak saya," ucap Randy dengan nada kesal.
"Bagaimana kalau Rayna-nya justru suka dekat dengan saya?" tanya Kevano.
Randy mengerutkan dahinya sambil melihat ke arah Rayna tengah terlihat gugup. Dia tak habis pikir karena Kevano berani mengatakan semua itu pada Randy.
"Ade suka pada pria tidak sopan, ini?" tanya Randy sambil menatap Rayna dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Rayna menelan air liurnya, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia bisa melihat kekesalan di wajah Randy, Randy memang begitu membenci Kevano.
"Ayo, Rayna. Katakan saja yang sebenarnya, kalau perasaan kita, pun, sama," ucap Kevano.
Jantung Rayna berdetak, dia menatap Kevano dengan dalam. Dia tak mengerti apakah Kevano memang serius padanya atau hanya ingin mempermainkannya, dia bahkan tak pandai menebak isi hati seseorang melalui tatapan mata.
"Aku--" Rayna menggantungkan ucapannya, seolah dia tak yakin dengan jawaban yang akan dia berikan untuk pertanyaan Randy.
Randy mengusap wajahnya, dia menghela napas berat. Dia sungguh tak menyukai Kevano, terlebih kesan pertama Kevano di matanya sangatlah buruk. Seandainya Kevano memiliki etika yang baik, Randy mungkin tak akan melarang Rayna untuk dekat dengan Kevano.
"Enggak, Pa. Aku enggak suka Kevano," ucap Rayna dengan ragu.
Randy tersenyum tipis, meski dia dapat melihat kesedihan di wajah Rayna. Bagaimana pun Randy pria, dia bahkan jauh lebih berpengalaman sebelumnya. Dia bisa melihat wanita sedang jatuh cinta meski hanya melalui ekspresi wajahnya.
Sementara Randy tersenyum, Kevano justru terlihat syok mendengar ucapan Rayna. Dia tak menyangka bahwa Rayna ternyata tak menyukainya. Dia berpikir, Rayna memiliki perasaan yang sama dengannya, karena selama ini pun dia berpikir hubungannya dengan Rayna sudah mulai membaik seiring berjalannya waktu dan cukup seringnya mereka berkomunikasi melalu telepon seluler.
"Kamu dengar? Sekarang, kamu keluar dari rumah saya .." tegas Randy.
Kevano menghela napas berat, sekali lagi dia menatap Rayna yang juga tengah menatapnya.
"Aku harap, itu, jawaban dari hatimu," ucap Kevano, dan berlalu meninggalkan Randy juga Rayna.
Mata Rayna memerah melihat Kevano yang semakin jauh dari pandangannya, sosok Kevano bahkan tak lagi terlihat begitu Kevano benar-benar keluar dari rumahnya.
Sedangkan di dalam rumah Rayna.
Randy menatap intens Rayna, masih terlihat kesedihan di wajah Rayna, meski Rayna berusaha menunjukkan senyum manisnya, seolah menutupi kesedihannya.
"Ade tahu, kan, Papa sayang Ade?" Randy menarik Rayna ke pelukannya, menyalurkan segala perasaan sayang dan rindunya yang dia pendam selama tak bertemu dengan gadis kesayangannya itu.
Rayna mengangguk pelan, dan membalas pelukan Randy.
"Terimakasih sudah menjadi Papa yang baik selama ini, Ade tahu, Papa enggak mau Ade kenapa-kenapa," ucap Rayna.
Randy tersenyum dan mengecup dahi Rayna, dia mengusap lembut kepala Rayna. Dia merasa senang karena Rayna mau berpikir positif tentangnya.
"Tentu saja, Ade, dan Abang, adalah segalanya untuk Papa. Kalian sangat berharga, Papa tidak mau kalian salah memilih teman," ucap Randy.
Rayna tersenyum dan mengangguk, dia melepaskan pelukannya dan melihat ke arah pintu masuk rumah.
"Di mana Mommy?" tanya Rayna. Sejak tadi dia tak melihat keberadaan Dania.
__ADS_1
"Mommy ada di rumah. Papa tidak bilang mau, ke sini. Kebetulan, Papa ada pekerjaan di dekat sini. Karena, itu, Papa sekalian melihat Ade," ucap Randy.
"Apa Papa akan menginap?" tanya Rayna.
"Sepertinya, iya, kalau urusan Papa selesai terlalu malam. Nanti malam, Papa akan ada pertemuan dengan klien dari Perusahaan Opa," ucap Randy.
"Ya sudah, Ade senang kalau Papa mau menginap. Ade sangat merindukan Papa," ucap Rayna.
"Benarkah? Apa sekarang, gadis kecil Papa sudah pintar menggombal?" tanya Randy sambil tersenyum jahil.
Rayna tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Apa ada seorang anak yang menggombal pada orangtuanya?" tanya Rayna.
"Mungkin, entahlah," ucap Randy.
"Ade serius, Pa. Tanpa Papa, dan Mommy, juga Abang, Ade kesepian," ucap Rayna sambil menunjukkan ekspresi sendu.
"Iya, Papa juga kesepian tidak ada kalian, kesayangan Papa," ucap Randy.
Setelah cukup lama berbincang, saling menyalurkan kerinduan, Rayna pun memilih pergi ke kamarnya.
Sementara Randy meminta bibi dan Stefie untuk bertemu dengannya.
Kini di ruang keluarga, hanya ada Randy, Stefie dan juga bibi.
"Bagaimana keseharian Rayna selama tinggal, di sini?" tanya Randy pada Stefie dan bibi.
Stefie dan bibi saling tatap, seolah mengisyaratkan siapa yang akan memberikan jawaban atasan pertanyaan dari majikannya itu?
Randy menatap kedua orang yang kini ada di hadapannya bergantian.
"Bagaimana kuliah Ade?" tanya Randy.
"Semuanya baik-baik saja. Sepertinya, Ade, juga, sudah mulai terbiasa dengan lingkungan di Kampus dan lingkungan sekitar, sini," ucap Stefie.
"Apa dia memiliki teman?" tanya Randy.
"Ya, sepertinya, begitu," ucap Stefie.
"Bagaimana pergaulan temannya?" tanya Randy.
__ADS_1
Stefie menghela napas, pertanyaan Randy terdengar seperti sedang menginterogasi Rayna melalui dirinya.