Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 50


__ADS_3

Rayna dan Kevano memasuki rumah. Kevano melihat sekeliling ruang tamu, tampak sepi dan tak terlihat siapapun di sana.


"Jadi, kamu benar-benar tinggal sendiri, di rumah, ini?" tanya Kevano sambil masih fokus melihat sekeliling.


Dia mengalihkan pandangannya, terlihat Rayna tengah menatapnya dengan tatapan datar.


"Sudah selesai melihatnya?" tanya Rayna dengan nada datar.


Kevano tersenyum.


"Kamu enggak nyuruh aku duduk?" tanya Kevano.


"Oh, nunggu disuruh? Aku pikir, kamu memiliki inisiatif di atas rata-rata," ucap Rayna.


"Apa maksudmu?" tanya Kevano dengan bingung.


"Sudahlah. Jadi, mau apa kamu, ke sini?" tanya Rayna.


"Bertemu kamu," ucap Kevano dengan santai sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Mau apa? Sekarang sudah bertemu, kan? Jadi, katakan. Apa mau kamu, sebenarnya?" tanya Rayna masih dengan nada datarnya.


"Aku kangen kamu. Karena, itu, aku datang, ke sini," ucap Kevano.


Rayna menghela napas pelan, dia bingung menghadapi Kevano.


"Sudah, kan? Sekarang, silahkan pergi dari rumahku, dan jangan pernah kembali lagi," ucap Rayna.


Kevano bangun dari duduknya, dia mencoba mendekati Rayna, tetapi Rayna justru menghindari Kevano.


"Jaga sikapmu ..! Ini, rumahku. Jangan macam-macam ..!" tegas Rayna.


"Tenanglah, aku enggak akan macam-macam. Sudah aku bilang, aku enggak akan maksa kamu, kalau kamu enggak mau," ucap Kevano mencoba menenangkan Rayna.


Dia mengerti, Rayna seperti itu karena sikapnya selama ini selalu buruk terhadap Rayna.


"Apa di pikiranmu hanya ada hal seperti, itu?" Rayna menatap Kevano dengan tatapan tajam.


"Enggak juga. Aku hanya mencoba meyakinkanmu," ucap Kevano.


Rayna mendengus kesal.


"Aku haus," ucap Kevano sambil memegang lehernya.

__ADS_1


Rayna tersenyum tipis. Dia memang sengaja tak mengambilkan air minum untuk Kevano.


Tiba-tiba terlintas ide jahil di kepalanya. Dia pergi menuju dapur dan mengambil gelas.


"Kamu mau minum apa?" Teriak Rayna dari dapur yang tak jauh dari ruang tamu.


"Air putih dingin saja," jawab Kevano.


"Oke," ucap Rayna.


Rayna terus memperhatikan Kevano yang terlihat tengah memainkan ponselnya di sofa. Rayna pun menyeringai, dia mengisi gelas itu dengan air keran. Setelah selesai mengisi setengah gelas itu, dia memasukkan es batu yang sudah dia ambil dari dalam lemari es sebelumnya.


"Nih." Rayna memberikan gelas itu pada Kevano.


Kevano mengerutkan dahinya.


"Kenapa pakai es batu? Kan, bisa air dingin saja," ucap Kevano.


"Ya sudah, jadi diminum enggak, nih? Kalau enggak jadi, ya sudah, sini." Rayna akan merebut gelas yang ada di tangan Kevano, namun Kevano segera menjauhkannya dari Rayna.


"Bukan begitu. Aku akan meminum apapun yang kamu berikan," ucap Kevano dan langsung menenggak air itu.


"Segar?" tanya Rayna sambil tersenyum penuh arti.


"Segar, ditambah sambil melihat wajahmu, semakin segar," ucap Kevano sambil terkekeh.


Rayna pun ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Bukan apa-apa, dia merasa lucu karena Kevano sudah meminum air keran itu.


"Aku rasa bukan karena melihat wajahku," ucap Rayna sambil mendudukkan dirinya berhadapan dengan Kevano.


"Lalu, karena apa?" tanya Kevano penasaran.


"Karena, air ,itu, air keran," ucap Rayna dengan santai.


"Apa?" Kevano terperanjat mendengar ucapan Rayna, dia tak menyangka Rayna akan memberikannya air keran.


Kevano melihat ke arah gelas yang hanya tersisa es batu saja. Dia menelan air liurnya sambil memegangi perutnya.


"Auuwww ..." tiba-tiba saja Kevano meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


Rayna memutar bola matanya, dia sungguh jengah dengan tingkah Kevano yang seolah tengah mencari perhatiannya. Dengan santai Rayna pergi menuju dapur untuk mengambil air minum untuk dirinya. Begitu sampai di dapur, Rayna mengambil segelas air dan langsung menenggaknya sambil melihat ke arah ruang tamu. Tak terlihat ada Kevano di ruang tamu, membuat Rayna kebingungan karena belum lama tadi Kevano masih berada di sana.


Rayna kembali ke ruang tamu tetapi dia di kejutkan saat melihat Kevano tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Kevano !" panggil Rayna.


Tak ada sahutan dari Kevano, Kevano masih tetap bungkam dengan mata terpejam.


Rayna menepuk pipi Kevano dengan ragu, Kevano masih tetap diam, wajahnya mulai memucat, membuat Rayna semakin ketakutan.


"Kak Stefie ..! Bibi ..!" Rayna berteriak, dia sungguh takut melihat keadaan Kevano.


Dari taman belakang, bibi dan Stefie berlari menghampiri Rayna.


"Ada apa, Dek? Siapa pria, ini?" tanya Stefie dengan bingung.


"Tolong, bawa dia ke Rumah Sakit. Aku takut dia kenapa-kenapa," ucap Rayna dengan panik.


Rayna panik, dia syok bukan main. Dia memang ingin mengerjai Kevano, tetapi dia tak pernah menginginkan Kevano celaka parah karenanya.


"Dia kenapa?" tanya Stefie dengan nada yang ikut cemas.


"Jangan tanya, itu, sekarang, Kak. Tolong, bawa di ke Rumah sakit," ucap Rayna.


Stefie mengangguk dan meminta tolong pada bibi untuk membantunya mengangkat tubuh Kevano.


"Astaga, pria ini terlalu berat. Kita tidak akan sanggup membawanya sampai ke mobil," ucap Stefie.


Kevano memiliki tubuh yang tinggi dan berisi, tenaga Stefie dan bibi tak cukup mengangkat tubuhnya.


Rayna yang panik pun langsung berlari keluar dan pergi menuju rumah Guriko. Rayna terus menekan tombol bel rumah Guriko, namun tak ada respon dari Guriko.


"Kemana, sih?" gumam Rayna. Rayna melihat ke arah kunci slot pintu pagar, ternyata tak di gembok. Dia pun membuka pintu pagar dan segera memasuki rumah.


"Guriko ..!" panggil Rayna.


Tak ada sahutan dari Guriko. Namun terdengar suara dari arah lantai atas. Rayna yakin Guriko berada di lantai atas. Dia pun bergegas pergi menuju lantai atas, terlihat pintu kamar Guriko yang tak tertutup rapat.


Brak ..!


"Woh ..! Kamu apa-apaan?" Guriko terkejut bukan main saat Rayna tak sengaja membuka pintu dengan cukup keras sehingga pintu terbentur kencang ke dinding.


Rayna tak mempedulikan ucapan Guriko, Rayna langsung menghampiri Guriko dan menarik Guriko agar ikut dengannya.


"Hey ..! Kamu apa-apaan, sih?" Guriko melihat bingung ke arah Rayna yang terus menarik tangannya. Dia tak bisa menghentikan Rayna karena tangan satunya dia pakai untuk menahan handuk yang sudah akan terlepas dan memperlihatkan tubuh bagian bawahnya.


Ya, Guriko hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia baru saja selesai mandi. Namun dia di kejutkan oleh Rayna yang tiba-tiba saja memasuki kamarnya dan menarik tangannya.

__ADS_1


Rayna tak menyadari keadaan Guriko yang hanya memakai handuk di tubuhnya. Dia terlalu panik melihat keadaan Kevano yang jelas sekali terjadi sesuatu dengan Kevano. Dia merasa bersalah, karena ulahnya yang memberikan Kevano air keran sehingga Kevano meminumnya dan pingsan.


__ADS_2