
Randy menelan air liurnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kaku saat melihat seseorang yang kini ada di hadapannya. Seseorang yang bahkan masih dia ingat jelas wajahnya. Sementara Rayna hanya melihat dengan ekspresi bingung ketika sang papa dan orang itu saling menatap.
"Pa, kenapa bengong?" tanya Rayna yang tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Randy.
"A-apa? Ade bilang apa, barusan?" Randy terlihat gugup, entah apa yang ada di pikirannya begitu melihat wanita cantik dan dewasa yang kini ada di hadapannya. Dia lah klien yang akan membahas urusan pekerjaan dari perusahaan almarhum sang papa, yang tak lain dan tak bukan adalah Bella, wanita yang pernah tanpa sengaja hampir dia rebut kesuciannya. Randy sendiri tak mengetahui jika kliennya yang bernama Bella itu adalah Bella yang dia kenal. Ingatan Randy memang masih kuat, dia masih ingat pada Bella.
"Halo. Apa kabar, Pak Randy?" tanya Bella dengan ekspresi yang terlihat biasa saja, dengan tangannya yang terulur menyambut tangan Randy. Tak ada rasa canggung, dia terlihat begitu profesional berhadapan dengan Randy. Namun tak ada yang tahu apa yang Bella pikirkan saat ini, entah dia masih ingat kejadian yang sudah berlalu lebih dari dua dekade itu, atau memang dia sudah melupakannya.
"Ah, iya. Halo, kabar Saya baik. Bagaimana dengan Anda?" Randy memasang ekspresi wajah yang sebisa mungkin dia buat biasa saja agar Rayna tak mencurigainya.
"Kabar baik, apa gadis cantik, ini, putri Anda?" Bella melihat ke arah Rayna dan menyunggingkan senyum manisnya.
"Oh, iya. Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Randy dengan bingung. Dia bahkan belum memperkenalkan Rayna pada Bella.
"Karena, dia mirip sekali dengan istri Anda," jawab Bella dengan masih menyunggingkan senyum manisnya. Usia Bella mungkin tak muda lagi, tetapi wajahnya masih terlihat cantik dan terlihat awet muda.
Randy tersenyum canggung dan menarik kursi untuk Rayna.
"Duduk, lah!" ucap Randy. Rayna tersenyum dan mendudukkan dirinya di atas kursi, dan diikuti oleh Randy yang juga duduk di sebelah Rayna.
"Anda mau pesan minum apa?" tanya Bella.
"Kopi, boleh," ucap Randy.
"Baiklah, kamu?" tanya Bella pada Rayna.
"Orange juice," jawab Rayna.
Bella mengangguk dan memanggil pelayan Restoran, dan memesankan minuman untuk Rayna juga Randy.
"Baiklah, sambil menunggu. Kita mulai saja meeting-nya," ucap Bella.
"Tentu," jawab Randy.
Rayna merasa canggung karena diam dan terus memperhatikan Randy juga Bella. Dia bangun dari duduknya dan pamit pada Randy untuk pindah ke meja lain begitu pesanan minumannya datang.
Rayna memilih duduk di tempat yang berada cukup jauh dari meja Randy, sambil menunggu meeting Randy selesai, dia pun memilih memainkan ponselnya. Ditengah kegiatannya, terdengar seseorang yang menarik kursi yang berada bersebelahan dengan mejanya.
"Kamu mau minum apa?" tanya seorang pria pada wanita yang datang bersamanya.
Suara mereka mengalihkan perhatian Rayna. Rayna mengerutkan dahinya saat melihat pria itu yang tak lain adalah Guriko. Ya, Guriko datang bersama Byanka. Rayna menghela napas perlahan, dia pun kembali memainkan ponselnya.
"Loh, hai," sapa Byanka yang membuat Rayna menoleh ke arah Byanka.
Rayna melihat sekeliling, tetapi Byanka justru melambaikan tangannya ke arah Rayna.
"Aku?" tanya Rayna sambil menunjuk dirinya sendiri.
Guriko yang baru menyadari kehadiran Rayna pun mengerutkan dahinya. Dia melihat sekeliling, berharap menemukan seseorang yang datang bersama Rayna.
"Kamu disini juga?" tanya Guriko.
"Hum ..." jawab Rayna.
"Sama siapa?" tanya Guriko.
"Kelihatannya?" jawab Rayna datar.
"Sendiri?" tanya Guriko lagi.
__ADS_1
Rayna menggelengkan kepalanya, dia memilih memainkan ponselnya kembali. Sementara Guriko hanya menggidigkan bahunya. Dia tak mengerti maksud Rayna.
Tak lama, terdengar dering ponsel Byanka. Byanka pun pamit pada Guriko setelah menjawab telepon tersebut, dan mencium pipi Guriko. Rayna yang tak sengaja melihat kejadian itu pun hanya melotot tak percaya. Dia benar-benar tak habis pikir, karena Byanka begitu berani mencium Guriko di depan umum.
"Ray!" panggil Guriko.
Rayna tak menghiraukan panggilan Guriko, hingga Guriko kembali memanggilnya. Namun, lagi-lagi Rayna tak menoleh ke arah Guriko. Guriko menghela napas dan bangun dari duduknya.
"Loh, ngapain?" tanya Rayna terkejut, karena Guriko tiba-tiba duduk di mejanya.
"Nemenin kamu," jawab Guriko.
"Apa? Kenapa?" tanya Rayna bingung.
"Dari pada kamu sendirian aja," jawab Guriko.
"Siapa bilang?" tanya Rayna bingung.
"Kamu, kan?" jawab Guriko.
"Kapan?" tanya Rayna lagi.
Guriko menghela napas agak kasar, dia mengambil gelas minuman Rayna dan menyodorkannya pada Rayna.
"Minum dulu. Kayaknya, kamu kekurangan cairan," ucap Guriko.
Rayna mengambil gelas itu dengan bingung.
"Dasar, cowok aneh," gumam Rayna.
"Aku denger, loh," ucap Guriko.
Rayna hampir tersedak mendengar ucapan Guriko. Dia menatap Guriko dengan tatapan tajam.
"Astaga, salah tempat kalau mau gombal. Mendingan, kamu gombalin aja pacar kamu," ucap Rayna sambil menyunggingkan seringai sinis.
"Loh, itu nggak gombal, loh. Kalau gombal itu, kayak gini." Guriko menggeser posisi kursinya sehingga menjadi lebih dekat dengan Rayna.
"Menurut kamu, bunga plastik ini, cantik nggak?" tanya Guriko sambil memegang bunga plastik yang berada di dalam vas bunga diatas meja.
"Cantik," jawab Rayna datar.
"Kamu salah," ucap Guriko.
"Salahnya?" tanya Rayna bingung.
"Karena, bunga ini nggak nyata. Kamu tahu, yang cantik itu adalah kamu, kamu yang saat ini begitu nyata ada di hadapan aku," ucap Guriko lembut.
Rayna terdiam setelah mendengar ucapan Guriko.
Ha-ha-ha ...
Guriko tertawa keras melihat ekspresi Rayna yang terlihat begitu lucu.
"Kamu sakit? Apanya yang lucu?" tanya Rayna bingung.
"Kamu," jawab Guriko.
"Aku?" ucap Rayna bingung.
__ADS_1
Guriko mengangguk sambil masih tertawa. Dia bahkan memegang perutnya karena tak tahan melihat kepolosan Rayna.
"Iya, kamu lucu banget," ucap Guriko.
"Apanya? Apa ada sesuatu di wajah aku?" tanya Rayna panik sambil memegang wajahnya.
Guriko menggelengkan kepala, lagi-lagi dia mengambil gelas minum milik Rayna, dan memberikannya pada Rayna.
"Minum lagi, kamu butuh banyak minum," ucap Guriko sambil terkekeh.
"Apa sih? Aneh banget," ucap Rayna kesal.
"Kamu baper, ya?" tanya Guriko.
"Maksudnya? Baper apa?" tanya Rayna bingung.
"Baper, barusan aku gombalin," ucap Guriko sambil tersenyum.
Rayna mengerutkan dahinya. "Biasa aja," jawab Rayna.
"Masa, sih?" tanya Guriko.
"Hum ..." jawab Rayna sambil menyesap minumannya.
"Tapi, kok, ekspresi wajah kamu, tadi ga nunjukkin, kalo kamu biasa aja," ucap Guriko sambil tersenyum.
"Apa, sih?" Rayna mulai kesal dengan Guriko. Dia merasa sedang dipermainkan oleh Guriko.
"Iya. Kayaknya, kamu baper, gitu," ucap Guriko.
Rayna menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Dia menatap Guriko dengan tatapan tajam.
"Dengar, ya. Aku nggak baper! Aku sama sekali nggak baper!" tegas Rayna.
Guriko terkekeh, dan memberikan isyarat agar Rayna tenang.
"Oke, oke. Jangan marah. Baguslah, kalau kamu nggak baper," ucap Guriko.
Rayna mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya. Dia sungguh kesal pada Guriko. Wajahnya bahkan terlihat memerah.
"Berarti, kamu bisa bedain, mana yang nyata, mana yang nggak," ucap Guriko.
"Maksudnya?" tanya Rayna bingung.
"Iya. Tadi, itu, kan, aku cuman bercanda," ucap Guriko.
"Apa? mkasudnya?" tanya Rayna semakin bingung.
"Ya, terkadang, kamu harus bisa membedakan, mana ungkapan yang tulus dan nggak. Yang tadi, itu, aku nggak benar-benar tulus ucapinnya. Karena--" Guriko menghentikan ucapannya, membuat Rayna yang tengah mendengarkan dengan seksama menjadi dibuat penasaran.
"Karena apa?" tanya Rayna.
"Ya, karena, kamu nggak cantik," ucap Guriko sambil terkekeh.
Rayna membulatkan matanya.
Dugh ...
"Oh My God, tulang kering gue," ringis Guriko saat tiba-tiba Rayna menendang tulang kering Guriko.
__ADS_1
"Rasain!" geram Rayna dan pergi meninggalkan Guriko yang masih meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Astaga, dia benar-benar bukan perempuan," gumam Guriko sambil memperhatikan Rayna yang mulai menjauhinya.