
Rayna terdiam mendengar kata cinta dari Kevano. Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang.
Rayna menghela napas dan menatap Kevano dengan berani.
"Aku nggak tahu meski bilang apa," ucap Rayna.
"Kamu cukup dengarkan kata hati Kamu," ucap Kevano.
"Terkadang, ada perasaan yang Aku sendiri sulit untuk menjelaskan. Aku takut," ucap Rayna.
"Apa yang Kamu takutkan?" tanya Kevano.
"Aku takut sama Papa dan Mommy, Aku takut kecewakan mereka. Banyak hal yang Aku takutkan, dan ada hal lain yang buat Aku nggak mau kenal cinta untuk sekarang," ucap Rayna.
"Apa?" tanya Kevano penasaran.
"Aku nggak mau menikah muda, Aku nggak mau kuliahku berantakan. Begitu besar harapan Papa dan Mommy sama Aku, Aku nggak mau kecewakan mereka aja, sih, intinya," ucap Rayna.
Kevano menghela napas panjang. Ia sudah mengerti maksud ucapan Rayna dan lagi-lagi ia pun gagal mengambil hati Rayna.
"Aku mengerti, kesalahanku di masa lalu memang buat orangtua Kamu kecewa, dan Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Tapi, Rayn. Ketahuilah, seorang pendosa sekalipun berhak untuk bahagia. Tapi mungkin belum saatnya untuk Aku bisa dapat balasan cinta dari Kamu. Aku ngerti, Kayaknya Aku benar-benar nggak akan pernah nemuin Kamu lagi. Aku takut, perasaanku semakin nggak terkendali saat kita bertemu," ucap Kevano sambil tersenyum. Tak ada yang tahu isi hatinya, dia hancur mendapatkan penolakan dari Rayna.
Lagi-lagi Kevano menghela napas dan bangun dari duduknya.
"Jaga dirimu, Aku bahagia pernah mengenalmu," ucap Kevano dan keluar dari rumah Rayna.
Rayna terdiam sambil menundukkan kepalanya. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.
Maaf, gumam Rayna.
Jika Kevano merasakan hatinya hancur, begitupun dengan Rayna. Entah mengapa hatinya benar-benar sakit mendengar Kevano bicara seperti itu.
Apa Aku salah bicara? Apa dia benar-benar nggak akan pernah datang lagi? gumam Rayna.
Rayna terisak bagaikan anak kecil yang kehilangan mainannya. Dia benar-benar sedih. Kenapa semesta seolah tak berpihak padanya? Dia memikirkan orangtuanya yang sudah begitu baik dan penuh kasih sayang menjaganya, dia tak akan mungkin tega mengecewakan orangtuanya. Di sisi lain, dia pun tak mengerti dengan perasaannya pada Kevano.
Apa Aku mencintainya? batin Rayna.
__ADS_1
Rayna tak dapat lagi menahan rasa sesaknya, tangisnya semakin pecah.
"Ya ampun, Adek!" Stefie dan bibi yang baru saja masuk ke rumah pun terkejut melihat Rayna menangis. Stefie bergegas menghampiri Rayna dan memeluk Rayna.
"Ada apa?" tanya Stefie.
Rayna masih saja terisak, bibirnya sulit untuk mengatakan sesuatu akibat tangisnya yang masih saja tak berhenti. Bibi pun bergegas mengambil air minum dan Rayna langsung meminumnya.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Stefie. Rayna menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia bagaikan anak kecil, wajahnya masih terlihat menggemaskan meski tengah menangis.
"Baiklah, kita ke kamar saja!" ajak Stefie dan Rayna pun menurut.
Mereka pergi menuju kamar Rayna. Stefie menutup pintu kamar Rayna dan menguncinya.
"Ada apa sebenarnya? Bukankah tadi Ade tidur? Lalu, kenapa Ade menangis seperti ini? Apa yang buat Ade jadi sedih seperti ini?" tanya Stefie bingung.
Rayna mengusap air matanya. Dia melihat Stefie dengan tatapan sendu.
"Apa Kakak pernah jatuh cinta?" tanya Rayna. Stefie mengerutkan dahinya. Dia merasa bingung mendengar pertanyaan Rayna.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Rayna.
Stefie menghela napas dan tersenyum.
"Merindu saat kita jauh dari orang yang kita cintai, ada rasa sakit saat melihatnya dekat dengan orang lain, hari-hari terasa indah saat bersamanya, ada perasaan tak rela jika berpisah dengannya," ucap Stefie.
"Lalu? Apa cinta benar-benar seindah itu?" tanya Rayna.
"Tidak selalu, mencintai tak selalu indah. Terkadang, ada cinta yang menyakitkan," ucap Stefie.
"Cinta yang seperti apa yang menyakitkan?" tanya Rayna.
"Cinta yang tak terbalas, cinta yang tak sesuai harapan kita, sehingga menimbulkan kekecewaan," ucap Stefie.
"Apa Ade sedang jatuh cinta?" tanya Stefie.
Rayna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ade nggak tahu. Terkadang, Ade benci melihatnya, tapi juga terkadang rindu ingin melihatnya. Ade bingung dengan perasaan Ade sendiri. Ade nggak pernah ngerasain jatuh cinta. Tapi, yang buat Ade bingung, ada perasaan sakit yang susah Ade jelaskan saat dengar dia bilang nggak akan nemuin Ade lagi," ucap Rayna. Tak terasa Rayna kembali meneteskan air matanya.
"Ada yang seperti itu, lebih senang menyiksa dirinya sendiri. Ade tahu apa penyebabnya?" ucap Stefie.
Rayna menggelengkan kepalanya.
"Karena gengsi," ucap Stefie.
Rayna menundukkan kepalanya.
"Wanita tidak seperti pria. Wanita cenderung malu mengakui perasaannya sendiri, tetapi wanita pun berhak bahagia. Tak ada salahnya mengungkapkan perasaan di depan orang yang dicintai," ucap Stefie.
"Ade takut," ucap Rayna.
"Takut apa?" tanya Stefie.
"Takut Papa sama Mommy marah, karena mereka ga suka sama dia," ucap Rayna.
"Apa dengan memendam, perasaan Ade menjadi lebih baik?" tanya Stefie.
Rayna menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, ungkapkan saja. Jika kalian saling mencintai, kalian akan sama-sama berjuang menjalaninya," ucap Stefie.
"Tapi--" Rayna menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Stefie penasaran.
"Dia udah pergi. Dia bilang nggak akan ganggu Ade lagi saat Ade nolak dia," ucap Rayna.
Stefie menghela napas.
"Kalau begitu, jalani keputusan yang sudah Ade ambil. Cinta juga terkadang tak harus dipaksakan. Jika kalian ditakdirkan untuk bersama, apapun jalannya, sejauh apapun jarak diantara kalian saat ini, Tuhan akan mempersatukan kalian," ucap Stefie.
"Lagipula, tak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya. Orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Untuk saat ini, Ade masih terlalu muda, itu sebabnya mungkin mereka nggak mau Ade mengenal cinta terlebih dahulu," ucap Stefie.
"Masih banyak waktu, masa depan Ade masih panjang. Lakukan yang terbaik, maka Ade akan mendapatkan yang terbaik. Percayalah, cinta tak akan salah memilih tuannya. Kalau jodoh nggak akan kemana, kok," ucap Stefie tersenyum dan mengusap lembut kepala Rayna. Dia begitu menyayangi Rayna dan sudah menganggap Rayna seperti adiknya sendiri, karena itu dia pun ingin yang terbaik untuk Rayna. Stefie sebetulnya tahu, siapa pria yang Rayna maksud, dan apa penyebab orangtua Rayna tak suka pada pria itu, hanya saja Stefie tak ingin membuat Rayna semakin sedih saat mendengar nama pria itu.
__ADS_1