
Rayna sampai di Kantor Raka. Kini dia tengah berada di ruangan Raka. Di sana sudah ada dua orang pekerja yang juga akan membantu Rayna. Rayna hanya tinggal memberikan arahan pada kedua pekerja itu.
Rayna duduk di kursi, dia membuka laptopnya. Dia melihat design yang sebelumnya sudah dia buat contoh untuk design baru ruangan kerja Raka. Setelah itu, Rayna memperhatikan kedua pekerja itu yang sudah memulai pekerjaannya.
"Hai, Rayn!"
Rayna melihat ke pintu, terlihat Raka yang baru saja masuk ke ruangan itu.
Rayna bangun dari duduknya. Namun, Raka memintanya untuk tetap duduk. Rayna pun duduk kembali dan Raka menghampirinya.
"Gimana? Ada kesulitan di hari pertama?" tanya Raka sambil memperhatuikan ruangan kerjanya yang kini kosong tanpa proferti kerjanya. Di sana hanya ada material yang dibutuhkan untuk pengerjaan ruangannya.
Rayna menggeleng dan tersenyum.
"Semuanya masih permulaan, aku harap cepet selesai, sih. Nggak ada masalah apapun," ucap Rayna.
"Hm ... Udah sarapan?" tanya Raka.
"Udah, kok. Aku nggak bisa kalau nggak sarapan. Bayiku bisa marah nanti," ucap Rayna.
Raka terkekeh. Dia pun pamit menuju ruang kerjanya. Dia akan memulai pekerjaannya.
Jam makan siang.
Raka memasuki ruangan Rayna, dia mengajak Rayna untuk makan siang bersama. Rayna pun menyetujuinya.
Mereka pergi menuju restoran yang berada tak jauh dari Kantor. Bahkan restoran itu masih berada di gedung yang sama. Hanya berbeda lantai saja.
Dan kini, mereka sudah berada di restoran tersebut.
"Rayn, Papa udah lama katanya nggak ketemu kamu," ucap Raka.
Rayna tersenyum. Dia memang sudah lama tak bertemu Riko. Terakhir saat acara perpisahan di hotel.
"Nah, itu Papa!" Rayna mengikuti arah pandang Raka dan terlihatlah Riko tengah berjalan menuju mejanya.
"Lho ... Om Riko ke sini juga?" ucap Rayna.
__ADS_1
"Iya, dia bilang tadi pagi. Katanya, mau mampir ke Kantor pas makan siang," ucap Raka.
"Rayn!" panggil Riko.
Rayna tersenyum dan bersalaman dengan Riko. Kini mereka duduk bertiga. Melanjutkan makan siang bersama.
"Gimana kabar Mommy?" tanya Riko.
"Baik, Om. Main aja, Om, ke Rumah. Ketemu Papa sama Mommy," ucap Rayna tersenyum.
Riko tersenyum. Dia pun ingin bertemu Dania. Rindu sekali rasanya pada teman masa kecilnya sekaligus mantan kekasihnya itu. Jika saja waktu dapat kembali ke masa lalu, mungkin Riko akan memilih tak pernah menjadi kekasih Dania. Meski itu hanya sebatas cinta masa remaja, tetapi membuatnya merasa canggung setiap kali bertemu Dania. Apalagi Randy yang tahu pernah adanya hubungan antara Dania dan Riko. Randy bahkan pernah membenci Riko.
"Nanti lah, kapan-kapan Om main," ucap Riko.
Rayna tersenyum dan mengangguk.
Selesai makan siang.
Rayna dan Raka kembali ke Kantor. Sedangkan Riko pergi untuk urusan lainnya. Rayna kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitupun dengan Raka.
Hingga waktu berlalu, dan sudah menunjukkan jam pulang kantor.
"Suami kamu nggak siapin supir? Kok, nyetir sendiri? Kamu kan lagi hamil, Rayn," ucap Raka.
"Aku hamil, bukan sakit parah. Masih bisa nyetir," ucap Rayna tersenyum sekilas.
Raka terkekeh. Betul juga ucapan Rayna. Hanya saja, Raka bingung. Kenapa Kevano tak memberikan supir untuk Rayna? Riko sendiri paham pekerjaan Kevano tak memungkinkan Kevano untuk selalu mengantar Rayna ke mana pun Rayna pergi. Namun, dengan memberikan supir untuk Rayna, dapat mempermudah Rayna ketika bepergian. Setidaknya, Rayna juga tak terlalu kelelahan akibat menyetir sendiri.
"Aku pulang, ya," ucap Rayna sambil berlalu masuk ke mobilnya.
Raka melambaikan tangannya. Dia menunggu Rayna hingga benar-benar melajukan mobilnya keluar dari area basemant dan barulah dia pergi dari sana.
Senja sudah semakin terlihat, jalanan cukup padat karena bersamaan jam pulang kantor. Rayna sedikit bosan karena menjadi lama sampai di apartemen. Rasanya lelah sekali seharian ini, dia ingin segera sampai di apartemen dan istirahat.
*****
Pukul tujuh malam, Rayna baru sampai di apartemen. Dia menggerutu karena jalanan Ibukota begitu padat tadi. Tak seperti di Australia yang tak begitu padat menurutnya. Dan itu membuat mood-nya sedikit terganggu.
__ADS_1
"Mbak Rayna baru pulang? Apa ada masalah?"" tanya bibi.
"Jalanan macet banget, Bi. Aku lelah, mau istirahat," ucap Rayna.
"Ya sudah, Bibi juga mau pamit pulang, ya. Nggak apa-apa, kan, Mbak di sini sendirian?" tanya Bibi.
Semenjak ada Rayna, Kevano memang meminta bibi hanya datang saat pagi hingga sore hari. Dan malam hari, Kevano sengaja hanya ingin berdua dengan Rayna di apartemen itu.
"It's okay, Bi. Hati-hati, ya," ucap Rayna.
Bibi pergi dari apartemen. Kini tinggal Rayna sendiri di apartemen itu.
Rayna pergi ke kamarnya dan menyimpan tasnya. Dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, dia memakai dress hamil yang panjang dress-nya sedikit di atas lutut karena perutnya yang membuncit.
Rayna merapikan rambutnya dan dia akan bersiap tidur. Rayna teringat Kevano, entah Kevano akan pulang jam berapa. Rayna berniat mengambil ponselnya, tetapi Rayna urungkan karena dia masih kesal pada Kevano.
Tak lama, sebuah panggilan dari Kevano masuk ke ponselnya. Dia mengambil ponselnya dan melihatnya sesaat. Setelah itu dia simpan ponsel itu di atas laci nakas. Dia memilih merebahkan tubuhnya dan tak lama tertidur. Tubuhnya benar-benar merasa lelah.
Di sisi lain.
Di sebuah restoran, Kevano berkali-kali melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, seseorang yang dia tunggu tak kunjung datang.
Ya, dia menunggu Rayna. Harusnya, malam ini mereka makan malam bersama.
Pagi tadi, Kevano sudah menitipkan sebuah pesan pada Rayna melalui selembar surat yang dia titip pada bibi. Namun, sampai saat ini Rayna tak juga datang ke restoran itu.
'*Apa dia masih marah? Atau jangan-jangan, dia nggak baca isi surat itu,' batin Kevano.
'Atau dia baca suratnya, tapi dia udah terlanjur benci sama aku. Makanya, dia nggak datang*."
Kevano menghela napas. Sudah satu setengah jam dia menunggu Rayna. Bosan sekali rasanya. Rayna pun tak menjawab panggilannya, meski panggilannya tersambung.
Kaki Kevano tak bisa diam, menandakan dia benar-benar bosan menunggu cukup lama. Kevano menarik napas dalam dan mengembuskannya kasar. Dia meletakan selembar uang pecahan seratus ribu untuk membayar minuman yang dia pesan sebelumnya. Setelah itu dia pergi dari restoran.
Dengan kesal, Kevano memakai helmnya. Dia duduk di motor dan menyalakan motornya. Dia melajukan motornya menuju apartemen.
__ADS_1
Selama di perjalanan menuju apartemen, Kevano tak hentinya memikirkan alasan Rayna tak datang menemuinya. Jika memang Rayna membaca surat itu, harusnya Rayna akan mengerti dan takan marah lagi padanya. Namun, jika Rayna memang membaca isi surat itu, tetapi Rayna tetap marah padanya, bahkan tak ingin menerima alasan apapun. Kevano sungguh merasa kecewa pada Rayna. Bagaimana pun, entah apa yang akan terjadi pada Rayna kecil di masa lalu, jika dia tak melakukan hal itu. Niatnya hanya ingin melindungi Rayna. Di usia remajanya, dia bahkan tak pernah terpikir untuk melakukan hal gila seperti apa yang Rayna tuduhkan.