
Randy dan Dania saling melihat satu sama lain. Mereka tak habis pikir karena ada saja gangguan ditengah kegiatan mereka.
"Siapa, sih? Ganggu aja," ucap Randy kesal. Gairahnya seketika drop.
Dania menggelengkan kepalanya dan memakai kembali bathroobs-nya.
"Biar Aku yang buka," ucap Dania. Randy mengambil selimut dan menutupi tubuh polosnya. Dania pun bergegas menuju pintu dan membukanya. Dania mengerutkan dahinya saat melihat bibi yang ternyata mengetuk pintu.
"Ada apa, Bi?" tanya Dania heran.
"Maaf, Bu. Ini tas Bapak tertinggal di meja kolam renang," ucap bibi.
Dania mengambil tas tersebut. Randy benar-benar ceroboh hingga meninggalkan tas kerjanya di meja dekat kolam renang.
"Makasih, Bi. Istirahatlah, sudah malam," ucap Dania.
Bibi tersenyum dan pamit menuju kamarnya.
"Tas Kamu ketinggalan di kolam," ucap Dania sambil meletakkan tas kerja Randy di atas meja nakas-nya.
"Ya ampun, Aku lupa, Yang," ucap Randy.
Dania menggelengkan kepalanya dan kembali naik ke tempat tidur.
"Sepertinya, bikin dede-nya di tunda dulu," ucap Dania.
"Hah! Jangan, dong, Yang. Tanggung, nih," ucap Randy. Dania pun terkekeh.
__ADS_1
"Emang masih mau?" tanya Dania.
"Mau, dong," ucap Randy dan tanpa menunggu lagi dia langsung mencium bibir Dania.
Dania kewalahan mengimbangi Randy, gairah Randy masih saja tetap sama seperti saat muda dulu. Pria memang berbeda dengan wanita. Meski di usia lanjut, pria tak akan kehilangan gairahnya.
"Yang, pelan-pelan, dong," ucap Dania begitu ciuman mereka terlepas.
Randy tersenyum dan mengecup lembut dahi Dania.
"I love you," ucap Randy.
"I love you too," balas Dania.
Randy melepaskan bathroobs Dania. Gairahnya sudah sangat memuncak, sehingga dia tak mampu lagi menahannya. Tanpa menunggu lama, Randy memulai kegiatan panas mereka.
Desahan keduanya tak terelakkan keluar dari mulutnya dengan spontan akibat kenikmatan yang luar biasa. Rasa keduanya tak pernah berubah meski dua puluh tahun sudah pernikahan mereka, dan cinta lah yang membuat keduanya tak pernah merasa bosan satu sama lain.
Cinta keduanya layaknya mengalahkan semua rasa. Rasa yang tak pernah Randy dan Dania alami. Pahit, manis, sedih, bahagia, semua itu sudah pernah mereka rasakan. Bagaimana sulitnya mempertahankan cinta mereka dari banyaknya rintangan hingga keduanya mampu melewati segala rintangan tersebut dan bertahan hingga saat ini.
Keduanya berbaring sambil mengatur napas yang tak beraturan. Keduanya telah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Randy tersenyum dan melihat melihat Dania yang masih mengatur napasnya.
"Apa Kamu tahu, Yang? Dari dulu, Kamu nggak berubah. Rasanya masih sama seperti saat kita baru menikah dulu. Benar-benar menakjubkan," ucap Randy.
Dania terkekeh. Telinganya tergelitik mendengar ucapan Randy. Namun, dia juga merasa bahagia mendengar pujian itu. Dia bahagia karena Randy tak pernah bosan padanya hingga tak pernah mencari wanita lain.
"Kalau Aku gimana, Yang?" tanya Randy sambil merubah posisinya dengan kepala tertumpu tangannya dan berhadapan dengan Dania.
__ADS_1
"Kamu juga nggak ada yang berubah, masih sama kayak dulu," ucap Dania.
Randy tersenyum lebar, dia merasa bangga mendengar jawaban Dania.
"Masih strong, ya, Yang," ucap Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Terus? Apa, dong?" tanya Randy bingung.
"Masih mesum nggak ketulungan," ucap Dania sambil terkekeh.
Randy pun ikut terkekeh dan mencubit gemas kedua pipi Dania.
"Kamu harus bersyukur, karena punya suami yang mesum. Gairahnya nggak akan pernah berkurang, bahkan nggak akan pernah hilang," ucap Randy.
"Masa, iya, sih." Dania melihat Randy seolah tak percaya.
"Iya, apalagi Istrinya kayak Kamu. Udah, deh. Aku berasa muda terus," ucap Randy sambil tersenyum.
"Muda apanya? Mungkin, nggak lama lagi kita akan menjadi Opa, dan Oma," ucap Dania sambil terkekeh.
Randy terperanjat dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Nggak akan ada pernikahan di usia muda untuk anak-anak kita. Masa depan mereka masih panjang," ucap Randy dan pergi menuju kamar mandi.
Dania menghela napas, sepertinya dia sudah salah bicara. Niatnya hanya ingin bercanda, dan hanya ingin menjahili Randy. Namun, dia melupakan satu hal. Randy tak suka jika membahas sesuatu tentang anak-anaknya yang mengarah kepada pernikahan usia dini. Randy pun tak suka anak-anaknya mengenal cinta di usia saat ini, Randy ingin anak-anaknya tak memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Terlebih Raydan dan Rayna tentu masih sangat muda. Randy ingin anak-anaknya memikirkan masa depan mereka tanpa memikirkan masalah cinta.
__ADS_1