
Rayna terkejut melihat Kevano tiba-tiba saja berteriak. Dia bahkan sampai tak sengaja menjatuhkan piring di tangannya.
"Hei! Are you okay?" Kevano tampak cemas melihat keadaan Rayna.
"I am okay, kamu kenapa? Kok, kayak kaget gitu," ucap Rayna heran.
"Kamu berdarah, Sayang. Liat deh, belakang kamu," ucap Kevano sambil melihat ke arah bokong Rayna.
Rayna membulatkan matanya. Dia menutupi bokongnya dan segera berlari menuju kamar. Dia bergegas menuju kamar mandi, dan mengunci pintunya.
Jantung Rayna berdegup kencang, memalukan sekali karena hal itu terjadi di depan suaminya sendiri. Terkesan jorok sekali.
Kevano yang merasa cemas pun mengikuti Rayna, berkali-kali dia mengetuk pintu kamar mandi. Entah apa yang terjadi pada istrinya itu.
"Kamu kenapa, sih? Kenapa bisa sampai berdarah? Apa kamu terluka?" teriak Kevano dari luar kamar mandi.
"Aku baik-baik aja!" pekik Rayna.
Dahi Kevano berkerut, bagaimana bisa dia baik-baik saja saat terlihat keluar darah?
Beberapa saat menunggu, Rayna keluar menggunakan handuknya. Dia pun terlihat malu sekali melihat Kevano.
"Kenapa, sih? Apa perlu ke dokter?" tanya Kevano cemas.
"Aku nggak apa-apa, itu aku nggak tahu kalau darah menstruasiku sampai seperti itu," ucap Rayna.
Kevano membulatkan matanya, dia pikir Rayna terluka hingga mengeluarkan darah. Namun, diluar dugaannya. Lagipula, bisa-bisanya dia melupakan bahwa Rayna tengah dalam masa menstruasi. Kevano pun baru pertama kali melihat hal seperti itu. Karena itu dia merasa cemas, dia takut Rayna terluka.
"Aku cemas, aku pikir kamu terluka," ucap Kevano.
"Maaf, ya," ucap Rayna.
"Udahlah, yaudah kamu mau apa sekarang? Butuh sesuatu?" tanya Kevano.
"Keluar dulu dari kamar," ucap Rayna tersenyum.
Kevano pun tersenyum dan keluar dari kamar. Sementara Rayna memakai roti Jepangnya yang Ralisya berikan saat itu.
Rayna mengganti pakaiannya dengan piyama, dia menyisir rambutnya sebentar. Rasanya dia jadi senang bercermin setelah menikah dengan Kevano. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan setelah itu dia keluar dari kamar.
Rayna menghampiri Kevano yang tengah duduk di ruang tamu, menikmati acara televisi.
"Udah selesai?" tanya Kevano.
Rayna mengangguk.
"Ya udah istirahat. Btw, aku mau packing barang-barangku dulu, besok pagi menejerku jemput aku, jadi aku nggak bawa mobil. Mobil itu, kamu pake aja buat kamu pergi, karena aku cuma punya satu mobil, nggak mungkin kan kamu pake motor," ucap Kevano tersenyum.
"Ya udah, aku juga mau bantu," ucap Rayna.
"Yuk!" ajak Kevano. Mereka pun pergi ke kamar.
Rayna memperhatikan Kevano yang tengah membuka kopernya. Dia meminta Rayna mengambilkan beberapa baju untuk tampilnya nanti.
"Aku nggak ngerti, baju apa yang biasa kamu pake saat manggung?" ucap Rayna.
"Apa aja, aku simpel kok orangnya. Lagipula, aku keren pake apapun," ucap Kevano terkekeh.
__ADS_1
Rayna memutar bola matanya, ternyata suaminya itu sok ganteng sekali. Meski sebetulnya memang ganteng, pikir Rayna.
Rayna mengambil beberapa baju yang menurutnya cukup untuk waktu tiga hari. Kevano pun langsung memasukan baju-baju itu ke koper.
"Periksa dulu, udah benar belum itu?" ucap Rayna.
"Udah ah, aku percaya sama istri aku. Ngapain juga aku cek lagi," ucap Kevano tersenyum. Rayna tersenyum dan menutup lemari. Selesai packing, Kevano memasukan gitar yang akan dibawanya ke dalam tas gitarnya. Setelah itu meletakannya di atas koper.
"Capek, ya. Bobo, yuk!" ajak Kevano.
Rayna tersenyum geli mendengar kata 'bobo,' Kevano bisa manis juga.
Keduanya berbaring di tempat tidur, jarak keduanya terpaut beberapa centi.
"Jauh amat, di angkot aja dempetan," ucap Kevano.
Rayna terkekeh dan mendekati Kevano. Kevano pun memeluk Rayna.
"Good night, Sayang," ucap Kevano dan mengecup kepala Rayna.
Mereka pun terlelap.
Keesokan harinya.
Sebelum shubuh, Kevano sudah bangun. Siang nanti dia akan mengisi acara. Sedangkan Rayna masih terlelap dalam mimpinya. Dia pun tak ingin mengganggu tidur Rayna. Pasti Rayna lelah sekali.
Kevano mengambil ponselnya, ternyata sudah ada menejernya di bawah. Kevano pun memintanya untuk naik dan masuk ke apartemennya terlebih dahulu.
Karena sudah terbiasa, sesampainya di unit apartemen Kevano, menejernya pun masuk tanpa menekan bel. Dia menunggu di ruang tamu.
Di kamar, Kevano sudah selesai bersiap. Dia menyeret koper dan membawa gitar miliknya. Memberikannya pada menejernya.
"Masih tidur," ucap Kevano.
"Beruntung sekali, wanita yang pertama kali masuk ke apartemenmu, dialah yang menjadi istrimu," ucap sang menejer yang sekaligus temannya juga. Sayangnya, dia tak beruntung saat itu. Dia dikira Kevano, membawa Rayna ke apartemen itu, dan sampai terkena bogem salah sasaran dari Raydan saat itu.
"Kamu yang nggak beruntung, dapat bogemannya Raydan," ucap Kevano terkekeh.
"Ah, aku kesal ingat kejadian itu," ucapnya sambil mengingatnya.
"Sudahlah, dia istriku sekarang. Kakaknya jadi kakak iparku, jadi jangan marah sama dis" ucap Kevano.
"Aku bukan pendendam," ucapnya.
"Ya-ya ... Tunggu sebentar, aku ke kamar dulu." Kevano kembali ke kamar, dia melihat Rayna masih tertidur. Dia pun menghampiri Rayna dan mengecup kepala Rayna.
Rayna terbangun, dia memperhatikan Kevano dengan seksama. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Kevano tampak sudah rapi dan terlihat wangi sekali.
"Good morning, wife," sapa Kevano tersenyum.
Seketika Rayna tersadar dan terperanjat.
"Aku kesiangan, ya?" cemas Rayna.
"Sstt ... Nggak, kok. Tidur lagi aja, kamu capek pasti," ucap Kevano.
"Kamu mau jalan sekarang?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Iya, menejerku udah jemput. Pesawatku juga pagi," ucap Kevano.
"Aku belum mandi," ucap Rayna sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa emang?" tanya Kevano.
"Aku mau antar kamu ke depan," ucap Rayna.
"Ya ngapain harus mandi? Nggak mandi aja, cantik kok. Lagipula, cuman ke depan pintu," ucap Kevano terkekeh.
"Tapi aku malu," ucap Rayna.
"Udah nggak apa-apa, aku suka kamu biarpun nggak mandi," ucap Kevano.
"Ya udah, anterin sekarang?" tanya Rayna.
"Iya, dong."
Rayna beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju cermin. Dia merapikan rambutnya agar tak terlalu berantakan. Setelah itu keluar kamar bersama Kevano.
Rayna tersenyum pada menejer Kevano, dan dibalas pula oleh senyuman.
"Kamu sarapan dulu, nggak?" tanya Rayna.
"Di jalan aja," ucap Kevano.
"Ya udah, hati-hati ya kalian. Kabarin aku kalau udah sampai," ucap Rayna.
"Iya, btw salam sama Raydan. Hari ini dia balik ke Jerman, kan?" ucap Kevano.
"Oh iya. Aku mau ke rumah Mommy, ya," ucap Rayna.
"Iya, pakai aja mobilnya, kuncinya di gantung di dekat kulkas," ucap Kevano.
Rayna mengangguk dan mengantar Kevano sampai ke depan pintu.
"Aku jalan, ya. Jangan telat makan," ucap Kevano.
Cup ...
Kevano mengecup dahi Rayna dan pergi dari apartemen. Begitu akan masuk ke apartemen, Rayna melihat Ralisya dari kejuahan. Dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih menunggu Ralisya.
"Pagi, Rayn," sapa Ralisya.
"Pagi, Sya. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Rayna.
Ralisya tersenyum.
"Aku boleh masuk?" tanya Ralisya.
"Boleh, dong. Yuk masuk!" ajak Rayna.
Mereka pun masuk.
"Tadi ketemu Kevano?" tanya Rayna.
"Iya, ngobrol bentar doang," ucap Ralisya.
__ADS_1
"Duduk dulu deh, aku bikinin minum," ucap Rayna.
"Nggak usah, Rayn. Aku ke sini cuman mau nitip ini buat Raydan. Aku pikir, kamu pasti ketemu dia hari ini, karena dia akan balik ke Jerman," ucap Ralisya sambil memberikan sebuah paper bag.