Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 128


__ADS_3

Kevano terkejut karena mata Rayna begitu sembab.


Dia bergegas menghampiri Rayna.


"Kamu kenapa? Habis nangis?" tanya Kevano.


Rayna menggelengkan kepalanya, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kevano berlutut di hadapan Rayna, menatap mata Rayna yang memerah.


"Ada apa? Kenapa kamu pergi dari lokasi pemotretan? Aku telepon nggak diangkat, bikin aku cemas aja," ucap Kevano.


"Aku nggak apa-apa, aku cuman ngantuk tadi, makanya pulang duluan ke sini," ucap Rayna.


"Kamu yakin?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk.


"Aku mau mandi." Rayna beranjak dari tempat tidur, tetapi Kevano menahan tangan Rayna membuat Rayna melihat Kevano.


"Mau aku bantu?" tanya Kevano.


"Nggak usah, aku bukan anak-anak. Bisa mandi sendiri, kok," ucap Rayna.


Kevano melepaskan tangan Rayna, dan Rayna masuk ke kamar mandi.


Kevano merasa ada yang tak beres dengan Rayna. Tak mungkin Rayna baik-baik saja sementara matanya terlihat sembab. Jelas sekali Kevano tahu mata Rayna saat bangun tidur tak pernah sesembab itu, dia yakin Rayna habis menangis.


Tapi kenapa Rayna sampai menangis? Apa penyebabnya? Itulah yang Kevano sendiri tak mengerti.


Kevano benar-benar merasa cemas, dia mendekati pintu kamar mandi dan tak sengaja mendengar suara orang menangis. Itu Rayna tengah menangis.


Kevano masih larut dalam pikirannya. Kenapa Rayna menjadi seperti itu? Apa tanpa sadar Kevano berbuat kesalahan pada Rayna? Pikirnya.


Seketika Kevano teringat akan kejadian di pemotretan tadi. Mungkinkah Rayna pergi dari sana karena marah saat dirinya akan melakukan pose terakhir di sesi pemotretannya?


Kevano akan membuka pintu kamar mandi, tapi tak lama keluarlah Rayna. Rambut Rayna basah karena mandi tadi.


"Kenapa?" tanya Rayna heran karena Kevano berdiri di depan pintu.


"Kamu kenapa nangis? Aku bikin salah, ya?" tanya Kevano.


"Nggak, siapa yang nangis?" ucap Rayna berkilah.


"Bohong. Itu matanya sembab gitu," ucap Kevano.


"Aku bangun tidur," ucap Rayna beralasan.


"Hm ... Sini, aku keringin rambut kamu." Kevano menuntun Rayna menuju tempat tidur.


Dia mendudukan Rayna dan membuka handuk yang melilit rambut Rayna. Kevano naik ke atas tempat tidur, dia mencoba mengeringkan rambut Rayna dengan handuk tersebut karena tak ada hairdryer di sana. Kevano dapat melihat wajah Rayna dari pantulan cermin besar yang menempel di dinding hotel.


"Rayn!" panggil Kevano.

__ADS_1


"Hm ..."


"Menurut kamu, pemotretan tadi gimana?" tanya Kevano terus melihat Rayna dari cermin.


Kevano mengerutkan dahinya saat ekspresi wajah Rayna berubah. Mata Rayna terlihat semakin memerah. Rayna kemudian menunduk dan bahunya bergetar. Kevano terkejut, Rayna menahan tangisnya.


Kevano melompat dari tempat tidur, membuat Rayna terkejut.


"Kamu ngapain, sih?" tanya Rayna heran. Kenapa suaminya itu bertingkah seperti anak kecil pakai melompat segala.


"Tuh, kan, beneran nangis," ucap Kevano sambil memegang wajah Rayna. Dia terus memperhatikan wajah Rayna.


"Nggak, ih." Rayna menepis tangan Kevano.


"Oke, kalau nggak. Terus, kenapa aku tanya soal pemotretan tadi, kamu justru nggak jawab?" tanya Kevano.


"Aku nggak bisa jawab," ucap Rayna.


"Kenapa?" tanya Kevano heran.


"Ya, nggak tahu. Aku nggak bisa jawab, nggak mau jawab juga," ucap Rayna mulai kesal.


Kevano tersenyum. Mungkinkah istrinya itu cemburu?


"Hm ... Ya udah. Pakai baju, gih. Kita keluar, yuk," ucap Kevano.


"Ngapain?" tanya Rayna.


"Ya, ngapain kek. Lihat sunset mungkin, makan, jalan-jalan di pinggir pantai, atau--" Kevano menghentikan ucapannya dan tersenyum penuh arti.


"Hah? Apaan, sih? Mana mungkin bisa, kamu ada-ada aja," ucap Rayna tak habis pikir.


Kevano terkekeh dan semakin menunduk melihat Rayna.


"Jadi, mau keluar nggak?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk. Kevano tersenyum, akhirnya Rayna mau diajak keluar. Di luar nanti, Kevano akan mencoba menghibur Rayna. Entah mengapa, dia merasa mata Rayna sembab karena habis menangis, dan penyebab Rayna menangis adalah karena pemotretan tadi.


Rayna memakai pakaiannya. Dress pantai panjang dengan motif bunga-bunga membuatnya tampak cantik meski dengan penampilan simpel seperti itu. Sedangkan Kevano memakai kaos oblong dan celana pendek. Tak ada yang berpenampilan formal, keduanya tampak santai sore itu. Tak lama lagi hari akan berganti malam.


Kevano dan Rayna pergi menuju pantai. Di sana ada sebuah restoran yang tempat duduknya lesehan. Di mana orang-orang bisa menikmati sunset dari sana. Lampu-lampu gantung tampak sudah menyala memberikan penerangan berwarna layaknya sunset.


Rayna dan Kevano memesan dua gelas minuman dingin sambil menunggu sunset.


Tak lama, Kevano dan Rayna mulai melihat sunset. Sudah lama sekali Rayna tak melihat sunset. Terakhir saat dirinya berada di Australia, dan semenjak di Indonesia dia tak pernah lagi pergi ke pantai untuk melihat sunset. Dia begitu suka melihatnya.


Rayna beranjak dari duduknya dan menatap sunset dengan jarak beberapa langkah dari tempat duduknya.


"Sayang! mau apa?" tanya Kevano. Rayna berbalik dan tersenyum melihat Kevano.


"Please, take my picture," ucap Rayna tersenyum sambil membuat gerakan tangannya seperti sedang memotret. Rayna bagaikan anak kecil yang baru saja mendapatkan sesuatu, dia terlihat senang.

__ADS_1


Kevano terkekeh dan teringat tak membawa kamera. Untunglah ada ponselnya. Dia memotret Rayna menggunakan ponselnya dengan mengambil beberapa foto dengan pose berbeda.


Setelah itu, Kevano meminta tolong pada seorang turis pria yang duduk tak jauh dari mejanya untuk mengambilkan gambar Rayna bersama dirinya. Jika saja dia mengajak menejernya, mungkin dia bisa meminta bantuan pada menejernya. Hanya saja, Kevano hanya ingin berdua dengan Rayna.


Kevano brpose beberapa pose bersama Rayna.


"Please, Sir. Take our picture one more time,'" ucap Kevano tersenyum pada turis itu.


"Oke, Sir." turis itu tersenyum dan mengambil gambar Kevano bersama Rayna sekali lagi.


Kevano mengangkat tubuh Rayna dan keduanya tampak tertawa lebar, setelah itu selesai.


Sunset mulai menghilang, Kevano dan Rayna kembali duduk. Kevano mengambil ponselnya.


"Thank you, Sir. Youre the best photografer," ucap Kevano tersenyum saat melihat beberapa hasil gambar dirinya bersama Rayna yang Kevano lihat sangat bagus.


"Ha-ha-ha ... Youre welcome," turis itu tampak tertawa mendengar ucapan Kevano. Bisa saja dalam hati turis itu.


*****


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam waktu setempat. Rayna dan Kevano memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka sama-sama mencuci wajah dan menyikat gigi di kamar mandi. Keduanya tampak sesekali tertawa karena Kevano sesekali menjahili Rayna.


Setelah selesai, Rayna dan Kevano mengganti pakaian dengan piyama. Lalu begitu selesai, keduanya naik ke tempat tidur.


"Hm ... Sayang!" panggil Rayna melihat Kevano.


Kevano melihat Rayna, dan tersenyum. Tak biasanya Rayna memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Ya?" sahut Kevano.


"Thanks for the night. I am happy," ucap Rayna tersenyum.


"Benarkah? Jadi, setelah ini, nggak akan nangis-nangis sendiri lagi karena cemburu, ya?" ucap Kevano tersenyum.


Rayna mengerutkan dahinya.


"Aku tahu, tadi siang kamu nangis karena cemburu lihat aku saat pemotretan tadi," ucap Kevano terkekeh.


Rayna mengerucutkan bibirnya.


"Kalau nggak suka bilang aja, kalau kesel bilang, jangan diem-diem mata udah sembab, bikin aku bingung sendiri," ucap Kevano.


Rayna tampak malu mendengar ucapan Kevano.


Rayna merebahkan tubuhnya, kemudian membelakangi Kevano.


"Mau bilangnya nggak tahu meski bilang gimana, kamu kan kayak gitu karena tuntutan pekerjaan," ucap Rayna.


Kevano merebahkan tubuhnya dan melihat Rayna, dia beralih memeluk Rayna dari belekang.


"Nah, udah tau gitu. Kalau lihat apapun di lokasi syuting, ataupun pemotretan, nggak usah diambil hati. Itu semua rekayasa," ucap Kevano mencoba memberikan pengertian pada Rayna.

__ADS_1


Rayna berbalik melihat Kevano. Dia mengangguk.


Rayna jadi teringat saat siang tadi, dengan perasaan kesal dia kembali ke hotel. Setelah itu dia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar hotel, memaki photografer itu yang mengarahkan pose untuk Kevano dan Selly. Jika dipikir-pikir, tak berguna juga dia menangisi sesuatu yang tak nyata. Rayna sendiri tahu, semua itu adalah rekayasa pekerjaan. Semua demi kebutuhan pekerjaan. Namun, herannya dia masih saja terbawa perasaan. Semenjak hamil, membuat dirinya gampang sekali terbawa perasaan.


__ADS_2