Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 47


__ADS_3

Puk.


Guriko tersentak saat ada yang menepuk bahunya, dia melihat ke belakang dan mengerutkan dahinya saat melihat seorang wanita tengah menatapnya penuh curiga.


"Siapa, ya?" Guriko menatap bingung ke arah wanita itu, yang tak lain adalah Stefie.


"Siapa kamu? Kenapa mengikuti Rayna?" Stefie bertanya dengan nada yang jelas sekali terdengar seperti sedang menginterogasi seseorang. Tatapannya begitu tajam penuh dengan selidik.


"Apa urusanmu?" tanya Guriko dengan bingung.


"Dia majikan saya, jangan sampai kamu macam-macam dengan Rayna," ucap Stefie dengan nada mengancam.


Lagi-lagi dahi Guriko berkerut. Dia tak mengerti maksud ucapan Stefie, dia bahkan tak memiliki niat jahat pada Rayna. Dia hanya ingin mengenal Rayna sebagai tetangga barunya, selain itu juga, karena stik drum miliknya ada pada Rayna.


"Begini, ya. Hmmm ,,, siapa namamu?" Guriko menatap Stefie seolah meminta jawaban dari pertanyaannya.


"Stefie," jawab Stefie.


Guriko mengangguk dan tersenyum.


"Begini, Stefie. Aku Guriko, dan aku tetangga Rayna. Maksudnya, rumahku persis sekali ada di sebelah kiri rumah yang saat ini Rayna tinggali," ucap Guriko.


"Tidak ada salahnya, bukan, sesama tetangga saling menyapa? Lagi pula, aku dan Rayna enggak sengaja ketemu," ucap Guriko.


Stefie menghela napas, dia masih curiga pada Guriko. Dia bisa melihat Guriko seperti tengah mengincar sesuatu dari Rayna.


"Benarkah? Hanya itu?" Stefie mencoba memastikan sekali lagi.


"Tentu saja, benar. Apa aku terlihat seperti seorang penjahat?" tanya Guriko dengan nada yang mulai kesal. Dia tak suka dicurigai, seolah dia seorang penjahat.


"Baiklah." Stefie meninggalkan Guriko begitu saja, sementara Guriko masih terlihat bingung sekaligus tak habis pikir.


"Apa maksudnya? Kenapa majikan dan bawahan memiliki sifat yang sama? Benar-benar dingin," gerutu Guriko.


"Ade awas ..!"


Guriko terkejut saat mendengar teriakan Stefie dan juga diiringi suara Rayna saat terjatuh. Stefie berlari menghampiri Rayna, sementara Guriko mencoba mengejar pengemudi motor yang membawa motornya tanpa tahu aturan sehingga menyerempet Rayna dan terjatuh ke atas aspal. Pengemudi itu bahkan tak menghentikan motornya dan terus melaju.


Guriko pun menghampiri Rayna setelah sebelumnya mengumpat, mengucapkan sumpah serapah pada pengemudi motor itu. Dia menjadi ikut geram melihatnya, jika itu di jalan raya, mungkin menjadi hal yang biasa. Pasalnya, itu adalah di jalan sebuah komplek perumahan, di mana tentunya banyak anak-anak juga yang suka bermain di pinggir jalanan sekitar sana.


"Ahh ,, sakit banget, Kak." Rayna memegangi lutut dan juga telapak tangannya yang terluka akibat tergores aspal. Dia terlihat kesakitan karena luka itu cukup besar dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" Guriko mencoba melihat luka di lutut Rayna dan beralih melihat telapak tangan Rayna yang tampak lecet memerah, Guriko pun tanpa sadar meniup pelan telapak tangan Rayna.


"Sepertinya, kita harus bawa Rayna ke Dokter," ucap Guriko.


"Tolong, jaga Ade, sebentar. Saya akan ambil mobil di rumah, kita akan ke Rumah Sakit," ucap Stefie.


"Tidak perlu, di sekitar sini ada klinik yang buka, kok. Kita ke sana saja," ucap Guriko.


"Ya sudah, apa Ade bisa jalan?" tanya Stefie.


Rayna mencoba bangun tetapi lututnya terasa sangat sakit, hingga dia pun kembali meringis kesakitan.


"Lho, hei ..!" Rayna terkejut saat tiba-tiba Guriko mengangkat tubuhnya, dan menggendongnya ala bridal.


"Sudahlah, diam saja. Apa kamu akan tega pada Stefie? Membiarkannya mengangkat tubuh beratmu ini?" Guriko masih tetap menggendong Rayna meski dia sendiri cukup merasa kewalahan saat menggendong Rayna.


"Apa maksudmu? Aku tidak seberat, itu," ucap Rayna merasa tak terima dengan pernyataan Guriko bahwa tubuhnya berat.


"Terserah kamu saja, aku tak bisa banyak bicara. Napas ku bisa habis di tengah jalan jika terus meladeni ocehan mu yang mirip sekali dengan petasan," ucap Guriko.


Stefie mencoba menahan tawanya saat melihat wajah Rayna yang terlihat memerah. Terlihat sekali Rayna tengah kesal sekaligus kesakitan saat ini.


"Sudah, sudah. Ade di gendong dia dulu, ya. Kakak enggak sanggup gendong Ade," ucap Stefie.


Sesampainya di Klinik, Dokter langsung membersihkan luka Rayna dan dilanjutkan dengan mengobati lukanya.


Selesai mengobati luka Rayna, Dokter memberikan obat untuk Rayna minum.


"Minumlah dengan teratur, agar lukanya cepat sembuh," ucap Dokter.


"Apa lukanya akan membekas?" tanya Rayna.


"Biasanya, iya. Tetapi, sekarang sudah banyak obat penyamar bekas luka yang kualitasnya bagus. Luka begini saja, akan cepat hilang, bekasnya," ucap Dokter.


Rayna menghela napas lega, dia sungguh khawatir jika lukanya sampai membekas dan orangtuanya akan menjadi khawatir padanya.


Apalagi jika mengingat sikap Randy yang terlalu berlebihan padanya, Rayna sudah membayangkan apa yang akan Randy lakukan. Randy bisa saja mencari orang yang sudah membuat Rayna celaka.


Tak hanya itu, Randy juga bisa mengirimkan bodyguard lagi untuk Rayna. Cukup Stefie saja yang sudah membuatnya merasa nyaman.


Setelah selesai mengobati luka Rayna, Rayna, Stefie dan Guriko pun pergi dari Klinik.

__ADS_1


Sama halnya seperti sebelumnya, Guriko pun kembali menggendong Rayna.


"Ya Tuhan, kenapa kamu lebih berat dari sebelumnya?" tanya Guriko sambil memasang wajah seperti tengah menahan sesuatu.


"Apa? Aku enggak tahu, aku enggak makan apapun, tadi. Obatnya bahkan masih belum aku minum, jadi, mana mungkin aku semakin berat? Enggak ada makanan apapun yang masuk ke perutku," ucap Rayna.


"Ya, tentu saja bukan karena makanan berat badanmu jadi bertambah," ucap Guriko.


"Jadi, karena apa?" tanya Rayna sambil melihat wajah Guriko yang tampak berkeringat. Sepertinya Guriko benar-benar lelah menggendong Rayna.


"Karena, salep yang menempel di lukamu," ucap Guriko dengan santai.


"Apa? Benar-benar menyebalkan, aku sudah menanggapinya dengan serius," ucap Rayna.


"Lain kali, jadi perempuan jangan terlalu tegang. Kamu perempuan, bukan satpol PP, kan?" Guriko melihat sekilas ke arah Rayna.


"Apa hubungannya dengan Satpol PP?" tanya Rayna lagi dengan bingung.


"Tidak ada," ucap Guriko dengan bingung.


Dia sendiri menjadi bingung karena mengaitkan Rayna dengan Satpol PP.


"Benar-benar pria aneh," batin Rayna.


Cukup lama mereka berjalan, dan akhirnya sampailah di kediaman Rayna. Guriko pun membawa Rayna sampai ke dalam rumah.


"Cukup ..! Turunkan aku di ruang tamu saja," ucap Rayna. Sementara Stefie langsung pergi menuju kamar Rayna, dan mencoba merapikan kamar Rayna terlebih dahulu meski sebetulnya kamar Rayna tidaklah berantakan.


"Kenapa begitu? Tanggung, lho," ucap Guriko.


"Enggak, aku enggak mau orang lain melihat kamarku. Apalagi dilihat oleh makhluk sepertimu," ucap Rayna dengan sembarang.


"Apa maksudmu makhluk sepertiku? Kamu benar-benar tidak tahu berterimakasih. Sudah aku gendong sampai ke Klinik, dan ini balasan mu?" Guriko menatap Rayna dengan tatapan tajam.


"Benar-benar, kamu terlalu terbawa perasaan. Bukankah kamu yang bilang belum lama, tadi? Jadi orang jangan terlalu tegang. Maksudku, aku tidak ingin kamarku dilihat oleh pria asing," ucap Rayna.


"Ah, elah. Padahal biarkan saja. Siapa tahu, suatu saat nanti, kamarmu menjadi kamar kita," ucap Guriko dengan sembarang.


"Kita?" Rayna tampak bingung mendengar ucapan Guriko.


"Ya, aku dan kamu. Kita," ucap Guriko sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Rayna membulatkan matanya, dia tak habis pikir karena lagi-lagi bertemu pria yang menurutnya sama saja mesumnya dengan beberapa pria yang dia kenal.


__ADS_2