Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 81


__ADS_3

Di kediaman Rayna.


Rayna terbangun dari tidurnya setelah siang tadi dia terus menangis karena memikirkan ucapan Kevano dan langsung tertidur. Dia melihat jendela kamarnya, terlihat langit sudah gelap. Rayna mengambil ponselnya dan waktu ternyata sudah menunjukan jam makan malam. Rayna turun dari tempat tidur dan mendekati jendela, dia akan menutup gorden jendelanya. Namun, kegiatannya terhenti saat dia mendengar suara gitar dari samping rumahnya. Ya, suara itu berasal dari balkon rumah Guriko.


Rayna mendekati suara itu dan mengintip dari balik dinding. Terlihat memang Guriko tengah memetik gitar yang ada di pelukannya.


Rayna terus memperhatikan Guriko, dia menjadi tak enak hati pada Guriko tentang kejadian tadi siang. Dia tak bermaksud menyinggung Guriko, akan tetapi Guriko justru salah paham padanya. Dia hanya tak ingin terus-terusan bergantung pada orang lain, dan menjadikan orang lain sebagai pelindungnya. Dia hanya merasa tak ingin membawa Guriko ke dalam masalahnya bersama Kevano.


Rayna terdiam dan semakin memperhatikan Guriko yang mulai bernyanyi sambil memandang langit dengan seksama.


**


Well, i will call you darlin' and everything will be okay.


(Ya, sayang. Aku akan menghubungimu dan semuanya akan baik-baik saja)


'Cause i know that i am yours and you are mine.


(Karena kutahu kalau aku milikmu dan kau milikku)


Doesn't matter anyway.


(Lagipula, tidak masalah)


In the night, we'll take a walk, it's nothin' funny.


(Di malam hari, kita akan berjalan-jalan dan tak ada yang lucu)


Just to talk.


(Hanya sekedar untuk bicara)


Put youre hand in mine.


(Genggam tanganku)


You know that i want you be with you all the time.


(Ketahuilah, aku ingin selalu bersamamu)


You know that i won't stop until i make you mine.


(Ketahuilah, aku tak akan berhenti sampai kau jadi milikku)


You know that i won't stop until i make you mine.


(Ketahuilah, aku tak akan berhenti sampai kau jadi milikku)


Until i make you mine.


(Sampai kau jadi milikku)


**


Well, i have called you darlin' and i'll say it again, again.


(Ya, telah kuhubungimu sayang, dan akan mengatakannya lagi dan lagi)


So kiss me 'til i am sorry, babe, that you are gone and i'am a mess.


(Jadi, ciumlah aku sampai kumenyesal, sayang, bahwa kau pergi dan aku merasa kacau)


And i'll hurt you and you'll heart me, and we'll say things we can't repeat.


(Dan akan kusakiti mu seperti kau menyakitiku, dan kita ucapkan hal-hal yang tak bisa terucap lagi)


*


Put your hand in mine.


(Genggam tanganku)


You know that i want you be with you all the time.

__ADS_1


(Ketahuilah, aku ingin selalu bersamamu)


You know that i won't stop until i make you mine.


(Ketahuilah, aku tak akan berhenti sampai kau jadi milikku)


You know that i won't stop until i make you mine.


(Ketahuilah, aku tak akan berhenti sampai kau jadi milikku)


Until i make you mine.


(Sampai kau jadi milikku)


**


You need to know.


(Kau harus tahu)


We'll take it slow.


(Kita akan melakukannya dengan perlahan)


I miss you so.


(Betapa aku merindukanmu)


We'll take it slow.


(Mari kita jalan perlahan)


It's hard to feel you slipping.


(Sulit rasanya melepaskanmu)


Through my fingers are so numb.


(Dengan jariku yang terasa mati rasa)


(Dan bagaimana aku bisa tahu)


That you were not the one.


(Bahwa kau bukanlah orangnya)


**


Rayna terus mendengarkan nyanyian Guriko. Tanpa dia sadari dia memejamkan matanya. Suara Guriko tidak terlalu buruk untuk di dengar saat bernyanyi, pikirnya.


Rayna mengerutkan dahinya sambil masih memejamkan matanya saat tak lagi mendengar Guriko bernyanyi, dan tak ada suara petikan gitar lagi. Rayna pun membuka matanya.


"Arrgghhhhh ...!"


Begitu membuka matanya, Rayna pun terkejut melihat wajah Guriko yang begitu dekat dengan wajahnya. Jarak keduanya hanya terhalang oleh dinding yang menghalangi sebatas sada Rayna.


Guriko mengerutkan dahinya melijmhat ekspresi Rayna yang terlihat terkejut. Harusnya, dia yang terkejut karena Rayna diam-diam memperhatikannya.


Rayna mengatur napasnya, jantung berdegup kencang saking terkejutnya. Dia menyenderkan tubuhnya ke dinding, kemudian tatapannya beralih pada Guriko. Sesaat kemudian Rayna akan meninggalkan Guriko.


"Suara aku bagus, nggak?" tanya Guriko yang sontak membuat Rayna mengurungkan niatnya.


"Nggak," jawab Rayna dingin.


"Serius? Tapi, kayaknya kamu nikmatin banget, deh," ucap Guriko.


"Biasa aja," jawab Rayna yang lagi-lagu dingin.


"Oh, ya udah," ucap Guriko dan akan masuk ke kamarnya.


Rayna yang teringat akan kejadian tadi siang pun langsung memanggil Guriko dan membuat Guriko menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Guriko.

__ADS_1


"Maaf untuk tadi siang," ucap Rayna.


"Santai aja," ucap Guriko.


"Kamu nggak marah?" tanya Rayna bingung.


"Nggak, ngapain marah?" ucap Guriko.


"Aku pikir, kamu marah karena kejadian tadi siang, dan kamu nggak mau lagi ngomong sama aku," ucap Rayna.


"Nggak marah. Buktinya, sekarang kita ngobrol," ucap Guriko. Rayna tersenyum dan mengangguk.


"Jadi, apa kita masih berteman?" tanya Rayna.


Guriko menggelengkan kepalanya, membuat Rayna memasang wajah kecewa. Dia pikir, selama berteman dengan Guriko, sejauh ini Guriko cukup baik padanya. Bahkan Guriko seolah menepati kata-katanya saat meminta Rayna untuk menganggapnya sebagai pengganti Raydan. Meski posisi Raydan tak akan terganti oleh siapapun. Namun Rayna merasa berteman dengan Guriko tidaklah buruk.


"Kecuali--?"


"Apa?" tanya Rayna penasaran saat Guriko tak melanjutkan ucapannya.


"Nggak jadi, deh," ucap Guriko.


Rayna mengerutkan dahinya. Dia merasa bingung dengan Guriko.


"Kenapa?" tanya Rayna penasaran.


Guriko menggelengkan kepalanya, lalu menggidigkan bahunya. Guriko pun berlalu meninggalkan Rayna menuju kamarnya.


Pletak!


"Sshh ..." Guriko mendesis kala sesuatu mendarat di kepalanya. Dia mengambil sesuatu tersebut dan ternyata patahan ranting. Dia pun berbalik dan melihat ke arah Rayna.


"Apa-apaan, nih?" tanya Guriko bingung sambil menunjukkan patahan ranting tersebut.


"Bilang, nggak?" ucap Rayna dengan nada mengancam sambil menatap Guriko dengan tajam.


"Apanya?" tanya Guriko bingung.


Rayna menghela napas kasar dan mematahkan ranting yang ada di hadapannya. Ranting itu berasal dari pohon besar yang ada di halaman rumahnya. Kebetulan rantingnya hingga menuju ke balkon rumahnya dan tangannya pun sampai meraih ranting tersebut.


"Mau lagi?" ucap Rayna sambil mengangkat patahan ranting tersebut.


Guriko mendengus kesal. Dia tak mengerti maksud Rayna.


"Apa, sih? Jangan pake kode-kode seperti itu. Terkadang, aku nggak se-peka itu," ucap Guriko.


Rayna menggelengkan kepalanya, dia pun meninggalkan Guriko dengan perasaan kesal.


Yang benar aja, masa dia lupa sama apa yang diomongin. Aku, kan, mau tahu maksud dia, kenapa dia bilang kecuali? Maksudnya apa? gerutu Rayna.


Rayna penasaran dengan ucapan Guriko. Entah apa maksud Guriko mengatakan seperti itu. Rayna menutup pintu balkonnya dan merebahkan tubuhnya. Tubuhnya merasa lelah meski tak melakukan banyak kegiatan, membuat dia jngjn selalu berada di atas tempat tidur.


Di kediaman Guriko.


Guriko memasuki kamarnya begitu Rayna tak lagi terlihat. Dia pun tersenyum mengingat ekspresi Rayna tadi. Wajah Rayna terlihat kesal karena rasa penasarannya tak terjawab.


Apa katanya? Apa kita masih berteman? ucap Guriko meniru gaya bicara Rayna dengan nada yang dibuat seolah mirip wanita.


Guriko terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Dia mengusap wajahnya.


Apa-apaan, sih? Polos banget anak itu. Tanpa dia nanya pun, ya kita memang masih berteman. Nggak mungkin aku marah karena masalah tadi siang. gumam Guriko.


Guriko sebetulnya menganggap kejadian siang tadi adalah hal yang biasa. Dia sadar telah berlebihan ikut campur ke dalam urusan Rayna dan Kevano.


Guriko mengambil ponselnya saat terdengar dering telepon dan terlihatlah nama Byanka di layar ponselnya.


Guriko menghela napas. Dia malas harus meladeni Byanka, apalagi saat ini keduanya tak memiliki hubungan apapun. Guriko segera mematikan ponselnya saat nomor Byanka tak lagi menghubunginya.


Dia mengambil sebuah dus dan memasukan barang-barang pemberian Byanka ke dalam dus tersebut. Tak ada yang tersisa satupun barang pemberian Byanka saat masih menjadi kekasihnya. Guriko membuka laci nakas-nya, dia mengambil lakban dan menutup dus itu dengan lakban.


Maaf, By. Semanis apapun kita dulu, semuanya hanya masa lalu. Aku nggak akan nyalahin kamu, aku pun mungkin ikut bersalah karena nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu, karena itu kamu khianati aku. Tapi Yang jelas, untuk kembali, rasanya nggak mungkin. batin Guriko.


Guriko menghela napas berat. Dia duduk di tepi tempat tidur. Menundukkan tubuhnya dengan kepalanya yang bertumpu pada pahanya.

__ADS_1


Entahlah, aku mungkin nggak nunjukin semuanya di depan siapapun. Tapi, sejujurnya aku marah, aku kesal, aku kecewa, saat lihat kamu sama cowok lain. Kamu pacar pertama, sekaligus cinta pertama aku, By, gumam Guriko.


__ADS_2