
Dua hari semenjak kejadian di toilet hotel, Ralisya dan Raydan tak saling berkomunikasi. Ralisya seolah menjauh dari Raydan. Bukan tanpa alasan, dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Meski sejujurnya dalam hati Ralisya, ada rindu yang menjerat dan membuatnya ingin kembali menghubungi Raydan. Sayangnya, Raydan pun tak mencoba menghubungi Ralisya. Dia tampak acuh dan tak menyadari apa yang tengah Ralisya rasakan.
*****
Sementara di sebuah pulau kecil di luar negara Indonesia. Di mana di sana akan menjadi tempat resepsi pernikahan Kevano dan Rayna. Semua persiapan sudah rampung seratus persen. Semua keluarga pun sudah berada di sana. Sore nanti akan dilangsungkan resepsi pernikahan Rayna dan Kevano.
Semua tampak seperti keinginan Rayna. Di mana resepsi yang diadakan dengan tema outdoor di pinggir pantai.
Waktu masih amat pagi, tetapi matahari sudah tampak naik memberikan kehangatan. Begitupun dengan suasana di dalam kamar sebuah Villa yang berada tak jauh dari pantai tempat resepsi pernikahan Rayna dan Kevano akan dilangsungkan. Kevano terdiam, sesaat kemudian dia menelan air liurnya melihat Rayna, suhu tubuhnya bahkan memanas meski pendingin ruangan menyala. Wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu hanya memakai hotpants dan kaos tipis yang memperlihatkan dalaman yang menutupi dadanya. Kaos itu juga memperlihatkan sedikit perut rata nan mulus Rayna.
Rayna sendiri tak menyadari Kevano tengah gelisah menahan sesuatu. Kevano bahkan belum pernah melakukan hubungan intiim dengan Rayna karena ingin semua acara selesai lebih dulu. Kevano tak ingin Rayna merasa lelah karena harus melayani dirinya, sementara acara resepsi saja belum dilangsungkan.
Rayna yang baru saja selesai mandi pun dengan santainya duduk di depan meja rias dengan handuk yang melilit di kepalanya dan menutupi rambutnya. Pandangannya tak sengaja melihat ke Kevano dari pantulan cermin. Rayna pun berbalik dan tersenyum menatap Kevano.
"Selamat pagi," sapa Rayna tak lupa menyunggingkan senyum manisnya.
Kevano tersenyum dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menghampiri Rayna dan memeluk leher Rayna dari belakang. Dia sedikit menunduk dan menghirup aroma sabun yang masih tercium harum di tengkuk Rayna. Tak ada penolakan dari Rayna. Meski dirinya merasa sedikit risi, tetapi Kevano adalah suaminya sekarang. Berbeda saat belum sah menjadi suaminya, Rayna bahkan membenci sikap tak senonoh Kevano yang suka sekali menyosor ingin menciumnya.
"Selamat pagi juga," ucap Kevano.
Rayna hanya tersenyum melihat Kevano dari pantulan cermin.
"Mau mandi nggak?" tanya Rayna.
Kevano melepaskan pelukannya.
"Aku masih ngantuk, lho," ucap Kevano dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Rayna menghampiri Kevano dan melihat Kevano dengan seksama.
"Kenapa bangun kalau masih ngantuk?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Aku kebangun, karena wanginya Bidadari," ucap Kevano tersenyum sambil memasang wajah sok imut.
Rayna mengerutkan dahinya.
"Auw ..." Rayna terkejut saat Kevano menarik tangannya dan Rayna pun kehilangan keseimbangan. Tentu saja dia terjatuh di pelukan Kevano. Kevano tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia memeluk Rayna dan membalik posisi keduanya sehingga Rayna berada di bawah tubuhnya.
Jantung Rayna berdegup kencang. Posisi itu begitu terasa intiim, bahkan Rayna menyadari sesuatu yang mengganjal di perutnya dan terasa cukup keras.
"Boleh cium nggak?" tanya Kevano memelas.
Rayna menahan tawanya. Ekspresi Kevano seperti anak kecil yang tengah meminta es krim pada ibunya.
Rayna menggelengkan kepalanya.
Kevano mengerutkan dahinya dan berbaring di samping Rayna. Rayna pun tersenyum tipis.
Cup ...
Kevano terkejut saat Rayna tiba-tiba saja mengecup pipinya.
"Aku bercanda, kok," ucap Rayna sambil tersenyum.
Kevano menghela napas. Sesaat kemudian dia menindihh tubuh Rayna dan mengecup berkali-kali pipi Rayna dengan begitu gemas. Istrinya itu sudah berani mengerjainya.
"Jahat banget, ya. Ngerjain Suami sendiri," ucap Kevano masih terus saja menghujani pipi Rayna dengan kecupan. Rayna pun semakin terkekeh. Hatinya begitu bahagia, tak kesal seperti dulu saat Kevano menyentuhnya.
Kecupan Kevano beralih ke perut Rayna yang terlihat jelas karena kaos yang Rayna pakai terangkat sehingga terlihatlah pusar Rayna. Rayna pun semakin terkekeh kegelian.
Uhuk ... Uhuk ...
Kevano menghentikan kegiatannya dan melihat Rayna saat Rayna terbatuk. Terlihat Rayna tengah mengatur napasnya dan memegang perutnya.
"Aku capek, ketawa terus," ucap Rayna.
__ADS_1
Kevano tersenyum dan mengecup pipi Rayna sekali lagi. Dia pun berbaring di samping Rayna. Dia menggenggam tangan Rayna, mengecup punggung tangan Rayna. Keduanya saling tatap dengan posisi masih tetap berbaring dan hanya menoleh ke arah satu sama lain.
"Seterusnya, aku akan membuatmu selalu tertawa. Karena itu, tetaplah bersamaku, dan jangan pernah lelah untuk hidup bersamaku," ucap Kevano.
Mata Rayna memerah. Ternyata menikah begitu indah, di awal pernikahan saja kebahagiaannya begitu tak terhingga dia rasakan. Dia bahagia menikah dengan Kevano, pria yang awalnya dia benci karena sudah mempermalukannya. Namun, seseorang memang tak akan pernah tahu, kemana takdir akan membawa mereka menuju cinta sejatinya. Entah dengan siapa? Dengan cara apa? Seseorang tak pernah tahu itu.
"Apa kamu bahagia menikah sama aku?" tanya Kevano. Rayna mengangguk cepat, membuat Kevano tersenyum bahagia.
Kevano mengangkat kepalanya dan menatap Rayna dengan penuh cinta. Jarak keduanya hanya terpaut beberapa centi saja.
"Jadi, aku boleh cium, kan, ya?" tanya Kevano memastikan sekali lagi.
Rayna menghela napas dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan nanya lagi," ucap Rayna pelan.
Kevano pun terkekeh dan memegang kedua pipi Rayna. Memposisikan wajah keduanya untuk saling mendekat. Tanpa bertanya lagi Kevano mencium bibir Rayna. Rayna pun memejamkan matanya. Tak seperti sebelumnya, seolah sudah sering berciuman Rayna pun membalas ciuman Kevano. Tentu saja Kevano tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia memperdalam ciuman itu, bahkan tangannya mulai tak bisa diam dan mulai mengusap lembut perut Rayna. Usapan itu perlahan semakin naik, hingga menyentuh benda kenyal milik Rayna.
Keduanya sama-sama terkejut dan menghentikan ciuman itu.
"Bolehkan pegang? Sebentar aja, aku penasaran soalnya," ucap Kevano sambil lagi-lagi memasang wajah memelas.
Rayna menutupi wajahnya malu mendengar pertanyaan Kevano.
Kenapa harus nanya, sih? Aku, kan, nggak tahu mau jawab apa? gumam Rayna.
Kevano yang mendengar gumaman Rayna pun tak menunggu persetujuan Rayna. Dia mengangkat lebih atas lagi kaos yang Rayna pakai dan terlihatlah dalaman hitam yang menutupi benda kenyal yang membuat Kevano penasaran itu.
"Jadi, gini ya bentuknya," ucap Kevano sambil memperhatikan benda kenyal milik Rayna.
Rayna melihat Kevano dengan bingung.
"Kenapa emang?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Mungil gitu," ucap Kevano terkekeh.
"Auw ..." Kevano meringis saat Rayna mendorong kepalanya dengan cukup kuat.