Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 103


__ADS_3

Raydan terkejut bahkan terperanjat melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu. mata orang itu memerah menahan tangis. Sementara Rayna pun langsung menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah Ralisya.


Ralisya mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Rayna agar menghentikan langkahnya. Rayna pun terdiam. Rayna melihat ke arah Raydan, terlihat Raydan mengangkat kepalanya agar Rayna keluar dari kamar. Rayna pun keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua.


"Itu, aku--" ucapan Raydan terhenti saat Ralisya terus saja melangkah mendekatinya. Hingga jarak keduanya hanya terpaut sedikit langkah saja. Sekuat mungkin Ralisya mencoba tegar, berusaha tak membiarkan air matanya jatuh di depan Raydan.


Ralisya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku datang kesini, selain untuk resepsi pernikahan Rayna dan Kevano, juga untuk menemuimu. Niatku, ingin minta maaf padamu atas sikapku beberapa hari ini. Nyatanya--" Ralisya menghentikan ucapannya. Dia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.


"Kenapa? Aku salah apa?" tanya Ralisya pada Raydan, tetapi tatapan Ralisya tetap mengarah ke arah lain. Ralisya tak tahan jika harus menatap mata Raydan.


"Maaf," ucap Raydan.


"Maaf? Hanya itu? Kamu nggak mau jelasin apapun?" tanya Ralisya.


"Nggak ada yang perlu aku jelasin. Aku rasa, kamu dengar semuanya," ucap Raydan.


Ralisya tersenyum getir. Pria yang dia cintai nyatanya tak mencoba menjelaskan apapun. Bahkan Ralisya berharap Raydan akan membela dirinya sendiri, bahwa semua itu tak benar. Bahwa Raydan tak pernah mengkhianatinya. Nyatanya, Raydan tak ingin memberikan penjelasan, membuat semuanya sudah cukup jelas bagi Ralisya.


Ralisya memberanikan diri menatap Raydan, Raydan pun kembali menatapnya. Tatapan yang kosong, bahkan seolah tak ada sedikitpun rasa simpatik terhadap Ralisya.


"Tolong jawab jujur, apa yang kamu rasain sekarang sama aku?" tanya Ralisya.


Raydan terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang dan memegang bahu Ralisya. Tak ada penolakan dari Ralisya.


"Maaf," ucap Raydan lagi-lagi tak ingin menjelaskan perasaannya.


"Kamu tahu, kamu pacar pertama sekaligus cinta pertama aku. Dari dulu, aku selalu nggak mau jatuh cinta. Mendengar mereka bercerita kisah percintaan mereka yang berakhir dengan tragis, membuat aku berpikir untuk jatuh cinta pada seseorang. Nyatanya, aku terpikat padamu. Entah mengapa, tapi semuanya begitu manis. Kata cinta itu seolah nyata. Tapi, aku bodoh. Aku percaya begitu aja, aku memberikan hatiku pada seseorang yang bahkan tak memiliki hati," ucap Ralisya.


Raydan masih tetap menatap Ralisya.


"Aku sayang sama kamu, Sya. Tapi--" Raydan tak melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu cinta sama dia?" tanya Ralisya.


Raydan hanya diam, dia pun tak mengerti harus menjawab apa? Yang dia rasakan adalah, dia nyaman bersama Clarie.


"Jawab, Ray!" ucap Ralisya penuh penekanan. Lagi-lagi Raydan hanya diam. Membuat Ralisya tak tahan lagi.


Bugh!


"Ouh, shit!" Raydan mengumpat sambil menahan sakit di wajahnya karena bogeman Ralisya yang kuat. Raydan lupa bahwa Ralisya pernah belajar taekwondo. Bukan hal sulit melumpuhkan lawannya bagi Ralisya.


"Kita putus!" tegas Ralisya dan keluar dari kamar Raydan.

__ADS_1


"Sya!" panggil Raydan.


Ralisya tetap tak menoleh, membuat Raydan sampai harus mengejar Ralisya. Raydan meraih tangan Ralisya dan menarik Ralisya kepelukannya. Ralisya tentu saja menolak, bahkan mendorong tubuh Raydan. Raydan pun terhempas menabrak dinding. Ralisya yang manis benar-benar berubah seperti hulk, tenaganya mendadak begitu kuat.


Plak!


Ralisya menampar wajah Raydan, membuat rasa sakit itu bertambah.


"Menjijikan! Jangan pernah menggangguku lag!" geram Ralisya.


"Apa-apaan, sih? Kasar banget jadi cewek!" geram Raydan.


"Itu nggak ada apa-apanya dibandingkan pengkhiantan yang kamu lakukan! Aku bahkan menjaga hatiku disini, aku menghargai hubungan kita, tetapi kamu justru sebaliknya. Aku bukan wanita bodoh yang akan bertahan dengan pria brengsekk sepertimu!" geram Ralisya.


"Tapi, Sya. Kamu perlu tahu, pria nggak cuma butuh perhatian, dia juga butuh sosok yang bisa menemaninya," ucap Raydan.


"Bagus, kalau begitu sudah tepat kita putus!" ucap Ralisya.


"Seharusnya, jangan pernah memulai apapun, jika kamu nggak sanggup menjalaninya. Aku sadar, aku nggak bisa selalu ada buat kamu. Tapi, bukan kemauan aku kayak gini, aku juga nggak bisa egois menahan kamu, dan melarang kamu menggapai mimpimu," ucap Ralisya.


Raydan membisu, entah mengapa ada rasa sesal setelah mendengar ucapan Ralisya. Ralisya benar, menjalani hubungan jarak jauh bukanlah keinginan Ralisya, bahkan Raydan tak ingin jika memungkinkan. Harusnya dia bersyukur memiliki wanita yang pengertian dan mensupportnya dalam menggapai mimpinya.


Ralisya tak tahan lagi, air matanya sudah akan jatuh.


"Kita putus! Semunya sudah berakhir, kedatanganmu ke Indonesia adalah pertemuan pertama kita setelah kita pacaran, sekaligus pertemuan terakhir kita. Aku harap, setelah resepsi pernikahan Rayna dan Kevano selesai, kita nggak akan pernah ketemu lagi!" ucap Ralisya. Ralisya pun pergi meninggalkan Raydan yang hanya terdiam. Raydan pun tak mencoba menahan Ralisya.


Benar, semuanya sudah berakhir, lalu kenapa? Masih ada Clarie, dia bahkan selalu ada, gumam Raydan.


Raydan tersenyum getir, pertama kalinya wanita memutuskan hubungan dengannya. Biasanya, dialah yang meninggalkan wanita.


Raydan kembali ke kamarnya.


Brak!


Raydan menutup pintu kamarnya dengan keras. Entah apa yang membuatnya begitu kesal.


"Sial!" gumam Raydan sambil mengusap wajahnya agak kasar.


Di sisi lain.


Rayna sudah berada di kamarnya. Kevano pun sudah selesai mandi. Kevano melihat Rayna bingung. Istrinya itu mendadak menjadi pendiam.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Kevano.


"Hm ..." dehem Rayna.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kevano penasaran sambil memegang wajah Rayna.


Rayna menggelengkan kepalanya. Dia tak mungkin memebritahu Kevano. Dia takut Kevano akan marah pada Raydan. Terakhir kali saja mereka sempat bertengkar. Apalagi Rayna tahu Raydan tempramen.


"Ya udah. Aku lapar loh," ucap Kevano tak ingin memabahas rasa penasrannnya lagi. Rayna pun menepuk dahinya. Dia melupakan mengajak suaminya itu untuk sarapan.


Rayna menunggu Kevano memakai pakaiannya. Kevano terkekeh saat Rayna membulatkan matanya karena bagian intiim Kevano ternyata hanya terbalut dalaman saja begitu Kevano membuka bathroobs-nya.


Kevano terkekeh melihat ekspresi Rayna.


"Sekarang, di sensor dulu, ya. Nanti, setelah selesai resepsi selesai, kamu bebas lihat," ucap Kevano.


Rayna lagi-lagi membulatkan matanya. Ucapan Raydan membuatnya malu setengah mati.


"Aku duluan," ucap Rayna dan bergegas keluar dari kamar.


Oh My God! gumam Rayna sambil mengusap wajahnya.


Tak lama Kevano pun menyusul menuju meja makan. Masih ada Randy dan Dania di sana. Ada orangtua Kevano dan Ralisya juga di sana. Ralisya memasang senyum manisnya melihat Kevano. Seolah tak terjadi apapun. Rayna bahkan sampai dibuat bingung, Ralisya terlihat baik-baik saja. Rayna pun berpikir hubungan Raydan dan Ralisya baik-baik saja.


"Selamat pagi!" sapa Kevano.


"Pagi," jawab semua orang.


"Di mana Raydan?" tanya Kevano.


"Masih di kamarnya," jawab Ralisya santai.


"Kamu nggak bangunin, Sya?" tanya Kevano.


Ralisya menggelengkan kepalanya.


"Biar aja, kalau laper juga dia turun. Iyakan, Tan?" ucap Ralisya melihat Dania.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Biarkan saja. Kalian sarapan saja lebih dulu, setelah itu tetaplah istirahat. Terutama Ade dan Kevano, kalian akan melewati hari yang melelahkan sore hingga malam nanti," ucap Dania.


Rayna dan Kevano saling tatap. Kevano yang duduk di dekat Rayna pun menggenggam tangan Rayna. Rayna mencoba melepaskan tangannya, tetapi Kevano tahan sekuat mungkin.


"Jangan gitu, malu!" ucap Rayna risi. Rayna masih belum terbiasa bermesraan di depan keluarganya.


"Malu terus, nanti lama-lama juga nggak tahu malu," ucap Kevano terkekeh. Rayna sontak memukul bahu Kevano dengan sendok yang ada di tangannya. Kevano pun semakin terkekeh.


"Mau makan atau mau bermesaraan?" sindir Randy.

__ADS_1


__ADS_2