Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 28


__ADS_3

"Apa Ade menangis karena masalah ini? Apa malam itu, dia dan anak laki-laki itu--" Dania menelan air liurnya, entah mengapa dia teringat akan kejadian 20 tahun lalu, saat hal yang sama di dalam sebuah mobil pun terjadi padanya. Dia tak akan bisa membayangkan jika apa yang tertulis di video itu adalah benar.


"Tidak, semua itu bohong, Rayna sudah menjelaskan semuanya sama aku." ucap Randy.


Dania menghela napas lega, namun masih ada satu masalah terbesar.


"Bagaimana cara kita membungkam media? Sedangkan, berita ini sudah tersebar, dan sudah di tonton bahkan lebih dari dua juta kali." ucap Dania.


Randy mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan habisi anak itu>" ucap Randy.


Dania membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan konyol suaminya itu.


"Apa kamu gila? Kenapa pikiran kamu pendek sekali?"


"Jadi, aku harus bagaimana? Aku enggak bisa diam saja melihat Ade bersedih. Kamu tahu betul, 16 tahun kita menjaga Ade layaknya berlian berharga yang bahkan tak ternilai harganya, dan apa yang terjadi sekarang? Kita tetap kecolongan." ucap Randy dengan nada frustasi.


"Satu-satunya cara, kita harus menemui anak itu, dan mengundang media. Kita akan menjelaskan semuanya pada media, bahwa semua itu hanya kesalah pahaman." ucap Dania.


"Bagus, aku akan kasih pelajaran sama anak itu saat bertemu nanti." ucap Randy dengan nada kesal.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Randy, terlihat nama Reksi di layar ponselnya, dia pun langsung menjawab telepon itu. Reksi memberitahukan bahwa dia sudah mendapatkan kontak Kevano.


"Aku harus pergi." ucap Randy saat selesai berbicara dengan Reksi.


"Mau kemana?" tanya Dania.


"Aku mau ketemu anak itu." ucap Randy.


"Tolong, jangan lakukan hal bodoh." ucap Dania.


Randy pun mengangguk dan bergegas keluar dari kamarnya.


Randy mengerutkan dahinya saat melihat bibi tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Randy.


"Ada teman non Rayna, Pak." ucap bibi.


"Teman?" Randy pun bergegas menuruni anak tangga dan pergi menuju ruang tamu.


Mendadak wajahnya memanas, tangannya terkepal kuat saat melihat seseorang yang tengah duduk di ruang tamu.


Dengan cepat Randy menghampiri orang itu dan menarik kerah kemeja orang itu.


Bugh ..!


Satu pukulan keras mendarat di wajah orang itu dan membuatnya sampai tersungkur ke atas sofa akibat tak siap menerima pukulan dari Randy.


"Brengsek ..! Beraninya kamu datang ke rumah saya." bentak Randy.


"Tenang dulu, Om." ucap orang itu yang tak lain adalah Kevano.


"Tenang kamu bilang? Gara-gara kamu anak saya jadi sedih ..!" bentak Randy.


"Karena itu saya datang ke sini, Om. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi." ucap Kevano.

__ADS_1


Bugh ..!


"Stop ..!" Dania berteriak saat melihat keributan di rumahnya. Dia bergegas menghampiri Randy dan mencoba menenangkan Randy yang benar-benar terlihat murka.


Sekali lagi Randy akan memukul wajah Kevano, sekuat tenaga Dania mencoba menahan tubuh Randy. Dania bahkan sampai memanggil pak Eko agar mau membantunya menjauhkan Randy dari Kevano.


"Berani kamu menghentikan saya, saya akan pecat kamu." ancam Randy sambil menatap pak Eko dengan tatapan tajam.


Pak Eko menelan air liurnya, dia pun mundur dan memilih pergi dari ruang tamu. Dia tak ingin kehilangan pekerjaannya, itulah satu-satunya cara agar dia bisa menghidupi anak istrinya.


Randy menepis tangan Dania dan membuat Dania sampai akan terjatuh, beruntunglah dia masih bisa menahan tubuhnya sehingga dia tak sampai terjatuh ke lantai.


Lagi-lagi Randy kembali akan menyerang Kevano.


Prank ..!


Randy dan Kevano terkejut saat tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh, kedua laki-laki itu pun melihat ke arah datangnya suara, ternyata ada sebuah vas bunga yang pecah. Dengan cepat Randy menghampiri Dania untuk melihat keadaan Dania.


"Kamu baik-baik saja, Yank?" tanya Randy.


"Kenapa vas bunga ini bisa pecah?" tanya Randy dengan memasang ekspresi bingungnya.


Pasalnya, vas bunga itu berada cukup jauh dari keberadaan Dania.


"Aku yang pecahkan." ucap Dania.


"Apa? Kenapa?" tanya Randy dengan semakin kebingungan.


"Karena kamu enggak mau dengar omongan aku." ucap Dania dengan nada kesal.


"Kamu terus ngikutin amarah kamu, dan enggak mau dengar apa yang aku bilang." ucap Dania.


"Aku lebih sayang kamu dari pada vas bunga itu." ucap Dania.


Randy mengerutkan dahinya.


"Aku enggak mau kamu sampai bunuh anak orang." ucap Dania.


Randy menghela napas kasar, istrinya itu masih belum berubah. Pikirannya selalu berlebihan, mana mungkin hanya menghajar wajahnya bisa membuat seseorang meninggal, pikir Randy.


Kevano terdiam menyaksikan perdebatan antara suami istri itu, sesaat kemudian dia mengalihkan pandangannya saat melihat seseorang menuruni anak tangga.


Ya, orang itu adalah Rayna, mata Rayna terlihat sembab akibat terlalu lama menangis, dan itu membuat Kevano semakin merasa bersalah.


Setelah melihat kabar tentangnya dan Rayna beredar, dia langsung memutuskan untuk pergi menuju rumah Rayna.


Yang jadi pertanyaan, dari mana Kevano tahu rumah Rayna? Ya, Kevano meminta alamat Rayna pada Ralisya, Ralisya dan Rayna pernah saling berkomunikasi, dan Ralisya pernah menanyakan alamat rumah Rayna.


Mata Rayna menajam saat menatap Kevano, dia sungguh benci pada laki-laki itu.


"Moms, Pa ..!" panggil Rayna.


"Loh, Ade, kok, turun?" Randy bergegas menghampiri Rayna.


"Bosan, kenapa dia ada di sini?" tanya Rayna.


"Oh, bagus ya, mangsanya datang sendiri." teriak Raydan.

__ADS_1


Raydan sudah tahu masalah yang menimpa adiknya itu, tentu saja sebagai kakaknya dia benar-benar marah melihat adik kesayangannya itu bersedih.


"Mau apa, Bang?" tanya Dania saat Raydan akan menghampiri Kevano.


"Mau kasih pelajaran." ucap Raydan.


"Tidak, Mommy tidak mengizinkan." ucap Dania.


Raydan menatap Dania dengan tatapan bingung.


"Kenapa? Gara-gara pria ini, Ade jadi sedih dan harus menanggung malu, Mom." ucap Rydan.


"Ya, Mommy tetap tidak mengizinkan kamu main hakim sendiri." ucap Dania.


"Terserah," Raydan bergegas mendekati Kevano.


Bugh ..!


Satu pukulan cukup keras mendarat di perut Kevano.


"Abang ..!" Dania tak sengaja membentak Raydan , dia begitu terkejut melihat Raydan tak mendengarkan ucapannya.


"Aku sudah besar, Moms. Aku cuma kasih pelajaran sama laki-laki brengsek ini ..!" ucap Raydan dengan nada geram setengah membentak.


Semua orang membulatkan matanya, terutama Dania. Selama ini dia tak pernah melihat Raydan marah padanya, tapi kali ini Raydan justru bicara padanya dengan nada tinggi.


"Raydan ..! Siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu pada Mommy, ha?" Randy menjadi marah pada anak laki-lakinya itu.


"Aku cuma mau belain Ade, Pa. Apa yang salah dengan itu?" ucap Raydan.


"Cara kamu yang salah." ucap Randy.


Dania memegang lengan Randy, mencoba menenangkan Randy agar tak marah pada Raydan. Bagiamana pun juga, sebagai Ibu, dia tetap tak bisa melihat anaknya dimarahi, meski itu oleh papanya sendiri.


"Baiklah, Abang sudah besar. Tapi, Mommy hanya tidak mau Abang sampai salah jalan. Apa Mommy salah?" Seperti biasa, Dania akan bersikap lembut terhadap anak-anaknya.


"Maafkan Abang." ucap Raydan.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


Bagi Dania, mengajari anak dengan keras bukanlah cara yang tepat, karena semakin anak merasa terkekang, maka anak akan semakin melawan dan justru tak akan mau mengerti.


Setelah bicara baik-baik, akhirnya Randy pun mau bicara baik-baik juga dengan Kevano. Bagaimana pun juga, Kevano sudah dengan berani mau datang ke hadapannya dan mau mencari jalan keluar bersama untuk masalah yang saat ini terjadi.


Kini mereka semua tengah duduk di ruang tamu, berharap setelah ini mereka akan menemukan solusinya.


"Jadi, apa rencana kamu? Kamu bilang, kamu punya solusinya,bukan?" tanya Randy.


"Sebelumnya, saya mau minta maaf sama Om dan Tante, terutama sama Rayna." ucap Kevano.


"Jujur, saya tidak tahu kenapa, saat bertemu anak Om, saya tak dapat menahan diri saya." ucap Kevano.


"Apa maksud kamu?" Randy kembali menaikkan nada bicaranya, membuat Kevano sampai menelan air liurnya. Dia berharap tak akan salah bicara di depan orang tua Rayna.


"Tolong, Om. Beri saya kesempatan untuk menyelesaikan ucapan saya." ucap Kevano.


"Baiklah, lanjutkan." ucap Dania.

__ADS_1


"Saya jatuh cinta sama anak Om." ucap Kevano.


Semua orang membulatkan matanya, mereka terkejut mendengar keberanian Kevano bicara seperti itu.


__ADS_2